LOGIN
Rindu tersenyum sinis saat melihat seorang wanita paruh baya yang tampak tersenyum bahagia saat mendapatkan sebuah kalung emas dari pria paruh baya yang ada di depannya.
Dadanya bergemuruh dengan mulutnya yang terkatup rapat untuk meredam amarah yang ada di dalam dirinya. Ketika melihat orang yang telah menjadi penyebab kedua orang tuanya meninggal tampak berbahagia saat ini. "Terimakasih ya, Mas. Aku suka sekali dengan hadiah ini." kata wanita itu. Sang pria yang melihat istrinya tampak senang tentu saja merasa bahagia. "Sama-sama, Hanum. Saya ikut senang karena kamu menyukai kalung pemberian saya." balasnya sembari mengelus pipi tirus wanita itu. Hanum tersenyum malu-malu ketika mendapat perlakuan manis itu dari suaminya. Tak menyadari jika sedari tadi seseorang tengah menatapnya dengan pandangan tajam penuh dendam. Siapa lagi jika bukan Rindu, keponakannya sendiri. Gadis cantik bernama lengkap Rindu Sarasvati Budiman itu begitu membenci bibinya sendiri. Kebencian itu tidak datang bukan tanpa alasan. Awalnya Rindu tidak memiliki masalah apapun dengan bibinya, Hanum. Mereka justru sangat akrab karena sejak kecil wanita itulah yang ikut mengasuhnya. Namun semua itu berubah dalam sekejap ketika Rindu mengetahui jika Hanum adalah dalang dibalik kematian tragis kedua orang tuanya. Wanita itu tega melenyapkan keduanya demi menguasai harta yang dimiliki oleh Ayah Rindu. Hanum melakukan perbuatan keji itu dengan dibantu oleh orang suruhannya. Dia menyabotase mobil yang sering dikendarai Ayah Rindu dan membuat seolah-olah kematian mereka adalah murni karena kecelakaan. Tangan Rindu menggenggam erat sendok besi yang ada di tangannya dengan gigi bergemelutuk. Ketika mengingat pembicaraannya bersama sahabat ayahnya, Om Danu. Dan berkat pria itulah usaha yang dibangun oleh ayahnya selama ini terselamatkan dari ancaman rubah sejenis Hanum. Semasa hidupnya, Ayah Hanum yang bernama Heru Budiman adalah pemilik pabrik gula generasi ke-lima. Karena dia merupakan anak laki-laki satu-satunya di keluarga Budiman, maka sang ayah memberikan kepercayaan penuh pada Heru untuk mengelola pabriknya. Namun siapa sangka jika keputusan itu membuat anak keduanya, Hanum merasa iri. Wanita itu merasa ayahnya terlalu memprioritaskan Heru daripada anak-anaknya yang lain. Sehingga sejak saat itu Hanum mulai menyimpan dendam pada Heru. Dan merencanakan untuk melenyapkan kakaknya sendiri. Setelah kematian Heru dan istrinya, pabrik gula yang sudah berdiri sejak 50 tahun silam itu akhirnya jatuh di tangan Rindu yang merupakan generasi ke-enam. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena jauh sebelum Heru meninggal, pria itu telah memberikan seluruh warisannya pada putri tunggalnya itu. Dan semua akan diberikan ketika Rindu sudah menginjak usia 21 tahun. "Bagaimana, Rin? Bibi cocok tidak pakai kalung ini?" tanya Hanum sedikit pamer dengan senyum sumringah. Membuat Rindu seketika sadar dari lamunannya. "Eh-Iya, Bik. Bibi cocok sekali pakai kalung itu. Paman Seno ternyata pintar juga ya pilih kalung buat Bibi Hanum." jawab Rindu sedikit terbata. Senyum kecil tersemat di bibir ranumnya yang terpoles lip balm. Senyum yang menyiratkan sebuah makna lain dari ucapannya barusan. Mendengar pujian dari sang keponakan, tak pelak membuat Hanum merasa semakin senang. Sepanjang acara makan malam mereka, wanita itu tak henti merekahkan senyumnya. Yang membuat Rindu merasa sangat muak melihatnya. "Senyumlah sepuasnya, Bibi. Sebelum senyum menyebalkanmu itu berubah menjadi tangisan darah karena Rindu akan membuat hidup Bibi berantakan." desis Rindu dalam hati sembari menatap kemesraan dua pasangan lanjut usia di depannya ini dengan sinis. ***Rindu terbangun di sebuah tempat yang begitu asing. Netra beningnya tampak kebingungan saat tak mendapati siapapun di tempat ini. "Rindu.." Panggilan lembut yang terdengar samar di telinganya, membuat Rindu menoleh. Gadis itu membelalak saat mendapati dua orang yang sangat dia rindukan kini telah berada di depannya. Dengan mengenakan pakaian serba putih. "Bunda.. Ayah.." seru Rindu dengan dada membuncah senang. Gadis itu berlari menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk mereka dengan erat. Tangis Rindu seketika pecah setelah sekian lama memendam rindu, akhirnya dia bisa bertemu dengan ayah dan ibunya. "Rindu kangen kalian.. hiks.." isak Rindu pilu. Pelukannya pada sang ibu mengerat. Apalagi ketika merasakan usapan lembut di puncak kepalanya. "Ayah dan Bunda juga kangen kamu, Sayang." kata Rinda dengan lembut. Rindu mendongak, menatap kedua orang tuanya dengan berkaca-kaca. Pipinya telah basah akan air mata yang tak dapat dia bendung. "Kenapa kalian ninggalin Rindu sendiri?"
Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah bagaimana cara dia bisa segera sampai di rumah sakit agar Rindu lekas mendapat pertolongan. Tak sampai dua puluh menit, Seno akhirnya tiba di rumah sakit. Pria itu kembali membopong Rindu keluar dari mobil dan berlari menuju UGD. "Tolong jangan tinggalkan aku, Sayang. Kamu pasti bisa bertahan. Aku yakin kamu kuat." Seno tak henti menggenggam tangan dingin Rindu. "Pak, Ibu Rindu harus segera mendapat tindakan medis karena mengalami pendarahan hebat. Tolong Anda tanda tangani surat persetujuan untuk melakukan operasi agar kami bisa segera menanganinya." kata seorang suster menginterupsi. Tanpa pikir panjang Seno langsung menyetujuinya. Dengan tangan gemetar pria itu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut. Selanjutnya, Rindu segera di bawa ke ruang operasi. Kandungan gadis itu mengalami masalah dan harus segera dilakukan tindakan lebih lanjut. Jika tidak, nyawa kedua bayi
Rindu tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk Seno, suaminya. Biasanya pria itu akan pulang pukul 6 petang. Dan sejak pukul 4 sore, Rindu sudah berkutat di dalam dapur. "Biar saya saja, Non Rindu. Nanti Bapak bisa marah melihat Non Rindu ada di dapur." bujuk Mbok Inem, asisten rumah tangga yang baru seminggu bekerja di rumah Rindu. Rindu tersenyum tipis sembari menggeleng. "Tidak apa-apa, Mbok. Rindu sedang ingin memasakkan sesuatu untuk Mas Seno. Lebih baik Mbok Inem lanjutkan mengepelnya saja." tolak Rindu halus. Gadis itu memang keras kepala sekali sejak dulu. Sudah Seno larang Rindu untuk beraktivitas di dapur, tapi dia tetap saja membangkang. Mbok Inem yang mulai lelah membujuk Rindu akhirnya menyerah. Dengan ragu wanita paruh baya itu melanjutkan aktivitasnya mengepel lantai rumah. "Ya sudah kalau begitu, Mbok mau melanjutkan mengepel di ruang tengah. Nanti jangan kesana dulu ya, Non." kata Mbok Inem memperingati, takut Rindu tiba-tiba datang kesana saat keadaan la
"Sayang, bangun yuk." Rindu mencoba membangunkan Seno yang masih terlelap di dalam tidurnya. Padahal hari sudah beranjak siang.Terdengar gumaman samar dari bibir pria itu. Setelahnya kedua matanya terbuka, memperlihatkan netra jelaganya yang mempesona."Aku udah masak sesuatu buat sarapan kita. Kamu cuci muka dulu sana." kata Rindu menyuruh sang suami untuk segera bangun.Walau masih merasa malas, Seno tetap membangunkan dirinya dan melakukan apa yang Rindu suruh.Rindu lantas keluar dari kamar mereka untuk kembali ke dapur. Menata masakan yang telah dia masak sejak pagi tadi.GrepRindu tersenyum kecil merasakan dekapan hangat seseorang dari belakang. Gadis itu dibuat terkikik saat Seno dengan sengaja menggelitik lehernya dengan kecupan-kecupan kecil."Aku sudah kasih tahu kamu untuk tidak melakukan kegiatan berat, Sayang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk jika kamu sampai kelelahan." kata Seno sedikit tidak jelas karena pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Rindu
Rindu meremas gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Saat ini gadis itu tengah terduduk di depan meja rias dengan wajah menunduk. Pipinya tampak memerah dengan raut wajahnya yang tampak resah.Suara gemercik air yang berasal dari kamar mandi menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan tersebut. Menandakan jika ada seseorang yang tengah berada di dalam kamar mandi gadis itu.KrietBunyi derit pintu yang terbuka sontak membuat Rindu terkejut. Gadis itu semakin meremas gaun yang dia kenakan pada bagian lutut."Kamu masih belum melepasnya, Sayang?" tanya sebuah suara berat yang berasal dari balik punggungnya.Dengan gerakan patah-patah Rindu menoleh, mendapati sosok lelaki jangkung yang berdiri di depannya dengan selembar handuk yang melilit pinggangnya. Jangan lupakan dada bidangnya yang tampak keras dan masih dihiasi titik-titik air."A-Aku tidak bisa menarik resleting bagian belakang." jawab Rindu terbata. Entah kenapa gadis itu berubah segugup ini.Pria itu tersenyum
Beberapa menit sebelum acara pernikahan dimulai..."Aduh, Mas. Kenapa Seno dijewer ish." keluh Seno merasakan rasa nyeri bercampur panas pada telinganya yang baru saja dijewer oleh Soni.Soni tak menjawab keluhan Seno, sebagai gantinya Sofi yang menjadi juru bicara pria itu."Masih bertanya salah kamu apa? Kamu itu dikasih tahu bandel sekali sih, No. Sudah dilarang masuk kamar Rindu, masih saja mencari kesempatan." omel Sofi sembari berkacak pinggang.Seno yang aksinya ternyata kepergok kedua kakaknya lantas meringis. Semalam memang dia nekat menyelinap masuk ke kamar Rindu saat tengah malam. Bagaimana lagi, dia tidak bisa menahan rasa rindunya karena sejak pagi kedua kakak iparnya seakan memonopoli Rindu. Sehingga dia tidak memiliki waktu untuk mendekati gadis itu."Mas Soni dan Mas Sofi melihat Seno?" tanya Seno menahan malu."Bukan, tapi Cakra." balas Soni datar.Doengg, mati aku.Seno menelan ludahnya dengan susah payah mendengar jawaban Soni. Rasanya benar-benar malu mengetahui C
Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut w
Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya
Kicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon mengusik tidur seorang gadis cantik yang masih setia bergelung di dalam selimut tebal. Hawa dingin yang menerpa kulit karena hujan semalam yang turun dengan deras, membuat gadis itu enggan keluar dari tempat nyamannya.Namun gedoran pintu kamar y







