MasukDalton baru saja melangkah mendekati pintu kayu raksasa Biara Santa Maria Della Speranza, langkahnya terhenti saat merasakan ponsel di saku jasnya bergetar hebat. Ia berhenti, lalu mengambil ponsel, sesaat ia menarik napas dalam udara Sisilia yang kering, saat melihat nama yang tertera di layar. Istriku❤️ Jantung Dalton berdegup tidak selaras. Ada apa lagi wanitanya menelpon, jika saja Dalton tak cinta ia sudah mengirim tentara bayaran untuk menghabisi wanita ini. Selalu mengganggu tapi Dalton juga tak mengerti kenapa dia selalu sabar menghadapinya. Ia memberi isyarat pada Daniel agar menjauh sebentar dan dengan tangan sedikit gemetar, ia menggeser tombol hijau. "Halo, Ana?" suara Dalton rendah, berusaha menekan gejolak di dadanya. "Dalton ..." Suara Ana di seberang sana terdengar serak. Ana terpaksa kembali menelpon Dalton, dia tak bisa hidup dalam kegamangan seperti sekarang ini. "Em ..." Ana bingung harus mulai dari mana berbicara pada suaminya, jika dia sudah mengobr
Siang ini, matahari Sisilia bersinar terik, memantul di atas permukaan mobil SUV hitam yang terparkir di pinggiran Palermo. Dalton sedang berdiri di samping kendaraan, memeriksa magasin senjatanya dengan gerakan mekanis yang sempurna. Ia sudah bersiap untuk memulai perjalanan menuju Biara Santa Maria Della Speranza. Tiba-tiba, suara sirine pendek yang melengking keluar dari perangkat tablet yang dipegang Daniel. Sinyal merah berkedip cepat di layar. "Bos, sistem alarm di rumah memberikan sinyal. Rumah mengalami lockdown, lampu mendadak mati," ucap Daniel dengan wajah tegang. Ia dengan cepat membaca log aktivitas yang masuk. "Sepertinya Nyonya menemukan micropulsa yang Anda simpan di laci, Bos." Gerakan tangan Dalton terhenti. Kedua tangannya meremas senjata itu dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sebelum akhirnya ia meletakkan senjata itu ke atas meja lipat di hadapannya dengan suara dentum logam yang berat. Bukannya marah, sebuah senyum tipis yang sarat akan kekagum
Tubuh Ana masih gemetar hebat, dadanya naik turun berusaha meraup oksigen. Ia berdiri mematung di balik pintu setelah jeritannya mereda. Begitu mendengar suara Nah Ana bisa bernafas lebih tenang, perlahan Ana melangkah menghampiri pintu, mengulurkan tangan yang masih dingin dan berkeringat, lalu memutar kunci ruang kerja itu. Begitu pintu terbuka, Ana melihat Nah berdiri di sana dengan wajah panik. Di sampingnya, berdiri pria tetangga sebelah yang malam itu membakar ban bekas. Pria itu tampak siaga, sorot matanya tajam menyapu seisi ruangan. "Ada apa, Nyonya? Kenapa menjerit?" tanya Nah dengan suara bergetar karena cemas. Ana menggeleng cepat, matanya masih terbelalak menatap koridor di belakang mereka. "Tadi ... kayak ada yang mau masuk ke sini, Bik. Ada orang di depan pintu, mau buka pintu ini dengan paksa. Handle pintunya goyang keras banget." Nah dan pria di sampingnya saling lempar pandang sejenak. "Sejak tadi saya tadi ada di depan rumah saya, nggak liat ada yang datang Ny
Ana yang masih merasa belum tenang walau Herma menasehati ia kembali menuju ruang kerja Dalton, perlahan ia duduk di bangku kebesaran yang biasa suaminya duduki. Ana mengedarkan pandangan, tak ada yang patut di curigai, buku dokumen semua Ana kenali dan yakini itu dokumen-dokumen perusahaan legal milik suaminya. Ana menggela napas pelan, mungkin benar apa yang di katakan ayahnya, dia harus bisa melegakan perasaan tetapi tetap waspada terhadap sikap dan gerak gerik Dalton. Ana membuka laci meja kerja paling atas setumpukan fotonya dengan Dalton Muali saat bulan madu hingga Ana sedang menyusui Aurora. Bibir Ana tersingging saat melihat tulisan di bawah foto itu. Penyemangat dan penghapus lelah.“Ternyata kamu bisa lelah juga, Dalton. Aku kira kira badan kamu dari mesin.” Ana kembali menaruh foto itu lalu menutup perlahan. Setalah itu dia ingin membuka laci kedua tapi tak bisa laci itu terkunci.Ana menunduk, jemarinya meraba tempat kunci ternyata kunci laci itu seperti kunci brangk
Di dalam jet pribadi, Daniel memperhatikan Dalton yang terus menatap ke arah luar jendela, ke arah kegelapan laut Mediterania. "Bos, Anda harus istirahat. Kita akan mendarat tiga jam lagi," ucap Daniel. "Aku tidak bisa tidur, Daniel. Setiap kali aku memejamkan mata, aku seperti mencium aroma Ana, aku merasa dia sedang memikirkan ku, aku juga sedang memikirkan apa tanggapan Ana saat aku membawa ibuku nanti." Dalton menyentuh saku jasnya, tempat ia menyimpan foto anak dan istrinya. "Nyonya pasti mengerti, saat kamu menjelaskan nanti." "Daniel," Dalton masih terlihat resah. "Ada apa, Bos? Sekarang sebaiknya Anda istirahat dulu, simpan tenagamu untuk besok, Bos." Dalton seolah tak mendengar saran Daniel, "Menurutmu, apakah dia masih mengenalku? Setelah tiga puluh tahun di dalam sana, apakah dia masih mengingat wajah anak yang dulu dia coba selamatkan?" Daniel terdiam sejenak. "Ibu tidak akan pernah lupa, Bos. Bahkan jika dunia menghapus namanya, seorang ibu akan selalu mengen
"Jadi mereka benar-benar menjadikan ibuku sebagai rahasia kotor selama tiga puluh tahun?" "Sepertinya begitu, Bos," Daniel menyambung. "Nyonya Maria tidak pernah mati. Dia diasingkan karena dianggap sebagai ancaman bagi garis keturunan murni keluarga setelah ayahmu kehilangan kekuasaan, sebab Nyonya Maria pernah membawamu pergi dari keluarga ayahmu untuk menyelamatkanmu. Mereka mencuci otak semua orang, termasuk ayahmu sendiri, untuk percaya bahwa dia meninggal karena kecelakaan." BRAK! Dalton memukul meja lipat itu hingga gelas kristal berisi wiski di sampingnya bergetar hebat. "Mereka merampas masa kecilku. Mereka membiarkan aku tumbuh tanpa kasih sayang, aku terlunta-lunta mencari jati diri, hidup dalam kegelapan, sementara ibuku masih bernapas di balik dinding batu itu!" Jari tangan Dalton meremat kuat, pikirannya melayang mengingat masa kecil, kehidupan kejam, bela diri, latihan fisik yang tidak ada habisnya dan ke
Layar digital di kabin jet menampilkan cetak biru pelabuhan pusat. Dalton berdiri dengan tangan bersedekap, matanya tak lepas dari titik merah yang menandakan posisi Silas. "Silas ingin aku datang menyerah," suara Dalton berat, menggetarkan dinding jet. "Dia ingin aku berlutut di depa
Koper-koper sudah masuk ke dalam kendaraan yang akan membawa mereka ke landasan pacu. Di dalam Ger yang kini terasa lebih sunyi, Ana berdiri mematung di dekat pintu tenda. Ia sudah mengenakan jaket kulit hitam yang pas di tubuhnya, matanya menatap jauh keluar tenda. Dalton mendekat, l
Cahaya matahari pagi Mongolia yang pucat menembus bagian atas Ger, membangunkan Ana dari tidur terdalam yang pernah ia rasakan. Tubuhnya terasa ringan namun bertenaga. Di sampingnya, Dalton sudah tidak ada, namun aroma kopinya yang kuat memenuhi ruangan.Ana melangkah keluar dengan pakai
Uap panas yang membumbung dari kolam batu alam Tsenkher menciptakan tirai kabur yang menyembunyikan mereka dari dunia luar. Suhu udara Mongolia yang membekukan di luar kolam membuat sensasi air panas yang menyentuh kulit Ana terasa berkali-kali lipat lebih intens.Dalton menarik Ana ke d







