Compartilhar

Kento & Asuki

last update Data de publicação: 2025-10-30 12:52:00

Asuki menelan kasar salivanya. Sudah sepuluh menit berlalu Kento masih membungkuk di depannya. Asuki tidak memberikan jawaban apa-apa atas permintaan maaf Kento.

Sejujurnya dia memang tidak bisa memaafkan Kento. Tubuhnya bahkan masih bergetar mengingat kejadian itu, namun memikirkan pada saat kejadian Kento sedang dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri, Asuki tahu dia tidak bisa menyalahkan pria bertubuh tegap itu sepenuhnya.

Seorang mantan idol Kento Yamaguchi sama sekali tidak terlihat seperti pria hidung belang yang suka mengambil keuntungan. Jika dia mau, Asuki rasa Kento bisa mencari wanita lain yang jauh lebih menarik darinya. Hati Asuki mulai tergelitik memandang Kento.

Kento terus membungkuk, pria itu memang terlihat ingin meminta maaf dengan tulus padanya. Asuki pun membuang napas panjang menjernihkan pikirannya. “Sudahlah … aku memaafkanmu Tuan Kento.”

Asuki akan menganggap dia sedang apes saja hari itu. Setidaknya keperawanannya yang dia jaga selama 21 tahun tidak direnggut paksa oleh pria yang tidak dia cinta.

Kento menarik badan perlahan berdiri tegak setelah lama menunggu jawaban Asuki atas permintaan maafnya. Kento mengusap punggungnya yang kebas dan menjatuhkan tubuhnya lagi di sofa. Tidak sia-sia aku belajar akting membungkuk selama beberapa jam, batinnya. Kento bisa bernafas lega.

“Ta–tapi aku punya satu syarat sebagai asistenmu Tuan Kento.” Kento mengernyit menatap Asuki yang menggaruk-garuk belakang lehernya dengan pipi yang merah. Wanita berkulit putih bak susu itu malah terlihat menggemaskan di depan Kento.

Menggemaskan? Tidak! Apa yang aku pikirkan!? batin Kento sembari berdehem pelan. “Apa syaratmu?” tanyanya dingin.

“Kamu tidak boleh mabuk lagi saat sedang bersamaku. Aku akan menyirammu dengan air jika kamu sampai berani mabuk lagi!” jawab Asuki tegas menatap Kento tajam.

Kento malah merasa Asuki terlihat lucu sekarang. Wajahnya menunjukkan penuh keseriusan namun tidak dengan gesture tubuh Asuki yang gugup, takut dan tidak nyaman. Asistennya sangat polos, batin Kento.

“Ok!” Kento beranjak dari sofa berjalan meninggalkan Asuki yang bingung di tempat.

Eh … begitu saja? Batin Asuki bangkit mengikuti Kento. Pria itu menghentikan langkahnya tiba-tiba dan membuat Asuki menyambar punggung lebar Kento.

“Ma–maaf Tuan Kento.” Asuki mundur dan membungkuk sembari mengusap dahi. Ah … memalukan, batinnya.

Kento mendengus malas. “Kamu tidak perlu mengikutiku. Lusa pagi kamu bisa datang ke apartemenku. Aku memberikanmu libur satu hari supaya kamu benar-benar siap menjadi asistenku! Dihari kamu datang, aku ingin sarapan Tamago Kake Gohan.” Kento pun berlalu meninggalkan Asuki yang kembali dibuat bingung olehnya.

Tunggu, apa maksudnya aku harus memasakkan sarapan untuknya? Asuki menggaruk kepala tidak mengerti. Sikap Kento ini seperti bukan pria yang tadi terlihat penuh ketulusan meminta maaf padanya. Apa Kento memang tipe manusia yang cepat berubah-ubah? Pria itu sudah seperti bunglon saja, batin Asuki.

Lusa pagi tepat jam tujuh, Asuki sudah berada di depan pintu apartemen Kento dengan tangan yang membawa tas berisi bahan makanan. Menurut Hikari, Kento tidak suka memasak jadi mereka tidak pernah menyiapkan bahan makanan apapun di apartemennya. Jadilah pagi-pagi sekali Asuki sudah ke pasar berbelanja kebutuhan makanan untuk Kento yang kini sudah resmi menjadi artis yang Asuki urus semua keperluannya.

Setelah bergumul dua hari, Asuki meyakinkan diri dia pasti akan baik-baik saja meneruskan pekerjaannya ini. Asuki yakin Kento pasti tidak akan mengulangi lagi perbuatannya karena nama baik dan karir pria itu akan menjadi taruhannya.

Asuki pun masuk setelah memasukkan kode sandi di pintu. Pemandangan kotor penuh sampah dan baju berserakan dimana-mana menyambutnya. Untung saja bau tidak sedap tidak terlalu tercium seperti terakhir kali Asuki datang.

Asuki membuang napas sepanjang-panjangnya, pekerjaannya sebagai asisten baru saja dimulai. Demi gaji yang besar dan tidak mau menyusahkan ibunya di desa, Asuki yakin dia bisa melakukan pekerjaan ini. Semangat Asuki! Batinnya berapi-api.

Asuki meletakkan tas bahan makananan di meja dapur dan mulai membersihkan satu per satu ruangan apartemen mewah Kento. Butuh waktu satu jam Asuki mengerjakannya. Asuki mulai memasak sarapan saat baju kotor Kento di mesin cuci diputar.

Sibuk memasak Asuki terkejut melihat Kento yang baru bangun dan keluar dari kamarnya berjalan hanya menggunakan kolor berwarna hijau terang. Tubuh tegap dengan dada bidang yang polos memenuhi mata Asuki.

“Aaaa…,” jerit Asuki menutup mata.

Kento berdecak kesal, memegang telinganya yang sontak berdengung mendengar jeritan kaget Asuki. “Kenapa kamu teriak pagi-pagi begini, hah!? Suaramu seperti kucing yang mau kawin!” cibirnya mendekat ke dapur.

“Ma–maaf tapi bisakah kamu pakai baju Tuan Kento? Aku tidak—”

“Kamu harus terbiasa!” potong Kento cepat. “Aku memang begini dirumah, semua asistenku sebelumnya pun harus terbiasa melihatku seperti ini.” Kento berdiri di dekat meja, menuang air ke gelas kristal dan minum.

Setiap pagi Kento harus minum dua gelas air putih agar kulitnya selalu lembab dan tidak kusam. Kento melirik Asuki yang masih menutup mata di dekatnya.

“Tidak usah berlebihan Asuki, kamu harusnya senang bisa mendapatkan pemandangan gratis begini. Tidak semua orang seberuntung kamu bisa melihat tubuhku!” cerca Kento percaya diri.

Asuki mendengus menarik tangannya yang menutupi mata, sia-sia dia bersikap malu di depan orang ini. Lagipula untuk apa aku menonton tubuhmu, kesalnya dalam hati. Pipi Asuki sudah merona.

Kento memperhatikan pipi Asuki yang memerah sambil minum. Satu yang disadari oleh Kento wajah Asuki cepat sekali berubah mengikuti perasaan wanita itu. Tinggi Asuki hanya sebatas lengan Kento saja, tubuhnya begitu kecil dan imut. Rambut hitam pendek Asuki membuat leher mulusnya terlihat jenjang dengan sebuah kalung emas putih yang membingkai.

Bibir tipis berwarna pink Asuki serasi dengan hidung mancung kecil miliknya. Bulu mata panjang Asuki pun ikut menambah keindahan mata monolid-nya. Jari tangan Asuki ramping dan lentik, kuku-kukunya juga terlihat terawat. Pikiran Kento sudah melayang teringat bagaimana tangan kecil Asuki berada dalam genggamannya pagi itu.

Asuki kembali melanjutkan pekerjaannya memasak, dia risih karena Kento terus berdiri di dekatnya dan tidak kunjung pergi dari sana. Dia merasa Kento sengaja, Asuki kesal lalu meletakkan mangkuk keramik sedikit keras di meja dan membuat Kento yang sedang minum tersedak dan terbatuk-batuk.

Kento buru-buru meletakkan gelas dan berjalan cepat masuk ke kamar mandi. Kento merasa sedang tertangkap basah oleh Asuki karena memperhatikannya sejak tadi.

“Sarapannya akan siap sepuluh menit lagi Tuan Kento…,” teriak Asuki sebelum Kento menutup pintu kamar mandi. Asuki tertawa menang, dia tahu Kento sedang melarikan diri karena malu.

Di dalam kamar mandi, Kento merasakan jantungnya berdegup kencang. Wajahnya panas, telapak tangannya berkeringat. Sial! Kenapa aku harus segugup ini? Kento merutuki diri, harusnya dia tidak bertindak memalukan seperti tadi.

Kento segera memutar kran membasahi tubuhnya dengan air hangat di bawah shower. Sedikit demi sedikit rasa gugup Kento hilang bersama air yang mengalir, dia sudah tidak waras memperhatikan dan memikirkan asistennya. Kento mengusap wajah dan bergegas menyabuni tubuhnya yang polos.

Selesai membersihkan diri dan menenangkan hati, Kento baru sadar tidak ada lagi handuk bersih yang bisa Kento gunakan untuk menutupi tubuhnya keluar dari kamar mandi. Asuki memang belum sempat mengganti handuk-handuk di sana karena masih sibuk memasak. Bagaimana ini? Aku tidak mungkin keluar telanjang, kan? Batin Kento kebingungan.

Di luar Asuki sudah selesai memasak dan mengatur sarapan untuk Kento. Sudah sekitar dua puluh menit sejak Kento masuk ke dalam kamar mandi Kento tidak kunjung keluar. Asuki mulai panik. Apa pria itu pingsan di dalam? Asuki memutuskan mengetuk pintu kamar mandi.

“Kento san, kamu baik-baik saja di dalam?” Tidak terdengar jawaban, Asuki merapatkan telinganya ke pintu lalu memanggil Kento lebih keras.

“Tuan Kento, kamu baik-baik saja? … Tuan Kento…!”

Suara Asuki menyadarkan Kento yang kebingungan. “A–aku baik-baik saja,” jawabnya gugup menggigit bibir.

Asuki menarik napas lega mendengar suara Kento. “Kamu kenapa lama sekali di dalam Tuan Kento? Kamu yakin kamu tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

Kento mendekati pintu dan berdehem. “I–ini aku sebenarnya … aku….”

“Ada apa Tuan Kento? Jangan membuatku takut,” seru Asuki panik.

Ah sial! Kento melayangkan tangannya ke atas. “A–aku membutuhkan handuk Asuki,” ucapnya frustasi tidak punya pilihan selain mengatakan yang sebenarnya. Tubuh Kento mulai menggigil karena basah dan kedinginan.

Dibalik pintu Asuki tertawa geli. Rupanya Kento sedang membutuhkan sesuatu dan malu untuk meminta bantuannya, batin Asuki.

“Oh baiklah, aku akan mengambilkanmu handuk. Tunggu sebentar.” Asuki melangkah cepat ke laundry room mengambilkan handuk bersih untuk Kento.

Di dalam kamar mandi Kento membuang nafas lega. Tidak akan lagi aku terjebak memalukan seperti ini, batinnya.

“Ini handukmu Tuan Kento.” Setengah berlari Asuki mendekati kamar mandi. Kento yang mendengarnya membuka pintu perlahan dan mengintip, dilihatnya Asuki mendekat sambil tertawa.

Kento tersihir melihat tawa Asuki dengan sederetan gigi yang tersusun rapi di balik bibir tipis merah muda Asuki. Asistennya sangat cantik saat tertawa, batin Kento.

Asuki berlari dan tidak sengaja menyambar kakinya sendiri dan membuat pijakan kakinya oleng.

Kento yang sejak tadi memperhatikan Asuki refleks menarik pintu dan bersiap menahan tubuh Asuki agar tidak jatuh. Namun pemandangan pahatan indah dan benda bergelantungan di depan mata Asuki membuat dia kaget dan berusaha menghindari tangan kekar Kento yang terulur ingin menangkapnya.

Asuki mendorong tubuh Kento hingga Kento jatuh lebih dulu mengenai lantai keramik dingin kamar mandi, diikuti Asuki yang kini berada diatas tubuh Kento yang polos.

“Aaa…!” Asuki menjerit mendapati bibirnya mendarat tepat di depan benda panjang, berurat dengan bulu-bulu halus yang menghiasinya sampai ke bawah pusar.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pesona Panas Tuan Idol   Pertengkaran

    Sepeninggalnya Kento, Asuki mondar mandir gelisah di apartemen Kento. Setelah menghubungi sekretaris Hikari dua jam yang lalu, Asuki semakin cemas. Hikari tidak menghubunginya sama sekali, sudah cukup lama Asuki menunggu dalam kekhawatiran. Apakah Kento baik-baik saja di sana atau telah terjadi sesuatu sampai Asuki tidak kunjung menerima berita dari Hikari. Mengetuk-ngetuk layar ponsel di tangan, Asuki berjengkit saat sebuah panggilan yang ditunggunya tertera di layar. “Moshi moshi (halo),” sapa Asuki. “Nona Asuki….” Suara sekretaris Hikari terdengar berbeda, perasaan Asuki seketika tidak enak. “Ada apa Sekretaris Hikari, apa terjadi sesuatu?” tanya Asuki. Hikari menarik nafas panjang dan menggumam. “Sedikit,” jawabnya lemah. “Ada apa, apa yang terjadi?” Sekretaris Hikari menceritakan kejadian di ruang direktur Omega beberapa menit yang lalu pada Asuki. Mendengar penuturan Hikari, Asuki menggigit bibir cemas.Rupanya Kento masih saja memaksa, menuntut Asuki tetap bekerja menja

  • Pesona Panas Tuan Idol   Salahkan Dirimu Sendiri!

    Kento tiba di gedung agensi Starlight, Co tempat pria itu bernaung selama ini. Membanting pintu mobil dan melemparkan kunci pada satpam yang berjaga, Kento melangkah lebar sedikit tergesa menuju lift. Kedatangan Kento membuat perhatian beberapa pegawai agensi terkejut sekaligus tidak heran. Berhentinya Asuki sebagai asisten pribadi Kento sudah diketahui seluruh pegawai agensi. Mereka yakin Kento akan bertemu dengan asisten pribadinya yang baru hari ini. Di depan pintu lift yang tidak kunjung terbuka, Kento mengetuk kaki tidak sabar. Dua orang pegawai yang ikut menunggu bersama Kento saling berbisik di dekatnya. “Benarkah?” “Iya, aku dengar nona Asuki dipaksa berhenti karena kontraknya,” bisik pegawai wanita berkemeja baby blue.Kento menggulung alis, tidak sengaja mendengar bisik-bisik mereka. Kento lalu berbalik menatap dua orang pegawai itu tajam. “Apa maksudmu dengan kontrak Asuki?!” tanyanya. Keduanya berjengkit, mundur. “I–itu….” “Ada apa, katakan padaku!?” seru Kento. “G

  • Pesona Panas Tuan Idol   Pilihan Asuki

    Siang ini setelah makan siang bersama, Asuki dan Kento duduk di sofa ruang tamu. Kento merebahkan tubuh bersandar nyaman menikmati hari libur cutinya. Asuki meletakkan camilan apel berpotong kelinci di meja. Kento tersenyum menatap lama apel penuh kenangan yang disiapkan Asuki. “Sudah lama aku tidak melihat apel bentuk begitu lagi darimu Sayang…,” tukas Kento. Asuki menyodorkan potongan apel ke mulut Kento. “Benarkah?” “Iya. Sepertinya hari ini cukup spesial,” goda Kento menerima suapan Asuki. Asuki hanya tersenyum, larut lagi dengan kekalutan pikirannya. Sejak semalam Asuki telah membulatkan hati, dia harus mengakhiri hubungannya bersama Kento. “Sayang, bisakah kita bicara sebentar?” tanya Asuki. Wajah Asuki tampak serius, Kento bangun mengatur duduk. “Ada apa?” Asuki berhenti menyuapi Kento dan duduk berhadapan dengan Kento. Gugup mendera Asuki. “Aku … aku ingin memberitahumu kalau aku sudah mengirimkan surat pengunduran diriku pada direktur omega tadi pagi. Aku … akan berhe

  • Pesona Panas Tuan Idol   Ide

    Ucapan terakhir direktur Omega ditelepon masih terngiang-ngiang di kepala Asuki. Hubungan yang masih seumur jagung dipaksa harus berhenti karena ancaman yang terdengar tidak main-main dari petinggi agensi tempat Kento bernaung. Asuki gundah, memilih tetap mempertahankan cintanya pada Kento, Kento mungkin harus kehilangan karir cemerlangnya selama ini. Asuki tidak mau egois, namun tidak mau juga berpisah dari Kento. Asuki benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Layar laptop di depan Asuki masih menyala, dia sedang mengetikkan surat pengunduran dirinya sebagai asisten Kento. Malam ini Kento masih berada di lokasi syuting, mengambil set gambar terakhir. Sedang Asuki mengurung diri di ruang ganti Kento sendirian. Bunyi ketukan tiba-tiba di pintu membuyarkan pikiran Asuki yang refleks menutup laptop. Seorang wanita masuk menyapa Asuki. “Selamat malam Nona Asuki,” sapanya. Asuki tersenyum membalas sapaan sekretaris Hikari. “Selamat malam.” Hikari duduk di dekat Asuki. “Tuan Kento mas

  • Pesona Panas Tuan Idol   Konsekuensi

    Dua hari setelah pertemuan Asuki dan Direktur Omega menyisakan kesesakan dihati Asuki. Selama waktu-waktu yang berlalu Asuki lebih banyak diam dan melamun. Menemani Kento di lokasi syuting dan tetap menjalankan pekerjaannya sebagai asisten model dan aktor itu, Asuki berpikir keras. Tatapan sendunya tidak pernah lepas dari Kento dan Kento pun merasakannya. Asuki bersikap aneh dan tidak biasa, bahkan malam ini Asuki terus menutup mulut selama Asuki menyiapkan makan malam untuk mereka. “Sayang….” Kento melingkar pinggang Asuki dari belakang. Asuki terenyak, “Ada apa? Kamu butuh sesuatu?” Kento menggeleng, menyandarkan kepala ke bahu Asuki. “Apa yang sedang kamu masak?” tanyanya. “Steak, kamu mengatakan ingin makan steak bukan? Aku menyiapkannya untukmu,” jawab Asuki melepaskan rangkulan Kento. “Duduklah, makanannya sebentar lagi siap,” pinta Asuki. Kento tidak menyahut dan patuh mengikuti ucapan Asuki. Mungkin berbicara dengan Asuki setelah makan malam akan lebih baik pikirnya. S

  • Pesona Panas Tuan Idol   Bukti Foto

    “Kamu sudah siap?” tanya Asuki. “Ya, bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat cocok menggunakan pakaian ini?” Asuki menyorot penampilan kekasihnya dari atas ke bawah, entah kenapa Kento merasa pakaian semi jas yang dikenakannya terasa tidak pas di badan. Asuki tersenyum geli melihat Kento. “Aku tidak percaya kamu ternyata bisa juga merasa tidak percaya diri dengan dirimu sendiri Sayang,” godanya. Kento mencebik, “Aku juga manusia biasa kamu tahu…!” sinisnya. Asuki tertawa mendekati Kento. “Kamu selalu tampak sempurna di mataku Sayang….” Kento tersipu, Asuki mengatur kembali kerah kemeja Kento mendaratkan kecupan sekilas di pipinya. “Semua pakaian yang kamu pakai akan selalu terlihat pantas jika kamu memakainya,” ucap Asuki lembut. Wajah Kento semakin merona, Asuki paling tahu memuji pria tinggi itu. “Bersiaplah, sebentar lagi syuting akan dimulai,” sambung Asuki. Kento mengangguk, membalas kecupan singkat Asuki di bibir. “Aku mencintaimu…,” tandas Kento bahagia. Pasangan kekas

  • Pesona Panas Tuan Idol   Malam Panjang

    “Cu–cukup…,” desah Asuki. Kento masih bermain-main di bawah sana, bibir dan lidahnya memaksa masuk diantara lubang kecil, sempit Asuki. Rasa manis bercampur saliva yang disesap Kento meninggalkan candu yang menggetarkan mulut Kento. Sensasi itu membuat celana Kento sesak. Kento membuka kaki Asuk

  • Pesona Panas Tuan Idol   Malam Indah

    Makan malam romantis sengaja diatur Kento diluar kediamannya. Lampu-lampu panjang ditarik memenuhi halaman dengan bunga mawar kuning diletakkan diatas meja. Kento mengajak Asuki keluar setelah memastikan semuanya selesai. Makan malam perdana mereka sebagai sepasang kekasih ingin Kento berikan deng

  • Pesona Panas Tuan Idol   Dibalik Trauma

    “Asuki, hati-hati!” Kento berteriak panik memanggil wanitanya. Asuki berjengkit mundur mendengar teriakan Kento. Pijakannya goyah dan tersungkur di tanah, Kento bergerak cepat menarik Asuki. “Kamu baik-baik saja?” cemas Kento. Tangannya membolak balikkan tubuh Asuki memeriksa Asuki cermat. “Aku

  • Pesona Panas Tuan Idol   Patah Hati

    Yamazaki duduk meneguk bir di tangan, dua hari setelah bertemu Asuki dan mengetahui hubungannya dengan Kento menyisakan penderitaan yang mendalam di hati Yamazaki.Pria berambut lurus dengan warna mentereng itu menangis sedih menikmati dingin malam kota Tokyo. Yamazaki belum kembali ke desa Shiraka

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status