LOGINBau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.
Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.
Gadis itu cantik.
Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.
Di bagian dada kirinya, tepat di bawah tulang selangka, terdapat luka hitam berbentuk seperti kelopak mawar yang menghitam.
Luka itu berdenyut perlahan, seperti bernapas dan hidup.
Mata Kevin menyipit.
Jantungnya berdetak lebih berat.
Itu bukan sekadar luka.
Itu sesuatu yang hidup dan berbahaya.
Ia mengangkat tangan, merasakan aliran energi di sekitar tubuh gadis itu. Aura kehidupannya tipis… seperti lilin yang hampir padam.
Organ-organ dalamnya sedang digerogoti sesuatu.
Sesuatu yang ia kenal.
Sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
“Racun Iblis Darah…” gumam Kevin pelan.
Cynthia yang berdiri di belakangnya langsung menegang.
“Kau mengenalinya?”
Kevin tidak langsung menjawab.
Bayangan api dan darah menyambar pikirannya.
Paviliun Braxton yang runtuh.
Teriakan histeris penghuni paviliun yang ketakutan.
Bau hangus.
Dan seorang wanita bergaun hitam dengan senyum dingin—Black Rose Angel.
Malaikat Mawar Hitam.
Wanita iblis yang menghancurkan keluarganya sekaligus membantai ayah dan ibunya.
Wanita yang menanamkan Racun Pemikat Asmara ke dalam tubuhnya—racun hidup yang akan menghancurkan tubuh dan jiwanya perlahan… tepat setahun dari sekarang.
Dan Racun Iblis Darah ini… adalah racun andalannya.
Racun hidup.
Ia tidak hanya merusak organ dalam, tapi juga menggerogoti aura kehidupan korban, menghisap energi vital seperti parasit.
Kevin mengepalkan tangan.
“Ya,” jawabnya akhirnya, suaranya dingin. “Aku mengenalnya.”
Cynthia melangkah mendekat.
“Bisa disembuhkan?” tanyanya.
Nada suaranya terdengar tenang tanpa rasa panik.
Kevin menoleh pelan.
Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali, ia benar-benar memperhatikan Cynthia.
Dulu, di Sussex Mountain, kakak pertamanya ini hangat. Tegas, tapi lembut. Selalu melindunginya dari bahayanya dunia kultivasi yang ganas.
Sekarang… ada sesuatu yang berbeda.
Tatapannya lebih tajam.
Aura di sekelilingnya terasa berat.
Seolah ia menyembunyikan sesuatu.
Kevin kembali menatap gadis di ranjang.
Ia tidak mengenalnya.
Siapa dia?
Kenapa Cynthia sampai menjaga rahasianya seketat ini?
Dan kenapa… gadis ini menjadi target Racun Iblis Darah?
“Hubungan kakak pertama dengan dia apa?” tanya Kevin tanpa menoleh.
Cynthia terdiam satu detik.
“Itu tidak penting.”
Jawaban yang terlalu cepat.
Kevin tersenyum tipis.
Tidak penting?
Aura Cynthia bergetar halus—terlihat sangat cemas.
Kevin tahu dengan hanya sekilas melihat dan merasakan saja.
Hubungan mereka sangat dekat dan penting.
“Bisa kuselamatkan,” kata Kevin akhirnya.
Cynthia langsung menatapnya tajam.
“Berapa persen?”
“Seratus.”
Jawaban itu mantap.
Namun, Kevin melanjutkan dengan tenang.
“Tapi aku tidak bekerja gratis.”
Cynthia menyipitkan mata.
“Apa yang kau inginkan?”
Kevin berpura-pura berpikir.
Padahal di dalam kepalanya, rencana sudah tersusun.
Racun Pemikat Asmara di tubuhnya mengandung elemen racun api yang ganas. Untuk menghancurkannya, ia membutuhkan energi elemental murni dari lima kakak seperguruannya.
Cynthia menguasai elemen api murni dengan akar spiritual api.
Jika ia bisa melakukan dual cultivation dengannya... elemen api itu akan menekan dan menghancurkan salah satu elemental di dalam tubuhnya.
Tapi meminta langsung?
Mustahil.
Canggung.
Bahkan kemungkinan besar akan ditolak mentah-mentah.
Kevin menatap Cynthia lurus.
“Jika aku menyelamatkannya,” katanya perlahan, “kakak pertama harus memenuhi satu permintaanku nanti.”
Cynthia tidak langsung menjawab.
Tatapan mereka saling terkunci.
Ia tahu Kevin bukan orang yang akan meminta hal sepele.
“Apa permintaan itu?” tanyanya hati-hati.
“Nanti.”
Kevin tersenyum tipis.
“Kakak pertama tidak percaya padaku?”
Cynthia terdiam.
Beberapa detik terasa panjang.
Lalu ia melirik gadis di ranjang… Napasnya semakin tipis.
Waktu tidak berpihak padanya.
“Aku setuju,” katanya akhirnya. “Satu permintaan. Selama tidak melanggar prinsipku.”
Kevin mengangguk.
Itu cukup.
Ia melangkah mundur satu langkah, lalu membuka tas kecil yang selalu ia bawa.
Dari dalamnya, ia mengeluarkan kantong kulit hitam.
Begitu dibuka—kilau emas menyala di bawah cahaya lampu.
Dua belas jarum emas tipis tersusun rapi.
Aura halus namun kuat terpancar dari jarum-jarum itu.
Cynthia membeku.
“Itu… jangan bilang…”
Kevin sudah memegang satu jarum di antara jari-jarinya.
“Dua Belas Teknik Jarum Naga Emas,” katanya ringan.
Ilmu medis legendaris.
Teknik yang konon mampu membalikkan kematian, menembus meridian terdalam, mengusir racun paling ganas.
Ilmu yang hanya ada dalam legenda dunia tabib.
Dan kini—ada di tangan Kevin.
“Kau… sudah menguasainya?” suara Cynthia untuk pertama kalinya kehilangan ketenangan.
Kevin tidak menjawab.
Tangannya bergerak cepat.
Jarum pertama menusuk titik meridian di pergelangan tangan gadis itu.
Jarum kedua di leher.
Ketiga di atas jantung.
Gerakannya presisi. Tanpa ragu.
Setiap tusukan membuat luka hitam di dada gadis itu bergetar lebih keras.
Seperti marah.
Seperti sadar bahwa ada ancaman.
Kevin memejamkan mata, menyalurkan energi dalamnya melalui jarum emas.
Cahaya tipis keemasan mulai mengalir di sepanjang jarum.
Racun Iblis Darah bereaksi.
Kelopak mawar hitam di dada gadis itu mengembang, merayap seperti makhluk hidup yang hendak melawan.
Cynthia tanpa sadar mengepalkan tangan.
“Kevin…”
“Diam,” potong Kevin tajam.
Keringat mulai muncul di pelipisnya.
Racun ini bukan racun biasa.
Ia hidup dan melawan.
Namun, Teknik Jarum Naga Emas memang diciptakan untuk menundukkan sesuatu yang “hidup” di dalam tubuh manusia.
Jarum kelima ditusukkan.
Luka hitam itu bergetar hebat.
Aura hitam tipis mulai keluar dari tubuh gadis itu, seperti asap.
Kevin membuka mata.
Tatapannya berubah dingin.
“Black Rose Angel…” gumamnya dalam hati.
Wanita itu.
Ia sudah kembali bergerak.
Dan kali ini… bukan hanya Kevin yang menjadi targetnya.
Jarum keenam masuk.
Cynthia menatap Kevin dengan sorot mata yang kini berbeda.
Bukan hanya sebagai adik kecil yang dulu ia kenal.
Tapi sebagai pria misterius… yang kekuatannya jauh melampaui bayangannya.
Dan untuk pertama kalinya—ia mulai bertanya-tanya.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Kevin selama bertahun-tahun di gunung itu setelah kepergiannya ke dunia fana?
Bab Utama : 2/3.
Jarum kesembilan menusuk titik meridian di bawah tulang rusuk.Jarum kesepuluh... tepat di atas pusar.Aura keemasan mengalir semakin deras dari tubuh Kevin, menyusup melalui dua belas Jarum Naga Emas yang tertanam presisi di tubuh gadis itu.Luka hitam berbentuk kelopak mawar di dadanya bergetar liar.Asap hitam pekat mulai keluar, berputar di udara seperti makhluk hidup yang meraung tanpa suara.Cynthia tanpa sadar mundur setengah langkah.Udara di ruangan itu berubah dingin.Kevin membuka matanya.Tatapannya tajam.“Keluar,” bisiknya.Jarum kesebelas dan kedua belas masuk bersamaan.Cahaya emas meledak tipis.Kelopak mawar hitam itu mengkerut, retak—lalu hancur menjadi serpihan asap yang tersedot ke ujung jarum emas.Kevin memutar pergelangan tangannya.Asap hitam itu terjebak dalam pusaran energi emas… lalu lenyap.Luka di dada gadis itu perlahan memudar.Warna pucatnya masih ada, tapi aura kehidupannya mulai kembali menghangat.Napasnya yang tadi tersengal kini stabil.Racun Ibli
Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada kirinya, tepat di bawah tulang selangka, terdapat luka hitam berbentuk seperti kelopak mawar yang menghitam.Luka itu berdenyut perlahan, seperti bernapas dan hidup.Mata Kevin menyipit.Jantungnya berdetak lebih berat.Itu bukan sekadar luka.Itu sesuatu yang hidup dan berbahaya.Ia mengangkat tangan, merasakan aliran energi di sekitar tubuh gadis itu. Aura kehidupannya tipis… seperti lilin yang hampir padam.Organ-organ dalamnya sedang digerogoti sesuatu.Sesuatu yang ia kenal.Sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.“Racun Iblis Darah…” gumam Kevin pelan.Cynthia yang berdiri di belakangnya langsung menegang.“Kau mengenalinya?”Kevin tidak langsung menjawab.Bayangan api
Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Tapi justru karena itu… terasa jauh lebih serius.“Ada seseorang yang harus kau selamatkan.”Kevin mengernyit tipis. “Kok kakak pilih aku?”Cynthia tak ragu. “Kamu murid jenius guru di bidang medis. Penyakit dan racun apa pun bisa kau sembuhkan dalam sekejap.”Itu bukan sanjungan. Itu keyakinan.Kevin langsung menangkap arah pembicaraan. Tatapannya mengeras.“Pasien?” tanyanya singkat.Cynthia mengangguk.“Seorang gadis yang terluka parah.” Ia berhenti sepersekian detik, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Aku tidak bisa membawa dokter biasa. Tidak ada yang boleh tahu tentang dia.”Nada suaranya berubah menjadi dingin dan penuh rahasia.“Bagaimana lukanya?” Kevin bertanya lagi, sorot matan
Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu konglomerasi terbesar di Eldoria Country. Wanita yang kekayaannya bahkan melampaui keluarga Windsor berkali-kali lipat.“Kenapa orang sehebat dia… datang menjemput Kevin?” gumam Arthur, masih tak percaya.Annabella ikut menatap Kevin. Kebingungan jelas terlihat di wajahnya.“Ayah… mungkin ada kesalahan,” katanya. “Tidak mungkin Kevin punya kakak seperti Cynthia.”Isabella mendengus, mencibir tanpa menyembunyikan nada merendahkan.“Atau mungkin…” katanya santai, “dia datang untuk menghabisi gembel ini.”“Jaga mulutmu, Bella!” bentak Arthur tajam. Tatapannya penuh amarah. “Siapa pun yang berani macam-macam dengan calon menantuku, aku sendiri yang akan berdiri di depannya.”“Ayah... ingat kesehatan
Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dipakaikan jas mahal. Apa benar dia tunanganku?”Kevin tidak bereaksi. Wajahnya tenang tanpa terpengaruh dengan hinaan Isabella..Claudia menambahkan dengan suara halus namun menusuk,“Aku menghormati hutang budimu kepada Dewi Medis… tapi perjodohan ini, bukankah terlalu terburu-buru?”Arthur menghela napas panjang.“Sebuah janji tetaplah janji.”Isabella mendengus keras.“Janji? Ayah ingin aku menikah dengan pria yang bahkan tidak jelas asal-usulnya?”Tatapannya semakin tajam.“Aku lebih percaya pengawal kita daripada dia.”Kevin akhirnya membuka suara. Nada ucapannya datar, tenang, tanpa getaran emosi sedikit pun.“Jika Nona tidak setuju, aku tidak akan memaksa. Aku datang hanya untuk menjala
Annabella tersenyum tipis, lalu berbalik hendak pergi.“Nona!” panggil Kevin.Annabella menoleh.Saat itulah Kevin melemparkan segepok uang ke arahnya. Uang kertas yang terlipat rapi mendarat di tangannya.“Anggap saja itu untuk membayar kesalahanku padamu,” kata Kevin jujur. “Kamu pasti membutuhkannya untuk pulang.”Annabella menatap uang itu, lalu Kevin.Untuk sesaat… ia tidak berkata apa-apa.Hanya senyum kecil muncul di bibirnya.Tanpa balasan, tanpa ucapan terima kasih, ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya mantap, rambutnya tertiup angin kota.Kevin hanya berdiri di sana, memperhatikannya sampai menghilang di antara kerumunan.Baru setelah itu ia teringat sesuatu.Janjinya kepada gurunya untuk menemui tunangannya. Ia merogoh saku, mengeluarkan secarik kertas lusuh berisi tulisan tangan gurunya.“Sunset Drive… nomor 21,” gumamnya pelan.Kevin mengangkat tangan, menyetop taksi.Perjalanan tidak lama.Taksi berhenti di depan gerbang besar berornamen besi hitam, tinggi menjula







