Mag-log inJantung Rindu berdegup kencang kala merasakan tangan Seno yang menjalar naik menyapa gunung kembar miliknya. Kaos pendek yang dia kenakan telah ditanggalkan oleh pria itu. Hanya penutup dada berwarna hitam yang masih melingkar di punggungnya. Dan sepertinya benda itu sebentar lagi juga akan bernasib sama seperti kaosnya yang dibiarkan teronggok di lantai.Remasan kecil dapat Rindu rasakan ketika Seno mulai menggerakkan kedua tangannya di atas gunung kembarnya yang masih berpenghalang. Membuat sesuatu di dalam dirinya membuncah entah apa penyebabnya.Netra beningnya menatap tepat ke arah manik kelam Seno yang tengah diliputi kabut gairah. Dan hal itu sukses membuat dirinya merasa berdebar sekaligus senang. Suami bibinya itu sepertinya benar-benar telah terjerat akan permainannya. Dan Rindu tidak akan membiarkan Seno sampai lepas, sebelum balas dendamnya berhasil.Jahat. Benar, dia memang sangat jahat karena memanfaatkan Seno yang tidak tahu apa-apa. Rindu berani mengatakan jika Seno ti
Perjalanan menuju bengkel yang biasanya hanya memakan waktu tidak sampai sepuluh menit, entah kenapa terasa lama bagi Seno saat ini. Mungkin karena ada seorang gadis cantik yang duduk di jok belakang motornya. Sembari memeluk pinggangnya karena beralasan takut jatuh. Awalnya Seno menolak ketika Rindu menyelipkan kedua lengan kecilnya di antara pinggangnya. Memeluknya erat hingga membuat tubuh depan gadis itu menempel pada punggungnya. Namun gadis itu bersikeras ingin tetap memeluknya hingga dia merasa lelah sendiri berdebat. Dan akhirnya Seno membiarkan Rindu melakukan apapun yang dia mau. Dalam hati pria itu tak henti mengumpat karena merasakan gundukan kenyal yang menempel pada punggungnya ketika Rindu memeluknya dari belakang. Membuat pikirannya kembali ricuh karena godaan kecil itu. Seno merasa kesal dengan dirinya yang akhir-akhir ini mudah sekali terpancing. Padahal Rindu tidak melakukan apapun. Dan dia benar-benar menyalahkan otaknya yang selalu berpikir yang tidak-tidak pad
Seno menatap kosong kaca jendela yang menampilkan sinar matahari yang baru terbit dari ufuk timur. Sejak semalam dia tidak bisa memejamkan matanya karena mengingat apa yang terjadi pada dirinya dan keponakan istrinya.Tidak. Mereka tidak melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman. Seno lebih dulu menyudahi kegiatan mereka sebelum semuanya semakin jauh.Hanya ciuman. Benar. Tapi entah kenapa susah sekali bagi Seno untuk melupakannya. Dia masih mengingat jelas bagaimana rasa bibir Rindu yang terasa manis di indra pengecapnya. Juga suara merdu gadis itu yang membuat hasratnya terbakar.Semua yang terjadi pada dirinya dan Rindu benar-benar tidak pernah ada di dalam benak Seno. Apa mungkin dirinya mulai tertarik dengan keponakan istrinya itu?Memangnya siapa pria yang bisa menolak pesona seorang Rindu Sarasvati Budiman? Gadis muda berusia 20 tahun yang memiliki paras menawan dan tubuh yang aduhai.Awalnya Seno tidak terlalu memperhatikan keponakan istrinya itu. Namun seiring berjalan
Dua insan berbeda usia itu masih saling menautkan bibir mereka dengan mesra. Entah sejak kapan kini posisi Rindu telah berada di atas pangkuan Seno. Dengan kedua lengan kecilnya yang melingkar apik di leher kokoh pria itu. Serta jemari mungilnya yang tidak henti meremas surai gelap sang paman.Emphh..Suara lenguhan yang keluar dari bibir Rindu nyatanya tidak membuat Seno sadar jika apa yang dia lakukan pada keponakan istrinya itu salah. Dia justru semakin memperdalam ciumannya dan seolah lupa dengan status mereka.Di sisi lain, Rindu yang sadar jika Seno telah larut dalam hasratnya bukannya menghentikan pria itu, dia justru membiarkannya melakukan apa yang Seno mau. Dia membiarkan Seno menguasai bibirnya yang sejak tadi telah membengkak karena ulah pria itu.Namun semakin lama mereka berciuman, pasokan udara yang ada di rongga keduanya kian menipis. Membuat Rindu yang tidak ingin ciuman ini berakhir terpaksa melepaskan tautan bibir mereka.Dengan napas memburu juga benang saliva yang
Pada akhirnya Seno dengan setengah ragu mengatakan jika dia merasa tidak terganggu dengan kehadiran Rindu di sini. Juga pakaian yang gadis itu kenakan. Awalnya Seno ingin menasihati Rindu agar tidak memakai pakaian seminim ini di depannya. Tapi entah mengapa lidahnya terasa kelu untuk berbicara demikian. Apa Seno justru menikmatinya? Entahlah.Rindu mengatakan jika Hanum tidak ingin diganggu dulu untuk malam ini. Dan dia berpesan pada Rindu untuk menyampaikannya pada Seno. Sehingga pria itu memutuskan untuk tetap tinggal di ruang keluarga. Menemaninya menonton film horor yang ingin Rindu lihat.Di awal film berjalan, keduanya tampak fokus dengan tayangan yang ada di layar lebar tersebut. Sesekali Rindu akan melirik ke arah Seno yang diam saja di sampingnya. Dan hal itu tidak disadari oleh sang pria.Lalu ketika di pertengahan film, adegan-adegan menyeramkan mulai bermunculan. Rindu yang merasa takut tanpa sadar semakin merapatkan dirinya pada Seno. Tapi Seno masih belum menyadarinya.
Tak terasa sudah lebih dari dua minggu Rindu selalu sibuk memasak setiap paginya. Kadang kala dia juga memasak menu makan malam ketika Hanum menyuruhnya. Semua itu dia lakukan tidak semata ingin menarik perhatian Seno saja, namun juga karena hobi.Seperti sekarang, Rindu baru saja selesai menata masakannya di atas meja kala Hanum datang bersama Seno dengan bergelayut manja di lengan pria itu. Suasana hati Rindu seketika berubah muram. Bukan karena dia merasa cemburu. Sejak awal Rindu tidak pernah memiliki rasa lebih pada Seno. Dia hanya kesal karena melihat bibinya terlihat bahagia di atas penderitaannya.Namun lain Rindu, lain Seno. Sepertinya pria itu mulai menaruh perhatian lebih pada keponakan istrinya itu. Seno mulai sering kedapatan menatap Rindu dengan pandangan tak terbaca. Dan hal tersebut tidak disadari oleh gadis itu sendiri."Ini semua kamu yang masak sendiri, Rin?" tanya Seno melihat berbagai macam hidangan yang tersaji di atas meja.Rindu lantas segera merubah ekspresiny







