Share

Pesona Paman Seno
Pesona Paman Seno
Author: Karl Valerie

PPS | Prolog

Author: Karl Valerie
last update publish date: 2026-03-05 05:29:40

Rindu tersenyum sinis saat melihat seorang wanita paruh baya yang tampak tersenyum bahagia saat mendapatkan sebuah kalung emas dari pria paruh baya yang ada di depannya.

Dadanya bergemuruh dengan mulutnya yang terkatup rapat untuk meredam amarah yang ada di dalam dirinya. Ketika melihat orang yang telah menjadi penyebab kedua orang tuanya meninggal tampak berbahagia saat ini.

"Terimakasih ya, Mas. Aku suka sekali dengan hadiah ini." kata wanita itu.

Sang pria yang melihat istrinya tampak senang tentu saja merasa bahagia.

"Sama-sama, Hanum. Saya ikut senang karena kamu menyukai kalung pemberian saya." balasnya sembari mengelus pipi tirus wanita itu.

Hanum tersenyum malu-malu ketika mendapat perlakuan manis itu dari suaminya. Tak menyadari jika sedari tadi seseorang tengah menatapnya dengan pandangan tajam penuh dendam. Siapa lagi jika bukan Rindu, keponakannya sendiri.

Gadis cantik bernama lengkap Rindu Sarasvati Budiman itu begitu membenci bibinya sendiri. Kebencian itu tidak datang bukan tanpa alasan. Awalnya Rindu tidak memiliki masalah apapun dengan bibinya, Hanum. Mereka justru sangat akrab karena sejak kecil wanita itulah yang ikut mengasuhnya.

Namun semua itu berubah dalam sekejap ketika Rindu mengetahui jika Hanum adalah dalang dibalik kematian tragis kedua orang tuanya. Wanita itu tega melenyapkan keduanya demi menguasai harta yang dimiliki oleh Ayah Rindu. Hanum melakukan perbuatan keji itu dengan dibantu oleh orang suruhannya. Dia menyabotase mobil yang sering dikendarai Ayah Rindu dan membuat seolah-olah kematian mereka adalah murni karena kecelakaan.

Tangan Rindu menggenggam erat sendok besi yang ada di tangannya dengan gigi bergemelutuk. Ketika mengingat pembicaraannya bersama sahabat ayahnya, Om Danu. Dan berkat pria itulah usaha yang dibangun oleh ayahnya selama ini terselamatkan dari ancaman rubah sejenis Hanum.

Semasa hidupnya, Ayah Hanum yang bernama Heru Budiman adalah pemilik pabrik gula generasi ke-lima. Karena dia merupakan anak laki-laki satu-satunya di keluarga Budiman, maka sang ayah memberikan kepercayaan penuh pada Heru untuk mengelola pabriknya.

Namun siapa sangka jika keputusan itu membuat anak keduanya, Hanum merasa iri. Wanita itu merasa ayahnya terlalu memprioritaskan Heru daripada anak-anaknya yang lain. Sehingga sejak saat itu Hanum mulai menyimpan dendam pada Heru. Dan merencanakan untuk melenyapkan kakaknya sendiri.

Setelah kematian Heru dan istrinya, pabrik gula yang sudah berdiri sejak 50 tahun silam itu akhirnya jatuh di tangan Rindu yang merupakan generasi ke-enam. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena jauh sebelum Heru meninggal, pria itu telah memberikan seluruh warisannya pada putri tunggalnya itu. Dan semua akan diberikan ketika Rindu sudah menginjak usia 21 tahun.

"Bagaimana, Rin? Bibi cocok tidak pakai kalung ini?" tanya Hanum sedikit pamer dengan senyum sumringah. Membuat Rindu seketika sadar dari lamunannya.

"Eh-Iya, Bik. Bibi cocok sekali pakai kalung itu. Paman Seno ternyata pintar juga ya pilih kalung buat Bibi Hanum." jawab Rindu sedikit terbata. Senyum kecil tersemat di bibir ranumnya yang terpoles lip balm. Senyum yang menyiratkan sebuah makna lain dari ucapannya barusan.

Mendengar pujian dari sang keponakan, tak pelak membuat Hanum merasa semakin senang. Sepanjang acara makan malam mereka, wanita itu tak henti merekahkan senyumnya. Yang membuat Rindu merasa sangat muak melihatnya.

"Senyumlah sepuasnya, Bibi. Sebelum senyum menyebalkanmu itu berubah menjadi tangisan darah karena Rindu akan membuat hidup Bibi berantakan." desis Rindu dalam hati sembari menatap kemesraan dua pasangan lanjut usia di depannya ini dengan sinis.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Paman Seno   PPS | Perhatian Rindu

    Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur yang ada di rumah bibinya.Seperti permintaan Seno kemarin, hari ini Rindu akan memasakkan sesuatu untuk pamannya itu. Sudah lama sekali rasanya Rindu tidak memasak. Dan semoga saja masakannya cocok dengan lidah Seno. Rindu berpikir jika ini adalah salah satu strategi untuk lebih dekat dengan pamannya. Dengan Seno menyukai masakan yang dia buat, semakin mudah bagi dirinya untuk mendekati pria itu.Hari masih terlalu pagi ketika Rindu sampai di dapur. Sepertinya Hanum dan suaminya masih belum bangun. Pintu kamarnya masih tertutup rapat ketika Rindu melewatinya tadi."Sepertinya aku lebih baik memasak yang mudah-mudah saja." gumam Rindu sembari menatap sayuran

  • Pesona Paman Seno   PPS | Mencari Perhatian

    Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut wajah yang dibuat seceria mungkin, Rindu membawa secangkir kopi buatannya yang masih mengepul ke teras rumah. Tempat dimana Seno tengah bersantai.TakDengan hati-hati Rindu meletakkan segelas kopi buatannya di atas meja. Membuat Seno yang tadinya tengah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi bereaksi."Paman pasti lelah setelah seharian bekerja di bengkel. Ini Rindu buatkan kopi hitam kesukaan Paman." kata Rindu seakan menjawab pertanyaan yang ada di benak Seno.Seno yang tadinya menatap penuh kebingungan pada Rindu lantas mengalihkan tatapannya pada secangkir kopi hitam panas yang ada di depannya. Dia merasa aneh karena baru kali ini Rindu berperilaku seperti ini padanya."Tidak biasanya

  • Pesona Paman Seno   PPS | Tarik Ulur

    Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya, Rindu lantas berjalan melewati para karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Ada beberapa pelanggan yang kebanyakan bergender laki-laki yang melirik ke arahnya dengan tatapan tertarik. Namun Rindu berusaha mengabaikannya."Eh." langkah Rindu langsung terhenti saat salah satu karyawan Seno yang dia kenal bernama Surya tiba-tiba saja menghadang jalannya."Mau pulang, Dek?" tanya Surya dengan senyum malu-malu yang begitu kentara. Kelihatan sekali jika pemuda itu menyimpan perasaan pada gadis di depannya ini.Rindu yang tadinya merasa kebingungan lantas mengangguk."Iya, Mas." jawab Rindu seadanya.Surya tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuat Rindu tanpa sadar menaikkan s

  • Pesona Paman Seno   PPS | Pura-Pura Polos

    Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan gadis itu di atas sofa panjang yang ada di ruangannya."Paman kenapa berdiri tiba-tiba sih? Aduhh.. sshh.." Rindu kembali meringis karena merasakan sakit pada bongkahan padatnya yang baru saja mencium lantai."Ma-Maaf, Rin. Paman benar-benar tidak sengaja." kata Seno dengan raut bersalah.Rindu hanya melengos dan kembali merintih kesakitan sembari memegangi pantatnya. Niat hati ingin memulai aksinya menggoda Seno, justru berakhir dengan dirinya yang jatuh terjengkang karena pria itu. Benar-benar sial sekali Rindu hari ini."Sakit ya, Rin? Haduh.. Paman benar-benar tidak sengaja tadi." Seno kembali bersuara setelah tidak mendapatkan balasan dari keponakan istrinya itu. Pasti Rindu sedang merasa

  • Pesona Paman Seno   PPS | Mulai Beraksi

    Kicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon mengusik tidur seorang gadis cantik yang masih setia bergelung di dalam selimut tebal. Hawa dingin yang menerpa kulit karena hujan semalam yang turun dengan deras, membuat gadis itu enggan keluar dari tempat nyamannya.Namun gedoran pintu kamar yang dia tempati, membuat sang gadis mau tidak mau akhirnya terbangun. Berdecak sebal karena tidurnya terganggu, sebelum kemudian menendang kasar selimut yang semula menutupi tubuhnya hingga terjatuh di atas lantai.Ceklek"Ada apa, Bibi?" tanya gadis bernama Rindu itu pada wanita yang telah mengganggu tidurnya.Decakan samar dari wanita paruh baya di depannya ini membuat mata Rindu yang semula terasa lengket perlahan terlepas. Menyisakan benang-benang tipis yang mengganjal matanya."Ya Tuhan, Rindu.. ini sudah jam berapa? Kenapa kamu baru bangun tidur?" omel wanita bernama Hanum itu pada keponakannya.Gadis muda berparas cantik itu diam-diam memutar bola matanya malas. Selalu saja setiap pag

  • Pesona Paman Seno   PPS | Prolog

    Rindu tersenyum sinis saat melihat seorang wanita paruh baya yang tampak tersenyum bahagia saat mendapatkan sebuah kalung emas dari pria paruh baya yang ada di depannya.Dadanya bergemuruh dengan mulutnya yang terkatup rapat untuk meredam amarah yang ada di dalam dirinya. Ketika melihat orang yang telah menjadi penyebab kedua orang tuanya meninggal tampak berbahagia saat ini."Terimakasih ya, Mas. Aku suka sekali dengan hadiah ini." kata wanita itu.Sang pria yang melihat istrinya tampak senang tentu saja merasa bahagia."Sama-sama, Hanum. Saya ikut senang karena kamu menyukai kalung pemberian saya." balasnya sembari mengelus pipi tirus wanita itu.Hanum tersenyum malu-malu ketika mendapat perlakuan manis itu dari suaminya. Tak menyadari jika sedari tadi seseorang tengah menatapnya dengan pandangan tajam penuh dendam. Siapa lagi jika bukan Rindu, keponakannya sendiri.Gadis cantik bernama lengkap Rindu Sarasvati Budiman itu begitu membenci bibinya sendiri. Kebencian itu tidak datang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status