Share

Kejang

last update Last Updated: 2025-12-20 08:35:03

“Bodoh! Apa yang aku lakukan?!” Kento merutuki dirinya karena bersikap tidak masuk akal.

Semalaman Kento tidak bisa tidur karena terpengaruh kejadian kemarin pagi. Obat tidur yang hampir habis dikonsumsinya bahkan tidak mampu membuat dua mata Kento terpejam.

Kento menganggap dia bodoh karena menghabiskan energi memikirkan hal yang sebenarnya bukan apa-apa bagi seorang aktor sepertinya. Kento bisa saja menganggap itu hanyalah adegan drama, tapi mengingat senyum dan tatapan mata Asuki malah membuat sugesti Kento buyar.

Kento pun akhirnya mengambil keputusan untuk menjaga jarak dari asisten barunya daripada terjebak dengan sesuatu yang tidak penting. Kento sadar apa yang terjadi kemarin membuat pikirannya sedikit teralihkan ditengah gempuran rasa cemas dan khawatir yang menderanya. Tapi Kento tidak mau masuk lagi ke dalam jebakan lain, Kento berharap dengan pengaturannya, dia tidak akan sering bertemu lagi dengan Asuki sembari dirinya memulihkan diri.

Dan Asuki ternyata mengikuti perintah Kento. Sudah dua minggu semenjak terakhir kali mereka bicara, Kento tidak pernah lagi melihat bayangan Asuki. Hanya ada wangi aroma parfum sakura yang ditinggalkan Asuki setiap kali Kento bangun membuka pintu kamar.

Kento mengenali wanginya. Aroma yang pertama kali dihirupnya ketika mencumbu leher putih Asuki. Tidak disangka aroma parfum Asuki akan begitu terpatri di kepala Kento, hingga mencium wangi ini sudah seperti makanannya sehari-hari.

Kento bisa tahu kapan Asuki pergi dari apartemen hanya dari mencium wangi parfum aroma sakura Asuki yang tertinggal di sana.

“Apa yang terjadi padamu Kento?” Direktur Omega duduk di kursi sofa menunggu artisnya.

Kento yang masih larut dalam pikirannya dan baru keluar dari kamar mandi terkejut mendapati pria berperut buncit itu ada di dalam apartemen. “Direktur Omega? Sedang apa kamu disini?!” tanyanya tidak senang.

Kento jengkel jika ada orang lain datang ke tempatnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sekalipun dia direktur agensinya. Kento merasa hidupnya seakan tidak punya privasi lagi.

“Oh maaf. Aku lupa mengabarimu aku akan menemuimu sekarang,” jawab direktur Omega remeh.

Alis Kento tergulung kusut mendengar nada bicara direktur Omega. Kento tahu direkturnya sengaja membuat dia kesal.

“Apa maumu Direktur Omega?” Suara Kento terdengar tidak sopan. Dia memilih duduk di depan meja makan tidak mau berdekatan dengan pria yang tersenyum sinis melihatnya.

“Kamu sangat kekanak-kanakkan!” cibir direktur Omega memangku kaki menunjukkan kekuasaan.

“Ck, tidak perlu mengataiku! Katakan saja apa maumu. Aku sibuk, tidak ingin diganggu siapapun!” balas Kento sarkas.

Senyum sinis direktur Omega makin lebar, sedikit banyak dia sudah terbiasa dengan tingkah mengesalkan Kento. “Oh … pantas saja kamu sampai mengusir asisten barumu karena tidak ingin diganggu!”

Kento terdiam, bagaimana direktur Omega tahu? Apa Asuki yang melaporkannya?

“Tidak perlu bingung begitu Kento, kamu tahu tidak pernah ada satupun yang bisa lolos dari pandanganku!” sambung direktur Omega mengatur kacamata. Keterdiaman Kento adalah bukti kalau prasangkanya benar.

Cctv yang dipasang diam-diam direktur Omega di lorong apartemen Kento ternyata ada gunanya. Sudah dua minggu, direktur Omega mengawasi pergerakan Asuki dari sana. Asisten baru itu selalu datang subuh dan pulang tiga jam kemudian.

“Jika kamu sudah tahu, lalu untuk apa kamu bertanya lagi Direktur Omega? Bukankah kamu sudah punya jawabannya sendiri!?” cerca Kento.

Direktur Omega memang bukan orang biasa, salah satu kenapa dia memilih masuk ke agensi Starlight, Co pun karena ini. Direktur Omega terkenal memiliki backingan dan kekuasaan dimana-mana. Direktur Omega bagai the godfather-nya semua artis-artis terkenal di Jepang.

Kento merasa beruntung waktu itu bisa masuk menjadi model dan aktor dibawah naungan agensi milik direktur Omega. Tidak dapat Kento pungkiri dia banyak mendapatkan kontrak kerja dan semakin dikenal banyak orang, namun makin kesini Kento malah merasa hidupnya semakin tidak memiliki privasi dan kebebasan. Direktur Omega tidak membiarkan Kento sedikitpun lepas dari genggamannya.

Tawa bass menggema memenuhi ruang apartemen Kento. Direktur Omega menggeleng-gelengkan kepala bak boneka anjing yang ditempel di dashboard mobil. Meski kesal, direktur Omega berusaha tenang.

“Kamu memang selalu bisa menjawabku Kento, inilah mengapa aku sangat senang kamu menjadi salah satu artis di bawah naunganku. Pekerjaanku sebagai direktur agensi selama 25 tahun terasa semakin menarik setiap hari dengan adanya kamu di sini.”

Kento berdecih, muak. “Lalu apa maumu sebenarnya Direktur Omega? Aku masih belum bisa menerima pekerjaan apapun. Kehadiran Asuki justru semakin memperburuk keadaanku, itu sebabnya aku meminta Asuki untuk tidak muncul di depanku,” ucapnya beralasan.

Direktur Omega kembali tertawa, tawanya semakin kuat seiring rasa kesal yang semakin banyak memenuhi hati.

“Ucapanmu sungguh terdengar sangat indah jika saja aku adalah salah satu penggemarmu Kento,” ejek direktur Omega. “Kalau kamu tidak lupa, Asuki adalah asistenmu yang aku pekerjakan. Aku yang membayar gajinya sama seperti aku mengupahmu jadi aku rasa, sudah sepantasnya Asuki maupun KAMU mendengarkan perintahku!” sambungnya dingin.

Direktur Omega tidak akan kalah dengan anak bawang yang masih belajar berjalan di depannya. Kento tidak ada apa-apanya jika bukan karena pengaruhnya di dunia hiburan, baru mulai terkenal Kento seperti ingin mencoba-coba dengannya, sialan! Umpat direktur Omega dalam hati.

“Ya, aku mengucapkan banyak terima kasih untuk kebaikanmu selama ini Direktur Omega. Aku tahu kamu pasti akan melakukan yang terbaik untuk semua artis dibawah agensimu. Direktur Omega tidak perlu khawatir, apapun keputusanmu aku akan selalu mengikutinya.” Kento membalas direktur Omega tidak kalah dingin. Meski berterima kasih dan terdengar mengalah namun perkataan Kento lebih kepada menyindir pria berumur itu.

“Baiklah, aku senang mendengarnya Kento. Besok Asuki akan datang seperti biasanya dan pulang saat kamu tidur dimalam hari. Kalau kamu merasa dia terlalu mengganggu, kamu hanya perlu memintanya keluar duduk di taman. Asuki wanita yang sangat patuh dan bertanggung jawab, kamu bebas memberinya perintah tapi bukan berarti bisa mengaturnya. Hanya aku, direkturmu yang berhak melakukan itu!” titah Direktur Omega beranjak dari sofa meninggalkan Kento yang mengepal kesal.

Langkah kaki berbalut sepatu pantofel mengkilap direktur Omega menghilang cepat dibalik pintu megah apartemen Kento. Kali ini direktur Omega menang berdebat dengan artisnya.

“Brengsek!” Kento memekik, melempar mangkuk di meja. Makanan yang terbungkus plastik dan tertata rapi di sana tidak membuat nafsu makan Kento tergugah.

Perkataan direktur Omega membuat Kento marah, kesal dan tidak terima. Dadanya mulai terasa sesak seiring nafas Kento yang berubah cepat dan tidak teratur. Keringat perlahan mulai membanjiri dahi Kento, tangannya gemetar.

Kento bergegas masuk ke kamar mencari sesuatu di laci nakas. Sebuah botol kecil berisi obat penenang yang sering dikonsumsi Kento diambilnya dari sana, dengan tangan yang berkeringat dan makin bergetar Kento mengeluarkan beberapa pil dan meneguknya.

Pikiran-pikiran buruk diikuti ucapan direktur Omega berputar-putar di kepala Kento, kedua matanya mendadak buram. Perut Kento ikut bereaksi, rasa mual menggerogotinya dari dalam.

Tidak, tidak cukup hanya dengan meminum berapa pil saja. Kento mengeluarkan lagi pil penenang lebih banyak dari sebelumnya. Telapak tangan Kento kini penuh dengan obat-obatan berwarna putih, dia meneguknya dengan cepat.

Rasa berat di kepala Kento perlahan terangkat begitu pil-pil itu berhasil ditelan. Rasa mengantuk berubah mendera Kento, dia jatuh diatas ranjang.

Mulut Kento mulai terasa penuh dengan busa-busa kecil perlahan keluar dari sudut bibirnya. Kedua mata Kento ikut membelalak dengan bola mata yang keatas. Tubuh, tangan dan kakinya menegang dan bergetar hebat hingga menimbulkan bunyi decitan ranjang. Kento kejang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Panas Tuan Idol   Pernyataan

    Asuki melenguh saat matanya mulai terbuka, kepalanya sedikit berdengung dengan pandangan mengabur. Kento bergegas beranjak dari sofa mendekati ranjang begitu mendengar lenguhan Asuki. Semalaman Kento menunggu Asuki di rumah sakit. “Asuki…,” panggil Kento lembut. Tangannya meraih tangan mungil Asuki. Asuki meraih kesadarannya perlahan, suara Kento memaksa Asuki membuka mata makin lebar. “Asuki, bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?” berondong Kento. Sapuan telapak tangan kasar Kento terasa di punggung tangan Asuki. Asuki mengarahkan pandangannya pada Kento. Wajah penuh kekhawatiran terukir jelas di sana, lingkaran menghitam dibawah mata dengan bulu-bulu tipis diatas bibir yang mulai tumbuh menarik perhatian Asuki. “Tuan Kento,” lirih Asuki. “Aku di sini. Apa ada yang sakit?” tanya Kento lagi. Asuki menggeleng pelan, Kento pindah mengusap pipi Asuki. Dia masih khawatir, Kento menekan tombol di samping ranjang memanggil dokter. “Dokter akan kemari sebentar lagi.” Asuki menganggu

  • Pesona Panas Tuan Idol   Ditemukan

    “Kento…!” Suara wanita berteriak memanggil namanya dari arah samping kanan.Kento menengadah, berusaha mencari sosok suara yang memanggilnya diantara kepulan asap yang mulai menebal.“Asuki?!” pekik Kento. “Disini!” Wanita itu berteriak memberi isyarat dia tidak terlalu jauh dari tempat Kento berdiri. Kento maju berjalan lebih dekat ke arah suara. Matanya membola begitu melihat siapa yang memanggilnya. “Kaori?” Kento berlari mendekat. Kaori sedang memeluk Asuki yang pingsan. “Apa yang terjadi?” tanya Kento khawatir. “Cepat bawa Asuki, aku menemukannya pingsan disini!” Kento meraih Asuki, membawanya ke dalam gendongan. “Ikuti aku!” Kaori mengangguk, memegang kemeja Kento agar tidak tertinggal. Api yang makin membesar dan uap panas yang menyambar menyulitkan dua orang itu beruntung Takahiro berhasil menyusul Kento dan menemukan mereka.“Tuan Kento…!” seru Takahiro kaget. Dia sedikit lega melihat Kento telah menemukan Asuki. “Takahiro, bawa Kaori bersamamu!” perintah Kento. Takahi

  • Pesona Panas Tuan Idol   Api

    Di dalam ruang set 3 yang diatur kru menjadi dua lantai terdapat tumpukan kotak kayu dan kardus yang disusun asal hampir di tiap sudut ruangan, kursi rusak dan tangga besi berkarat juga ikut memenuhi ruang set. Hari ini Kento akan melakukan adegan aksi bersama lima stuntman yang kemarin berlatih bersamanya. Pistol dan bom imitasi pun tidak lupa disiapkan kru untuk properti adegan Kento. Kento menerima arahan dari sutradara sebelum take gambar pertama diambil. Dalam adegannya Kento akan mengejar seorang pemimpin geng narkoba yang sedang bersembunyi di sebuah gedung tua. Nantinya mereka akan beradu jotos dan baku tembak. Asuki berdiri di belakang kamera sutradara memperhatikan Kento. Matanya fokus pada Kento yang tampak menawan dengan balutan kemeja hitam dan celana panjang berwarna senada. Tangannya digulung memperlihatkan urat lengan Kento yang memanjang sampai ke punggung tangan. Dua kancing yang dibiarkan terbuka menunjuk dada Kento yang bidang. Asuki terpesona, rasanya tidak ada

  • Pesona Panas Tuan Idol   Tas Misterius

    “Apa ini?” Kento mendapati sebuah tas di depan pintu ruang artis, digantung pada pegangan pintu. Tas berwarna hitam berukuran tidak terlalu besar bertuliskan ‘Untuk Kento Yamaguchi’ tertera di sana. Kento melihat ke sekitar memastikan apa ada orang atau tidak. Kento tidak berani menyentuh tas itu.“Ada apa Tuan Kento?” Asuki berdiri di belakang Kento tidak sadar dengan tas yang dilihat Kento. “Ini…,” tunjuk Kento. Asuki maju menyamping, matanya tertumbuk pada tas hitam yang ditunjuk Kento. “Kamu tahu ini?” tanya Kento. Asuki membaca tulisan di tas, pikirannya langsung berhambur mengarah pada paket mengerikan dari peneror. “Oh, ini tasku!” Asuki meraih tas di pegangan pintu cepat. “Tasmu?” “Iya … aku lupa menggantungnya di sini tadi.” Asuki langsung menyembunyikan tas itu di punggungnya. “Tapi, bukannya disana tertulis itu untukku?” tanya Kento tidak yakin. “A–ah … ini … ini memang aku yang sengaja menulisnya begitu agar tidak diambil orang.” Asuki terbata menjawab, tersenyum ka

  • Pesona Panas Tuan Idol   Kesepakatan

    Tok … tok … tok … Bunyi ketukan di pintu ruang direktur agensi Starlight, Co terdengar. Hikari masuk, menyapa direktur Omega. “Direktur Omega, nona Kaori ada diluar,” tukas Hikari. Direktur Omega yang tengah memeriksa laporan di tangan mengangkat kepala, memberi tanda untuk mempersilahkan Kaori masuk. Kaori datang menemui direktur Omega setelah dihubungi sekretaris Hikari kemarin pagi. “Nona Kaori, direktur Omega menunggumu di dalam.” Hikari mendorong pintu lebih lebar, membungkuk badan begitu Kaori lewat di depannya. “Terima kasih.” Kaori balas membungkuk. Hikari menutup pintu begitu Kaori masuk, dia tidak ikut ke dalam. “Silahkan duduk Nona Kaori.” Direktur Omega menunjuk sofa di samping kanan ruangan, bangkit dari kursi kerjanya mendekati Kaori. “Terima kasih sudah mengizinkan aku bertemu denganmu Direktur Omega.” Kaori membuka suara, duduk berhadapan dengan direktur Omega.Direktur Omega tersenyum dingin, mengatur kacamata. “Aku dengar kamu diam-diam menemui artisku bahkan

  • Pesona Panas Tuan Idol   Coretan

    Tiga hari setelah menerima paket mengerikan dari seseorang, keadaan menjadi lebih tenang. Bodyguard yang disewa agensi menjaga Kento dan Asuki sangat baik. Bolak balik apartemen dan lokasi syuting, Kento tidak diganggu siapapun. Asuki setidaknya bisa sedikit bernafas lega, meski Kento tidak tahu apa-apa tentang paket itu Asuki tidak ingin bersikap berlebihan dan mencurigakan agar Kento bisa bekerja dengan tenang dan aman. Asuki menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai asisten Kento seperti biasa, walau kadang harus menghadapi sikap Kento yang manja. “Tolong jaga tuan Kento sebentar, aku akan ke parkiran mengambil pakaian ganti tuan Kento di mobil.” Asuki berujar pada satu orang bodyguard yang berdiri tidak jauh dari ruang set 2 tempat Kento tengah syuting. Bodyguard mengangguk mengiyakan perintah Asuki. Asuki berlalu menuju parkiran seorang diri. Parkiran berada tepat di ujung gedung dan mobil mereka ada di bagian tengah diantara mobil lain yang terparkir. Suasana parkira

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status