LOGINSebelum keluar rumah Dalton membuat dua gelas kopi, lalu membawa keluar menuju mobil di mana Daniel menunggu, beberapa penembak jitu terlihat berjaga di beberapa tempat, bagi orang awam mereka tak akan terlihat, tapi bagi Dalton dia tau mereka seperti bunglon menyerupai benda di mana mereka berada.
Dalton menyodorkan kopi pada Daniel setelah mendekat. "Terimakasih, Bos," bisik Daniel, dia menyandar di pintu mobil, lalu melanjutkan ucapan, "Lampu tidur masih berpijar temaram, menyinari sisa-sisa kehangatan mereka barusan, setelah mendapat lampu hijau dari dokter kandungan Dalton selalu memberi kehangatan pada istrinya. Dalton tertidur pulas dengan posisi protektif, lengannya yang kokoh melingkari perut Ana seolah menjadi pagar hidup. Napasnya begitu teratur, sesuatu yang jarang terjadi bagi seorang pria yang biasanya tidur dengan satu mata terbuka.Ana merasa bagai mimpi, dia tak pernah menyangka bisa hidup di desa ini dengan tenang tanpa bayangan masalalu suaminya. Dia menatap Box bayi di dekat ranjang yang Dalton pesan beberapa hari yang lalu, langsung di pengrajin kayu. Pakaian bayi pun sudah ada, mereka berbelanja saat kembali memeriksakan kandungan, bahkan Dalton memperlebar rumah agar lebih leluasa untuk bermain putrinya nanti. Perlahan Ana memejamkan mata tapi malam ini mata Ana tak bisa terpejam pulas, kegelisahan di rasa wanita yang perutnya sudah membuncit ini. Berkali-kali Ana ke
Dokter Handoko tertawa lepas. "Aman, Pak. Bayinya terlindungi ketuban. Justru itu 'pelumas' alami paling manjur." Sepanjang perjalanan pulang di mobil, suasana mendadak canggung luar biasa. Dalton menyetir dengan sangat pelan, matanya lurus ke depan, tapi tangannya meremas kemudi hingga berderit. "Ana," panggil Dalton setelah lima menit hening. "Hm?" Ana menyahut tanpa menoleh, masih malu. "Kenapa dokter itu memakai istilah 'ditengok'? Aku tadi hampir mengira dia menyuruhku membelikan kamera CCTV untuk dipasang di perutmu," gumam Dalton dengan nada datar tapi bingung. Ana meledak dalam tawa. "Kamu itu ya... katanya mafia hebat, tapi bahasa dokter aja nggak nyambung!" Dalton mendengus, tapi kemudian sudut bibirnya terangkat tipis. Ia melirik perut Ana, lalu berbisik pelan, "Berarti malam ini ... kita punya jadwal rutin untuk 'menengok' putri cantik kita?" Ana memukul lengan Dalton pelan, wajahnya makin merah. Di balik kecanggungan itu, Dalton merasa sangat bahagia. Hidup
Dalton mematung. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat ia harus berhadapan dengan musuh. Padahal tadi dia sengaja mampir ke pom bensin dan cuci muka pake sabun yang ada di sana tapi kenapa Ana masih mencium bau aneh? "Bau ... apa ya ini?" Ana mengernyit, hidungnya masih menempel di ceruk leher Dalton, menghirup aroma yang asing di indranya. "Bukan bau parfummu. Ini seperti bau bunga, tapi sangat tajam dan... sedikit bau asap?" Dalton memutar otak dengan cepat. Ia mengelus rambut Ana dengan tangan yang sedikit gemetar, mencoba menenangkan istrinya. "Ini martabaknya, Tuan. Sudah saya hangatkan," Nah berdiri di depan pintu kamar, dia sedikit mengintip ka arah kamar. "Sini bawa ke masuk. Ana aku belikan martabak di jalan tadi," Dalton mencoba mengalihkan perhatian Ana. Ana tersenyum, "Oh bau martabak toh badan kamu. Emang beli martabak berapa kardus?" "Tuan beli beberapa kardus, Nyonya," jawab Nah sambil meletakkannya di samping Ana. Matanya sedikit melirik ke a
Duar!! Astaga! Suara apa itu, Bik?!" Ana tersentak kaget, ia langsung bangkit berdiri meski dengan gerakan terbatas karena perut besarnya. Ana berjalan terburu-buru menuju jendela depan untuk memastikan keadaan, meninggalkan tumpukan foto itu begitu saja di atas meja. "Bik Nah! Lihat itu, ada asap!" seru Ana cemas, ia membuka pintu melangkah keluar rumah. Di seberang pagar, di kebun rumah tetangga yang biasanya sepi, tampak kobaran api kecil yang melahap tumpukan ban bekas. Asap hitam pekat membubung ke langit malam yang mendung. Seorang pria bertopi lusuh dengan kaos oblong tampak berdiri di sana, memegang galah bambu. Pria itu menoleh saat menyadari kehadiran Ana di teras. Mata mereka bertemu sejenak di bawah temaram lampu jalan. Pria itu tidak tersenyum, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan sopan namun kaku—seolah memberikan kode bahwa semuanya terkendali—sebelum kembali sibuk dengan apinya. "Oh, syukurlah... ternyata tetangga sebelah lagi bersih-bersih kebun dan m
"Kau merasakannya, Dalton? Panas itu ... keinginan itu?" Elena berbisik di telinga Dalton, napasnya mulai tersengal. "Kau wanita tak tau malu Elena, istriku menyelamatkanmu dari kematian, tapi sekarang kau menggoda suaminya." Dalton memprofokasi. "Dia tak pantas bersanding dengan mu Dalton." Keringat mulai muncul di pelipis Elena, wanita ini merasa ada yang janggal. Kenapa Dalton masih duduk tenang di kursinya tetapi tubuhnya sendiri merasa. "Penghianat tetap lah penghianat, kalau bukan karna kabaikan istriku kau sudah mati." Elena sudah tak memperhatikan ucapan Dalton, pikirannya berkelana tangannya tak bisa berhenti meraba tubuhnya sendiri, kulitnya terasa panas, Bukan Dalton yang mulai gemetar, melainkan tangannya sendiri. Jantungnya berdegup dengan irama yang tidak wajar, rasa panas yang seharusnya membakar Dalton, kini justru meledak di dalam perutnya sendiri, menjalar ke seluruh titik sensitif di tubuhnya hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan. Elena terhenyak, ia mere
Hotel Mega berdiri angkuh di tengah kemacetan Surabaya. Dalton melangkah masuk lewat pintu belakang—jalur tikus yang sudah dikosongkan Daniel dalam waktu sepuluh menit. Meski ia sudah berganti kemeja bersih, aura 'kematian' dari gudang tua tadi masih pekat menyelimuti setiap langkahnya yang sedingin es dan setajam silet. Di depan pintu kamar 909, Daniel berhenti. "Dia sendiri di dalam, Bos, unit pembersihnya sengaja diletakkan di lantai bawah agar tidak mencolok." Dalton tak menjawab, tatapannya kosong namun mematikan. Ia mendorong pintu tanpa mengetuk, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang hanya diterangi lampu remaram dan kerlip lampu kota dari balik jendela. Elena sedang duduk di sana, memunggungi pintu. Di tangannya melingkar segelas wine merah, warnanya semerah gaun sutra yang membalut tubuh moleknya dengan sangat provokatif. Begitu Dalton masuk, Elena tidak menoleh, ia hanya tersenyum tipis, menyesap isinya dengan gerakan yang sengaja diperlambat. "Kau terlamba