LOGINBab 5
Ana menerobos masuk, mengabaikan penjaga bertubuh besar di pintu depan, "Katakan pada bosmu, Dokter yang menjahit perutnya datang untuk menagih hutang!" Entah keberanian dari mana Ana berteriak lantang dan para penjaga membiarkannya lewat. Ana dibawa ke lantai atas, ke sebuah ruangan luas dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip kota. Di sana, Dalton duduk di sebuah kursi kulit besar, menggenggam segelas wiski. Jasnya terlepas, hanya mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan perban yang masih melilit perutnya, hasil jahitan tangan Ana. "Kamu sungguh berani, Dokter Anastasia," suara Dalton rendah, bergema di ruangan yang sunyi. "Tutup mulutmu!" bentak Ana. Dia melangkah maju mendekati pria itu, berdiri tepat di depan meja Dalton, napasnya memburu. "Kamu pikir kamu siapa?! Aku tidak mengenalmu! Kita tidak punya urusan apa pun! Kenapa kamu melakukan ini padaku?” Ana berkata penuh amarah. Dalton menaikkan sebelah alisnya, tampak terhibur dengan ledakan emosi wanita di depannya. "Aku menyelamatkan nyawamu, Dalton! Jika bukan karena aku, kau sudah membusuk di aspal malam itu! Seharusnya kamu datang padaku dengan ucapan terima kasih, memberi bunga, atau setidaknya membiarkanku hidup dengan tenang!" Ana memukul meja kayu mahoni itu dengan tangannya. "Bukannya malah menerorku, mengirimiku bros berdarah, dan ingin merusak pernikahanku! Apa ini cara mafiamu berterima kasih?!" Kelopak mata Ana seakan mau keluar dari tempatnya, suara Ana menggema di penjuru ruangan. Bibir Dalton berkedut, ingin rasanya dia tertawa melihat reaksi Ana, perlahan pria ini meletakkan gelas wiskinya. Dia berdiri perlahan, meskipun luka di perutnya pasti masih sakit, dia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia berjalan mengitari meja, mendekati Ana yang menolak untuk mundur, kini mereka tak berjarak. "Kamu ingin ucapan terima kasih?" Dalton berbisik tepat di depan wajah Ana. "Iya! Itu yang dilakukan orang normal!" Ana mendongak menatap Dalton, semakin menantang. "Aku tidak pernah mengaku sebagai orang normal, Dokter.” Dalton menjapit dagu Ana, memaksanya menatap mata hitam pekatnya. "Kita memang tidak saling kenal, Dokter. Pertemuan kita malam itu memang tak di sengaja, sejak tanganmu menyentuh darah dan jantungku kamu sudah aku anggap menjadi bagian dari hidupku. Aku menyukaimu sejak saat itu.” "Itu gila! Itu obsesi gila!" Ana memukul dada Dalton. "Sebut sesukamu," Dalton menangkap pergelangan tangan Ana. "Kamu menyelamatkan nyawaku, maka kini nyawamu adalah tanggung jawabku. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi milik pria lemah seperti Adrian. Dia hanya memperalatmu.” "Apa maksudmu?! Jangan coba memfitnahnya hanya karena kamu menginginkan aku! Aku tak akan tertarik pada pria kotor sepertimu." Ana mencoba melepaskan diri, tapi Dalton justru menarik pinggangnya mendekat, membuat tubuh mereka merapat. "Tanyakan pada calon suamimu yang terhormat itu," desis Dalton, suaranya kini terdengar berbahaya. "Tanyakan padanya tentang hutang judi ayahnya senilai sepuluh juta dolar. Dan tanyakan padanya, siapa yang setuju memberikan jaminan berupa akses ke rumah sakitmu untuk jalur distribusi obat-obatan terlarangku.” Dunia Ana seolah berputar. "Tidak! Adrian tidak mungkin melakukan itu." Ketegasan Ana berangsur luntur. "Dia menggunakanmu sebagai alat, Anastasia. Dia tidak mencintaimu, dia membutuhkan posisimu sebagai dokter kepala untuk menutupi kejahatannya." Dalton mendekatkan bibirnya ke telinga Ana yang kini membeku. "Hanya aku yang tidak membohongimu. Aku menginginkanmu, dan aku akan mendapatkanmu. Setidaknya aku jujur dengan kekejaman dan kejahatanku." Ana mendorong dada Dalton dengan seluruh tenaganya. "Kalian berdua sama saja! Kalian monster!" "Bedanya," Dalton menangkap tangan Ana dan menempelkannya tepat di atas lukanya yang terbalut perban, membuat Ana bisa merasakan detak jantung pria itu di bawah telapak tangannya. "Monster ini akan membunuh siapa saja yang berani menyentuhmu. Termasuk tunanganmu. Jika aku tak bisa memilikimu maka tak akan ada lelaki mana pun yang bisa mendapatkan kamu.” Dalton mendekatkan wajah mencium paksa bibir Anastasia ** Ana berdiri di tengah ruang tamu, masih mengenakan jas putih yang sudah kusut. Adrian sedang duduk di sofa, membolak-balik berkas hukum seolah-olah dunia baik-baik saja. "Dari mana kamu Ana? Kenapa terlambat datang?" tanya Adrian tanpa menoleh. "Aku sudah bilang, kita harus membahas daftar tamu malam ini." "Daftar tamu atau daftar harga?" tanya Ana dengan suara bergetar karena amarah yang ditahan. Adrian mengerutkan kening dan menoleh. "Apa maksudmu?" Ana melemparkan cincin tunangannya ke atas meja di hadapan Adrian. Denting logam terdengar nyaring di ruangan yang sunyi. "Berapa harga yang Dalton bayar, Adrian? Apakah sepuluh juta dolar cukup untuk melunasi hutang judi ayahmu?" Wajah Adrian berubah pucat pasi dalam sekejap. Ekspresi percaya dirinya runtuh, digantikan oleh ketakutan yang pengecut. "Apa yang kamu bicarakan Ana?” Adrian masih berusaha mengelak. Anastasia mendengus, terlihat jelas wajahnya begitu murka. “Aku tau semua, jangan lagi mengelak.” “Ana ... aku bisa jelaskan. Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku terpojok! Dalton ... dia iblis, dia pandai memutar balikkan fakta, mengancam akan menghancurkan karierku jika aku tidak mau bekerja sama dengannya." "Dan kamu memilih menjual kepercayaanku?!" teriak Ana. Air mata kemarahan mulai jatuh. "Kamu ingin menggunakan rumah sakitku untuk jalur distribusi obat-obatannya? Kamu mau menghancurkan karirku?” "Aku melakukan ini untuk masa depan kita, Ana!" Adrian mencoba mendekat, hendak menyentuh bahu Ana, namun Ana menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh aku! Kamu lebih menjijikkan daripada Dalton. Setidaknya dia tidak berpura-pura menjadi malaikat!" Ana pergi meninggalkan apartemen Adrian. “Ana, kalau kamu nekat pergi maka aku tak segan menghancurkan rumah sakitmu, impianmu, hidupmu.”Malam itu, Danau Jenewa diselimuti kabut tebal yang merayap dari permukaan air menuju dermaga kayu tua yang nampak rapuh. Suara ombak yang menabrak tiang-tiang dermaga menciptakan irama yang mencekam, seolah sedang menghitung mundur ledakan konflik yang tak terelakkan. Daniel berada di posisinya, mendekam di balik tumpukan kontainer tua yang menghadap langsung ke dermaga pribadi itu. Napasnya teratur, namun matanya tak lepas dari teropong malamnya. Ia sudah meminum dosis terakhir obat dari Dokter Obsidian, membuat indranya bekerja berkali-kali lipat lebih tajam. "Julian, Mikail, posisi kalian?" bisik Daniel melalui earpiece terenkripsi. Mereka merencanakan penyergapan ini beberapa hari setelah Daniel bertemu Mikail di galeri lukis tempo hari. "Aku di titik buta, arah jam dua dari dermaga. Sniper sudah siap, tapi aku hanya akan menembak jika kau memberi aba-aba," suara Julian terdengar dingin dan stabil. "Aku di dalam kabin kecil di ujung dermaga," timpal Mikail. Di depannya, l
Julian mengenakan rompi antipeluru tipis di balik mantelnya, sementara jemarinya dengan cekatan merakit perangkat komunikasi mikro. Sebagai ahli strategi keamanan, ia tahu bahwa informasi adalah senjata utama, namun peluru adalah titik terakhir jika negosiasi gagal. "Aku sudah menandai area dermaga," ucap Julian sambil menunjukkan tabletnya pada Mikail. "Ada tiga titik buta di sana. Jika Sam datang membawa pasukan, mereka akan terjebak di area terbuka sebelum bisa mendekati dermaga pribadi itu." Mikail hanya mengangguk kecil. Ia duduk di depan laptopnya, jemarinya menari di atas tuts keyboard. "Aku sudah memasang firewall berlapis pada semua server firma hukumku. Begitu ada upaya peretasan atau akses ilegal menggunakan namaku atau namamu, sistem akan langsung melacak lokasi GPS pengirimnya secara real-time." Mikail berhenti sejenak, menatap layar yang menampilkan foto buram Sam yang dikirim oleh Daniel. "Aku masih bertanya-tanya apa maksud Daniel dengan 'kewajiban darah'. Di dun
Daniel melangkah menyusuri trotoar batu yang basah oleh embun malam. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia mengeluarkan ponsel satelitnya, menekan serangkaian kode keamanan sebelum menghubungi Dalton di Jakarta. "Bos, Oprasi sudah selesai. Mikail sudah memakan umpannya," lapor Daniel tanpa basa-basi. "Bagus. Julian?" tanya Dalton di seberang sana, suaranya terdengar berat dan letih. "Aku akan mengirimkan data pertemuan ku dengan Mikail ke Julian melalui jalur anonim perusahaan keamanannya malam ini. Dia pasti akan datang ke Jenewa begitu menyadari adiknya dalam bahaya. Sam tidak boleh mendapatkan akses ke satu pun dari mereka." Daniel masuk ke dalam sebuah mobil sewaan yang terparkir di sudut jalan gelap. Di dalam, ia sudah menyiapkan peralatan pemantauan tingkat tinggi—warisan dari teknologi Obsidian yang masih berfungsi sempurna. Matanya menatap layar laptop yang menampilkan peta digital dermaga pribadi di Danau Jenewa. "Kamu harus berhati-hati, Daniel," suara Dalton terden
Di tengah ruangan galeri yang sepi, Mikail berdiri tegak menatap sebuah lukisan abstrak bertajuk 'The Silent Debt'. Tangannya bersedekap, auranya begitu dominan hingga pengunjung lain seolah segan mendekat. Daniel melangkah perlahan, berdiri di sampingnya seolah ikut menikmati lukisan itu. "Lukisan yang bagus. Tapi sayangnya, sejarah di baliknya tidak seindah warnanya," ucap Daniel tanpa menoleh. Mikail tidak bergeming. "Kebanyakan orang di sini hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, Tuan ...?" "Daniel. Hanya seorang kurir yang membawa kabar tentang sebuah aset yang mulai bocor ke permukaan," jawab Daniel tenang. Ia menyodorkan sebuah kartu kecil berwarna hitam dengan logo Obsidian yang sangat samar, nyaris tak terlihat jika tidak terkena cahaya dengan sudut tertentu. Mikail melirik kartu itu. Untuk pertama kalinya, otot rahangnya mengeras. Sebagai 'The Ghost', dia tahu persis logo itu—sebuah organisasi y
Angel melangkah tergesa keluar dari lift, napasnya memburu. Tas kerjanya terasa berkali-kali lipat lebih berat setelah sif panjang yang melelahkan di rumah sakit. Sambil merogoh kunci akses di dalam tas, ia berkali-kali merutuki Gunawan di dalam hati—pria itu yang dulu memaksanya menjaga Daniel, tapi sekarang malah Angel sendiri yang kelabakan karena takut pasien keras kepalanya itu kenapa-kenapa."Daniel, aku datang! Maaf ya terlambat, tadi ada pasien darurat—"Suara Angel menggantung di udara. Ia mematung di ambang pintu. Sunyi. "Daniel?" Angel melangkah masuk lebih dalam, meletakkan belanjaan berisi bahan sup segar di atas meja dapur.Ia memeriksa kamar tidur. Kosong. Tempat tidur sudah rapi, bahkan kaos oblong yang tadi pagi dia pakai sudah tergantung bersih di ruang laundry. Angel segera berlari ke sofa, merogoh kolong bantal tempat biasanya Daniel menyembunyikan tabletnya. Kosong."Bayi tua nekat!" umpat Angel, tangannya mulai geme
Di beranda belakang yang sunyi, Maria berdiri menatap taman dengan pandangan kosong. Di tangannya, sebuah foto usang teremas pelan. Langkah kaki lembut mendekat, Ana datang membawa secangkir teh Rosella hangat, mencoba mencairkan suasana yang membeku sejak keributan di ruang kerja tadi. "Ibu belum istirahat?" tanya Ana lembut sembari meletakkan cangkir itu di meja kecil. Maria menoleh, matanya sembab. "Bagaimana Ibu bisa tenang, Ana?"Maria memandang hamparan gelapnya malam dengan tatapan gundah. "Jangan di pikirkan, Bu." Ana berdiri di sebelah Maria menyentuh lengan wanita tua ini, lalu mengajak Maria duduk. "Aku buat teh Rosela, silahkan di minum, Bu." Ana menyodorkan cangkir berisi rosela. Maria mengambil cangkir dan menyesap teh itu perlahan. Setelah itu kembali berbicara, "Ini soal janji, Ana. Ibu tak mau hingga mati ibu belum mengenalkan mereka pada ayahnya. Bukan masalah janji pada Sam, tapi pada wanita itu, sekarang mereka sudah dewasa dan ibu semakin tua. Ini waktu yang t
Dalton tidak bisa lagi menahan diri. Jarak di antara mereka terkikis dalam satu langkah lebar. Ia mencengkeram bahu Ana dengan tangan besarnya, tidak menyakiti, namun cukup kuat untuk memastikan Ana tidak bisa memalingkan wajah."Dengarkan aku!" bentak Dalton, suaranya parau, bergema di setiap sudu
Ia segera mengambil laptopnya dan memasukkan flashdisk itu. Sebuah video terputar. Rekaman CCTV hitam putih dari gudang logistik lama milik perusahaan Obsidian. Di sana terlihat Dalton muda sedang memberikan instruksi pada sekelompok pria, dan di latar belakang, terlihat sebuah truk dengan logo '
Lobi utama gedung Obsidian yang berlapis marmer hitam itu sunyi, hanya derap langkah Daniel yang bergema mengikuti Elena. Daniel berjalan di belakangnya, tangannya bertaut di belakang punggung, wajahnya sedingin es.Begitu sampai di dekat pintu kaca putar, Elena tiba-tiba berhenti. Ia be
Elena tertawa kecil, berdiri dan melangkah mendekat. Ia mengabaikan Ana sepenuhnya, matanya terpaku pada Dalton. "Aku mendengar Silas sudah mati. Kupikir kau butuh seseorang yang benar-benar tahu cara merayakan kemenanganmu. Seseorang yang tahu setiap inci tubuhmu, seseorang yang Isa menyenangkan