LOGINBab 2
Ana menoleh ke arah cahaya lampu mobil yang mulai terlihat di ujung jalan, lalu menatap mata lelaki yang kini tak berdaya. Firasatnya mengatakan bahwa mobil itu adalah bahaya. Ana mendengus kesal, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang masih berlumuran darah. "Demi Tuhan, aku akan menyesali ini," gerutu Ana. Namun dia membantu pria itu bangun, lalu membahu pria besar itu, mengerahkan seluruh tenaganya untuk memapah si pria menuju mobilnya. Anastasia tidak ingat bagaimana tepatnya dia berhasil mengemudikan mobil dengan kecepatan gila malam ini demi menghindari mobil hitam yang mengejar, hingga akhirnya dia sampai di sebuah klinik kecil milik sahabat yang bisa ia percayai. Dia menghabiskan sisa malam dengan menjahit luka tembak pria ini dan memantau kondisinya hingga matahari terbit. “Ana kamu harus lapor polisi, dia kena tembak, ini bukan luka biasa,” Anggel terus melirik ke arah pria yang masih terbaring lemah. “Aku bingung Ngel. Dia mengancamku tadi. Lebih baik sekarang aku bawa ke tempatku lewat jalur belakang saja. Kamu harus tetap tutup mulut.” Ana menatap Anggel, meyakinkan sahabatnya jika dia bisa dipercaya. Kini, sudah pukul sepuluh pagi, Ana berdiri di depan wastafel rumah sakit tempatnya bekerja. Dia menyiram wajahnya berkali-kali dengan air dingin. Kantung mata hitam terlihat jelas di wajah cantiknya yang terlihat pucat. "Dokter Ananta? Anda baik-baik saja?" Seorang perawat menyapa saat Ana keluar dari kamar mandi, karna wajah Ana terlihat pucat "Ya, hanya kurang tidur, Siska,” jawab Ana. “bukankah dua hari ini dokter libur?” “Iya, harusnya tapi ada pasien yang harus aku tolong, bagaimana kondisi pasien di bangsal VVIP yang baru masuk tadi pagi?" tanya Ana berusaha terdengar kasual. Dia memindahkan pria itu ke rumah sakitnya sendiri secara diam-diam melalui jalur khusus agar tidak menarik perhatian. "Itu dia masalahnya, Dok. Saya baru mau melapor." Perawat itu tampak bingung. "Pasien di kamar 402, dia sudah tidak ada." Langkah kaki Ana terhenti seketika. "Apa maksudmu tidak ada? Dia baru saja menjalani operasi darurat! Kondisinya belum stabil, dia bisa mengalami pendarahan dalam jika berkeliaran.” "Kami juga tidak tahu, Dok. Saat perawat jaga masuk untuk mengganti infus, ruangan itu sudah kosong, bersih, bahkan tidak ada jejak kalau kamar itu habis di tempati. Catatan administrasinya pun hilang dari sistem." Darah Ana serasa berdesir dingin. Dia langsung berlari menuju kamar 402. Benar saja, ruangan itu rapi seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seprai putih itu kencang tanpa kerutan. Bau darah dan obat yang tadi menyengat, kini digantikan oleh aroma pembersih lantai yang tajam. "Gila. Ini benar-benar gila," bisik Ana pada dirinya sendiri. “Baru saja di tinggal sebentar dia sudah menghilang.” Dia merogoh saku jas putihnya, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Sebuah kancing jas berwarna hitam dengan ukiran naga kecil dari perak di tengahnya. Satu-satunya bukti fisik bahwa kejadian semalam bukan sekadar mimpi buruk akibat kelelahan. Ting! Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Adrian, tunangannya. [Sayang, sore ini jadi fitting gaun pengantin. Aku jemput jam 4. Jangan telat lagi, aku ada meeting penting setelah itu.] Melihat pesan di ponselnya bibir Ana menyungging kecil, perasaannya sedikit lebih tenang, mengingat Adrian dan pernikahannya. Ana berusaha melupakan kejadian semalam dan pria itu. Anggap saja tak pernah terjadi apa-apa. Pikir Ana. Dia harus fokus pada pernikahannya yang tinggal dua minggu lagi. Adrian adalah pria yang baik, stabil secara finansial dan setia, semua yang dibutuhkan Ana untuk masa depan yang bahagia ada pada Adrian. Ana membalas pesan Adrian sambil berjalan kembali ke ruangannya, Namun saat Ana berjalan melewati lobi rumah sakit, dia seperti merasakan ada yang mengawasinya. Dia menoleh ke arah kerumunan di pintu masuk, matanya memindai keadaan tapi tidak menemukan siapa pun yang mencurigakan. Kembali Ana melanjutkan langkah, saat tiba di meja kerjanya, Ana menemukan sebuah kotak beludru hitam kecil tergeletak di atas tumpukan dokumen medisnya. Tidak ada kartu ucapan. Hanya kotak itu saja. Kembali senyum mengembang di bibir Ana. “Kamu kasih aku kejutan Adrian?” gumam Ana. Dia mengambil kotak itu lalu membukanya, di dalamnya terdapat sebuah bros emas berbentuk mawar mekar, kedua alis mata Ana mengernyit mengamati tengah kelopak mawar itu, ada bercak kecil berwarna merah, mata ana memincing masih mengamati, “ini bukan permata, melainkan noda darah yang sudah mengering,” gumam Ana. Ana nyaris menjatuhkan kotak itu. Rasa takut yang semalam ia rasakan kembali menghantamnya. Ana yakin ini bukan dari Adrian. Ana membolak balik bros itu, ada tulisn kecil: "Property of D." Inisial, ini dari pria itu, pria itu tidak pergi atau menghilang. Dia hanya sedang bersembunyi dan mengawasi setiap langkah yang aku ambil, pikir Ana. "D ... Siapa D?" gumam Ana dengan suara bergetar. *** Butik pengantin itu tampak sangat mewah, dipenuhi dengan aroma bunga melati dan deretan kain sutra putih yang menyilaukan. Namun bagi Anastasia, ruangan itu terasa sesak. "Ana, kamu melamun lagi," suara Adrian membuyarkan lamunan Ana. Pria itu berdiri di depan cermin besar, sedang merapikan dasinya. Dia tampak sempurna, tipikal pengacara muda sukses yang hidupnya tertata rapi. Ana tersentak, mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik lipatan gaun yang sedang dia coba. Barusan di dalam mobil Ana mendengar Adrian menyebut-nyebut nama Dalton saat dia berbalas telpon. Apakah inisial D itu adalah Dalton? Pikir Ana. "Maaf, Adrian. Aku hanya masih merasa lelah karena operasi kemarin. Aku belum istirahat.” Ana berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Adrian berbalik, menatap Ana melalui pantulan cermin. "Karier memang penting, sayang, tapi pernikahan kita adalah peristiwa besar bagiku dan keluargaku. Kamu tahu berapa banyak klien penting yang akan hadir? Aku tidak ingin calon istriku terlihat tidak fokus dan seperti orang sakit.” Ana menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Adrian selalu tentang reputasi, tamu penting dan harga diri. Ana kadang merasa tak mengenali Adrian sepenuhnya tetapi lelaki ini memiliki segalanya yang Ana butuhkan. "Adrian," panggil Ana pelan. “Apakah kamu mengenal pria dengan inisial D di kota ini? Atau inisial D itu Dalton? Siapa dia? sepertinya sangat berpengaruh di kota ini?"Dalton tidak bisa lagi menahan dirinya. Persetan dengan syarat satu jam, persetan dengan harga dirinya sebagai penguasa dunia bawah. Pria itu jatuh berlutut di depan kaki Maria. Ia menundukkan wajahnya menatap lantai marmer kuno yang dingin. "Maafkan aku baru menemuimu?" Bahu Dalton yang lebar itu berguncang hebat. Tangisannya tidak bersuara, namun air matanya tak bisa dia tahan lagi. Maria mengulurkan tangannya yang kurus, mengelus rambut Dalton dengan lembut. Dia menyentuh bahu putranya mengajaknya duduk di bangku di dekat jendela. Setelah duduk jemarinya menyentuh rahang putranya yang kaku, menatap iris abu-abu milik putranya. "Jangan menangis, Nak," bisik Maria, suaranya seperti nyanyian tidur yang terkadang hadir di ingatan bawah sadar Dalton. "Ibu selalu tahu kamu akan kembali. Setiap malam, Ibu menitipkan doa pada angin Sisilia agar membawamu pulang kepadaku." Mata Dalton merah dan sembap, menatap setiap detail wajah ibunya, "Ibu ... Maafkan aku. Maafkan karena butuh
"Pertama, jangan pernah memaksa dia ikut jika dia tidak ingin. Tempat ini adalah pelindungnya selama puluhan tahun dari dunia luar yang kejam," Kepala Biara menjeda sejenak, wajahnya berubah semakin serius. "Dan kedua ... Anda tidak boleh memberitahu siapa Anda sebenarnya. Jangan panggil dia 'Ibu'. Biarkan nuraninya sendiri yang mengenali putranya. Jika dalam waktu satu jam dia tidak mengenali Anda, Anda harus pergi dan jangan pernah kembali lagi. Kami tidak ingin traumanya bangkit karena paksaan identitas yang belum siap dia terima." Dada Dalton bergemuruh. Syarat itu terasa lebih menyakitkan daripada peluru yang pernah bersarang di tubuhnya. Ia datang dari belahan dunia lain, mempertaruhkan segalanya, hanya untuk mendengar kata 'Ibu', dan sekarang ia dilarang mengucapkannya? Kepala Biara itu membawa Dalton menuju sebuah kamar, mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh namun terlihat sangat terawat. Ia berbalik, menatap lekat ke dalam manik mata Dalton yang tajam
Dalton baru saja melangkah mendekati pintu kayu raksasa Biara Santa Maria Della Speranza, langkahnya terhenti saat merasakan ponsel di saku jasnya bergetar hebat. Ia berhenti, lalu mengambil ponsel, sesaat ia menarik napas dalam udara Sisilia yang kering, saat melihat nama yang tertera di layar. Istriku❤️ Jantung Dalton berdegup tidak selaras. Ada apa lagi wanitanya menelpon, jika saja Dalton tak cinta ia sudah mengirim tentara bayaran untuk menghabisi wanita ini. Selalu mengganggu tapi Dalton juga tak mengerti kenapa dia selalu sabar menghadapinya. Ia memberi isyarat pada Daniel agar menjauh sebentar dan dengan tangan sedikit gemetar, ia menggeser tombol hijau. "Halo, Ana?" suara Dalton rendah, berusaha menekan gejolak di dadanya. "Dalton ..." Suara Ana di seberang sana terdengar serak. Ana terpaksa kembali menelpon Dalton, dia tak bisa hidup dalam kegamangan seperti sekarang ini. "Em ..." Ana bingung harus mulai dari mana berbicara pada suaminya, jika dia sudah mengobr
Siang ini, matahari Sisilia bersinar terik, memantul di atas permukaan mobil SUV hitam yang terparkir di pinggiran Palermo. Dalton sedang berdiri di samping kendaraan, memeriksa magasin senjatanya dengan gerakan mekanis yang sempurna. Ia sudah bersiap untuk memulai perjalanan menuju Biara Santa Maria Della Speranza. Tiba-tiba, suara sirine pendek yang melengking keluar dari perangkat tablet yang dipegang Daniel. Sinyal merah berkedip cepat di layar. "Bos, sistem alarm di rumah memberikan sinyal. Rumah mengalami lockdown, lampu mendadak mati," ucap Daniel dengan wajah tegang. Ia dengan cepat membaca log aktivitas yang masuk. "Sepertinya Nyonya menemukan micropulsa yang Anda simpan di laci, Bos." Gerakan tangan Dalton terhenti. Kedua tangannya meremas senjata itu dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sebelum akhirnya ia meletakkan senjata itu ke atas meja lipat di hadapannya dengan suara dentum logam yang berat. Bukannya marah, sebuah senyum tipis yang sarat akan kekagum
Tubuh Ana masih gemetar hebat, dadanya naik turun berusaha meraup oksigen. Ia berdiri mematung di balik pintu setelah jeritannya mereda. Begitu mendengar suara Nah Ana bisa bernafas lebih tenang, perlahan Ana melangkah menghampiri pintu, mengulurkan tangan yang masih dingin dan berkeringat, lalu memutar kunci ruang kerja itu. Begitu pintu terbuka, Ana melihat Nah berdiri di sana dengan wajah panik. Di sampingnya, berdiri pria tetangga sebelah yang malam itu membakar ban bekas. Pria itu tampak siaga, sorot matanya tajam menyapu seisi ruangan. "Ada apa, Nyonya? Kenapa menjerit?" tanya Nah dengan suara bergetar karena cemas. Ana menggeleng cepat, matanya masih terbelalak menatap koridor di belakang mereka. "Tadi ... kayak ada yang mau masuk ke sini, Bik. Ada orang di depan pintu, mau buka pintu ini dengan paksa. Handle pintunya goyang keras banget." Nah dan pria di sampingnya saling lempar pandang sejenak. "Sejak tadi saya tadi ada di depan rumah saya, nggak liat ada yang datang Ny
Ana yang masih merasa belum tenang walau Herma menasehati ia kembali menuju ruang kerja Dalton, perlahan ia duduk di bangku kebesaran yang biasa suaminya duduki. Ana mengedarkan pandangan, tak ada yang patut di curigai, buku dokumen semua Ana kenali dan yakini itu dokumen-dokumen perusahaan legal milik suaminya. Ana menggela napas pelan, mungkin benar apa yang di katakan ayahnya, dia harus bisa melegakan perasaan tetapi tetap waspada terhadap sikap dan gerak gerik Dalton. Ana membuka laci meja kerja paling atas setumpukan fotonya dengan Dalton Muali saat bulan madu hingga Ana sedang menyusui Aurora. Bibir Ana tersingging saat melihat tulisan di bawah foto itu. Penyemangat dan penghapus lelah.“Ternyata kamu bisa lelah juga, Dalton. Aku kira kira badan kamu dari mesin.” Ana kembali menaruh foto itu lalu menutup perlahan. Setalah itu dia ingin membuka laci kedua tapi tak bisa laci itu terkunci.Ana menunduk, jemarinya meraba tempat kunci ternyata kunci laci itu seperti kunci brangk
Dalton menatap David tajam, membuat lelaki setengah tua ini tercekat, dia menahan napas, berharap Dalton tak naik darah. "Aku tidak membuangnya. Aku memberikannya pada kalian. Ambillah wilayah masing-masing. Buatlah kelompok-kelompok kecil, partai-partai independen, atau bisnis legal. Aku tidak p
Matahari pagi menembus celah gorden kamar VVIP, membawa kehangatan yang kontras dengan kejadian semalam. Aroma antiseptik yang tajam kini beradu dengan harum buket bunga mawar putih segar yang diletakkan Dalton di meja samping tempat tidur.Ana tertidur pulas, wajahnya yang pucat mulai memancarkan
Lampu darurat menyala setelah beberapa saat gelap gulita. Insting Dalton sebagai kepala mafia bergerak, dia yakin ada yang sedang tidak baik-baik saja dari situasi ini. Mata Ana menatap Ana, Dokter dan dua orang perawat, di pandangan Dalton waktu seolah melambat. Tak lama suara tangisan bayi itu m
Dalton mematung. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat ia harus berhadapan dengan musuh. Padahal tadi dia sengaja mampir ke pom bensin dan cuci muka pake sabun yang ada di sana tapi kenapa Ana masih mencium bau aneh? "Bau ... apa ya ini?" Ana mengernyit, hidungnya masih menempel







