Mag-log in“Aaahh….” Kento meringis memegang kepalanya yang terasa berat, tubuhnya ngilu. Kento memijat pelan belakang kepalanya yang ikut berdenyut. Sepertinya aku minum terlalu banyak bir semalam, batinnya.
Kento berusaha bangun dari tempat tidur, dia memaksa kaki panjangnya berjalan keluar dari kamar. Kento butuh air, lehernya terasa kering dan pekat. Dengan pandangan mata yang masih mengabur Kento menuju dapur, menuang air ke gelas kristal yang ada di meja dan meminumnya dalam beberapa kali tegukan besar. “Kamu sudah sadar?” Suara familiar menggema di telinga Kento yang masih pusing. Kento menggerutu dalam hati karena direktur agensinya datang tanpa pemberitahuan. Kento pun meletakkan gelas kasar, terhuyung ingin kembali ke kamar. “Kamu mau kemana, hah!?” Suara direktur Omega semakin keras menggema di telinga Kento. Langkahnya tertahan. “Ck, ada apa?!” kesal Kento. “Duduk di sini!” perintah direktur Omega yang sedang duduk di kursi sofa ruang tamu apartemen Kento. Kento mendengus makin kesal. “Kalau kamu mau membicarakan kerja nanti saja, aku tidak bisa bicara sekarang. Kepalaku pusing!” “Oh yah, jadi kamu sudah lupa apa yang kamu lakukan kemarin pagi!?” Kento mengerutkan dahi tidak mengerti. Memangnya apa yang dia lakukan kemarin pagi? Kento hanya ingat dia minum-minum sejak malam. “Jadi benar kamu sudah lupa apa yang kamu lakukan kemarin pagi, hah?!” geram direktur Omega. Kento mengedikkan bahu. “Iya. Aku sama sekali tidak ingat. Ada apa memangnya?” Direktur Omega makin geram dan melipat tangannya di dada. “Kamu memang gila! Kamu hampir memperkosa asisten barumu Kento!” pekiknya marah. Kento yang masih setengah sadar terkejut. “Apa!?” Kento segera mendekati direktur Omega, duduk berhadapan dengannya. “Iya, kamu hampir memperkosanya Kento Yamaguchi! Kamu melecehkannya!” Kento membola tidak percaya, ucapan direktur Omega bagai bom nuklir yang menyambar kepalanya. Tidak, tidak mungkin aku berbuat begitu. Bukan baru kali ini saja aku mabuk, batinnya yakin. Kento mengusap wajahnya kasar, berpikir keras tentang kejadian kemarin pagi. Dilihatnya ruangan sekitar yang bersih tanpa kaleng-kaleng bir dan sampah yang berserakan seperti sebelumnya. “Tidak. Aku tidak mungkin melakukannya Direktur Omega,” elak Kento. “Asisten baru itu pasti berbohong!” sambungnya tidak terima, Kento merasa sedang ditipu. Direktur Omega menarik dan menghembuskan napas sepanjang-panjangnya berusaha bersabar menghadapi orang yang mungkin masih mabuk di depannya. “Asuki menghubungiku setelah kamu pingsan Kento. Keadaannya sangat berantakan saat aku tiba disini bersama Hikari. Untung saja dia berpikir menghubungiku dan bukan melaporkanmu ke polisi! Bekas-bekas tanda di tubuhnya adalah bukti yang cukup kuat untuk memenjarakanmu!” Direktur Omega melempar ponselnya ke atas meja menunjukkan bukti foto bagaimana keganasan Kento pada Asuki. Kento segera menyambar ponsel itu. Kilatan-kilatan ingatan satu persatu memenuhi isi kepalanya. Kento memutar badan melihat ke arah pintu depan apartemen. Dia ingat ada seseorang yang masuk dan memanggilnya saat dia hampir tertidur karena mabuk. Suara wanita? Iya, wanita. Wanita itu menindih dia dan … oh tidak! Kento menutup mulutnya, dia bangkit dan mulai berjalan mondar mandir tidak tenang. Kento lupa, malam saat dia minum-minum direktur Omega mengirimkannya pesan teks dan mengatakan asistennya yang baru akan datang kemarin pagi. “Kamu sudah ingat sekarang?” selidik direktur Omega. Kento mengusap kasar wajahnya lagi dan terduduk lemas di sofa. “Aku benar-benar tidak sadar dan mabuk Direktur Omega,” ucapnya sontak merasa bersalah. Ingatan Kento pagi itu masih kabur namun samar-samar dia mengingat teriakan minta tolong Asuki yang memintanya berhenti. Kento menggigit bibir menyalahkan diri, kenapa bisa dia mabuk dan bertingkah seperti orang tidak waras lalu menyerang Asuki? Dahi Kento mulai berkeringat, jantungnya berdegup cepat. Direktur Omega memperhatikan wajah ketakutan Kento. Ingin sekali dia menyarangkan tinju ke wajah Kento jika tidak berpikir pria itu adalah salah satu penghasil pundi-pundi uang terbesarnya. Kebodohan Kento membuat direktur Omega harus memutar otak mencari cara agar karir Kento dan juga agensinya tidak hancur. “Kamu harus minta maaf yang tulus pada Asuki, Kento. Yang paling penting jangan sampai dia melaporkan kejadian ini ke polisi, karirmu dan masa depan agensiku akan ikut terseret dalam masalah yang kamu buat jika dia sampai melaporkannya!” Kento masih menggigit bibirnya, keringat dingin mulai mengucur dari dahi. Apa yang dikatakan direktur Omega benar, dia harus minta maaf agar masalah ini tidak melebar dan menghancurkan karirnya. Kento memaki dirinya dalam hati. Sial! Dasar bodoh! Direktur Omega memijit pelipis, sakit kepala memikirkan masalah Kento. Direktur Omega yakin kejadian ini akan cukup membuat Kento kapok yang kedepannya pasti tidak akan minum sampai mabuk hingga bertindak liar. “Aku sudah mengambil keputusan, Asuki akan tetap bekerja menjadi asistenmu!” Kento terperanjat. “A–apa? Kenapa?” “Ini adalah keputusan yang paling baik untukmu Kento!” tegas direktur Omega. “Jika kita tetap mempertahankan Asuki, dia tidak akan berani melaporkan kejadian ini ke polisi. Kamu harus ingat dengan karirmu, selain itu aku juga tidak mau nama agensiku ikut rusak. Aku tidak mau terseret ke dalam perbuatan bodohmu!” raungnya menunjuk wajah Kento. “Tapi dia—” “Keputusanku sudah final Kento!” Suara direktur Omega meninggi, tangannya mengepal dengan wajah memerah. Dia kesal Kento masih saja ingin menolak pengaturannya setelah menyebabkan masalah besar untuknya. “Selanjutnya kamu hanya perlu minta maaf!” Direktur Omega beranjak meninggalkan Kento yang terdiam di sofa. Disaat seperti ini pun Kento masih saja banyak tingkah, batinnya. —---------- “Teh Hojicha untukmu Nona Asuki.” Sekretaris Omega meletakkan gelas teh yang masih mengepul di meja. Asuki duduk lemas bersandar di sofa ruang kantor direktur agensi Starlight, Co. Seminggu yang lalu Asuki masih ingat bagaimana bahagianya dia bisa berada di dalam ruangan ini dan tidak sabar untuk memulai pekerjaannya yang baru. Sekarang Asuki malah kembali dengan perasaan yang campur aduk. Hikari, sekretaris Omega ikut duduk di samping Asuki. “Kamu baik-baik saja?” Asuki mengangguk. “Iya. Terima kasih.” “Jangan khawatir, Direktur Omega pasti akan membuat keputusan yang adil untukmu Nona Asuki.” Hiraki menepuk pelan punggung tangan Asuki. Tadi malam direktur Omega menghubungi Asuki untuk bertemu dengannya di kantor. Sudah satu minggu setelah kejadian yang masih membuat Asuki syok, terjadi. Jejak-jejak di tubuh Asuki mulai memudar, tapi kejadian itu masih meninggalkan bekas di pikirannya. Asuki tidak mau masalah ini berlarut-larut, dia juga khawatir Mirae, ibunya akan tahu kejadian naas yang menimpanya saat dia baru saja akan mulai bekerja. Dua hari yang lalu Mirae menghubungi Asuki dan menanyakan kabar serta pekerjaannya di Tokyo. “Semuanya lancar Ibu. Ibu tidak perlu khawatir,” jawab Asuki dari ujung telepon. “Syukurlah jika semuanya baik-baik saja Asuki. Aku hanya berharap pekerjaanmu yang baru sebagai asisten artis tidak membebanimu. Tapi sejujurnya aku sangat senang mendengarmu diterima, semua warga desa bahkan memujimu karena bisa mendapatkan pekerjaan yang sangat baik di Tokyo.” Asuki menghembuskan napas mengingat ucapan Mirae ditelepon. Asuki malah merasa terbebani sekarang. Dia bingung apa dia harus berhenti dari pekerjaannya atau melanjutkannya demi bisa membantu Mirae yang kini tinggal sendirian di desa. Bahkan sudah satu minggu berlalu Asuki tidak bisa mengambil keputusan apa-apa. Meski sudah sepakat dengan direktur Omega tidak akan membawa masalah ini ke polisi, Asuki masih ragu apa Kento tidak akan mengulangi perbuatannya lagi atau tidak. Larut dalam pikirannya, direktur Omega masuk diikuti Kento Yamaguchi. Asuki merasakan jantungnya berdegup kencang saat manik mata gelap Kento menyambar manik mata coklatnya. Tubuh Asuki mulai bergetar. “Maaf membuatmu menunggu Asuki,” sapa Direktur Omega hangat dan tersenyum. Dia tahu Asuki pasti ketakutan melihat Kento juga ada disini. “Saya senang melihatmu sudah jauh lebih baik sekarang.” Direktur Omega melirik ke arah Kento yang memilih duduk sedikit berjauhan dengan mereka. Kento sadar Asuki pasti tidak nyaman melihatnya. Wanita berparas manis yang sedang duduk beberapa meter darinya terlihat tidak tenang dengan tangan meremas-remas celana. “Saya akan langsung saja Asuki. Mengenai kontrakmu sebagai asisten Kento, saya akan melanjutkannya. Kamu tetap akan bekerja di agensi kami sebagai asisten Kento Yamaguchi,” sambung direktur Omega. Asuki tercekat. “A–apa!?” “Iya. Saya dan Kento sudah membicarakannya. Dia juga setuju.” Asuki melirik ke arah Kento yang duduk sama tidak tenangnya seperti dia. Seakan menunggu jawaban atas pernyataan direktur Omega, pria berambut gelombang itu mengangguk pelan dengan sorot mata bersalah pada Asuki. Melihat wajah Kento secara jelas malah membuat kejadian waktu itu kembali menyambar pikiran Asuki, dia dengan cepat memalingkan muka. “Saya hanya ingin menyampaikan tentang itu Asuki. Kento ingin berbicara empat mata denganmu.” Direktur Omega beranjak dari sofa diikuti Hikari yang sempat membungkuk pada Asuki dan Kento. “Tu–tunggu Direktur Omega. A–aku tidak bisa—” “Jangan khawatir. Dia tidak akan berbuat apapun padamu,” potong direktur Omega meyakinkan Asuki. Hikari ikut menganggukkan kepala memberi keyakinan pada Asuki sebelum menghilang dibalik pintu bersama direktur Omega. Asuki makin kuat meremas celananya. Kenapa direktur Omega malah memintanya tetap menjadi asisten Kento dan bukan memecatnya saja? Pikiran tidak mengerti menyambar Asuki. Kento berpikir keras mau mulai berbicara dari mana pada Asuki. Asisten barunya tidak bergerak sama sekali dengan kepala tertunduk. Kento tahu Asuki pasti sedang gugup dan ketakutan saat ini. “Aku minta maaf Nona Asuki!” Suara berat Kento menggema di dalam ruangan direktur. Kento bangkit dan membungkuk di depan Asuki demi menunjukkan ketulusannya. Asuki yang kacau membatu melihat sikap Kento. Pria yang minggu lalu menerkamnya seperti binatang buas kini terlihat seperti tikus basah. “Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan membela diri, aku tahu aku yang salah. Perbuatanku padamu sangat tidak bisa dimaafkan, tapi aku ingin meminta maaf dengan penuh penyesalan padamu. Jika kamu tidak ingin memaafkanku aku tidak akan menyalahkanmu.”Sepeninggalnya Kento, Asuki mondar mandir gelisah di apartemen Kento. Setelah menghubungi sekretaris Hikari dua jam yang lalu, Asuki semakin cemas. Hikari tidak menghubunginya sama sekali, sudah cukup lama Asuki menunggu dalam kekhawatiran. Apakah Kento baik-baik saja di sana atau telah terjadi sesuatu sampai Asuki tidak kunjung menerima berita dari Hikari. Mengetuk-ngetuk layar ponsel di tangan, Asuki berjengkit saat sebuah panggilan yang ditunggunya tertera di layar. “Moshi moshi (halo),” sapa Asuki. “Nona Asuki….” Suara sekretaris Hikari terdengar berbeda, perasaan Asuki seketika tidak enak. “Ada apa Sekretaris Hikari, apa terjadi sesuatu?” tanya Asuki. Hikari menarik nafas panjang dan menggumam. “Sedikit,” jawabnya lemah. “Ada apa, apa yang terjadi?” Sekretaris Hikari menceritakan kejadian di ruang direktur Omega beberapa menit yang lalu pada Asuki. Mendengar penuturan Hikari, Asuki menggigit bibir cemas.Rupanya Kento masih saja memaksa, menuntut Asuki tetap bekerja menja
Kento tiba di gedung agensi Starlight, Co tempat pria itu bernaung selama ini. Membanting pintu mobil dan melemparkan kunci pada satpam yang berjaga, Kento melangkah lebar sedikit tergesa menuju lift. Kedatangan Kento membuat perhatian beberapa pegawai agensi terkejut sekaligus tidak heran. Berhentinya Asuki sebagai asisten pribadi Kento sudah diketahui seluruh pegawai agensi. Mereka yakin Kento akan bertemu dengan asisten pribadinya yang baru hari ini. Di depan pintu lift yang tidak kunjung terbuka, Kento mengetuk kaki tidak sabar. Dua orang pegawai yang ikut menunggu bersama Kento saling berbisik di dekatnya. “Benarkah?” “Iya, aku dengar nona Asuki dipaksa berhenti karena kontraknya,” bisik pegawai wanita berkemeja baby blue.Kento menggulung alis, tidak sengaja mendengar bisik-bisik mereka. Kento lalu berbalik menatap dua orang pegawai itu tajam. “Apa maksudmu dengan kontrak Asuki?!” tanyanya. Keduanya berjengkit, mundur. “I–itu….” “Ada apa, katakan padaku!?” seru Kento. “G
Siang ini setelah makan siang bersama, Asuki dan Kento duduk di sofa ruang tamu. Kento merebahkan tubuh bersandar nyaman menikmati hari libur cutinya. Asuki meletakkan camilan apel berpotong kelinci di meja. Kento tersenyum menatap lama apel penuh kenangan yang disiapkan Asuki. “Sudah lama aku tidak melihat apel bentuk begitu lagi darimu Sayang…,” tukas Kento. Asuki menyodorkan potongan apel ke mulut Kento. “Benarkah?” “Iya. Sepertinya hari ini cukup spesial,” goda Kento menerima suapan Asuki. Asuki hanya tersenyum, larut lagi dengan kekalutan pikirannya. Sejak semalam Asuki telah membulatkan hati, dia harus mengakhiri hubungannya bersama Kento. “Sayang, bisakah kita bicara sebentar?” tanya Asuki. Wajah Asuki tampak serius, Kento bangun mengatur duduk. “Ada apa?” Asuki berhenti menyuapi Kento dan duduk berhadapan dengan Kento. Gugup mendera Asuki. “Aku … aku ingin memberitahumu kalau aku sudah mengirimkan surat pengunduran diriku pada direktur omega tadi pagi. Aku … akan berhe
Ucapan terakhir direktur Omega ditelepon masih terngiang-ngiang di kepala Asuki. Hubungan yang masih seumur jagung dipaksa harus berhenti karena ancaman yang terdengar tidak main-main dari petinggi agensi tempat Kento bernaung. Asuki gundah, memilih tetap mempertahankan cintanya pada Kento, Kento mungkin harus kehilangan karir cemerlangnya selama ini. Asuki tidak mau egois, namun tidak mau juga berpisah dari Kento. Asuki benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Layar laptop di depan Asuki masih menyala, dia sedang mengetikkan surat pengunduran dirinya sebagai asisten Kento. Malam ini Kento masih berada di lokasi syuting, mengambil set gambar terakhir. Sedang Asuki mengurung diri di ruang ganti Kento sendirian. Bunyi ketukan tiba-tiba di pintu membuyarkan pikiran Asuki yang refleks menutup laptop. Seorang wanita masuk menyapa Asuki. “Selamat malam Nona Asuki,” sapanya. Asuki tersenyum membalas sapaan sekretaris Hikari. “Selamat malam.” Hikari duduk di dekat Asuki. “Tuan Kento mas
Dua hari setelah pertemuan Asuki dan Direktur Omega menyisakan kesesakan dihati Asuki. Selama waktu-waktu yang berlalu Asuki lebih banyak diam dan melamun. Menemani Kento di lokasi syuting dan tetap menjalankan pekerjaannya sebagai asisten model dan aktor itu, Asuki berpikir keras. Tatapan sendunya tidak pernah lepas dari Kento dan Kento pun merasakannya. Asuki bersikap aneh dan tidak biasa, bahkan malam ini Asuki terus menutup mulut selama Asuki menyiapkan makan malam untuk mereka. “Sayang….” Kento melingkar pinggang Asuki dari belakang. Asuki terenyak, “Ada apa? Kamu butuh sesuatu?” Kento menggeleng, menyandarkan kepala ke bahu Asuki. “Apa yang sedang kamu masak?” tanyanya. “Steak, kamu mengatakan ingin makan steak bukan? Aku menyiapkannya untukmu,” jawab Asuki melepaskan rangkulan Kento. “Duduklah, makanannya sebentar lagi siap,” pinta Asuki. Kento tidak menyahut dan patuh mengikuti ucapan Asuki. Mungkin berbicara dengan Asuki setelah makan malam akan lebih baik pikirnya. S
“Kamu sudah siap?” tanya Asuki. “Ya, bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat cocok menggunakan pakaian ini?” Asuki menyorot penampilan kekasihnya dari atas ke bawah, entah kenapa Kento merasa pakaian semi jas yang dikenakannya terasa tidak pas di badan. Asuki tersenyum geli melihat Kento. “Aku tidak percaya kamu ternyata bisa juga merasa tidak percaya diri dengan dirimu sendiri Sayang,” godanya. Kento mencebik, “Aku juga manusia biasa kamu tahu…!” sinisnya. Asuki tertawa mendekati Kento. “Kamu selalu tampak sempurna di mataku Sayang….” Kento tersipu, Asuki mengatur kembali kerah kemeja Kento mendaratkan kecupan sekilas di pipinya. “Semua pakaian yang kamu pakai akan selalu terlihat pantas jika kamu memakainya,” ucap Asuki lembut. Wajah Kento semakin merona, Asuki paling tahu memuji pria tinggi itu. “Bersiaplah, sebentar lagi syuting akan dimulai,” sambung Asuki. Kento mengangguk, membalas kecupan singkat Asuki di bibir. “Aku mencintaimu…,” tandas Kento bahagia. Pasangan kekas
Asuki menelan kasar salivanya. Sudah sepuluh menit berlalu Kento masih membungkuk di depannya. Asuki tidak memberikan jawaban apa-apa atas permintaan maaf Kento. Sejujurnya dia memang tidak bisa memaafkan Kento. Tubuhnya bahkan masih bergetar mengingat kejadian itu, namun memikirkan pada saat keja
“Apa ini, lowongan pekerjaan?” Asuki melihat sebuah iklan yang tidak sengaja muncul di layar ponselnya. Setelah memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang kasir di sebuah gerai market hari ini, bak mendapatkan durian runtuh Asuki tersenyum gembira mendapati sebuah lowongan pekerjaan seb
Dua minggu sebelumya… Bunyi kecupan bibir terdengar memenuhi ruangan kamar berwarna abu dengan lampu kristal menggantung diatas. Yoshimura merangkul erat leher wanita berpakaian kimono berwarna putih dengan corak bunga sakura di depannya dan memperdalam tautan bibir mereka. Saling memainkan lidah
Hari baru, semangat baru, pekerjaan baru dan disinilah Asuki berada, di dalam kantor direktur Omega pemilik Agensi Starlight, Co. Asuki duduk manis menunggu direktur Omega yang kemarin memintanya datang ke kantor untuk sama-sama pergi ke apartemen Kento Yamaguchi.Memakai sepatu kets yang menurut







