LOGINTatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.
“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.
Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Tapi justru karena itu… terasa jauh lebih serius.
“Ada seseorang yang harus kau selamatkan.”
Kevin mengernyit tipis. “Kok kakak pilih aku?”
Cynthia tak ragu. “Kamu murid jenius guru di bidang medis. Penyakit dan racun apa pun bisa kau sembuhkan dalam sekejap.”
Itu bukan sanjungan. Itu keyakinan.
Kevin langsung menangkap arah pembicaraan. Tatapannya mengeras.
“Pasien?” tanyanya singkat.
Cynthia mengangguk.
“Seorang gadis yang terluka parah.” Ia berhenti sepersekian detik, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Aku tidak bisa membawa dokter biasa. Tidak ada yang boleh tahu tentang dia.”
Nada suaranya berubah menjadi dingin dan penuh rahasia.
“Bagaimana lukanya?” Kevin bertanya lagi, sorot matanya menajam seperti jarum.
“Luka yang dalam dan aneh. Tidak seperti luka biasa.” Cynthia menghela napas pelan. “Aku sudah memanggil dokter terbaik. Mereka tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi padanya.”
Kevin tidak langsung menjawab. Ia menatap kakak seperguruannya itu, mencoba membaca sesuatu di balik ketenangan wajahnya—kecemasan yang disembunyikan, kekhawatiran yang ditahan.
“Kapan?” akhirnya ia bertanya.
“Sekarang juga. Keadaannya sangat kritis.”
“Kakak tahu dari mana kalau aku ada di Winchester City?” Kevin menatapnya lekat.
Cynthia membalas tatapan itu tanpa berkedip.
“Aku tidak bisa bilang sekarang… walaupun kau adalah adik laki-laki yang paling kusayang.”
Jawaban itu cukup.
Kevin mengangguk pelan. “Aku mengerti… aku ikut denganmu.”
Belum sempat ia melangkah menuju mobil, suara berdeham sinis terdengar dari belakang.
Claudia Windsor.
“Luar biasa,” katanya dengan senyum tipis yang penuh racun. “Baru saja mengaku-ngaku sebagai adik CEO besar, sekarang mau pergi entah ke mana bersama wanita itu.”
Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, terang-terangan meremehkan.
“Menantu menumpang hidup seperti ini memang cepat sekali mencari perlindungan, ya?”
Udara terasa berat dan menyesakkan.
Arthur langsung menoleh tajam. “Claudia… jaga bicaramu.”
Namun, Claudia tak menggubrisnya.
“Kita bahkan belum memastikan statusnya, sudah mau dibawa pergi. Jangan-jangan dia hanya memanfaatkan keluarga kita.”
Kalimat itu baru saja selesai ketika Claudia merasakan angin kencang menerpa wajahnya.
PLAAK!
Tamparan keras menggema di halaman.
Semua orang terdiam melihat kejadian tak terduga ini.
Claudia terhuyung setengah langkah. Tangannya refleks menutup pipi yang kini memerah menyala.
Di depannya berdiri Cynthia.
Wajahnya datar saja seperti tak ada kejadian.
Tatapannya sedingin es di musim dingin..
“Ulangi lagi,” katanya pelan.
Tak ada teriakan. Tak ada amarah meledak.
Justru ketenangan itu yang membuatnya menakutkan.
“Tidak ada seorang pun,” lanjutnya, “yang berhak menghina adik laki-lakiku.”
Isabella maju satu langkah. Wajahnya memerah oleh amarah dan malu.
“Berani-beraninya Anda menampar ibuku…!”
Cynthia berbalik cepat. Tatapannya menyambar Isabella seperti bilah pisau.
“Kau,” ucapnya dingin. “Apa wajahmu yang penuh kepalsuan itu mau aku hancurin juga?”
Isabella gemetar. Dadanya naik turun cepat. Tapi harga diri menahannya mundur.
“A-aku tidak takut pada keluarga Spencer!”
Senyum Cynthia tipis. Senyum yang berbahaya.
“Keluarga Spencer menguasai Winchester City bukan karena kami banyak bicara.”
Tekanan tak terlihat menyebar. Para pelayan menunduk. Bahkan udara terasa lebih berat.
Arthur merasakan jantungnya berdegup tak nyaman.
Jika keluarga Spencer benar-benar bergerak…
Keluarga Windsor bisa hancur dan lenyap dalam hitungan hari.
Mungkin juga jam.
“Cukup.”
Suara lembut namun tegas memotong ketegangan.
Annabella melangkah maju. Wajahnya pucat, tapi matanya jernih dan berani.
Ia berdiri di antara Cynthia dan keluarganya.
“Nona Cynthia,” katanya, dengan hormat. “Maafkan ibuku. Kami memang bersalah.”
Ia menunduk sedikit.
“Tapi Ayah selalu menghormati guru Anda. Kami tidak pernah berniat meremehkan Kevin. Ia juga penolongku, jadi tidak mungkin kami menindasnya.”
Kevin menatap Annabella.
Ia tidak membela dengan emosi, melainkan meredakan situasi yang mulai memanas karena dirinya.
Cynthia menatapnya beberapa detik, kemudian menghela napas pelan.
“Hufh! Kau berbeda,” katanya singkat.
Tekanan di udara perlahan menghilang.
“Karena kau,” lanjut Cynthia, “keluargamu masih berdiri sampai hari ini.”
Claudia terdiam, wajahnya pucat dan tak berani mengeluarkan hinaan lagi... tapi hatinya semakin dendam terhadap Kevin.
Isabella menggigit bibir, menahan amarah dan takut.
Kevin melangkah mendekat. “Kak, kita harus pergi.”
Cynthia mengangguk.
Tanpa kata lagi, mereka berjalan menuju mobil perak yang berkilau di bawah matahari sore. Mesin menyala halus, lalu kendaraan itu melesat meninggalkan kediaman Windsor.
***
Perjalanan menuju pinggiran Winchester City berlangsung cepat.
Gedung-gedung tinggi perlahan berganti, jalanan lengang. Pepohonan rimbun berjajar di kanan dan kiri. Pagar baja tinggi muncul di kejauhan.
Mobil mendekati gerbang besar setinggi hampir tiga meter.
Gerbang otomatis itu terbuka perlahan dengan suara mekanis berat.
Kevin memperhatikan sekeliling.
Pos jaga di setiap sudut.
Kamera pengawas berputar pelan.
Pengawal bersenjata lengkap berdiri tegap dengan seragam hitam dan emblem keluarga Spencer di lengan. Tatapan mereka tajam dan terlatih.
Ini bukan sekadar rumah mewah.
Ini benteng yang cukup kuat.
Mobil berhenti di depan mansion megah bergaya klasik-modern. Dinding marmer putih memantulkan cahaya sore. Jendela tinggi berlapis kaca antipeluru. Balkon melengkung ditopang pilar besar.
Air mancur di tengah halaman memercik tenang—bertolak belakang dengan penjagaan ketat di sekelilingnya.
Kevin turun. Sepatu kainnya menyentuh lantai granit dingin.
Ia mengangkat alis tipis. “Sejak kapan rumah kakak pertama seperti markas militer?”
Cynthia tak tersenyum.
“Sejak dunia menjadi lebih berbahaya.”
Jawaban itu pendek dan tak terbantahkan.
Mereka melangkah masuk.
Interiornya megah—lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi, lantai marmer mengilap, lukisan mahal menghiasi dinding.
Namun, Kevin merasakan sesuatu yang lain.
Ketegangan.
Pelayan bergerak cepat tanpa suara. Pengawal berjaga di sudut lorong dalam rumah.
“Di mana pasiennya?” Kevin bertanya.
Cynthia berhenti di depan pintu kayu besar berukir. Tangannya menyentuh gagang, tapi tak langsung membukanya.
Tatapannya berubah.
Ada kekhawatiran di sana.
“Ada di dalam,” katanya pelan. “Tapi Kevin…”
Ia menoleh.
“Apapun yang kau lihat nanti… jangan banyak bertanya.”
Kevin mengangkat alis tipis. “Sejak kapan aku cerewet?”
Cynthia tak tersenyum.
Pintu terbuka.
Bau samar darah bercampur herbal langsung menyeruak ke indera Kevin.
Di tengah ruangan luas itu, terbaring seorang gadis misterius di atas ranjang putih.
Tubuhnya pucat seperti lilin hampir padam.
Namun, perhatian Kevin langsung tertuju pada dadanya.
Di sana—bekas luka aneh berdenyut pelan.
Seperti hidup.
Aura hitam tipis menyelimuti tubuh gadis itu, bergerak perlahan seperti asap.
Tatapan Kevin berubah tajam dan dingin.
Karena ia mengenali luka itu.
Luka yang sama… yang pernah ada di tubuh ayah dan ibunya, lima tahun lalu.
Luka yang merenggut nyawa mereka dalam waktu singkat.
Sesuatu yang tak seharusnya ada di dunia fana ini.
Tapi kini… muncul kembali.
Bab Utama : 1/3. Bab Extra : ? Bab pertama hari ini... semoga suka dengan cerita ini :)
Jarum kesembilan menusuk titik meridian di bawah tulang rusuk.Jarum kesepuluh... tepat di atas pusar.Aura keemasan mengalir semakin deras dari tubuh Kevin, menyusup melalui dua belas Jarum Naga Emas yang tertanam presisi di tubuh gadis itu.Luka hitam berbentuk kelopak mawar di dadanya bergetar liar.Asap hitam pekat mulai keluar, berputar di udara seperti makhluk hidup yang meraung tanpa suara.Cynthia tanpa sadar mundur setengah langkah.Udara di ruangan itu berubah dingin.Kevin membuka matanya.Tatapannya tajam.“Keluar,” bisiknya.Jarum kesebelas dan kedua belas masuk bersamaan.Cahaya emas meledak tipis.Kelopak mawar hitam itu mengkerut, retak—lalu hancur menjadi serpihan asap yang tersedot ke ujung jarum emas.Kevin memutar pergelangan tangannya.Asap hitam itu terjebak dalam pusaran energi emas… lalu lenyap.Luka di dada gadis itu perlahan memudar.Warna pucatnya masih ada, tapi aura kehidupannya mulai kembali menghangat.Napasnya yang tadi tersengal kini stabil.Racun Ibli
Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada kirinya, tepat di bawah tulang selangka, terdapat luka hitam berbentuk seperti kelopak mawar yang menghitam.Luka itu berdenyut perlahan, seperti bernapas dan hidup.Mata Kevin menyipit.Jantungnya berdetak lebih berat.Itu bukan sekadar luka.Itu sesuatu yang hidup dan berbahaya.Ia mengangkat tangan, merasakan aliran energi di sekitar tubuh gadis itu. Aura kehidupannya tipis… seperti lilin yang hampir padam.Organ-organ dalamnya sedang digerogoti sesuatu.Sesuatu yang ia kenal.Sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.“Racun Iblis Darah…” gumam Kevin pelan.Cynthia yang berdiri di belakangnya langsung menegang.“Kau mengenalinya?”Kevin tidak langsung menjawab.Bayangan api
Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Tapi justru karena itu… terasa jauh lebih serius.“Ada seseorang yang harus kau selamatkan.”Kevin mengernyit tipis. “Kok kakak pilih aku?”Cynthia tak ragu. “Kamu murid jenius guru di bidang medis. Penyakit dan racun apa pun bisa kau sembuhkan dalam sekejap.”Itu bukan sanjungan. Itu keyakinan.Kevin langsung menangkap arah pembicaraan. Tatapannya mengeras.“Pasien?” tanyanya singkat.Cynthia mengangguk.“Seorang gadis yang terluka parah.” Ia berhenti sepersekian detik, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Aku tidak bisa membawa dokter biasa. Tidak ada yang boleh tahu tentang dia.”Nada suaranya berubah menjadi dingin dan penuh rahasia.“Bagaimana lukanya?” Kevin bertanya lagi, sorot matan
Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu konglomerasi terbesar di Eldoria Country. Wanita yang kekayaannya bahkan melampaui keluarga Windsor berkali-kali lipat.“Kenapa orang sehebat dia… datang menjemput Kevin?” gumam Arthur, masih tak percaya.Annabella ikut menatap Kevin. Kebingungan jelas terlihat di wajahnya.“Ayah… mungkin ada kesalahan,” katanya. “Tidak mungkin Kevin punya kakak seperti Cynthia.”Isabella mendengus, mencibir tanpa menyembunyikan nada merendahkan.“Atau mungkin…” katanya santai, “dia datang untuk menghabisi gembel ini.”“Jaga mulutmu, Bella!” bentak Arthur tajam. Tatapannya penuh amarah. “Siapa pun yang berani macam-macam dengan calon menantuku, aku sendiri yang akan berdiri di depannya.”“Ayah... ingat kesehatan
Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dipakaikan jas mahal. Apa benar dia tunanganku?”Kevin tidak bereaksi. Wajahnya tenang tanpa terpengaruh dengan hinaan Isabella..Claudia menambahkan dengan suara halus namun menusuk,“Aku menghormati hutang budimu kepada Dewi Medis… tapi perjodohan ini, bukankah terlalu terburu-buru?”Arthur menghela napas panjang.“Sebuah janji tetaplah janji.”Isabella mendengus keras.“Janji? Ayah ingin aku menikah dengan pria yang bahkan tidak jelas asal-usulnya?”Tatapannya semakin tajam.“Aku lebih percaya pengawal kita daripada dia.”Kevin akhirnya membuka suara. Nada ucapannya datar, tenang, tanpa getaran emosi sedikit pun.“Jika Nona tidak setuju, aku tidak akan memaksa. Aku datang hanya untuk menjala
Annabella tersenyum tipis, lalu berbalik hendak pergi.“Nona!” panggil Kevin.Annabella menoleh.Saat itulah Kevin melemparkan segepok uang ke arahnya. Uang kertas yang terlipat rapi mendarat di tangannya.“Anggap saja itu untuk membayar kesalahanku padamu,” kata Kevin jujur. “Kamu pasti membutuhkannya untuk pulang.”Annabella menatap uang itu, lalu Kevin.Untuk sesaat… ia tidak berkata apa-apa.Hanya senyum kecil muncul di bibirnya.Tanpa balasan, tanpa ucapan terima kasih, ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya mantap, rambutnya tertiup angin kota.Kevin hanya berdiri di sana, memperhatikannya sampai menghilang di antara kerumunan.Baru setelah itu ia teringat sesuatu.Janjinya kepada gurunya untuk menemui tunangannya. Ia merogoh saku, mengeluarkan secarik kertas lusuh berisi tulisan tangan gurunya.“Sunset Drive… nomor 21,” gumamnya pelan.Kevin mengangkat tangan, menyetop taksi.Perjalanan tidak lama.Taksi berhenti di depan gerbang besar berornamen besi hitam, tinggi menjula







