Share

Bunglon

last update Tanggal publikasi: 2025-12-19 08:32:22

Kento duduk dengan pandangan kosong di depan meja makan. Wangi Tamago Kake Gohan makanan yang dimasak Asuki tadi nyatanya tidak membuat model dan aktor itu tergugah, pikirannya masih kacau memikirkan kejadian di depan pintu kamar mandi.

Sial! Bagaimana mungkin kejadian layaknya adegan drama menimpanya di dunia nyata. Sungguh memalukan, Kento mengacak-acak rambut, menggerutu sembari membuang napas panjang. Baru sekarang Kento merasa tidak ada wibawanya sama sekali di depan asistennya.

Asuki pulang meninggalkan Kento tanpa berkata apa-apa, wanita yang sudah merah padam itu bangkit dan menyambar tasnya di kursi berjalan cepat keluar dari apartemen mewah Kento.

Dua orang yang dilanda kegugupan dan rasa malu merasakan dada mereka akan meledak. Asuki sama kacaunya dengan Kento, dia duduk di kereta dengan pandangan mata kosong dan pikiran yang melayang.

Asuki memegang bibirnya tanpa sadar, bayangan benda panjang berbulu yang sempat dikecupnya menari-nari di dalam isi kepala Asuki. Bahkan wangi aroma sabun Kento masih memenuhi hidungnya.

“Aaaa….” Asuki tanpa sadar menjerit, pandangan orang sekitar yang duduk dan berdiri di dalam kereta sontak mengarah padanya bertanya-tanya.

Asuki mengacak-acak rambut dan mengetuk-ngetuk kepala tidak percaya, apa yang aku lakukan? Kenapa kembali bekerja menjadi asisten malah harus ada kejadian memalukan lagi seperti ini? Bagaimana aku harus menghadapi Kento besok? Asuki merutuk dan beralih memukul kaki menyalahkan dua anggota gerak itu, Asuki merasa dikhianati. Pandangan orang-orang sekitar makin menjadi melihat sikap aneh Asuki.

Kereta berhenti di stasiun tempat Asuki turun. Langkah kaki berat dan tubuh yang lunglai memaksa Asuki berjalan tertatih menuju arah pulang Apaato-nya. Ribuan anak tangga yang hari ini entah kenapa tidak ada habisnya membuat Asuki lelah. Wajah Asuki masih memerah karena pikiran dan tubuhnya yang tidak selaras.

“Ah … kenapa anak tangga ini banyak sekali.” Asuki mengeluh dan memilih duduk mengatur nafasnya yang terengah-engah. Angin akhir musim dingin berhembus menyibak rambut pendek Asuki.

Bunyi ponsel lalu memecah keheningan disekitar Asuki. Nama panggilan dari sekretaris Hikari tertulis disana.

Asuki sedikit was-was menekan tombol hijau di layar. “Moshi moshi (halo) Sekretaris Hikari,” sapanya.

“Moshi moshi Asuki, aku diminta direktur Omega menanyakan kabarmu. Bagaimana, apa semuanya baik-baik saja? Kento tidak menyusahkanmu, kan?” Hikari langsung memberondongi Asuki dengan pertanyaan-pertanyaan kekhawatiran.

Asuki tahu direktur Omega pasti tidak mau ada masalah lagi yang ditimbulkan Kento padanya. Jika saja bisa jujur, bukan Kento yang membuat masalah padanya kali ini melainkan dirinya.

“A–aku baik-baik saja Sekretaris Hikari. Tuan Kento sama sekali tidak menyusahkanku hanya saja aku sudah pulang sekarang, Tuan Kento berkata ingin sendirian di apartemen. Aku dimintanya kembali besok pagi,” bohong Asuki sedikit terbata.

Tidak ada pilihan lain. Maaf, aku terpaksa membohongimu sekretaris Hikari, batin Asuki merasa bersalah. Tidak mungkin Asuki berkata dia pulang karena tidak sengaja mencium benda pusaka sang artis. Bisa saja Asuki dituntut karenanya.

“Kamu yakin Kento berkata seperti itu Asuki?” Suara bass terdengar dari ujung telepon.

Asuki mengenalinya, ini bukan suara sekretaris Hikari lagi melainkan… “I–iya Direktur Omega,” jawabnya berubah gugup.

Sepertinya sekretaris Hikari sedang bersama atasannya, direktur Omega. Bagaimana ini, apakah tidak apa-apa aku berbohong? Asuki menggigit kuku jarinya khawatir.

“Baiklah. Kento memang sering bersikap begitu, kamu hanya perlu mengikuti ucapannya. Tapi pastikan apa yang dikatakannya masuk akal dan bukan sengaja mencari-cari alasan Asuki. Besok pagi-pagi sekali kamu sudah harus tiba di apartemennya, aku khawatir malam ini dia akan mabuk lagi,” perintah direktur Omega.

Dada Asuki berdenyut, bukan Kento yang mencari alasan, tapi dia. Dia yang sengaja pergi dari sana karena malu dan tidak berani menghadapi Kento. Mungkin jika mereka tahu, Asuki pasti akan diceramahi.

“Asuki, kamu masih disana?” Suara direktur Omega membuyarkan pikiran Asuki.

“I–iya Direktur Omega, aku akan kesana pagi-pagi sekali. Direktur Omega tenang saja, Tuan Kento sudah berjanji padaku tidak akan pernah mabuk lagi. Aku akan segera melaporkannya padamu jika Tuan Kento masih saja mabuk-mabukkan seperti terakhir kali.” Panggilan mereka terputus begitu terdengar ucapan kelegaan dari jawaban yang diberikan Asuki pada direktur Omega.

Asuki bisa tenang karena direktur Omega percaya dengan alasan yang dibuatnya. Semoga saja Kento tidak akan mengatakan apapun tentang kejadian hari ini pada direktur Omega. Lagipula itu bukan disengaja, Asuki meyakinkan diri.

Besok paginya Asuki berdiri tidak tenang di depan pintu apartemen Kento. Entah sudah berapa puluh kali Asuki berjalan mondar mandir di sana.

Sambil menenteng bahan makanan, Asuki ragu apakah dia harus masuk sekarang atau menunggu sebentar lagi. Tapi mungkin lebih baik jika aku masuk sebelum Kento bangun, pikir Asuki.

Diliriknya jam tangan yang melingkar, Kento pasti masih terlelap di kamar saat ini. Kemarin Kento bangun sekitar pukul sepuluh dan sekarang baru jam enam pagi, Kento tidak mungkin bangun sepagi ini, batin Asuki.

Asuki pun masuk, berjalan perlahan menuju dapur, dia lega karena pintu kamar Kento masih tertutup rapat. Asuki bergegas mengerjakan apa yang wajib dilakukannya sebagai asisten Kento.

Belum memiliki jadwal apapun, direktur Omega hanya berpesan padanya agar mengurusi segala keperluan Kento selama pria itu tinggal di apartemen.

“Ehemm….” Suara berat mengagetkan Asuki yang tengah memasukkan bahan makanan ke kulkas.

Asuki berbalik cepat menghadap ke arah suara datang. Kento berdiri beberapa meter darinya. Wajah Kento terlihat lesu di bawah pancaran cahaya yang masuk dari jendela kaca apartemen. Kantong mata menghitam dengan rambut gelombang yang berantakan menandakan Kento tidak tidur semalam.

“Ka–kamu sudah bangun Tuan Kento?” sapa Asuki lalu memalingkan wajah sadar pria di depannya lagi-lagi hanya memakai kolor saja. Asuki belum terbiasa melihat pahatan polos di depan sana.

“Mulai besok kamu tidak perlu datang sepagi ini Asuki. Kamu bisa mengacaukan aktivitasku di apartemen. Pastikan kita tidak pernah bertemu disaat aku tidak sedang bekerja. Kamu hanya perlu melakukan apa yang ditugaskan direktur Omega padamu. Aku tidak mau hal menjijikkan seperti kemarin terjadi kembali!” ucap Kento dingin.

Asuki tercekat mendengar kata ‘menjijikkan’ keluar dari mulut Kento. Pilihan kata itu sungguh merobek harga diri Asuki. Apa dia sedang menyindir dan menyalahkan aku? Aku bahkan tidak sengaja jatuh dan menyambarnya, kesal Asuki dalam hati.

“Satu lagi, pastikan sebelum kamu masuk ke apartemenku, bersihkan tubuhmu terlebih dahulu!” Kento menatap Asuki dari atas ke bawah, memberi tanda betapa kotornya Asuki sekarang.

Asuki ikut melihat tubuhnya sendiri, kaos berwarna baby blue memang tampak kotor terkena percikan air kotor dari mobil yang tiba-tiba lewat di depan Asuki ketika dia keluar dari supermarket. Bahkan celana jeans Asuki pun ikut terkena imbasnya.

“Ma–maaf tadi aku—”

“Aku tidak butuh pembelaanmu!” potong Kento cepat, sorot matanya makin dingin. “Kamu hanya perlu ingat apa yang aku katakan barusan.” Kento berlalu dari sana masuk ke kamar dan menutup pintu kasar.

Asuki kembali dibuat kaget oleh pria yang seperti berubah menjadi makhluk lain. Ada apa dengannya bukankah kemarin dia terlihat manusiawi? Kenapa sekarang dia malah, ah … Kento memang layak dipanggil bunglon, gumam Asuki makin kesal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pesona Panas Tuan Idol   Tidak akan Berpisah

    “Jadi, kita benar masih akan terus bersama?” Asuki mengangguk pasrah. Setelah pertengkaran mereka semalam, Kento berhasil meyakinkan wanitanya. Hubungan mereka tidak akan berakhir. “Tapi, kamu harus janji hubungan kita tidak akan diberitahukan pada orang lain. Aku tidak mau kamu harus kehilangan apapun hanya karena hubungan kita berdua,” pinta Asuki penuh keseriusan. “Tentu, aku janji!” Kento mengangkat tangan, menunjuk dua jari dengan senyum mengembang. Tidak apa-apa mereka harus backstreet mulai sekarang bagi Kento yang terpenting adalah dia tidak akan kehilangan Asuki dihidupnya. “Aku mencintaimu…,” bisik Kento lembut. Asuki tersipu, menganggukkan kepala dengan senyum sama mengembangnya seperti Kento. Dua orang itu berpelukan mesra, mencuri-curi kesempatan mengecup pipi dan bibir mereka bergantian. Semerbak wangi bunga bermekaran dan kupu-kupu indah bertebrangan terasa mengelilingi kamar Kento yang temaram. Luapan cinta yang terasa manis dan harum memenuhi Asuki dan Kento, pe

  • Pesona Panas Tuan Idol   Pertengkaran

    Sepeninggalnya Kento, Asuki mondar mandir gelisah di apartemen Kento. Setelah menghubungi sekretaris Hikari dua jam yang lalu, Asuki semakin cemas. Hikari tidak menghubunginya sama sekali, sudah cukup lama Asuki menunggu dalam kekhawatiran. Apakah Kento baik-baik saja di sana atau telah terjadi sesuatu sampai Asuki tidak kunjung menerima berita dari Hikari. Mengetuk-ngetuk layar ponsel di tangan, Asuki berjengkit saat sebuah panggilan yang ditunggunya tertera di layar. “Moshi moshi (halo),” sapa Asuki. “Nona Asuki….” Suara sekretaris Hikari terdengar berbeda, perasaan Asuki seketika tidak enak. “Ada apa Sekretaris Hikari, apa terjadi sesuatu?” tanya Asuki. Hikari menarik nafas panjang dan menggumam. “Sedikit,” jawabnya lemah. “Ada apa, apa yang terjadi?” Sekretaris Hikari menceritakan kejadian di ruang direktur Omega beberapa menit yang lalu pada Asuki. Mendengar penuturan Hikari, Asuki menggigit bibir cemas.Rupanya Kento masih saja memaksa, menuntut Asuki tetap bekerja menja

  • Pesona Panas Tuan Idol   Salahkan Dirimu Sendiri!

    Kento tiba di gedung agensi Starlight, Co tempat pria itu bernaung selama ini. Membanting pintu mobil dan melemparkan kunci pada satpam yang berjaga, Kento melangkah lebar sedikit tergesa menuju lift. Kedatangan Kento membuat perhatian beberapa pegawai agensi terkejut sekaligus tidak heran. Berhentinya Asuki sebagai asisten pribadi Kento sudah diketahui seluruh pegawai agensi. Mereka yakin Kento akan bertemu dengan asisten pribadinya yang baru hari ini. Di depan pintu lift yang tidak kunjung terbuka, Kento mengetuk kaki tidak sabar. Dua orang pegawai yang ikut menunggu bersama Kento saling berbisik di dekatnya. “Benarkah?” “Iya, aku dengar nona Asuki dipaksa berhenti karena kontraknya,” bisik pegawai wanita berkemeja baby blue.Kento menggulung alis, tidak sengaja mendengar bisik-bisik mereka. Kento lalu berbalik menatap dua orang pegawai itu tajam. “Apa maksudmu dengan kontrak Asuki?!” tanyanya. Keduanya berjengkit, mundur. “I–itu….” “Ada apa, katakan padaku!?” seru Kento. “G

  • Pesona Panas Tuan Idol   Pilihan Asuki

    Siang ini setelah makan siang bersama, Asuki dan Kento duduk di sofa ruang tamu. Kento merebahkan tubuh bersandar nyaman menikmati hari libur cutinya. Asuki meletakkan camilan apel berpotong kelinci di meja. Kento tersenyum menatap lama apel penuh kenangan yang disiapkan Asuki. “Sudah lama aku tidak melihat apel bentuk begitu lagi darimu Sayang…,” tukas Kento. Asuki menyodorkan potongan apel ke mulut Kento. “Benarkah?” “Iya. Sepertinya hari ini cukup spesial,” goda Kento menerima suapan Asuki. Asuki hanya tersenyum, larut lagi dengan kekalutan pikirannya. Sejak semalam Asuki telah membulatkan hati, dia harus mengakhiri hubungannya bersama Kento. “Sayang, bisakah kita bicara sebentar?” tanya Asuki. Wajah Asuki tampak serius, Kento bangun mengatur duduk. “Ada apa?” Asuki berhenti menyuapi Kento dan duduk berhadapan dengan Kento. Gugup mendera Asuki. “Aku … aku ingin memberitahumu kalau aku sudah mengirimkan surat pengunduran diriku pada direktur omega tadi pagi. Aku … akan berhe

  • Pesona Panas Tuan Idol   Ide

    Ucapan terakhir direktur Omega ditelepon masih terngiang-ngiang di kepala Asuki. Hubungan yang masih seumur jagung dipaksa harus berhenti karena ancaman yang terdengar tidak main-main dari petinggi agensi tempat Kento bernaung. Asuki gundah, memilih tetap mempertahankan cintanya pada Kento, Kento mungkin harus kehilangan karir cemerlangnya selama ini. Asuki tidak mau egois, namun tidak mau juga berpisah dari Kento. Asuki benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Layar laptop di depan Asuki masih menyala, dia sedang mengetikkan surat pengunduran dirinya sebagai asisten Kento. Malam ini Kento masih berada di lokasi syuting, mengambil set gambar terakhir. Sedang Asuki mengurung diri di ruang ganti Kento sendirian. Bunyi ketukan tiba-tiba di pintu membuyarkan pikiran Asuki yang refleks menutup laptop. Seorang wanita masuk menyapa Asuki. “Selamat malam Nona Asuki,” sapanya. Asuki tersenyum membalas sapaan sekretaris Hikari. “Selamat malam.” Hikari duduk di dekat Asuki. “Tuan Kento mas

  • Pesona Panas Tuan Idol   Konsekuensi

    Dua hari setelah pertemuan Asuki dan Direktur Omega menyisakan kesesakan dihati Asuki. Selama waktu-waktu yang berlalu Asuki lebih banyak diam dan melamun. Menemani Kento di lokasi syuting dan tetap menjalankan pekerjaannya sebagai asisten model dan aktor itu, Asuki berpikir keras. Tatapan sendunya tidak pernah lepas dari Kento dan Kento pun merasakannya. Asuki bersikap aneh dan tidak biasa, bahkan malam ini Asuki terus menutup mulut selama Asuki menyiapkan makan malam untuk mereka. “Sayang….” Kento melingkar pinggang Asuki dari belakang. Asuki terenyak, “Ada apa? Kamu butuh sesuatu?” Kento menggeleng, menyandarkan kepala ke bahu Asuki. “Apa yang sedang kamu masak?” tanyanya. “Steak, kamu mengatakan ingin makan steak bukan? Aku menyiapkannya untukmu,” jawab Asuki melepaskan rangkulan Kento. “Duduklah, makanannya sebentar lagi siap,” pinta Asuki. Kento tidak menyahut dan patuh mengikuti ucapan Asuki. Mungkin berbicara dengan Asuki setelah makan malam akan lebih baik pikirnya. S

  • Pesona Panas Tuan Idol   Meminta Maaf

    “Aaahh….” Kento meringis memegang kepalanya yang terasa berat, tubuhnya ngilu. Kento memijat pelan belakang kepalanya yang ikut berdenyut. Sepertinya aku minum terlalu banyak bir semalam, batinnya.Kento berusaha bangun dari tempat tidur, dia memaksa kaki panjangnya berjalan keluar dari kamar. Kent

  • Pesona Panas Tuan Idol   Poin dalam Kontrak

    “Apa ini, lowongan pekerjaan?” Asuki melihat sebuah iklan yang tidak sengaja muncul di layar ponselnya. Setelah memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang kasir di sebuah gerai market hari ini, bak mendapatkan durian runtuh Asuki tersenyum gembira mendapati sebuah lowongan pekerjaan seb

  • Pesona Panas Tuan Idol   Rumor

    Dua minggu sebelumya… Bunyi kecupan bibir terdengar memenuhi ruangan kamar berwarna abu dengan lampu kristal menggantung diatas. Yoshimura merangkul erat leher wanita berpakaian kimono berwarna putih dengan corak bunga sakura di depannya dan memperdalam tautan bibir mereka. Saling memainkan lidah

  • Pesona Panas Tuan Idol   Kento & Asuki

    Asuki menelan kasar salivanya. Sudah sepuluh menit berlalu Kento masih membungkuk di depannya. Asuki tidak memberikan jawaban apa-apa atas permintaan maaf Kento. Sejujurnya dia memang tidak bisa memaafkan Kento. Tubuhnya bahkan masih bergetar mengingat kejadian itu, namun memikirkan pada saat keja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status