LOGINRuangan itu langsung sunyi lagi.
Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.
“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”
Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.
Cynthia Spencer.
CEO dari salah satu konglomerasi terbesar di Eldoria Country. Wanita yang kekayaannya bahkan melampaui keluarga Windsor berkali-kali lipat.
“Kenapa orang sehebat dia… datang menjemput Kevin?” gumam Arthur, masih tak percaya.
Annabella ikut menatap Kevin. Kebingungan jelas terlihat di wajahnya.
“Ayah… mungkin ada kesalahan,” katanya. “Tidak mungkin Kevin punya kakak seperti Cynthia.”
Isabella mendengus, mencibir tanpa menyembunyikan nada merendahkan.
“Atau mungkin…” katanya santai, “dia datang untuk menghabisi gembel ini.”
“Jaga mulutmu, Bella!” bentak Arthur tajam. Tatapannya penuh amarah. “Siapa pun yang berani macam-macam dengan calon menantuku, aku sendiri yang akan berdiri di depannya.”
“Ayah... ingat kesehatanmu,” ucap Annabella dengan cemas, kemudian matanya melirik Isabella.
“Kevin telah menolongku... jangan pernah kau menghinanya lagi.”
Kata-katanya tajam, membuat Isabella sedikit terkejut.
Kevin tidak terpengaruh dan tetap berdiri santai, seolah semua ini bukan sesuatu yang besar.
“Tuan Arthur tidak perlu repot,” katanya ringan. “Kak Cindy memang datang menjemputku. Dia memang kakak pertamaku.”
Isabella langsung tertawa keras, sinis dan tajam.
“Dasar gembel! Ngaku-ngaku adik Cynthia Spencer?” katanya. “Kalau benar, aku akan berlutut dan mencium kakimu!”
“Bella!” teriak Annabella yang mulai marah besar.
Kevin menatapnya datar.
“Kamu yang bilang sendiri,” jawabnya pelan. “Jangan nanti menuduhku kejam.”
Isabella mendengus. Matanya menyala. Ia tidak menghiraukan kemarahan Annabella.
“Kalau dia bukan kakakmu, kau harus pergi dari keluarga Windsor. Pertunangan batal!”
Kevin mengangguk tanpa ragu.
“Baik,” katanya. “Tapi aku tidak butuh kamu berlutut dan mencium kakiku.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke mata Isabella.
“Aku hanya ingin kamu menjadi pelayanku selama sebulan.”
Isabella meledak.
“Brengsek kau! Siapa yang mau jadi pelayanmu?”
“Kalau tidak berani, tidak usah menantang,” jawab Kevin santai sambil berbalik.
“Berhenti!” teriak Isabella. “Siapa bilang aku takut? Aku terima tantanganmu!”
Kevin tidak menoleh lagi.
Langkahnya mantap menuju pintu keluar.
Wajahnya tenang.
Namun, di dalam dadanya, waktu terasa terus berdetak seperti bom yang menunggu meledak.
Racun Pemikat Asmara yang ditanam oleh wanita pembantai keluarganya—Black Rose Angel—masih hidup di tubuhnya. Racun itu perlahan memakan energi kehidupannya.
Ia hanya punya waktu satu tahun untuk hidup dan mencari kelima kakak perempuannya yang bisa menghancurkan lima elemental racun ini..
Satu tahun sebelum tubuhnya hancur dari dalam dan membuatnya tewas seketika.
Dan satu-satunya cara menyelamatkan diri… adalah membujuk kelima kakak perempuannya untuk melakukan dual cultivation yang merupakan satu-satunya cara menghancurkan kelima elemental racun ini.
Cynthia Spencer… adalah yang pertama.
Kakak pertamanya yang memiliki elemental api.
***
Halaman depan kediaman Windsor diselimuti cahaya matahari siang yang hangat.
Kilau logam memantul tajam dari sebuah mobil sport Bugatti Veyron berwarna silver yang terparkir anggun—seperti karya seni bernilai miliaran.
Di sampingnya berdiri seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut hitam panjangnya tergerai halus tertiup angin.
Posturnya tegap. Tatapannya tajam dan penuh wibawa.
Aura dominan itu terasa bahkan dari kejauhan… membuat siapa pun enggan mendekat tanpa alasan.
Cynthia Spencer.
Begitu Kevin melangkah keluar... wanita itu langsung tersenyum lebar.
“Adik kecilku!” serunya, lalu berjalan cepat dan memeluk Kevin erat. “Akhirnya kamu turun gunung juga!”
Kevin membalas pelukan itu, senyum tipis muncul di bibirnya.
Isabella yang berdiri di belakang langsung terpaku.
Wanita yang selama ini ia kagumi… wanita yang ia jadikan standar kesempurnaan… memeluk pria yang baru saja ia hina sebagai gembel.
Annabella hanya diam. Ia tidak menyangka Kevin merupakan adik dari wanita terkaya di Eldoria Country.
“Sudah besar ya sekarang,” lanjut Cynthia sambil menepuk pundak Kevin. “Dulu waktu kakak turun gunung, kamu masih kurus seperti anak kecil.”
Ia bahkan tidak melirik keluarga Windsor sama sekali.
Arthur mendekat, mencoba tetap sopan dan berusaha membangun relasi bisnis.
“Nona Cynthia… mungkin Anda ingin masuk terlebih dahulu...”
“Tidak perlu,” potong Cynthia dengan dingin tanpa menoleh. “Aku hanya datang untuk menemui adikku.”
Tatapannya menyapu halaman, ke Annabella, lalu berhenti pada Isabella.
“Aku dengar guruku menjodohkan adikku dengan putrimu,” katanya sambil memandang Arthur. “Mana orangnya?”
Isabella maju sengan perlahan.
Semua keangkuhannya runtuh di depan Cynthia.
“A-aku…” Suaranya bergetar. “Kak Cindy.”
Tatapan Cynthia tertuju padanya, tapi dingin dan menusuk ke dalam tulang.
“Ternyata kau,” katanya datar. “Kupikir secantik apa sampai adikku mau datang jauh-jauh… ternyata hanya wanita biasa. Kukira wanita yang satu lagi.”
Isabella menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering menerima penghinaan itu.
“Oh ya,” lanjut Cynthia tanpa emosi. “Panggil aku Nona Cynthia. Kita tidak sedekat itu.”
Tubuh Isabella tambah gemetar.
Kevin langsung menyela, mencoba meredakan.
“Kak Cindy, jangan begitu,” katanya. “Bagaimanapun, Isabella itu masih tunanganku.”
Cynthia menoleh tajam.
Tatapannya membuat udara di sekitar terasa lebih dingin.
“Kamu ini…” gumamnya, lalu menghela napas pelan. “Masih saja baik pada wanita yang jelas-jelas telah menghinamu. Aku rasa wanita yang satu lagi lebih cocok jadi adik iparku.”
Matanya menatap tajam ke tubuh Annabella, kemudian ia melepaskan pelukan.
Wajahnya kembali berubah—datar, profesional, dan tak terbaca.
“Oh ya,” katanya kemudian. “Aku datang bukan hanya untuk menjemputmu.”
Tatapannya menembus Kevin.
“Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”
Kevin mengangguk pelan.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Apa itu, Kak?” tanyanya.
Jarum kesembilan menusuk titik meridian di bawah tulang rusuk.Jarum kesepuluh... tepat di atas pusar.Aura keemasan mengalir semakin deras dari tubuh Kevin, menyusup melalui dua belas Jarum Naga Emas yang tertanam presisi di tubuh gadis itu.Luka hitam berbentuk kelopak mawar di dadanya bergetar liar.Asap hitam pekat mulai keluar, berputar di udara seperti makhluk hidup yang meraung tanpa suara.Cynthia tanpa sadar mundur setengah langkah.Udara di ruangan itu berubah dingin.Kevin membuka matanya.Tatapannya tajam.“Keluar,” bisiknya.Jarum kesebelas dan kedua belas masuk bersamaan.Cahaya emas meledak tipis.Kelopak mawar hitam itu mengkerut, retak—lalu hancur menjadi serpihan asap yang tersedot ke ujung jarum emas.Kevin memutar pergelangan tangannya.Asap hitam itu terjebak dalam pusaran energi emas… lalu lenyap.Luka di dada gadis itu perlahan memudar.Warna pucatnya masih ada, tapi aura kehidupannya mulai kembali menghangat.Napasnya yang tadi tersengal kini stabil.Racun Ibli
Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada kirinya, tepat di bawah tulang selangka, terdapat luka hitam berbentuk seperti kelopak mawar yang menghitam.Luka itu berdenyut perlahan, seperti bernapas dan hidup.Mata Kevin menyipit.Jantungnya berdetak lebih berat.Itu bukan sekadar luka.Itu sesuatu yang hidup dan berbahaya.Ia mengangkat tangan, merasakan aliran energi di sekitar tubuh gadis itu. Aura kehidupannya tipis… seperti lilin yang hampir padam.Organ-organ dalamnya sedang digerogoti sesuatu.Sesuatu yang ia kenal.Sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.“Racun Iblis Darah…” gumam Kevin pelan.Cynthia yang berdiri di belakangnya langsung menegang.“Kau mengenalinya?”Kevin tidak langsung menjawab.Bayangan api
Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Tapi justru karena itu… terasa jauh lebih serius.“Ada seseorang yang harus kau selamatkan.”Kevin mengernyit tipis. “Kok kakak pilih aku?”Cynthia tak ragu. “Kamu murid jenius guru di bidang medis. Penyakit dan racun apa pun bisa kau sembuhkan dalam sekejap.”Itu bukan sanjungan. Itu keyakinan.Kevin langsung menangkap arah pembicaraan. Tatapannya mengeras.“Pasien?” tanyanya singkat.Cynthia mengangguk.“Seorang gadis yang terluka parah.” Ia berhenti sepersekian detik, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Aku tidak bisa membawa dokter biasa. Tidak ada yang boleh tahu tentang dia.”Nada suaranya berubah menjadi dingin dan penuh rahasia.“Bagaimana lukanya?” Kevin bertanya lagi, sorot matan
Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu konglomerasi terbesar di Eldoria Country. Wanita yang kekayaannya bahkan melampaui keluarga Windsor berkali-kali lipat.“Kenapa orang sehebat dia… datang menjemput Kevin?” gumam Arthur, masih tak percaya.Annabella ikut menatap Kevin. Kebingungan jelas terlihat di wajahnya.“Ayah… mungkin ada kesalahan,” katanya. “Tidak mungkin Kevin punya kakak seperti Cynthia.”Isabella mendengus, mencibir tanpa menyembunyikan nada merendahkan.“Atau mungkin…” katanya santai, “dia datang untuk menghabisi gembel ini.”“Jaga mulutmu, Bella!” bentak Arthur tajam. Tatapannya penuh amarah. “Siapa pun yang berani macam-macam dengan calon menantuku, aku sendiri yang akan berdiri di depannya.”“Ayah... ingat kesehatan
Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dipakaikan jas mahal. Apa benar dia tunanganku?”Kevin tidak bereaksi. Wajahnya tenang tanpa terpengaruh dengan hinaan Isabella..Claudia menambahkan dengan suara halus namun menusuk,“Aku menghormati hutang budimu kepada Dewi Medis… tapi perjodohan ini, bukankah terlalu terburu-buru?”Arthur menghela napas panjang.“Sebuah janji tetaplah janji.”Isabella mendengus keras.“Janji? Ayah ingin aku menikah dengan pria yang bahkan tidak jelas asal-usulnya?”Tatapannya semakin tajam.“Aku lebih percaya pengawal kita daripada dia.”Kevin akhirnya membuka suara. Nada ucapannya datar, tenang, tanpa getaran emosi sedikit pun.“Jika Nona tidak setuju, aku tidak akan memaksa. Aku datang hanya untuk menjala
Annabella tersenyum tipis, lalu berbalik hendak pergi.“Nona!” panggil Kevin.Annabella menoleh.Saat itulah Kevin melemparkan segepok uang ke arahnya. Uang kertas yang terlipat rapi mendarat di tangannya.“Anggap saja itu untuk membayar kesalahanku padamu,” kata Kevin jujur. “Kamu pasti membutuhkannya untuk pulang.”Annabella menatap uang itu, lalu Kevin.Untuk sesaat… ia tidak berkata apa-apa.Hanya senyum kecil muncul di bibirnya.Tanpa balasan, tanpa ucapan terima kasih, ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya mantap, rambutnya tertiup angin kota.Kevin hanya berdiri di sana, memperhatikannya sampai menghilang di antara kerumunan.Baru setelah itu ia teringat sesuatu.Janjinya kepada gurunya untuk menemui tunangannya. Ia merogoh saku, mengeluarkan secarik kertas lusuh berisi tulisan tangan gurunya.“Sunset Drive… nomor 21,” gumamnya pelan.Kevin mengangkat tangan, menyetop taksi.Perjalanan tidak lama.Taksi berhenti di depan gerbang besar berornamen besi hitam, tinggi menjula







