Share

The Visuals

Author: Eliyen Author
last update publish date: 2026-08-07 05:35:47

Cuma pengen cuap-cuap sedikiiit aja.

Orbits, ini author mau tanya. Saat membaca Lala, Arvin, dan Arlo, visual siapa yang kalian bayangin?

Me #1:

Lala adalah Tian Xiwei

Arvin adalah Chen Dingke

Arlo adalah Ao Ruipeng

Kalo Orbits?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Null_null
Thor banyakin babnya dong hehe
goodnovel comment avatar
Null_null
Gak bayangin siapa2 sih thor , apalagi aku gak tau aktor china , cuma tian xiwei tau karna pernah lewat fyp toktok wkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   171 Pamer Kemesraan

    “Kalian mending cari kamar aja, deh. Eneg aku lihat kemesraan kalian.”Celetukan dari Arlo itu menyadarkan Lala di mana dia berada sekarang. Lala tersentak kaget dan cepat-cepat melepaskan diri dari Arvin.“Om. Tante. Paman. Bude. Ya, kayak gini ini yang aku lihat tiap hari. Mereka pamer kemesraan terus,” imbuh Arlo lagi.Lala melotot penuh peringatan kepada adik iparnya. Arvin malah memberikan tatapan penuh terima kasih kepada adiknya satu itu.“Kamu benar. Kami memang mau pulang cepat.” Arvin meletakkan serbet di atas meja dan berdiri.“Loh, acaranya belum selesai, Vin.” Bude Makasar terkejut.Arvin menggenggam tangan Lala. “Maafkan kami, Bude. Tapi Arlo akan tinggal di sini sampai selesai. Kami masih harus melakukan … banyak hal.”Arvin sengaja menekankan kata-kata terakhirnya seolah ingin melempar umpan yang ambigu. Hasilnya persis seperti yang dia inginkan. Semua orang jadi salah paham.“Ya. Ya. Pengantin baru memang sedang masa panas-panasnya.”“Wah, gerak cepat juga kamu, Vin!”

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   170 Getaran di Dalam Rok

    “Keluargamu brutal semua. Ampun, deh. Kalau tahu bakal kayak gini, aku nggak mau nikah sama kamu. Belum telat buat cerai.”Arvin mendorong Lala ke dinding. Tatapan tajamnya menusuk sepasang mata Lala.“Kamu menyesal menikah denganku?” Arvin menjepit dagu Lala. “Terlambat. Sangat terlambat buat cerai, Sayang.”Satu sudut bibir Lala tertarik ke belakang. “Nggak ada kata terlambat, Suamiku.”Arvin memiringkan kepala. Tatapannya mengunci Lala. Sayup-sayur terdengar suara musik pesta yang teredam. Aroma lavender dari pengharum ruangan bercampur dengan bau lezat masakan yang terbawa angin.“Kalau aku ngapa-ngapain kamu, nggak ada yang bakal tahu,” bisik Arvin.Lala melirik kanan kiri. Pria itu benar. Mereka kini ada di salah satu sudut taman yang remang-remang.“Kenapa kamu narik aku ke tempat gelap-gelapan kayak gini? Mau ngelecehin aku, Pak CEO?”Bahkan di dalam gelapnya malam, Lala bisa melihat seringai licik di wajah pria itu. Anehnya dia merasa senang dengan ekspresi Arvin.Baru seteng

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   169 Rubah Pemakan Menantu

    “Bude, ini istriku. Namanya Nalani Shakila. Panggilannya Lala.”Arvin melepas rangkulan Bude di tangannya. Pria itu menoleh ke arah Lala dan mengulurkan tangannya. “Lala.”Wanita itu bergerak canggung menerima uluran tangan Arvin. Sementara Bude menatap Lala dengan ekspresi dingin dan tatapan datar.“Istri barumu?” tanya Bude dingin.Lala merutuk dalam hati. Ternyata keturunan Dirgantara punya sistem default dalam cara bicara. Dingin dan tegas.“Benar.” Arvin mengangguk.“Si anak pembantu itu?”Ada keheningan yang memekakkan di antara mereka. Suasana tegang menyelimuti tempat itu.“Bude–”“Benar. Saya si anak pembantu itu.” Lala memotong perkataan Arvin. Bude mengangkat alis. Kembali ada keheningan mencekam di antara mereka. Sampai Bude memecahkannya dengan komentar yang menusuk.“Kamu benar-benar downgrade, Arvin.”Tangan Lala mengepal di genggaman Arvin. Pria itu tersenyum dingin.“Kurasa tidak, Bude. Aku justru naik level karena sudah menikah dengan wanita sesempurna Lala.”Wajah

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   168 Bude Makasar

    “Kamu, sih, pake ngunci pintu pantri segala. Orang-orang jadi kepo terus nguping, kan? Batal deh, lemburanku.”“Di mana-mana pegawai nggak suka lembur, Lala. Kenapa kamu malah senang lembur?” Arvin menatap istrinya dengan bingung.Lala mencebik kesal. “Soalnya kalau di apartemen, aku nggak bakal bisa kerja. Kamu pasti … yah, gitu, deh pokoknya.”Arvin nyengir pelan. Karena insiden pegawai yang kepergok menguping di pantri beberapa saat lalu, Lala akhirnya memutuskan untuk pulang. Lembur pun batal.Diam-diam Arvin merasa harus berterima kasih kepada empat pegawai itu. Kalau mereka tak kepergok, dan membuat Lala malu karena ketahuan berduaan di dalam pantri dengan pintu terkunci, pasti sekarang istrinya masih betah bekerja di kantor.“Mau susu?” Arvin menawarkan.Lala menoleh ke arah suaminya. Saat ini mereka ada di supermarket sebelum pulang ke apartemen.“Dari tadi nawarin susu terus. Beli aja kalau kamu pengen susu.”Arvin fokus menatap deretan merek susu di rak. Susu anak, susu lans

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   167 Firasat di Pantri Kantor

    Lala hamil?Pertanyaan itu terus bercokol di benak Arvin, bahkan hingga dia pulang dari rumah sakit berjam-jam kemudian.“Apa dia beneran hamil?” tanya Arvin kepada dirinya sendiri. Dia mondar-mandir di kantornya. Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Seharusnya dirinya pulang sejak dua jam lalu karena tak ada lembur apapun. Namun, Arvin bertahan di kantor sebab Lala masih ada lembur.“Aku harus pastikan.” Arvin tak punya kesabaran menunggu.Dia turun ke lantai tiga. Hampir semua lampu di kubikel-kubikel yang berjajar rapi sudah dimatikan. Tinggal beberapa orang saja yang masih tingga di sana.“Pak Arvin, kenapa ke sini? Cari Dilan? Baru keluar dia lima menit lalu.” Arvin menoleh. Istrinya berdiri di belakangnya sambil membawa mug kopi yang masih mengepulkan uap panas.Mata Arvin seketika melebar. Wanita hamil tidak boleh minum kopi. Refleks dia mengambil mug di tangan Lala.“Eh? Jangan diambil. Pak Arvin mau ngopi juga? Aku buatin, deh.” Lala protes.“Nalani, kamu dilarang minum

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   166 Perjanjian saat Bercinta

    Jangan pernah memberi janji apapun saat sedang bercinta. Pikiran jernih sedang hilang, sementara janji sudah terlanjur terucap. Dan sebagai pria sejati, pantang untuk melanggar janji.Itulah yang terjadi kepada Arvin sekarang. Dia merutuki kecerobohannya yang asal menjawab “iya”, saat Lala memberikan syarat untuk kompetisi desainer internasional itu.“Pagi-pagi wajahmu sudah seperti mau makan orang.”Arvin menatap ke arah pintu masuk. Dilan berjalan masuk dengan langkah santai.“Akhirnya kamu pulang,” komentar Arvin.“Thank you sambutannya. Brown Security Company hampir ngebatalin kerja sama dengan kita karena kamu narik Lala dari proyek.” Dilan langsung protes begitu mendudukkan pantatnya di kursi kerja Arvin.Sang bos mengeluarkan map dokumen dari dalam lacinya lalu memberikannya kepada Dilan. “Baca.”Keheningan terjadi di dalam ruang kerja Arvin. Mata Dilan perlahan-lahan melebar.“Ini kamu selidiki diam-diam?”Arvin mengangguk. “Arlo yang mengurus penyelidikannya. Dia harus diliba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status