Share

Mencari Jejak Sang Iblis

Author: Azzurra
last update Last Updated: 2026-02-11 15:07:22

 

Bab 4 Mencari Jejak Sang Iblis.

Dalton Obsidian duduk di depan meja bar. Jemarinya mengaduk minuman di dalam gelas lalu meminum sekali tenggak.

“Awasi saja dia, Adrian tak pantas bersanding dengan wanita itu, dia harus jadi milikku.” Mata gelap Dalton seperti sedang menatap Anastasia - Dokter yang dengan berani menolongnya malam itu.

“Sepertinya wanita itu sedang mencari informasi tentangmu, Bos.”

“Biarkan, kita lihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya.” Dalton menuang wiski ke dalam gelas Kembali meneguk dengan sekali tenggak.

“Anastasia Ananta. Cantik, kuat, penuh ambisi. Sepertinya pertemuan kita malam itu adalah takdir kita.” Dalton terus merapal nama Ana, tangannya mengelus perut bekas jahitan Anastasia.

“Bos, kamu jatuh cinta? Aku ingatkan Bos –“

Tangan Dalton naik menginterupsi ucapan Daniel. “Dia tak seperti wanita lainnya. Dadaku berdebar saat bersentuhan dengannya.”

Daniel mendengus. “Kamu bisa pakai wanita manapun, Bos. Tapi tidak memiliki.”

Dalton tertawa mendengar ucapan Daniel. “Carikan perawan aku mau bersenang-senang malam ini.”

“Lukamu masih basah, Bos.”

“Ck. Keluar, awasi kekasihku jangan sampai Adrian menyentuhnya.” Dalton kembali menenggak minuman dalam gelasnya.

**

 Suara hingar bingar musik menusuk gendang telinga Ana, matanya memindai tempat penuh kesenangan duniawi ini. Malam ini, bukannya pulang ke rumah, Ana pergi ke sebuah klab malam di pinggiran kota untuk menemui seseorang. Namanya Toni seorang mantan pasien yang dulu dia selamatkan dari overdosis, yang Ana ketahui kini bekerja sebagai informan "bawah tanah".

“Gila kamu An, ngajak ke tempat beginian? Nggak ada tempat lebih bagus apa?” tanya Anggel.

“Kamu lagi ada masalah? Cerita ke aku? Bukan healing ke tempat beginian.”

“Berisik!! arah jam 10 cowok ganteng gaet sana, Aku ada perlu dulu sama temenku.”

Mata Angel mengikuti arahan mata Ana, dan seketika itu juga bibir Anggel tersenyum menyeringai. “Sesuai selera tuh cowok, langsung aku bungkus, kamu pulang sendiri.” Mata Anggel berbinar menatap lelaki yang duduk di pojokan sendiri.

“Gila main bungkus aja, inget kesehatan, kita dokter jangan sampe tertular penyakit karna salah langkah. Kita di sini buat happy-happy aja, Sis.” Ana menaikkan turunkan alis.

Anggel berdecak sambil bangun dari duduk meninggalkan Ana yang menunggu Tony senggang dengan pekerjaannya.

"Dok, ada perlu apa sampai datang jauh-jauh?” Tony menghempaskan tubuh di sebelah Ana. Ana membisik di telinga Tony.

Dan seketika mata Tony terbelalak mendengar bisikan Ana. “kamu cari masalah, Dok.” Wajah pria itu pucat pasi, matanya melirik ke kiri dan kanan dengan gelisah.

"Aku hanya ingin tahu siapa dia sebenarnya. Kenapa semua orang ketakutan saat namanya di sebut? Dan dia menerorku saat ini.”

Tony mencondongkan tubuh, suaranya sangat rendah. "Dalton itu bukan cuma mafia biasa. Dia adalah kepala dari The Obsidian Syndicate. Dia menguasai jalur logistik di seluruh pelabuhan dan setengah dari pejabat kota ada dalam kekuasaannya. Tapi ada satu hal yang paling mengerikan..."

 

"Apa?"

"Dia dikenal sebagai pria yang tidak pernah melepaskan apa yang sudah dia tandai. Ada rumor, bertahun-tahun lalu, seseorang pernah mencoba mencuri aset darinya. Dalton tidak hanya membunuh pria itu, dia menghapus seluruh silsilah keluarga pria itu dari muka bumi dalam satu malam. Tanpa ada yang bisa menjeratnya ke jeruji besi.”

Mendengar penuturan Tony nyali Ana menciut, sama persis dengan yang di katakan Adrian. “Tapi kenapa dia mengincarku, Ton. Aku tak pernah menyinggungnya, aku hanya menolongnya malam itu.”

Benny mengendikan bahu. Dia menatap Ana prihatin. Lelaki berkulit eksotis ini merogoh tasnya dan memberikan sebuah amplop cokelat kusam pada Ana. "Ini file lama. Kasus yang ditutup paksa oleh polisi. Di sana ada foto-foto Dalton saat dia memulai kekuasaannya. Dia setia pada orang-orangnya, tapi dia kejam pada pengkhianat.”

"Jika dia mengincarmu hanya ada dua cara untuk keluar, kamu menjadi ratunya, atau kamu menjadi debu di bawah kakinya."

Ana menghela nafas. “Sial. Kenapa aku menolongnya malam itu. Harusnya aku tabrak saja dia malam itu.” Ana menenggak minuman beralkohol itu dengan sekali teguk.

Setelah mendapat informasi Ana mencari Anggel lalu meninggalkan  klub malam.

“Sial, kamu An, ngajak cuma buat ngobrol doang.”

Anggel melirik Ana yang hanya diam, fokus pada kemudi mobil. “An, Aku tau kamu lagi ada masalah. Cerita An!! Apa ada sangkut pautnya sama laki-laki yang kamu tolong malam itu?

Hanya deru mesin mobil yang menjawab pertanyaan Anggel, Anggel pun tak lagi bertanya dia tau betul sifat Ana, semakin di desak Ana semakin tak mau bercerita.

“An, kapan pun kamu mau cerita aku siap.” Anggel keluar dari mobil Ana tanpa mendapat jawaban dari wanita yang kini di liputi kegelisahan.

Ana pulang dengan kehampaan, tangannya mencengkram amplop cokelat pemberian Tony. Sesampainya di apartemen, dia menghempaskan tubuh di sofa lalu membuka isinya. Foto-foto hitam putih menunjukkan Dalton yang lebih muda, berdiri di atas puing-puing bangunan dengan wajah tanpa ekspresi, tangannya berlumuran darah.

Di lembar terakhir, ada sebuah fakta yang membuat jantung Ana seolah berhenti berdetak.

Dalton memiliki nama asli yang sangat mirip dengan nama keluarga konglomerat yang menjadi penyokong dana utama firma hukum Adrian.

Apakah ini alasan Adrian terlihat takut saat aku menyebut nama Dalton dan dia memberikan pengamanan padaku? Apakah pertemuanku dengan Dalton bukan kebetulan?

 

Tiba-tiba, lampu apartemen padam. Di tengah kegelapan, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.

Ana mengangkatnya dengan tangan gemetar.

"File itu tidak menceritakan semuanya, Anastasia," suara Dalton terdengar di seberang sana. "Jika kamu ingin tahu siapa aku, tanyakan pada tunanganmu, dia yang paling mengenalku.’

”Siapa kamu sebenarnya dan apa maumu?”

Tapi lagi-lagi pertanyaan Ana mengambang di udara, Dalton mematikan ponsel sepihak.

 Kemarahan adalah obat penawar rasa takut yang paling ampuh. Ana tidak lagi peduli dengan peringatan Tony. Saat ini dia muak diburu seperti binatang.

Malam itu, bukannya bersembunyi di balik selimut, Ana justru mengemudikan mobilnya menuju sebuah kelab malam eksklusif The Void—tempat yang menurut Tony adalah salah markas utama Dalton.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Negosiasi Kepemilikan

    Bab 6 Ana tak peduli ucapan Adrian, dia memutuskan pergi dari tempat yang dia rasa nyaman selama ini. Tujuannya hanya satu, stasiun kereta api di pusat kota. Dia akan pergi menuju desa terpencil tempat tak seorang pun tau tempat itu, tempat yang dia beli memang untuknya menepi saat penat melanda selama ini. Bahkan keluarganya tak ada satupun yang tau tempat ini. "Aku harus pergi, aku harus hilang," gumamnya terus-menerus. Matanya terus melirik kaca spion, takut melihat SUV hitam yang sering mengikutinya. Sesampainya di stasiun pusat, Ana membeli tiket secara tunai—dia cukup pintar untuk tidak menggunakan kartu kredit yang bisa dilacak. Dia duduk di bangku peron yang gelap, menarik topi jaketnya dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang setiap kali melihat pria tinggi lewat. Kereta terakhir malam itu akhirnya datang dengan bunyi peluit yang memekik. Ana berdiri, menggenggam tasnya erat-erat, lalu melangkah masuk ke dalam gerbong yang hampir kosong. Dia duduk di pojok gerbong, meny

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pria Abnormal

    Bab 5 Ana menerobos masuk, mengabaikan penjaga bertubuh besar di pintu depan, "Katakan pada bosmu, Dokter yang menjahit perutnya datang untuk menagih hutang!" Entah keberanian dari mana Ana berteriak lantang dan para penjaga membiarkannya lewat. Ana dibawa ke lantai atas, ke sebuah ruangan luas dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip kota. Di sana, Dalton duduk di sebuah kursi kulit besar, menggenggam segelas wiski. Jasnya terlepas, hanya mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan perban yang masih melilit perutnya, hasil jahitan tangan Ana. "Kamu sungguh berani, Dokter Anastasia," suara Dalton rendah, bergema di ruangan yang sunyi. "Tutup mulutmu!" bentak Ana. Dia melangkah maju mendekati pria itu, berdiri tepat di depan meja Dalton, napasnya memburu. "Kamu pikir kamu siapa?! Aku tidak mengenalmu! Kita tidak punya urusan apa pun! Kenapa kamu melakukan ini padaku?” Ana berkata penuh amarah. Dalton menaikkan sebelah alisnya, tampak t

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Mencari Jejak Sang Iblis

    Bab 4 Mencari Jejak Sang Iblis.Dalton Obsidian duduk di depan meja bar. Jemarinya mengaduk minuman di dalam gelas lalu meminum sekali tenggak. “Awasi saja dia, Adrian tak pantas bersanding dengan wanita itu, dia harus jadi milikku.” Mata gelap Dalton seperti sedang menatap Anastasia - Dokter yang dengan berani menolongnya malam itu.“Sepertinya wanita itu sedang mencari informasi tentangmu, Bos.”“Biarkan, kita lihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya.” Dalton menuang wiski ke dalam gelas Kembali meneguk dengan sekali tenggak. “Anastasia Ananta. Cantik, kuat, penuh ambisi. Sepertinya pertemuan kita malam itu adalah takdir kita.” Dalton terus merapal nama Ana, tangannya mengelus perut bekas jahitan Anastasia.“Bos, kamu jatuh cinta? Aku ingatkan Bos –“ Tangan Dalton naik menginterupsi ucapan Daniel. “Dia tak seperti wanita lainnya. Dadaku berdebar saat bersentuhan dengannya.”Daniel mendengus. “Kamu bisa pakai wanita manapun, Bos. Tapi tidak memiliki.”Dalton tertawa mendengar u

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Hantu Dalam Kegelapan

    Bab 3 Gerakan tangan Adrian yang sedang merapikan dasi terhenti seketika. Raut wajahnya berubah sedikit tegang, meski hanya sekejap. "Dari mana kamu mendengar inisial dan nama itu?" "Tadi aku mendengar kamu menyebut namanya, dan pagi tadi di rumah sakit, aku melihat berita di televisi tentang kekacauan di pelabuhan. Mereka menyebut nama Dalton." Bohong Ana sedikit. Dia tidak mungkin bilang kalau habis menjahit perut lelaki berinisial D semalam. “Apakah Dalton pria yang tadi kamu sebut-sebut di dalam mobil adalah pria berinisial D?” Adrian mendengus remeh, tapi ada sedikit kegelisahan di suaranya. "Nggak usah membicarakan dia, Ana. Dia seorang pengusaha yang namanya bersih. Tetapi sesungguhnya dia sampah masyarakat. Dia seorang kriminal kelas kakap, kepala mafia yang namanya saja sudah membuat polisi gemetar. Tapi tenang saja, orang seperti kita tidak akan pernah bersentuhan dengan iblis seperti dia.” Mendengar penuturan Adrian Ana meneguk ludahnya susah payah. “Ya Tuhan, seperti

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Properti Of D

    Bab 2Ana menoleh ke arah cahaya lampu mobil yang mulai terlihat di ujung jalan, lalu menatap mata lelaki yang kini tak berdaya. Firasatnya mengatakan bahwa mobil itu adalah bahaya.Ana mendengus kesal, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang masih berlumuran darah."Demi Tuhan, aku akan menyesali ini," gerutu Ana.Namun dia membantu pria itu bangun, lalu membahu pria besar itu, mengerahkan seluruh tenaganya untuk memapah si pria menuju mobilnya. Anastasia tidak ingat bagaimana tepatnya dia berhasil mengemudikan mobil dengan kecepatan gila malam ini demi menghindari mobil hitam yang mengejar, hingga akhirnya dia sampai di sebuah klinik kecil milik sahabat yang bisa ia percayai. Dia menghabiskan sisa malam dengan menjahit luka tembak pria ini dan memantau kondisinya hingga matahari terbit.“Ana kamu harus lapor polisi, dia kena tembak, ini bukan luka biasa,” Anggel terus melirik ke arah pria yang masih terbaring lemah. “Aku bingung Ngel. Dia mengancamku tadi. Lebih ba

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Bayangan Di Ujung Lelah.

    Bab 1Uhh ...Ana merenggangkan tubuh, mulutnya menguap lelah. Aroma disinfektan dan obat-obatan masih tertinggal di penciumannya. Tiga belas jam. Rekor terbarunya berdiri di depan meja operasi, menjahit pembuluh darah halus di otak seorang pasien korban kecelakaan.“Ya Tuhan, capeknya,” gumam Ana.Ia menghela napas panjang lalu menggoyang kepala dan pundak yang terasa pegal.“Kasur I’m coming!!” seru Ana bersemangat. “Guys, pulang ya.” Ana melambaikan tangan pada teman satu timnya.Yang dia inginkan kini hanyalah kasur empuk, selimut tebal, dan tidur tanpa mimpi selama dua hari penuh, membayangkan kasur empuk membuat Ana kembali bersemangat, berjalan cepat ke arah parkiran.Setelah sampai di parkiran, dia membuka pintu sedan hitamnya dan menghempaskan tubuh ke kursi pengemudi. Kabin mobil terasa menenangkan setelah hiruk-pikuk bunyi monitor detak jantung di ruang oprasi barusan.Lagi Ana mengeluarkan nafas beratnya. Perlahan tangannya menekan tombol starter, mesin menderu halus. Wan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status