Share

Hantu Dalam Kegelapan

Author: Azzurra
last update Last Updated: 2026-02-11 14:57:58

Bab 3

Gerakan tangan Adrian yang sedang merapikan dasi terhenti seketika. Raut wajahnya berubah sedikit tegang, meski hanya sekejap. "Dari mana kamu mendengar inisial dan nama itu?"

"Tadi aku mendengar kamu menyebut namanya, dan pagi tadi di rumah sakit, aku melihat berita di televisi tentang kekacauan di pelabuhan. Mereka menyebut nama Dalton." Bohong Ana sedikit.

Dia tidak mungkin bilang kalau habis menjahit perut lelaki berinisial D semalam. “Apakah Dalton pria yang tadi kamu sebut-sebut di dalam mobil adalah pria berinisial D?”

Adrian mendengus remeh, tapi ada sedikit kegelisahan di suaranya. "Nggak usah membicarakan dia, Ana. Dia seorang pengusaha yang namanya bersih. Tetapi sesungguhnya dia sampah masyarakat. Dia seorang kriminal kelas kakap, kepala mafia yang namanya saja sudah membuat polisi gemetar. Tapi tenang saja, orang seperti kita tidak akan pernah bersentuhan dengan iblis seperti dia.”

Mendengar penuturan Adrian Ana meneguk ludahnya susah payah. “Ya Tuhan, sepertinya aku menolong orang yang salah,” gumam Anastasia.

"Tapi bagaimana jika dia, em ... jika dia ada di sekitar kita?" tanya Ana lagi, suaranya hampir berbisik.

Sesaat Adrian menatap lekat Anastasia, lalu mendekat memegang bahu Ana dengan kaku. "Jangan terlalu banyak menonton film, Sayang. Tak mungkin kita berhubungan dengan dia. Fokuslah pada gaunmu dan pernikahan kita. Oh, dan satu lagi, aku akan mengatur agar pengawal dari kantorku berjaga di depan Apartemen mu. Belakangan ini banyak isu keamanan, aku tidak mau ada hal kecil yang merusak hari besar kita."

"Pengawal? Untuk apa?"

"Hanya untuk memastikan semuanya sesuai rencana. Aku benci kejutan yang tidak terduga," jawab Adrian dingin sebelum ponselnya berbunyi. "Aku harus menerima telepon ini. Ini dari firma hukum pusat. Kamu selesaikan saja fitting-nya, oke?"

Adrian melangkah menjauh tanpa menunggu jawaban Ana.

Setelah Adrian pergi Ana bergumam, “Demi Tuhan, aku menyesal sudah menolongnya.”

Ana menatap pantulan dirinya di cermin. Perasaan gelisah tak dapat dia sembunyikan, pikirannya terus melayang pada cincin yang bertuliskan Properti Of D. Apa maksudnya dia mengirim Bros Dengan tulisan seperti itu, pikir Ana.

Gaun putih yang dia kenakan terasa seperti kain kafan yang menjeratnya. Tepat saat itu, matanya menangkap sesuatu di luar jendela besar butik.

Di seberang jalan, sebuah mobil SUV hitam dengan kaca gelap berhenti. Jendelanya turun perlahan, hanya beberapa senti. Ana bisa merasakan sepasang mata elang sedang menatapnya dengan tajam.

Bulu kuduk Ana berdiri. Dia tahu itu Dalton. Pria itu tidak sedang bersembunyi. Dia sedang mengintai.

"Dia bukan sampah masyarakat, Adrian," bisik Ana pada dirinya sendiri dengan ngeri. "Dia mengincarku saat ini, dan siapa kamu Dalton kenapa mengikutiku, pertemuan kita tak mungkin hanya kebetulan.

***

Rumah sakit yang biasanya menjadi tempat paling aman dan tenang bagi Anastasia, kini berubah menjadi labirin yang mencurigakan. Setiap langkah kaki di lorong, setiap pintu yang terbuka, membuat jantungnya berdegup tak karuan.

Siang itu, Ana baru saja selesai memeriksa pasien ketika dia kembali ke mejanya di ruang dokter. Dia menemukan sebuah cangkir kopi latte favoritnya masih mengepul hangat di atas meja.

"Siska, apa kamu yang membelikan ini?" tanya Ana pada perawat yang lewat.

Siska menggeleng. "Bukan, Dok. Tadi ada kurir yang mengantarkannya. Katanya dari seseorang yang tidak ingin Anda kehausan saat bekerja keras. Mungkin kiriman dari Pak Adrian. So sweet banget, Dok.”

Ana menatap cangkir itu dengan ngeri. Adrian bukan pria romantis, selama ini dia tak pernah memberi kejutan receh seperti ini, dan di dinding cangkir kertas itu, tertulis sebuah pesan pendek dengan spidol hitam.

"Jangan terlalu lelah. Aku butuh dokterku dalam kondisi terbaik."

Tangan Ana gemetar hingga hampir menjatuhkan cangkir itu. Ana yakin ini dari pria itu. Dan pria itu tahu jenis kopi kesukaannya. Pria itu tahu kapan dia beristirahat dan Ana merasa tidak hanya diawasi, dia sedang dikuntit.

Ana membuang kopi ke dalam tempat sampah lalu masuk ke ruang sterilisasi untuk mengganti pakaian bedah. Lampu di ruangan itu tiba-tiba berkedip dan mati. Dalam kegelapan Ana merasakan embusan napas hangat di belakang telinganya.

"Kamu terlihat cantik dengan gaun pengantin itu, Anastasia.”

Ana tersentak, mencoba berbalik namun punggungnya tertahan oleh dada bidang seseorang yang keras seperti batu. Aroma parfum sandalwood bercampur tembakau mahal langsung menyerang indra penciumannya.

Ya, ini aroma dari lelaki malam itu.

“Dalton. Aku tahu itu identitasmu. Lepaskan aku!" desis Ana, suaranya tercekat di tenggorokan. "Ini rumah sakit! Aku bisa berteriak!"

"Berteriaklah," suara berat Dalton terdengar sangat tenang, hampir seperti bisikan kekasih. "Dan kita lihat berapa banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan atau bahkan nyawa karena teriakanmu."

Sebuah tangan besar dengan bekas luka di punggung tangan merayap ke leher Ana, mengusap perlahan dengan ibu jarinya. Mendapatkan perlakuan itu kelopak mata Ana memejam, rasa tak nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya, Ana berusaha berontak tapi tangan Dalton menahan.

"Batalkan pernikahan itu, Dokter. Setelah kamu menolongku aku menginginkanmu."

"Kamu gila!! Dalton, Siapa kamu berani memerintahku? aku mencintai Adrian! Aku tak akan melepas lelaki sempurna seperti Adrian." Ana mencoba meyakinkan dirinya sendiri, jika pernikahan ini atas dasar cinta.

Dalton tertawa rendah, suara sumbang seperti ejekan. "Kamu mencintai rasa aman yang dia tawarkan, bukan prianya. Perlu kamu ketahui Dokter ... tidak ada tempat yang aman jika aku sudah menginginkan."

Ana berbalik, lalu menghentak dada lelaki di hadapannya hingga Dalton mundur satu langkah. “Apa maksudmu?”

Lampu tiba-tiba menyala kembali sebelum Ana mendapatkan jawaban. Ana mengerjap karena silau, netra Ana memindai sekitar ruangan, tapi kosong.

Dalton menghilang seolah dia hanyalah hantu dalam kegelapan. Satu-satunya bukti kehadirannya adalah sepucuk surat kecil yang tertinggal di dalam saku jas putih Ana.

[Aku akan mendapat kan kamu, dokterku.]

Siapa kamu Dalton? Kenapa mengejar dan menginginkan aku?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Negosiasi Kepemilikan

    Bab 6 Ana tak peduli ucapan Adrian, dia memutuskan pergi dari tempat yang dia rasa nyaman selama ini. Tujuannya hanya satu, stasiun kereta api di pusat kota. Dia akan pergi menuju desa terpencil tempat tak seorang pun tau tempat itu, tempat yang dia beli memang untuknya menepi saat penat melanda selama ini. Bahkan keluarganya tak ada satupun yang tau tempat ini. "Aku harus pergi, aku harus hilang," gumamnya terus-menerus. Matanya terus melirik kaca spion, takut melihat SUV hitam yang sering mengikutinya. Sesampainya di stasiun pusat, Ana membeli tiket secara tunai—dia cukup pintar untuk tidak menggunakan kartu kredit yang bisa dilacak. Dia duduk di bangku peron yang gelap, menarik topi jaketnya dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang setiap kali melihat pria tinggi lewat. Kereta terakhir malam itu akhirnya datang dengan bunyi peluit yang memekik. Ana berdiri, menggenggam tasnya erat-erat, lalu melangkah masuk ke dalam gerbong yang hampir kosong. Dia duduk di pojok gerbong, meny

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pria Abnormal

    Bab 5 Ana menerobos masuk, mengabaikan penjaga bertubuh besar di pintu depan, "Katakan pada bosmu, Dokter yang menjahit perutnya datang untuk menagih hutang!" Entah keberanian dari mana Ana berteriak lantang dan para penjaga membiarkannya lewat. Ana dibawa ke lantai atas, ke sebuah ruangan luas dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip kota. Di sana, Dalton duduk di sebuah kursi kulit besar, menggenggam segelas wiski. Jasnya terlepas, hanya mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan perban yang masih melilit perutnya, hasil jahitan tangan Ana. "Kamu sungguh berani, Dokter Anastasia," suara Dalton rendah, bergema di ruangan yang sunyi. "Tutup mulutmu!" bentak Ana. Dia melangkah maju mendekati pria itu, berdiri tepat di depan meja Dalton, napasnya memburu. "Kamu pikir kamu siapa?! Aku tidak mengenalmu! Kita tidak punya urusan apa pun! Kenapa kamu melakukan ini padaku?” Ana berkata penuh amarah. Dalton menaikkan sebelah alisnya, tampak t

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Mencari Jejak Sang Iblis

    Bab 4 Mencari Jejak Sang Iblis.Dalton Obsidian duduk di depan meja bar. Jemarinya mengaduk minuman di dalam gelas lalu meminum sekali tenggak. “Awasi saja dia, Adrian tak pantas bersanding dengan wanita itu, dia harus jadi milikku.” Mata gelap Dalton seperti sedang menatap Anastasia - Dokter yang dengan berani menolongnya malam itu.“Sepertinya wanita itu sedang mencari informasi tentangmu, Bos.”“Biarkan, kita lihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya.” Dalton menuang wiski ke dalam gelas Kembali meneguk dengan sekali tenggak. “Anastasia Ananta. Cantik, kuat, penuh ambisi. Sepertinya pertemuan kita malam itu adalah takdir kita.” Dalton terus merapal nama Ana, tangannya mengelus perut bekas jahitan Anastasia.“Bos, kamu jatuh cinta? Aku ingatkan Bos –“ Tangan Dalton naik menginterupsi ucapan Daniel. “Dia tak seperti wanita lainnya. Dadaku berdebar saat bersentuhan dengannya.”Daniel mendengus. “Kamu bisa pakai wanita manapun, Bos. Tapi tidak memiliki.”Dalton tertawa mendengar u

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Hantu Dalam Kegelapan

    Bab 3 Gerakan tangan Adrian yang sedang merapikan dasi terhenti seketika. Raut wajahnya berubah sedikit tegang, meski hanya sekejap. "Dari mana kamu mendengar inisial dan nama itu?" "Tadi aku mendengar kamu menyebut namanya, dan pagi tadi di rumah sakit, aku melihat berita di televisi tentang kekacauan di pelabuhan. Mereka menyebut nama Dalton." Bohong Ana sedikit. Dia tidak mungkin bilang kalau habis menjahit perut lelaki berinisial D semalam. “Apakah Dalton pria yang tadi kamu sebut-sebut di dalam mobil adalah pria berinisial D?” Adrian mendengus remeh, tapi ada sedikit kegelisahan di suaranya. "Nggak usah membicarakan dia, Ana. Dia seorang pengusaha yang namanya bersih. Tetapi sesungguhnya dia sampah masyarakat. Dia seorang kriminal kelas kakap, kepala mafia yang namanya saja sudah membuat polisi gemetar. Tapi tenang saja, orang seperti kita tidak akan pernah bersentuhan dengan iblis seperti dia.” Mendengar penuturan Adrian Ana meneguk ludahnya susah payah. “Ya Tuhan, seperti

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Properti Of D

    Bab 2Ana menoleh ke arah cahaya lampu mobil yang mulai terlihat di ujung jalan, lalu menatap mata lelaki yang kini tak berdaya. Firasatnya mengatakan bahwa mobil itu adalah bahaya.Ana mendengus kesal, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang masih berlumuran darah."Demi Tuhan, aku akan menyesali ini," gerutu Ana.Namun dia membantu pria itu bangun, lalu membahu pria besar itu, mengerahkan seluruh tenaganya untuk memapah si pria menuju mobilnya. Anastasia tidak ingat bagaimana tepatnya dia berhasil mengemudikan mobil dengan kecepatan gila malam ini demi menghindari mobil hitam yang mengejar, hingga akhirnya dia sampai di sebuah klinik kecil milik sahabat yang bisa ia percayai. Dia menghabiskan sisa malam dengan menjahit luka tembak pria ini dan memantau kondisinya hingga matahari terbit.“Ana kamu harus lapor polisi, dia kena tembak, ini bukan luka biasa,” Anggel terus melirik ke arah pria yang masih terbaring lemah. “Aku bingung Ngel. Dia mengancamku tadi. Lebih ba

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Bayangan Di Ujung Lelah.

    Bab 1Uhh ...Ana merenggangkan tubuh, mulutnya menguap lelah. Aroma disinfektan dan obat-obatan masih tertinggal di penciumannya. Tiga belas jam. Rekor terbarunya berdiri di depan meja operasi, menjahit pembuluh darah halus di otak seorang pasien korban kecelakaan.“Ya Tuhan, capeknya,” gumam Ana.Ia menghela napas panjang lalu menggoyang kepala dan pundak yang terasa pegal.“Kasur I’m coming!!” seru Ana bersemangat. “Guys, pulang ya.” Ana melambaikan tangan pada teman satu timnya.Yang dia inginkan kini hanyalah kasur empuk, selimut tebal, dan tidur tanpa mimpi selama dua hari penuh, membayangkan kasur empuk membuat Ana kembali bersemangat, berjalan cepat ke arah parkiran.Setelah sampai di parkiran, dia membuka pintu sedan hitamnya dan menghempaskan tubuh ke kursi pengemudi. Kabin mobil terasa menenangkan setelah hiruk-pikuk bunyi monitor detak jantung di ruang oprasi barusan.Lagi Ana mengeluarkan nafas beratnya. Perlahan tangannya menekan tombol starter, mesin menderu halus. Wan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status