Share

Negosiasi Kepemilikan

Author: Azzurra
last update Last Updated: 2026-02-11 15:27:58

Bab 6

Ana tak peduli ucapan Adrian, dia memutuskan pergi dari tempat yang dia rasa nyaman selama ini. Tujuannya hanya satu, stasiun kereta api di pusat kota. Dia akan pergi menuju desa terpencil tempat tak seorang pun tau tempat itu, tempat yang dia beli memang untuknya menepi saat penat melanda selama ini. Bahkan keluarganya tak ada satupun yang tau tempat ini.

"Aku harus pergi, aku harus hilang," gumamnya terus-menerus. Matanya terus melirik kaca spion, takut melihat SUV hitam yang sering mengikutinya.

Sesampainya di stasiun pusat, Ana membeli tiket secara tunai—dia cukup pintar untuk tidak menggunakan kartu kredit yang bisa dilacak. Dia duduk di bangku peron yang gelap, menarik topi jaketnya dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang setiap kali melihat pria tinggi lewat.

Kereta terakhir malam itu akhirnya datang dengan bunyi peluit yang memekik. Ana berdiri, menggenggam tasnya erat-erat, lalu melangkah masuk ke dalam gerbong yang hampir kosong.

Dia duduk di pojok gerbong, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang basah. Kereta mulai bergerak perlahan. Ana menghela napas panjang merasa bebas dari kekacauan beberapa hari ini.

Namun, perasaan lega itu hanya bertahan sesaat. Kereta tiba-tiba mengerem mendadak di tengah jalur yang dikelilingi hutan. Bunyi decitan rel yang bergesekan dengan roda kereta membuat telinga sakit. Lampu gerbong berkedip-kedip lalu mati total.

"Ada apa?" tanya seorang penumpang lain dengan panik.

Ana merasakan firasat buruk. Dia berdiri dan mencoba melihat ke luar jendela. Di luar sana, di antara pepohonan yang gelap, puluhan lampu sorot dari mobil-mobil hitam menyala secara bersamaan, mengepung kereta itu. Ana memincingkan mata.

Pintu gerbong terbuka dengan paksa. Beberapa pria berjas hitam dan berbadan besar masuk lalu berbaris memberi jalan pada seseorang membuat penumpang lain berteriak ketakutan.

“Semua harap tenang, kami tidak merampok, atau melakukan kejahatan saya hanya ingin menjemput istri yang sedang merajuk.”

Ana yang mendengar penuturan pria itu semakin kelimpungan, dia ingin bersembuyi tapi tak ada tempat untuk bersembunyi. Langkah sepatu kulit yang berat itu terdengar di lantai gerbong. Ana membeku di tempatnya.

Dalton muncul dari kegelapan. Dia mengenakan mantel panjang hitam, rambutnya sedikit basah karena hujan, dan matanya ... matanya terlihat lebih gelap dan marah.

"Kamu mau pergi ke mana, Anastasia?" suara Dalton berat.

"Biarkan aku pergi, Dalton! Tolong!" Ana berkata pelan, suaranya parau. "Aku tidak mau terlibat dengan kalian lagi! Aku benci kalian semua!"

Dalton melangkah maju, perlahan tapi pasti, hingga dia berdiri tepat di depan Ana. Dia mengabaikan sekitarnya dan hanya menatap wanita yang sedang gemetar itu.

Melihat Ana gemetar, seorang bapak mendekat. “Tunggu!! Apakah benar dia istri Anda? Sepertinya dia begitu ketakutan.”

Tanpa banyak bicara Dalton mengeluarkan selembar kertas dari rumah sakit, istri saya sakit jiwa, Pak. Dia sering begini.”

Anastasia menggeleng. Ingin rasanya dia meninju lelaki di hadapannya karna mengatakan dia gila. “Kamu yang gila, Dalton kamu terobsesi denganku.”

"Aku bisa membiarkanmu membenciku seumur hidupmu," Dalton mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menyapu pipi Ana yang basah oleh air mata. "Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Kamu pernah menyelamatkanku, Ana. Sekarang, giliran aku yang menjagamu, meskipun itu artinya aku harus mengurungmu di dalam sangkar emas."

Dalton mengangkat tubuh Ana yang meronta ke dalam gendongannya seolah wanita itu tidak memiliki berat.

Orang di dalam kereta tak bisa berbuat banyak melihat adegan ini. Sebelum kereta kembali berjalan anak buah Dalton menghapus semua vidio yang di ambil oleh orang yang berada di gerbong itu, juga mengultimatum agar mereka tutup mulut.

**

Mansion Dalton berdiri megah di atas bukit, terisolasi dari dunia luar. Di dalam salah satu kamar mewah yang lebih mirip penjara berlapis sutra, Anastasia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela yang berjeruji besi dekoratif, sudah dua hari dia di sini.

Tiba-tiba, suara keributan dari lantai bawah tertangkap indra pendengarannya.

"Aku punya hak untuk bertemu calon istriku! Dalton! Keluar kau, brengsek!"

Itu suara Adrian.

Ana berlari ke arah pintu, namun dua penjaga bertubuh raksasa menghadangnya. Dari celah balkon lantai dua, Ana bisa melihat pemandangan di aula utama. Adrian berdiri di sana, dikelilingi oleh anak buah Dalton yang menodongkan senjata ke arahnya. Adrian tampak kacau, jasnya berantakan, tapi dia masih mencoba mempertahankan harga dirinya.

Dalton keluar dari ruang kerjanya dengan langkah santai, menuruni tangga seolah-olah Adrian hanyalah seekor serangga yang mengganggu tidurnya.

"Kamu berani datang ke rumahku, Pengacara?" Dalton berujar dingin sembari menyulut sebatang cerutu. "Kukira kamu sedang sibuk menyiapkan pidato permintaan maaf untuk para tamu undanganmu."

"Kembalikan Anastasia!" tuntut Adrian, suaranya bergetar. "Pernikahan kami tinggal tiga hari lagi! Semua kerabat, kolega bisnis, dan klien besarku sudah menerima undangan, jika pengantin wanitanya hilang, namaku hancur! Karierku tamat!"

Dalton berhenti di anak tangga terakhir, tepat di hadapan Adrian. Dia mengembuskan asap cerutu ke wajah Adrian. "Jadi, kamu datang ke sini bukan karena mencintainya? Kamu datang karena takut namamu hancur?"

Adrian terdiam sejenak, matanya bergerak gelisah. "Dia ... dia adalah bagian dari citraku. Aku butuh dia di sisiku di pelaminan nanti. Mari bernegosiasi, Dalton. Aku akan memberikan akses penuh ke gudang farmasi yang kamu inginkan di beberapa rumah sakit milik Ana. Aku akan melipatgandakan jalur distribusi obatmu tanpa potongan sepeser pun. Tapi kembalikan dia untuk satu hari saja! Setelah upacara selesai, kamu boleh mengambilnya kembali!"

Dari lantai atas, Ana yang mendengar percakapan itu menutup mulutnya dengan tangan. Air mata pedih jatuh ke pipinya, Ana tak menyangka Adrian melakukan itu.

Satu hari saja? Dia ingin meminjamkanku seperti barang hanya demi reputasi?

Dalton tertawa, sebuah tseringaian yang mengerikan. "Kamu lebih rendah dari sampah, Adrian."

Tiba-tiba, Dalton mencengkeram kerah baju Adrian dan membantingnya ke meja marmer hingga vas bunga hancur berkeping-keping.

"Dengarkan aku baik-baik," desis Dalton, suaranya sangat rendah hingga membuat bulu kuduk berdiri. "Kamu kehilangan hakmu atas dirinya saat kamu menggunakan namanya sebagai jaminan hutangmu. Dia bukan properti. Dia adalah wanita yang menyelamatkan nyawaku, dan itu membuatnya lebih berharga daripada seluruh hartamu dan karier sampahmu."

"Tapi ... tapi kita punya kesepakatan—"

"Kerjasama batal," potong Dalton. Dia memberi isyarat pada anak buahnya. "Bawa dia keluar. Jika dia menginjakkan kakinya lagi di tanahku, atau jika aku mendengar dia menyebut nama Anastasia lagi di depan publik, pastikan lidahnya tidak bisa digunakan lagi untuk bicara di pengadilan."

Adrian diseret keluar seperti karung beras, berteriak-teriak meminta ampun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Negosiasi Kepemilikan

    Bab 6 Ana tak peduli ucapan Adrian, dia memutuskan pergi dari tempat yang dia rasa nyaman selama ini. Tujuannya hanya satu, stasiun kereta api di pusat kota. Dia akan pergi menuju desa terpencil tempat tak seorang pun tau tempat itu, tempat yang dia beli memang untuknya menepi saat penat melanda selama ini. Bahkan keluarganya tak ada satupun yang tau tempat ini. "Aku harus pergi, aku harus hilang," gumamnya terus-menerus. Matanya terus melirik kaca spion, takut melihat SUV hitam yang sering mengikutinya. Sesampainya di stasiun pusat, Ana membeli tiket secara tunai—dia cukup pintar untuk tidak menggunakan kartu kredit yang bisa dilacak. Dia duduk di bangku peron yang gelap, menarik topi jaketnya dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang setiap kali melihat pria tinggi lewat. Kereta terakhir malam itu akhirnya datang dengan bunyi peluit yang memekik. Ana berdiri, menggenggam tasnya erat-erat, lalu melangkah masuk ke dalam gerbong yang hampir kosong. Dia duduk di pojok gerbong, meny

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pria Abnormal

    Bab 5 Ana menerobos masuk, mengabaikan penjaga bertubuh besar di pintu depan, "Katakan pada bosmu, Dokter yang menjahit perutnya datang untuk menagih hutang!" Entah keberanian dari mana Ana berteriak lantang dan para penjaga membiarkannya lewat. Ana dibawa ke lantai atas, ke sebuah ruangan luas dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip kota. Di sana, Dalton duduk di sebuah kursi kulit besar, menggenggam segelas wiski. Jasnya terlepas, hanya mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan perban yang masih melilit perutnya, hasil jahitan tangan Ana. "Kamu sungguh berani, Dokter Anastasia," suara Dalton rendah, bergema di ruangan yang sunyi. "Tutup mulutmu!" bentak Ana. Dia melangkah maju mendekati pria itu, berdiri tepat di depan meja Dalton, napasnya memburu. "Kamu pikir kamu siapa?! Aku tidak mengenalmu! Kita tidak punya urusan apa pun! Kenapa kamu melakukan ini padaku?” Ana berkata penuh amarah. Dalton menaikkan sebelah alisnya, tampak t

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Mencari Jejak Sang Iblis

    Bab 4 Mencari Jejak Sang Iblis.Dalton Obsidian duduk di depan meja bar. Jemarinya mengaduk minuman di dalam gelas lalu meminum sekali tenggak. “Awasi saja dia, Adrian tak pantas bersanding dengan wanita itu, dia harus jadi milikku.” Mata gelap Dalton seperti sedang menatap Anastasia - Dokter yang dengan berani menolongnya malam itu.“Sepertinya wanita itu sedang mencari informasi tentangmu, Bos.”“Biarkan, kita lihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya.” Dalton menuang wiski ke dalam gelas Kembali meneguk dengan sekali tenggak. “Anastasia Ananta. Cantik, kuat, penuh ambisi. Sepertinya pertemuan kita malam itu adalah takdir kita.” Dalton terus merapal nama Ana, tangannya mengelus perut bekas jahitan Anastasia.“Bos, kamu jatuh cinta? Aku ingatkan Bos –“ Tangan Dalton naik menginterupsi ucapan Daniel. “Dia tak seperti wanita lainnya. Dadaku berdebar saat bersentuhan dengannya.”Daniel mendengus. “Kamu bisa pakai wanita manapun, Bos. Tapi tidak memiliki.”Dalton tertawa mendengar u

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Hantu Dalam Kegelapan

    Bab 3 Gerakan tangan Adrian yang sedang merapikan dasi terhenti seketika. Raut wajahnya berubah sedikit tegang, meski hanya sekejap. "Dari mana kamu mendengar inisial dan nama itu?" "Tadi aku mendengar kamu menyebut namanya, dan pagi tadi di rumah sakit, aku melihat berita di televisi tentang kekacauan di pelabuhan. Mereka menyebut nama Dalton." Bohong Ana sedikit. Dia tidak mungkin bilang kalau habis menjahit perut lelaki berinisial D semalam. “Apakah Dalton pria yang tadi kamu sebut-sebut di dalam mobil adalah pria berinisial D?” Adrian mendengus remeh, tapi ada sedikit kegelisahan di suaranya. "Nggak usah membicarakan dia, Ana. Dia seorang pengusaha yang namanya bersih. Tetapi sesungguhnya dia sampah masyarakat. Dia seorang kriminal kelas kakap, kepala mafia yang namanya saja sudah membuat polisi gemetar. Tapi tenang saja, orang seperti kita tidak akan pernah bersentuhan dengan iblis seperti dia.” Mendengar penuturan Adrian Ana meneguk ludahnya susah payah. “Ya Tuhan, seperti

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Properti Of D

    Bab 2Ana menoleh ke arah cahaya lampu mobil yang mulai terlihat di ujung jalan, lalu menatap mata lelaki yang kini tak berdaya. Firasatnya mengatakan bahwa mobil itu adalah bahaya.Ana mendengus kesal, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang masih berlumuran darah."Demi Tuhan, aku akan menyesali ini," gerutu Ana.Namun dia membantu pria itu bangun, lalu membahu pria besar itu, mengerahkan seluruh tenaganya untuk memapah si pria menuju mobilnya. Anastasia tidak ingat bagaimana tepatnya dia berhasil mengemudikan mobil dengan kecepatan gila malam ini demi menghindari mobil hitam yang mengejar, hingga akhirnya dia sampai di sebuah klinik kecil milik sahabat yang bisa ia percayai. Dia menghabiskan sisa malam dengan menjahit luka tembak pria ini dan memantau kondisinya hingga matahari terbit.“Ana kamu harus lapor polisi, dia kena tembak, ini bukan luka biasa,” Anggel terus melirik ke arah pria yang masih terbaring lemah. “Aku bingung Ngel. Dia mengancamku tadi. Lebih ba

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Bayangan Di Ujung Lelah.

    Bab 1Uhh ...Ana merenggangkan tubuh, mulutnya menguap lelah. Aroma disinfektan dan obat-obatan masih tertinggal di penciumannya. Tiga belas jam. Rekor terbarunya berdiri di depan meja operasi, menjahit pembuluh darah halus di otak seorang pasien korban kecelakaan.“Ya Tuhan, capeknya,” gumam Ana.Ia menghela napas panjang lalu menggoyang kepala dan pundak yang terasa pegal.“Kasur I’m coming!!” seru Ana bersemangat. “Guys, pulang ya.” Ana melambaikan tangan pada teman satu timnya.Yang dia inginkan kini hanyalah kasur empuk, selimut tebal, dan tidur tanpa mimpi selama dua hari penuh, membayangkan kasur empuk membuat Ana kembali bersemangat, berjalan cepat ke arah parkiran.Setelah sampai di parkiran, dia membuka pintu sedan hitamnya dan menghempaskan tubuh ke kursi pengemudi. Kabin mobil terasa menenangkan setelah hiruk-pikuk bunyi monitor detak jantung di ruang oprasi barusan.Lagi Ana mengeluarkan nafas beratnya. Perlahan tangannya menekan tombol starter, mesin menderu halus. Wan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status