Share

Hinaan Putri Windsor

Author: Zhu Phi
last update Last Updated: 2026-02-18 18:26:24

Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.

“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”

Arthur mengernyit. “Isabella.”

Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.

“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dipakaikan jas mahal. Apa benar dia tunanganku?”

Kevin tidak bereaksi. Wajahnya tenang tanpa terpengaruh dengan hinaan Isabella..

Claudia menambahkan dengan suara halus namun menusuk,

“Aku menghormati hutang budimu kepada Dewi Medis… tapi perjodohan ini, bukankah terlalu terburu-buru?”

Arthur menghela napas panjang.

“Sebuah janji tetaplah janji.”

Isabella mendengus keras.

“Janji? Ayah ingin aku menikah dengan pria yang bahkan tidak jelas asal-usulnya?”

Tatapannya semakin tajam.

“Aku lebih percaya pengawal kita daripada dia.”

Kevin akhirnya membuka suara. Nada ucapannya datar, tenang, tanpa getaran emosi sedikit pun.

“Jika Nona tidak setuju, aku tidak akan memaksa. Aku datang hanya untuk menjalankan amanat guruku.”

Kata-kata itu ringan… namun justru membuat udara terasa lebih dingin.

Isabella menatapnya beberapa detik, lalu tertawa pendek.

“Lihat? Bahkan dia tidak punya harga diri.” Bibirnya melengkung sinis. “Pria macam apa yang datang hanya karena disuruh?”

Arthur mengangkat tangan perlahan.

“Cukup, Isabella.”

Suaranya tidak keras, tapi tegas.

Seolah seluruh ruangan langsung menahan napas.

Arthur kembali menatap Kevin sesaat, lalu mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan.

“Di mana Anna?”

Claudia menjawab tanpa mengubah ekspresi.

“Belum keluar kamar. Katanya kelelahan setelah perjalanan.”

Arthur mengangguk pelan.

“Biarkan dia istirahat.”

Isabella menyilangkan tangan di dada. Sikap jijiknya kini tidak lagi disamarkan.

“Ayah… aku tidak peduli janji apa pun.” Suaranya dingin, tegas, seolah kalimat itu sudah ia siapkan jauh sebelum Kevin menginjakkan kaki di rumah ini. “Aku menolak perjodohan ini.”

Ruangan terasa makin sempit.

“Aku tidak akan menikah dengan pria yang muncul tiba-tiba seperti pengemis yang diberi jas mahal.”

Claudia tidak menegur. Tidak membantah.

Tatapannya justru menegaskan bahwa ia sepenuhnya setuju.

Arthur terdiam lama.

Matanya kembali pada Kevin—kali ini lebih dalam, lebih lama. Seakan mencoba membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

“Aku minta maaf,” ucapnya akhirnya, suara rendah dan berat. “Anakku memang keras kepala.”

Kevin hanya tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa, Tuan.”

Jawaban singkat itu justru membuat atmosfer semakin tegang, seolah ruangan kehilangan oksigen.

Isabella mendengus pelan.

“Bagus kalau begitu. Jadi kita sepakat… perjodohan ini tidak perlu dilanjutkan.”

Kevin tidak menjawab.

Arthur menoleh tajam pada putrinya.

“Kau terlalu cepat mengambil keputusan.”

Isabella membalas tatapan itu tanpa sedikit pun gentar.

“Ayah terlalu cepat mempercayai orang asing.”

Lalu...

Suara langkah tergesa terdengar dari luar ruangan.

Pintu utama terbuka sedikit. Seorang pelayan membungkuk.

“Tuan… Nona Anna sudah bangun.”

Arthur langsung menoleh.

“Suruh dia ke sini.”

Beberapa detik berlalu.

Dari koridor, suara langkah sepatu wanita mulai terdengar. Pelan, teratur, bergema di sepanjang lorong panjang.

Kevin menoleh tanpa sadar. Rasa penasaran yang tak bisa ia jelaskan muncul di dadanya.

Langkah itu semakin dekat.

Pintu terbuka.

Dan di ambang pintu… berdiri wanita yang baru saja ia selamatkan nyawanya.

Annabella Windsor terdiam tepat di ambang pintu begitu pandangannya menangkap sosok Kevin berdiri di tengah ruang utama rumah keluarganya.

Langkahnya terhenti. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Ia datang hanya dengan rasa penasaran. Pelayan mengatakan tunangan Isabella sudah tiba. Ia sekadar ingin melihat seperti apa pria yang akan dipasangkan dengan adik tirinya.

Namun sosok yang berdiri di hadapannya sekarang…

Adalah pria yang semalam menyelamatkan nyawanya.

“Kevin…?” Suaranya keluar nyaris berbisik, bercampur kaget dan tidak percaya. “Kenapa kamu bisa ada di sini?”

Kata-kata itu membuat seluruh kepala di ruangan menoleh bersamaan.

Arthur Windsor mengernyit. Pandangannya berpindah dari putrinya ke Kevin.

“Kalian… saling kenal?”

Annabella menarik napas dalam, mencoba menata pikirannya yang masih berputar.

“Ayah… aku belum sempat cerita,” ucapnya pelan. “Kevin yang menolongku saat kecelakaan. Mobilku hampir jatuh ke jurang kemarin.”

“Apa?!” Arthur langsung melangkah maju. Wajahnya berubah pucat oleh kecemasan. “Kamu selalu hati-hati! Bagaimana bisa terjadi kecelakaan? Kamu tidak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja,” jawab Annabella cepat. Matanya kembali pada Kevin. “Kalau bukan karena ditolong dia… mungkin aku sudah tewas.”

Udara di ruangan itu berubah seketika.

Arthur memandang Kevin lama—kali ini bukan sebagai calon menantu, melainkan sebagai seseorang yang baru saja menyelamatkan nyawa putrinya. Rasa hormat di matanya bertambah, lebih dalam dari sebelumnya.

Namun, reaksi di sisi lain ruangan jauh berbeda.

Claudia hanya mengangkat alis tipis, ekspresinya nyaris tak berubah.

Isabella berdiri dengan wajah datar, bahkan tampak tidak peduli.

Hal itu bukan sesuatu yang mengejutkan.

Claudia adalah ibu tiri Annabella.

Isabella… adik tiri yang sejak dulu tidak pernah benar-benar akur dengannya.

Awalnya, perjodohan ini memang ditujukan untuk Annabella. Namun saat Claudia mengira Kevin adalah putra pengusaha besar, ia mendorong Isabella sebagai pengganti.

Arthur kembali menatap Isabella. Kali ini wajahnya keras, keputusan sudah terukir jelas.

“Pertunangan ini tetap sesuai rencana,” ucapnya mantap. “Jika kamu menolak… kamu boleh angkat kaki dari keluarga Windsor.”

Claudia langsung menoleh, terkejut.

Isabella berputar cepat.

“Ayah...”

Arthur menatap Claudia tajam sebelum protes itu sempat selesai.

“Kamu juga,” lanjutnya, dingin. “Jika membela putrimu, ikut keluar saja.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada tamparan.

Claudia terdiam. Wajahnya menegang. Kehilangan kemewahan, status, dan kehidupan nyaman yang selama ini ia nikmati… adalah mimpi buruk yang tak bisa ia bayangkan.

Isabella mengepalkan tangan dengan keras menahan amarah.

Tatapannya menusuk Kevin seperti belati.

“Awas kau, Kevin…”

Ancaman itu terucap dalam diam.

Ia berjanji akan membuat pria itu tidak tahan tinggal di rumah ini.

Belum sempat suasana ruang utama kembali tenang setelah perdebatan tadi, pintu kayu besar itu tiba-tiba terbuka keras.

Langkah tergesa terdengar.

Seorang pelayan masuk dengan napas memburu. Wajahnya pucat seperti baru melihat sesuatu yang tak terbayangkan.

“Tuan…” Suaranya bergetar. “Nona Cynthia dari Spencer Industries datang. Ia ingin menjemput Tuan Muda Kevin. Katanya… Tuan Muda Kevin adalah adik seperguruannya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Pemilik Serbuk Es Api

    Jarum kesembilan menusuk titik meridian di bawah tulang rusuk.Jarum kesepuluh... tepat di atas pusar.Aura keemasan mengalir semakin deras dari tubuh Kevin, menyusup melalui dua belas Jarum Naga Emas yang tertanam presisi di tubuh gadis itu.Luka hitam berbentuk kelopak mawar di dadanya bergetar liar.Asap hitam pekat mulai keluar, berputar di udara seperti makhluk hidup yang meraung tanpa suara.Cynthia tanpa sadar mundur setengah langkah.Udara di ruangan itu berubah dingin.Kevin membuka matanya.Tatapannya tajam.“Keluar,” bisiknya.Jarum kesebelas dan kedua belas masuk bersamaan.Cahaya emas meledak tipis.Kelopak mawar hitam itu mengkerut, retak—lalu hancur menjadi serpihan asap yang tersedot ke ujung jarum emas.Kevin memutar pergelangan tangannya.Asap hitam itu terjebak dalam pusaran energi emas… lalu lenyap.Luka di dada gadis itu perlahan memudar.Warna pucatnya masih ada, tapi aura kehidupannya mulai kembali menghangat.Napasnya yang tadi tersengal kini stabil.Racun Ibli

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Racun Iblis Darah dan Teknik 12 Naga Emas

    Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada kirinya, tepat di bawah tulang selangka, terdapat luka hitam berbentuk seperti kelopak mawar yang menghitam.Luka itu berdenyut perlahan, seperti bernapas dan hidup.Mata Kevin menyipit.Jantungnya berdetak lebih berat.Itu bukan sekadar luka.Itu sesuatu yang hidup dan berbahaya.Ia mengangkat tangan, merasakan aliran energi di sekitar tubuh gadis itu. Aura kehidupannya tipis… seperti lilin yang hampir padam.Organ-organ dalamnya sedang digerogoti sesuatu.Sesuatu yang ia kenal.Sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.“Racun Iblis Darah…” gumam Kevin pelan.Cynthia yang berdiri di belakangnya langsung menegang.“Kau mengenalinya?”Kevin tidak langsung menjawab.Bayangan api

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Minta Bantuan

    Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Tapi justru karena itu… terasa jauh lebih serius.“Ada seseorang yang harus kau selamatkan.”Kevin mengernyit tipis. “Kok kakak pilih aku?”Cynthia tak ragu. “Kamu murid jenius guru di bidang medis. Penyakit dan racun apa pun bisa kau sembuhkan dalam sekejap.”Itu bukan sanjungan. Itu keyakinan.Kevin langsung menangkap arah pembicaraan. Tatapannya mengeras.“Pasien?” tanyanya singkat.Cynthia mengangguk.“Seorang gadis yang terluka parah.” Ia berhenti sepersekian detik, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Aku tidak bisa membawa dokter biasa. Tidak ada yang boleh tahu tentang dia.”Nada suaranya berubah menjadi dingin dan penuh rahasia.“Bagaimana lukanya?” Kevin bertanya lagi, sorot matan

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Kakak Pertama

    Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu konglomerasi terbesar di Eldoria Country. Wanita yang kekayaannya bahkan melampaui keluarga Windsor berkali-kali lipat.“Kenapa orang sehebat dia… datang menjemput Kevin?” gumam Arthur, masih tak percaya.Annabella ikut menatap Kevin. Kebingungan jelas terlihat di wajahnya.“Ayah… mungkin ada kesalahan,” katanya. “Tidak mungkin Kevin punya kakak seperti Cynthia.”Isabella mendengus, mencibir tanpa menyembunyikan nada merendahkan.“Atau mungkin…” katanya santai, “dia datang untuk menghabisi gembel ini.”“Jaga mulutmu, Bella!” bentak Arthur tajam. Tatapannya penuh amarah. “Siapa pun yang berani macam-macam dengan calon menantuku, aku sendiri yang akan berdiri di depannya.”“Ayah... ingat kesehatan

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Hinaan Putri Windsor

    Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dipakaikan jas mahal. Apa benar dia tunanganku?”Kevin tidak bereaksi. Wajahnya tenang tanpa terpengaruh dengan hinaan Isabella..Claudia menambahkan dengan suara halus namun menusuk,“Aku menghormati hutang budimu kepada Dewi Medis… tapi perjodohan ini, bukankah terlalu terburu-buru?”Arthur menghela napas panjang.“Sebuah janji tetaplah janji.”Isabella mendengus keras.“Janji? Ayah ingin aku menikah dengan pria yang bahkan tidak jelas asal-usulnya?”Tatapannya semakin tajam.“Aku lebih percaya pengawal kita daripada dia.”Kevin akhirnya membuka suara. Nada ucapannya datar, tenang, tanpa getaran emosi sedikit pun.“Jika Nona tidak setuju, aku tidak akan memaksa. Aku datang hanya untuk menjala

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Menemui Tunangan

    Annabella tersenyum tipis, lalu berbalik hendak pergi.“Nona!” panggil Kevin.Annabella menoleh.Saat itulah Kevin melemparkan segepok uang ke arahnya. Uang kertas yang terlipat rapi mendarat di tangannya.“Anggap saja itu untuk membayar kesalahanku padamu,” kata Kevin jujur. “Kamu pasti membutuhkannya untuk pulang.”Annabella menatap uang itu, lalu Kevin.Untuk sesaat… ia tidak berkata apa-apa.Hanya senyum kecil muncul di bibirnya.Tanpa balasan, tanpa ucapan terima kasih, ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya mantap, rambutnya tertiup angin kota.Kevin hanya berdiri di sana, memperhatikannya sampai menghilang di antara kerumunan.Baru setelah itu ia teringat sesuatu.Janjinya kepada gurunya untuk menemui tunangannya. Ia merogoh saku, mengeluarkan secarik kertas lusuh berisi tulisan tangan gurunya.“Sunset Drive… nomor 21,” gumamnya pelan.Kevin mengangkat tangan, menyetop taksi.Perjalanan tidak lama.Taksi berhenti di depan gerbang besar berornamen besi hitam, tinggi menjula

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status