LOGINSetelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, Rindu dan Seno akhirnya sampai di rumah mendiang Heru dengan menaiki taksi dari terminal bus. Saat mereka sampai di rumah, langit sudah benar-benar gelap. Jarum jam juga telah menunjukkan pukul 9 malam.Hal pertama yang Rindu dan Seno lihat adalah kegelapan. Rumah sebesar ini terasa begitu sepi dan sunyi. Namun ketika lampu telah dinyalakan, rumah mendiang Heru menjadi terlihat sangat indah dan hangat. Bahkan tidak ada debu yang tertinggal sama sekali. Rindu memang mempekerjakan beberapa orang untuk mengurus rumahnya seminggu tiga kali. Itupun atas usulan dari Om Rudi."Barang-barangnya taruh di sini saja dulu, Paman." kata Rindu sembari mendudukkan dirinya di sofa panjang yang ada di ruang tamu.Gadis itu menyandarkan punggungnya mencari posisi nyaman. Lalu matanya tampak terpejam dengan wajah mendongak. Padahal sudah setahun lebih, tapi rasa sesak itu masih ada saat dirinya berada di dalam rumah ini.Seno yang melihat sang kekasih terl
Hanum tidak dapat menyembunyikan kekesalannya kala dirinya bertemu dengan Aryo, pria yang sempat bertemu dengannya di persimpangan jalan tempo hari.Bagaimana tidak kesal, pria itu memberikan kabar yang sangat tidak ingin dia dengar. Aryo gagal menjalankan misinya untuk melenyapkan saksi kunci pada pemb*nuhan kedua orang tua Rindu."B*doh kamu, Mas. Kenapa menjalankan misi itu saja kamu tidak becus." Hanum tak henti mencemooh Aryo, pria yang hanya bisa menekuk wajahnya sedari tadi.Sebenarnya Aryo tidak ingin kembali berurusan dengan Hanum. Mengingat sampai sekarang dia masih merasa bersalah setelah melakukan perbuatan keji itu pada dua orang yang menurutnya tidak melakukan hal yang buruk terhadap Hanum.Tapi dia akhirnya mau menerima tawaran Hanum karena terdesak. Sudah dua minggu lamanya dia dikejar-kejar debt collector. Menagih pembayaran motornya yang belum lunas."Aku juga tidak ingin seperti ini. Tapi ada orang yang membantu wanita itu untuk kabur sebelum aku berhasil mengekseku
Hari mulai berubah menjadi gelap ketika Rindu membuka kedua matanya. Gadis itu berusaha mengumpulkan nyawanya dan menggeliat di atas ranjangnya yang empuk. Netranya melirik ke arah jam weker yang ada di atas nakas. Sedikit terkejut saat mendapati jarum pendek menunjukkan angka 5 petang.Rasa malas yang tadi menderanya seketika hilang. Digantikan dengan rasa panik karena sudah lewat jam pulang Seno dari bengkel. Gadis itu buru-buru membasuh wajahnya di kamar mandi. Lalu keluar dari kamarnya yang masih belum dinyalakan.Netra beningnya mengedar ke segala penjuru rumah yang tampak sepi. Lampu ruang tamu dan ruang tengah masih belum menyala. Tapi ada satu ruangan yang tampak terang benderang. Dan samar-samar Rindu bisa mendengar suara dari tempat itu.Dengan langkah pelan Rindu berjalan menuju dapur. Wajahnya yang tadinya sedikit was-was seketika berubah cerah saat mendapati sosok Seno yang tengah berdiri di depan kompor. Posisi pria itu sedang memunggunginya.Mengulum senyum, Rindu lanta
Rindu memasukkan beberapa baju ke dalam tas untuk dia bawa saat menginap di rumah mendiang kedua orang tuanya besok. Rencananya dia akan tinggal di sana selama 3 hari.Rindu merasa senang karena dia tidak akan pergi sendiri. Ada Seno yang akan menemaninya. Dia tidak akan kesepian selama di sana.Selain ingin mengunjungi makam orang tuanya, Rindu juga ingin mengetahui perkembangan penyelidikan kasus kematian Heru dan Rinda yang dilakukan oleh Rudi. Sampai detik ini, sahabat ayahnya itu masih terus membantunya mengumpulkan bukti.Rudi mengatakan jika ada hal penting yang ingin dia sampaikan secara langsung pada Rindu. Gadis itu pasti akan merasa puas setelah mengetahuinya.Rindu sendiri merasa heran kenapa Rudi memintanya untuk menemuinya. Pasalnya, pria itu biasanya hanya akan memberi kabar lewat pesan atau telepon. Tapi walau bagaimanapun, Rindu tetap menuruti permintaan Rudi. Karena dia merasa segan dengan pria sepantaran ayahnya itu yang telah membantunya sejauh ini.Sibuk dengan ke
Seno memilih untuk meredakan emosinya di belakang rumah. Di sana terdapat kursi panjang yang sering dia gunakan untuk bersantai. Sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus menggerakkan pepohonan yang ada di sekitar rumahnya.Setelah pertengkarannya dengan Hanum beberapa waktu lalu, Seno langsung pergi begitu saja meninggalkan wanita itu. Dan di sinilah dia berada, berbaring di atas kursi panjang dengan menumpukan kepalanya pada sandaran kursi.Begitu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini di kehidupannya. Tentang perasaannya yang semakin dalam pada Rindu. Dan hubungan mereka yang semakin lengket satu sama lain.Rindu selalu bisa membuat harinya yang membosankan menjadi lebih berwarna. Tidak hanya karena perhatiannya, tapi juga tingkah manisnya yang menggemaskan.Ingin sekali Seno menyusul gadis itu ke kamarnya. Tapi dia masih waras untuk tidak berbuat demikian. Mengingat jika di rumah saat ini masih ada Hanum.Berbicara mengenai wanita itu membuat Seno mendengus kasar. Dia be
Seno dibuat menegang saat mendengar suara wanita yang sangat dikenalinya. Dengan gerakan patah-patah dia menoleh, mendapati sosok istrinya yang tengah menatapnya dengan sorot penuh selidik.Seno mengumpat pelan, dan berusaha untuk tetap bersikap tenang. Dia yakin Hanum tidak akan memperpanjang masalah ini jika dirinya bisa memberikan alasan yang logis."Kenapa kamu diam saja, Mas? Aku tanya kenapa kamu bisa keluar dari kamar Rindu? Kalian sedang apa?" cecar Hanum yang merasa kesal dengan sikap Seno.Seno berdehem samar dan berjalan mendekati Hanum. Dengan masih mempertahankan raut datarnya, pria itu menjawab pertanyaan dari sang istri."Aku mendengar suara teriakan Rindu saat baru pulang. Jadi aku langsung bergegas melihatnya. Dia takut mendengar suara petir. Ditambah tadi listrik tiba-tiba padam." jelas Seno berusaha meyakinkan.Hanum tampak masih belum sepenuhnya percaya dengan alasan tersebut. Wanita itu masih betah menatap Seno dengan pandangan mengintimidasi. Yang dibalas pria it
Seno mengelap keringat yang membasahi pelipisnya dengan punggung tangan. Rasanya benar-benar melelahkan karena sejak tadi dia tidak berhenti bergerak kesana kemari.Siang ini bengkel miliknya begitu ramai. Banyak dari para pelanggan setianya yang datang untuk memperbaiki kendaraannya. Sehingga Seno
Entah sejak kapan posisi Rindu telah berbaring di atas ranjang. Dengan Seno yang mengungkung tubuh mungilnya menggunakan kedua lengan kekarnya. Bibir pria itu tak henti mengecupi wajah Rindu. Membuat gadis itu terkikik geli karena gesekan kumis tipis pria itu. Belaian tangan Seno yang singgah di w
Rindu menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Pikirannya berkelana mengingat apa yang baru saja dia lakukan bersama Seno beberapa waktu lalu.Masih teringat jelas di benaknya ketika pria itu menyentuh setiap jengkal tubuhnya dengan sentuhan panas nan memabukkan. Membuat dirinya
Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.







