เข้าสู่ระบบBab Utama : 42/47.
Kevin akhirnya memutuskan untuk tetap berada di rumah Mikaela.Ia duduk di sofa ruang tamu yang masih utuh, sementara beberapa serpihan kaca berserakan di lantai akibat pertarungan sebelumnya. Udara malam masuk melalui jendela yang pecah, membawa aroma tanah basah dan suara kendaraan yang sesekali melintas di kejauhan.Di luar rumah, suasana jauh lebih berisik."Hei! Kalian mau bertanggung jawab tidak?!""Itu rumah siapa sebenarnya?!""Lihat jalan kami! Hancur semua!""Ini bukan tempat latihan bela diri!"Kevin mendengar semuanya. Namun, ia sama sekali tidak berniat keluar.Ia menyandarkan kepala ke sofa. "Berisik sekali..."Lalu ia memejamkan mata.Untuk pertama kalinya setelah berjam-jam menghadapi pengkhianatan, pertarungan, dan rahasia tentang Guru, ia mencoba menenangkan pikirannya.Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa menit. Ponselnya tiba-tiba bergetar.Kevin membukanya. Ia hendak memeriksa pesan dari Kiara, tetapi sebuah notifikasi dari aplikasi perbankan justru muncul
Julie dan Christina bergerak lebih dulu.Begitu melihat pertarungan Kevin dengan Cynthia dan Ashley semakin brutal, keduanya tidak membuang waktu. Julie melompat mundur, sementara Christina menghentakkan kaki dan menggunakan tenaga elemental tanah untuk mempercepat gerakannya."Kita cari Mikaela!" seru Christina.Julie mengangguk. Mereka berdua langsung melesat meninggalkan jalan utama, menuju arah yang berbeda dari lokasi pertarungan.Kevin melihat kepergian mereka dari sudut mata. Namun sebelum mengejar, dua sosok menghadang tepat di depannya.Cynthia dan Ashley.Keduanya berdiri berdampingan dengan wajah serius."Jangan berharap bisa mengejar mereka!" bentak Cynthia.Kevin menggenggam Pedang Dewa Medis.Api hitam masih menari di sepanjang bilah pedang."Kalau begitu..." Ia melangkah maju. "...kalian berdua dulu."BOOM!Kevin melesat.Cynthia langsung mengangkat Pedang Api Feniks. Ashley membentuk lapisan es di kedua lengannya.Dua serangan beradu dengan tebasan Kevin.Trang!Percika
Malam itu, untuk pertama kalinya, empat wanita yang selama ini dikenal sebagai para ahli kultivasi terkuat Sekte Medis Kuno benar-benar merasakan sesuatu yang tidak mereka pahami.Rasa takut.Cynthia, Julie, Ashley, dan Christina berdiri dengan napas berat setelah terpental oleh ledakan aura Kevin. Debu masih beterbangan di udara. Pecahan aspal berserakan di sepanjang jalan, sementara beberapa lampu taman telah padam akibat tekanan energi yang dilepaskan.Kevin berdiri di tengah kehancuran itu. Api hitam yang berkobar membungkus tubuhnya, seakan memiliki kehidupan sendiri.Keempat wanita itu menatapnya tanpa berkedip. Mereka mengenal Kevin sejak lama. Kehebatan medisnya bukan rahasia.Sejak masih berada di Sekte Medis Kuno, Kevin telah menunjukkan bakat pengobatan yang bahkan membuat para tetua sekte kagum. Kemampuan medisnya berkembang jauh lebih cepat daripada murid lain.Kekuatan kultivasinya juga selalu menjadi yang paling menonjol. Namun, selama ini, mereka masih mampu menghadapin
Malam yang semula sunyi berubah mencekam.Api hitam yang menyelimuti tubuh Kevin terus berkobar, menjilat udara seperti makhluk hidup. Tanah di bawah kakinya retak sedikit demi sedikit, sementara tekanan Qi yang keluar tanpa kendali membuat dedaunan beterbangan ke segala arah.Keempat kakak seperguruannya berdiri beberapa meter di hadapannya.Tak seorang pun lagi berbicara. Tatapan mereka dipenuhi kewaspadaan.Aura yang memancar dari Kevin benar-benar berbeda dengan Dewa Medis yang mereka kenal selama ini.Cynthia Spencer menyipitkan mata. Ia tahu, jika dibiarkan lebih lama, keadaan akan semakin sulit dikendalikan."Kau tidak perlu tahu!" Suara Cynthia memecah keheningan. "Menyingkir sekarang!"Begitu ucapan terakhir keluar, tubuhnya melesat seperti kilat merah.Whoosh!Kedua telapak tangannya langsung diselimuti kobaran api merah menyala.Panas yang dipancarkannya membuat udara berdesis, sementara aspal di bawah lintasannya berubah kehitaman.Tapak Api Sembilan Matahari!Cynthia menga
Kevin berdiri tanpa bergerak tapi tubuhnya terus berubah.Aura hitam yang semula hanya berupa kabut tipis kini membesar menjadi pusaran pekat yang mengelilingi seluruh tubuhnya. Kabut itu bergerak seperti makhluk hidup, melingkari kaki, dada, hingga bahunya, lalu menjulang tinggi ke udara bagai kobaran api berwarna hitam.Retakan-retakan halus mulai menjalar di atas aspal. Lampu jalan berkedip tidak beraturan.Udara di sekitar mereka terasa jauh lebih berat, membuat dedaunan yang berguguran seolah tertahan di udara sebelum akhirnya jatuh perlahan.Perubahan paling mengerikan terjadi pada mata Kevin. Perlahan... Bagian hitam matanya berubah merah menyala. Kilatan merah itu memancarkan kemarahan, kebencian, sekaligus keputusasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam jauh di dalam hatinya.Julie tanpa sadar mundur satu langkah. Christina mengernyit. Ashley mengepalkan kedua tangannya. Bahkan Cynthia yang sejak tadi terus bersikap tenang mulai menyipitkan mata, memperhatikan perubahan yang
Kevin terdiam. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tatapannya kosong. Namun justru di balik tatapan itulah, badai yang sesungguhnya sedang berkecamuk.Selama bertahun-tahun...Ia percaya dirinya telah menemukan keluarga baru setelah kehilangan kedua orang tuanya.Guru, Kakak-kakak seperguruan, Sekte Medis Kuno... Semuanya adalah rumah yang selama ini mengisi kekosongan dalam hidupnya.Kini... Satu demi satu fondasi itu runtuh.Ucapan Cynthia terus terngiang di dalam kepalanya."Kami tidak pernah benar-benar menyayangimu.""Kami hanya menjalankan perintah Guru."Tubuh Kevin mulai bergetar. Mula-mula hanya jemarinya. Lalu kedua lengannya. Tak lama kemudian seluruh tubuhnya bergetar hebat, seolah ada sesuatu yang berusaha keluar dari balik tubuhnya.Julie memandangnya dengan wajah cemas. Christina mengernyit pelan. Ashley tanpa sadar memperkuat aliran Qi di tubuhnya. Sementara Cynthia tetap berdiri dengan wajah dingin.Tiba-tiba... Udara di sekitar Kevin berubah. Suhu turun
Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada ki
Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Ta
Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu kong
Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dip







