Share

Properti Of D

Penulis: Azzurra
last update Tanggal publikasi: 2026-02-11 14:46:09

Bab 2

 

Ana menoleh ke arah cahaya lampu mobil yang mulai terlihat di ujung jalan, lalu menatap mata lelaki yang kini tak berdaya. Firasatnya mengatakan bahwa mobil itu adalah bahaya.

Ana mendengus kesal, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang masih berlumuran darah.

"Demi Tuhan, aku akan menyesali ini," gerutu Ana.

Namun dia membantu pria itu bangun, lalu membahu pria besar itu, mengerahkan seluruh tenaganya untuk memapah si pria menuju mobilnya.

Anastasia tidak ingat bagaimana tepatnya dia berhasil mengemudikan mobil dengan kecepatan gila malam ini demi menghindari mobil hitam yang mengejar, hingga akhirnya dia sampai di sebuah klinik kecil milik sahabat yang bisa ia percayai. Dia menghabiskan sisa malam dengan menjahit luka tembak pria ini dan memantau kondisinya hingga matahari terbit.

“Ana kamu harus lapor polisi, dia kena tembak, ini bukan luka biasa,” Anggel terus melirik ke arah pria yang masih terbaring lemah.

“Aku bingung Ngel. Dia mengancamku tadi. Lebih baik sekarang aku bawa ke tempatku lewat jalur belakang saja. Kamu harus tetap tutup mulut.” Ana menatap Anggel, meyakinkan sahabatnya jika dia bisa dipercaya.

Kini, sudah pukul sepuluh pagi, Ana berdiri di depan wastafel rumah sakit tempatnya bekerja. Dia menyiram wajahnya berkali-kali dengan air dingin. Kantung mata hitam terlihat jelas di wajah cantiknya yang terlihat pucat.

"Dokter Ananta? Anda baik-baik saja?" Seorang perawat menyapa saat Ana keluar dari kamar mandi, karna wajah Ana terlihat pucat

"Ya, hanya kurang tidur, Siska,” jawab Ana.

“bukankah dua hari ini dokter libur?”

“Iya, harusnya tapi ada pasien yang harus aku tolong, bagaimana kondisi pasien di bangsal VVIP yang baru masuk tadi pagi?" tanya Ana berusaha terdengar kasual.

 Dia memindahkan pria itu ke rumah sakitnya sendiri secara diam-diam melalui jalur khusus agar tidak menarik perhatian.

"Itu dia masalahnya, Dok. Saya baru mau melapor." Perawat itu tampak bingung. "Pasien di kamar 402, dia sudah tidak ada."

Langkah kaki Ana terhenti seketika. "Apa maksudmu tidak ada? Dia baru saja menjalani operasi darurat! Kondisinya belum stabil, dia bisa mengalami pendarahan dalam jika berkeliaran.”

"Kami juga tidak tahu, Dok. Saat perawat jaga masuk untuk mengganti infus, ruangan itu sudah kosong, bersih, bahkan tidak ada jejak kalau kamar itu habis di tempati. Catatan administrasinya pun hilang dari sistem."

Darah Ana serasa berdesir dingin. Dia langsung berlari menuju kamar 402. Benar saja, ruangan itu rapi seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seprai putih itu kencang tanpa kerutan. Bau darah dan obat yang tadi menyengat, kini digantikan oleh aroma pembersih lantai yang tajam.

"Gila. Ini benar-benar gila," bisik Ana pada dirinya sendiri. “Baru saja di tinggal sebentar dia sudah menghilang.”

Dia merogoh saku jas putihnya, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Sebuah kancing jas berwarna hitam dengan ukiran naga kecil dari perak di tengahnya. Satu-satunya bukti fisik bahwa kejadian semalam bukan sekadar mimpi buruk akibat kelelahan.

Ting!

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Adrian, tunangannya.

[Sayang, sore ini jadi fitting gaun pengantin. Aku jemput jam 4. Jangan telat lagi, aku ada meeting penting setelah itu.]

 

Melihat pesan di ponselnya bibir Ana menyungging kecil, perasaannya sedikit lebih tenang, mengingat Adrian dan pernikahannya. Ana berusaha melupakan kejadian semalam dan pria itu. Anggap saja tak pernah terjadi apa-apa. Pikir Ana.

Dia harus fokus pada pernikahannya yang tinggal dua minggu lagi. Adrian adalah pria yang baik, stabil secara finansial dan setia, semua yang dibutuhkan Ana untuk masa depan yang bahagia ada pada Adrian.

Ana membalas pesan Adrian sambil berjalan kembali ke ruangannya, Namun saat Ana berjalan melewati lobi rumah sakit, dia seperti merasakan ada yang mengawasinya. Dia menoleh ke arah kerumunan di pintu masuk, matanya memindai keadaan tapi tidak menemukan siapa pun yang mencurigakan.

Kembali Ana melanjutkan langkah, saat tiba di meja kerjanya, Ana menemukan sebuah kotak beludru hitam kecil tergeletak di atas tumpukan dokumen medisnya. Tidak ada kartu ucapan. Hanya kotak itu saja.

Kembali senyum mengembang di bibir Ana. “Kamu kasih aku kejutan Adrian?” gumam Ana.

Dia mengambil kotak itu lalu membukanya, di dalamnya terdapat sebuah bros emas berbentuk mawar mekar, kedua alis mata Ana mengernyit mengamati tengah kelopak mawar itu, ada bercak kecil berwarna merah, mata ana memincing masih mengamati, “ini bukan permata, melainkan noda darah yang sudah mengering,” gumam Ana.

Ana nyaris menjatuhkan kotak itu. Rasa takut yang semalam ia rasakan kembali menghantamnya. Ana yakin ini bukan dari Adrian.

Ana membolak balik bros itu, ada tulisn kecil: "Property of D."

 

Inisial, ini dari pria itu, pria itu tidak pergi atau menghilang. Dia hanya sedang bersembunyi dan mengawasi setiap langkah yang aku ambil, pikir Ana.

"D ... Siapa D?" gumam Ana dengan suara bergetar.

***

 

Butik pengantin itu tampak sangat mewah, dipenuhi dengan aroma bunga melati dan deretan kain sutra putih yang menyilaukan. Namun bagi Anastasia, ruangan itu terasa sesak.

"Ana, kamu melamun lagi," suara Adrian membuyarkan lamunan Ana. Pria itu berdiri di depan cermin besar, sedang merapikan dasinya. Dia tampak sempurna, tipikal pengacara muda sukses yang hidupnya tertata rapi.

Ana tersentak, mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik lipatan gaun yang sedang dia coba. Barusan di dalam mobil Ana mendengar Adrian menyebut-nyebut nama Dalton saat dia berbalas telpon. Apakah inisial D itu adalah Dalton? Pikir Ana.

"Maaf, Adrian. Aku hanya masih merasa lelah karena operasi kemarin. Aku belum istirahat.” Ana berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

Adrian berbalik, menatap Ana melalui pantulan cermin. "Karier memang penting, sayang, tapi pernikahan kita adalah peristiwa besar bagiku dan keluargaku. Kamu tahu berapa banyak klien penting yang akan hadir? Aku tidak ingin calon istriku terlihat tidak fokus dan seperti orang sakit.”

Ana menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Adrian selalu tentang reputasi, tamu penting dan harga diri. Ana kadang merasa tak mengenali Adrian sepenuhnya tetapi lelaki ini memiliki segalanya yang Ana butuhkan.

"Adrian," panggil Ana pelan. “Apakah kamu mengenal pria dengan inisial D di kota ini? Atau inisial D itu Dalton? Siapa dia? sepertinya sangat berpengaruh di kota ini?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
alxandria310182
Bab 2 juga oke. lanjut baca
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Akhir Perjalanan.

    Sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Di beranda belakang yang menghadap ke kolam ikan, Dalton sedang menggendong baby Aurora di pangkuannya. Meskipun luka tembak di tubuhnya sudah jauh membaik, Dalton masih betah duduk di kursi santai, menikmati perhatian lebih dari sang istri. Ana berjalan mendekat sambil membawa secangkir teh Roselle hangat kesukaannya. Langkah kakinya ringan, dan senyum di wajah cantiknya memancarkan kedamaian yang seutuhnya. Setelah meletakkan cangkir di meja, Ana mengambil alih Aurora yang sudah mulai mengantuk, lalu menidurkannya sejenak di stroller di samping mereka. Setelah bayinya terlelap, Ana kembali mendekati Dalton. Bukannya duduk di kursi sebelah, Ana justru bersedekap di depan Dalton sambil menyipitkan mata indahnya, menatap sang suami dengan pandangan menyelidik yang penuh godaan. "Tuan Dalton..." panggil Ana, nadanya sengaja dibuat seformal mungkin tapi sarat akan sindiran manja. "Ini sebenarnya kamu itu memang masih sakit, atau cuma pura-

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Menuju Akhir.

    Gelak tawa renyah terdengar di ruang makan yang hangat itu, mengikis sisa-sisa ketegangan yang sempat mereka bawa lintas benua.Julian dan Mikail saling pandang, lalu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidup mereka, rasa aman yang hakiki itu benar-benar nyata. Bukan aman karena dikelilingi senjata atau barikade hukum, melainkan aman karena mereka tahu, mereka berada di tengah orang-orang yang tulus menyayangi mereka."Biarkan saja dia pergi, kemarin di Jenewa pun dia sesekali terlihat memandang foto yang dia simpan di sakunya." Sahut Mikail sambil terus mengunyah makanannya. "Pria sedingin Daniel juga butuh kehangatan. Lagipula, menghadapi dokter yang sedang merajuk jauh lebih sulit daripada meretas sistem keamanan tingkat tinggi."Dalton terkekeh, jemarinya mengetuk sandaran kursi roda dengan santai. "Kau benar, Mikail. Dan untuk kalian berdua ... selamat datang di rumah yang sesungguhnya. Mulai hari ini, Obsidian, Sam, dan semua bayang-bayang masa lalu itu

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan dengan Mama

    "Pesawat sudah lepas landas," ucap Daniel begitu sambungan terhubung. "Target aman secara fisik, tapi mental mereka terguncang ,mengetahui kenyataan.""Aku sudah menduganya," jawab Dalton di seberang sana, suaranya terdengar datar namun ada nada kelegaan yang terselip. "Sam selalu tahu cara menanamkan keraguan. Apa yang dia katakan pada mereka?"Daniel melirik ke arah kabin belakang tempat si kembar berada. "Dia menggunakan kartu 'kewajiban darah'. Dia mengatakan bahwa Maria-lah yang memisahkan mereka secara paksa. Mikail mulai mempertanyakan alasan di balik semua rahasia ini, sementara Julian tetap teguh pada komandonya—tapi aku tahu dia pun mencari kepastian.""Sam mencoba memutarbalikkan sejarah untuk menyelamatkan dirinya sendiri," sahut Dalton dingin. "Tapi dia lupa bahwa bukti finansial dan perlindungan yang di berikan ibu selama puluhan tahun lebih nyata daripada sekadar kata-kata manis tentang DNA.""Mereka ingin bertemu Maria segera setelah mendarat," Daniel memberi peringata

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kabut di Kepala.

    Mobil terus melaju membelah jalanan Jenewa yang mulai sepi. Cahaya lampu jalan masuk bergantian lewat jendela, menerangi wajah Mikail yang tampak gelisah. "Apakah kita salah meninggalkannya sendiri?" gumam Mikail, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin, namun telinga tajam Julian menangkapnya. Julian menoleh sedikit, matanya masih menatap jalanan yang basah. "Dia meninggalkan kita lebih dulu, Mikail. Tanpa Maria, kita tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Kita mungkin hanya akan menjadi pion di papan caturnya." "Tapi dia bilang Maria yang memisahkan kita," ucap Mikail lagi. Kalimat Sam tentang Maria yang menyembunyikan mereka terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Sebagai pengacara, Mikail terbiasa melihat dua sisi cerita, dan keraguan itu mulai menyelinap. Daniel, yang duduk di kursi depan, tetap diam. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut si kembar. Ia tahu mereka sedang dalam persimpangan, mereka belum mengenal Maria juga belum mengetahui tentang mas

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan dan Penolakan.

    "Jarak tak menghalangiku untuk menghancurkan mu, Sam," jawab Dalton melalui sistem komunikasi yang telah ia retas sepenuhnya. "Kau bilang kau yang menciptakan Julian dan Mikail? Tidak. Kau hanya menyumbangkan darah. Maria-lah yang menghidupi mereka, kau tak berhak atas hidup mereka."Mikail dan Julian terhenyak mendapati kenyataan lelaki tua di hadapannya ini adalah benar-benar ayahnya. Tiba-tiba, layar laptop Mikail yang tadinya menampilkan file dari Sam, berubah menjadi tampilan radar satelit yang mengunci koordinat dermaga itu. "Mikail, jalankan protokol 'Ghost Protocol' yang sudah aku tanam di sistem mu," perintah Dalton tegas. Tidak memberikan Mikail waktu untuk berfikir. Mikail, yang otaknya bekerja secepat kilat, langsung mengerti. Jari-jarinya menari di atas keyboard. "Protokol aktif, Kak!" Dalam hitungan detik, semua ponsel dan alat komunikasi para pengawal Sam mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga, diikuti dengan matinya semua lampu dermaga secara total.

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan

    Malam itu, Danau Jenewa diselimuti kabut tebal yang merayap dari permukaan air menuju dermaga kayu tua yang nampak rapuh. Suara ombak yang menabrak tiang-tiang dermaga menciptakan irama yang mencekam, seolah sedang menghitung mundur ledakan konflik yang tak terelakkan. Daniel berada di posisinya, mendekam di balik tumpukan kontainer tua yang menghadap langsung ke dermaga pribadi itu. Napasnya teratur, namun matanya tak lepas dari teropong malamnya. Ia sudah meminum dosis terakhir obat dari Dokter Obsidian, membuat indranya bekerja berkali-kali lipat lebih tajam. "Julian, Mikail, posisi kalian?" bisik Daniel melalui earpiece terenkripsi. Mereka merencanakan penyergapan ini beberapa hari setelah Daniel bertemu Mikail di galeri lukis tempo hari. "Aku di titik buta, arah jam dua dari dermaga. Sniper sudah siap, tapi aku hanya akan menembak jika kau memberi aba-aba," suara Julian terdengar dingin dan stabil. "Aku di dalam kabin kecil di ujung dermaga," timpal Mikail. Di depannya, l

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kecurigaan.

    Julian mengenakan rompi antipeluru tipis di balik mantelnya, sementara jemarinya dengan cekatan merakit perangkat komunikasi mikro. Sebagai ahli strategi keamanan, ia tahu bahwa informasi adalah senjata utama, namun peluru adalah titik terakhir jika negosiasi gagal. "Aku sudah menandai area derma

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Strategi.

    Daniel melangkah menyusuri trotoar batu yang basah oleh embun malam. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia mengeluarkan ponsel satelitnya, menekan serangkaian kode keamanan sebelum menghubungi Dalton di Jakarta. "Bos, Oprasi sudah selesai. Mikail sudah memakan umpannya," lapor Daniel tanpa basa-ba

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   The Ghost

    Di tengah ruangan galeri yang sepi, Mikail berdiri tegak menatap sebuah lukisan abstrak bertajuk 'The Silent Debt'. Tangannya bersedekap, auranya begitu dominan hingga pengunjung lain seolah segan mendekat. Daniel melangkah perlahan, berdiri di sampingnya seolah ikut menikmati luki

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kemana Dia

    Angel melangkah tergesa keluar dari lift, napasnya memburu. Tas kerjanya terasa berkali-kali lipat lebih berat setelah sif panjang yang melelahkan di rumah sakit. Sambil merogoh kunci akses di dalam tas, ia berkali-kali merutuki Gunawan di dalam hati—pria itu yang dulu memaksanya menjaga Daniel,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status