Home / Romansa / Pesona Paman Seno / PPS | First Kiss [+]

Share

PPS | First Kiss [+]

Author: Karl Valerie
last update publish date: 2026-04-21 15:51:37

Dua insan berbeda usia itu masih saling menautkan bibir mereka dengan mesra. Entah sejak kapan kini posisi Rindu telah berada di atas pangkuan Seno. Dengan kedua lengan kecilnya yang melingkar apik di leher kokoh pria itu. Serta jemari mungilnya yang tidak henti meremas surai gelap sang paman.

Emphh..

Suara lenguhan yang keluar dari bibir Rindu nyatanya tidak membuat Seno sadar jika apa yang dia lakukan pada keponakan istrinya itu salah. Dia justru semakin memperdalam ciumannya dan seolah lupa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Paman Seno   PPS | Sembunyi

    Rindu tersenyum puas begitu melihat masakan yang dia buat sejak pagi tadi telah tersaji rapi di atas meja. Pagi ini dia sengaja bangun lebih awal untuk pergi ke pasar dan berbelanja bahan-bahan makanan. Tak tanggung-tanggung, Rindu pergi ke pasar saat hari masih gelap.Tepat pukul 6 pagi, Rindu telah menyelesaikan kegiatannya di dapur. Dia juga sudah selesai mencuci piring dan alat-alat dapur lainnya.Semua yang Rindu lakukan tidak lain untuk menyambut kepulangan Seno. Pria itu semalam mengabarinya jika pagi ini dia akan pulang sebentar. Sehingga Rindu buru-buru memasakkan sesuatu untuk Seno.Entahlah, Rindu merasa tidak sabar menunggu kepulangan Seno. Padahal pria itu hanya tidak pulang selama sehari saja. Dan mereka juga sempat bertukar pesan semalam.Mengenai Hanum, sejak dirinya sibuk di dapur, wanita itu tidak terlihat batang hidungnya. Entah apa yang dilakukan oleh bibinya itu. Rindu tidak ingin mempedulikannya.Setelah menyelesaikan kegiatan memasaknya sekalian bersih-bersih da

  • Pesona Paman Seno   PPS | Kesal

    Melihat tatapan penuh selidik dari sang bibi, Rindu justru tersenyum samar. Rindu menebak jika Seno pasti tidak mengatakan apapun pada Hanum. Melihat bagaimana raut kesal dari wanita itu saat ini.Tanpa merasa terintimidasi, Rindu menatap balik Hanum yang tengah berkacak pinggang di depannya. Tatapan wanita itu begitu tajam, dan hal itu tidak membuatnya gentar sama sekali. Dia justru semakin ingin menyulut kemarahan Hanum."Tadi Paman Seno menelfon Rindu, Bik." jawab Rindu setenang mungkin.Hanum mendengus dan membuang wajah ke arah lain sejenak. Lalu kembali menatap ke arah gadis itu."Kenapa dia tidak menghubungi Bibi saja? Kenapa harus menghubungi kamu?" cecar Hanum kesal.Dengan polos Rindu menggelengkan kepalanya samar. Raut wajahnya tak terlihat resah atau terganggu dengan sikap Hanum saat ini."Rindu juga tidak tahu, Bik. Kenapa Bibi tidak tanya saja pada Paman?" balasan dari Rindu semakin membuat wajah Hanum menjadi muram.Rindu menggigit pipi dalamnya karena merasa bersalah t

  • Pesona Paman Seno   PPS | Tidak Pulang

    Seno mengelap keringat yang membasahi pelipisnya dengan punggung tangan. Rasanya benar-benar melelahkan karena sejak tadi dia tidak berhenti bergerak kesana kemari.Siang ini bengkel miliknya begitu ramai. Banyak dari para pelanggan setianya yang datang untuk memperbaiki kendaraannya. Sehingga Seno ikut turun tangan membantu para karyawannya."Ini sudah lewat jam makan siang, Bos. Lebih baik Bos istirahat dulu. Biar bagian ini saya yang memegangnya." kata Surya, salah satu karyawan yang ada di bengkel Seno."Tidak papa, Sur. Saya bisa makan nanti setelah motor ini selesai diperbaiki. Kasihan Pak Anto yang sudah menunggu lama sejak tadi." balas Seno menolak tawaran Surya. Pasalnya motor yang dia pegang saat ini milik pelanggan setianya yang sudah berusia senja.Surya berusaha meyakinkan Seno agar mau istirahat sejenak. Tapi bosnya itu tetap menolaknya dan menyuruhnya untuk memperbaiki motor pelanggan yang lain.Di dalam bekerja, Seno memang sangat disiplin dan bertanggung jawab. Dia ta

  • Pesona Paman Seno   PPS | Lengket [+]

    Seno mengernyitkan dahinya saat merasakan benda kenyal yang tengah menghisap bibirnya beberapa kali. Masih dengan mata terpejam, pria itu berusaha untuk menyingkirkan beban berat yang ada di atas tubuhnya.Seno dibuat menggeram karena sepertinya sosok ini sengaja mengusik tidurnya. Membuatnya mendengus dan dengan kesal membuka lebar kedua matanya.DegPria itu dibuat berjengit saat melihat sosok yang ada di depannya saat ini . Seno pikir sejak tadi Hanum-lah yang telah mengganggunya. Tapi ternyata.."Pagi, Paman Sayang." sapa suara lembut nan mesra tersebut.Seno mengerjap merasa tidak percaya dengan sosok yang kini tengah tersenyum manis di depannya saat ini."Kok sapaan Rindu tidak jawab, Paman?" dengusan kesal dari sang empu membuat Seno akhirnya tersadar, jika yang ada di depannya saat ini memang benar-benar gadis itu."Ri-Rindu? Kamu-kenapa kamu bisa masuk ke sini?" tanya Seno kebingungan.Sadar jika posisi mereka saat ini benar-benar sangat dekat, Seno lantas segera bangun. Memb

  • Pesona Paman Seno   PPS | Susah Tidur

    Sedari tadi Rindu sudah beberapa kali memutar tubuhnya kesana kemari di atas ranjang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu pagi. Namun tak ada tanda-tanda gadis itu akan tertidur.Helaan napas berat terdengar dari bibir kecil Rindu. Gadis itu tengah berbaring terlentang, dengan iris beningnya menghadap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Mengingat apa yang telah terjadi di antara dirinya dan Seno beberapa jam lalu di bengkel.Rasa sedih baru mendera hati Rindu saat ini. Namun sudah terlambat jika gadis itu ingin menyesalinya. Dia bahkan menikmati apa yang Seno lakukan pada tubuhnya.Rindu kembali menarik napas beratnya. Rasa sesak berkerumun di dalam hatinya saat ini. Memang benar dia telah memutuskan untuk melakukan apapun demi membalaskan dendamnya. Bahkan Rindu akan memberikan kesuciannya pada Seno secara suka rela. Tapi tetap saja, Rindu hanyalah seorang gadis yang rapuh dan lemah. Yang berusaha tetap kuat demi membalas rasa sakit hatinya pada sang Bibi."Sekarang

  • Pesona Paman Seno   PPS | Terjatuh

    Seno mendekap Rindu dengan begitu erat sesaat setelah permainan mereka selesai. Wajah pria itu tampak berseri karena baru saja mendapatkan servis dari sang keponakan."Terimakasih, Sayang. Paman senang sekali karena kamu mau memberikan harta berharga kamu untuk Paman." kata Seno mengecup puncak kepala Rindu dengan penuh kelembutan.Rindu yang masih merasa lemas hanya bisa mengangguk lemah. Rasanya memang sangat nikmat, tapi juga melelahkan setelahnya.Seno yang merasa sangat puas tak henti memuji Rindu dengan kata-kata manisnya. Membuat gadis itu tersipu dan hanya bisa menyembunyikan wajah merahnya di dekapan sang paman."Setelah ini, apa Paman akan meninggalkan Rindu?" pertanyaan itu keluar dari bibir Rindu setelah lama diam."Apa itu yang ada di pikiran kamu sekarang?" tanya Seno mengernyit tak suka.Rindu mendongakkan wajahnya, bertemu pandang dengan iris gelap milik Seno yang tengah menyorotnya dengan lurus."Bagaimanapun Rindu hanyalah keponakan yang tidak tahu diri karena sudah

  • Pesona Paman Seno   PPS | Semakin Lengket

    Hubungan Rindu dan Seno semakin hari semakin lengket saja. Setiap ada kesempatan, Seno akan menyelinap masuk ke dalam kamar gadis itu ketika malam. Memadu kasih walau sekedar lewat sentuhan saja.Sejauh ini Seno masih bisa menahan diri dengan tidak membobol gawang Rindu. Tapi dia merasa tidak yakin

  • Pesona Paman Seno   PPS | Mesra Bersama Paman [+]

    Entah sejak kapan posisi Rindu telah berbaring di atas ranjang. Dengan Seno yang mengungkung tubuh mungilnya menggunakan kedua lengan kekarnya. Bibir pria itu tak henti mengecupi wajah Rindu. Membuat gadis itu terkikik geli karena gesekan kumis tipis pria itu. Belaian tangan Seno yang singgah di w

  • Pesona Paman Seno   PPS | Pembelaan Seno

    BrukRindu melempar tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tertelungkup. Wajahnya terlihat begitu bahagia pagi ini karena berhasil membuat Hanum kembali sakit hati. Pembelaan Seno di ruang makan tadi membuatnya senang bukan main. Pasalnya setelah itu, Hanum yang memiliki ego tinggi merasa tidak ter

  • Pesona Paman Seno   PPS | Sandiwara

    Rindu menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Pikirannya berkelana mengingat apa yang baru saja dia lakukan bersama Seno beberapa waktu lalu.Masih teringat jelas di benaknya ketika pria itu menyentuh setiap jengkal tubuhnya dengan sentuhan panas nan memabukkan. Membuat dirinya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status