Share

Meminta Maaf

last update Last Updated: 2025-10-30 12:49:37

“Aaahh….” Kento meringis memegang kepalanya yang terasa berat, tubuhnya ngilu. Kento memijat pelan belakang kepalanya yang ikut berdenyut. Sepertinya aku minum terlalu banyak bir semalam, batinnya.

Kento berusaha bangun dari tempat tidur, dia memaksa kaki panjangnya berjalan keluar dari kamar. Kento butuh air, lehernya terasa kering dan pekat. Dengan pandangan mata yang masih mengabur Kento menuju dapur, menuang air ke gelas kristal yang ada di meja dan meminumnya dalam beberapa kali tegukan besar.

“Kamu sudah sadar?” Suara familiar menggema di telinga Kento yang masih pusing.

Kento menggerutu dalam hati karena direktur agensinya datang tanpa pemberitahuan. Kento pun meletakkan gelas kasar, terhuyung ingin kembali ke kamar.

“Kamu mau kemana, hah!?” Suara direktur Omega semakin keras menggema di telinga Kento. Langkahnya tertahan.

“Ck, ada apa?!” kesal Kento.

“Duduk di sini!” perintah direktur Omega yang sedang duduk di kursi sofa ruang tamu apartemen Kento.

Kento mendengus makin kesal. “Kalau kamu mau membicarakan kerja nanti saja, aku tidak bisa bicara sekarang. Kepalaku pusing!”

“Oh yah, jadi kamu sudah lupa apa yang kamu lakukan kemarin pagi!?”

Kento mengerutkan dahi tidak mengerti. Memangnya apa yang dia lakukan kemarin pagi? Kento hanya ingat dia minum-minum sejak malam.

“Jadi benar kamu sudah lupa apa yang kamu lakukan kemarin pagi, hah?!” geram direktur Omega.

Kento mengedikkan bahu. “Iya. Aku sama sekali tidak ingat. Ada apa memangnya?”

Direktur Omega makin geram dan melipat tangannya di dada. “Kamu memang gila! Kamu hampir memperkosa asisten barumu Kento!” pekiknya marah.

Kento yang masih setengah sadar terkejut. “Apa!?” Kento segera mendekati direktur Omega, duduk berhadapan dengannya.

“Iya, kamu hampir memperkosanya Kento Yamaguchi! Kamu melecehkannya!”

Kento membola tidak percaya, ucapan direktur Omega bagai bom nuklir yang menyambar kepalanya. Tidak, tidak mungkin aku berbuat begitu. Bukan baru kali ini saja aku mabuk, batinnya yakin.

Kento mengusap wajahnya kasar, berpikir keras tentang kejadian kemarin pagi. Dilihatnya ruangan sekitar yang bersih tanpa kaleng-kaleng bir dan sampah yang berserakan seperti sebelumnya.

“Tidak. Aku tidak mungkin melakukannya Direktur Omega,” elak Kento. “Asisten baru itu pasti berbohong!” sambungnya tidak terima, Kento merasa sedang ditipu.

Direktur Omega menarik dan menghembuskan napas sepanjang-panjangnya berusaha bersabar menghadapi orang yang mungkin masih mabuk di depannya.

“Asuki menghubungiku setelah kamu pingsan Kento. Keadaannya sangat berantakan saat aku tiba disini bersama Hikari. Untung saja dia berpikir menghubungiku dan bukan melaporkanmu ke polisi! Bekas-bekas tanda di tubuhnya adalah bukti yang cukup kuat untuk memenjarakanmu!” Direktur Omega melempar ponselnya ke atas meja menunjukkan bukti foto bagaimana keganasan Kento pada Asuki.

Kento segera menyambar ponsel itu. Kilatan-kilatan ingatan satu persatu memenuhi isi kepalanya. Kento memutar badan melihat ke arah pintu depan apartemen. Dia ingat ada seseorang yang masuk dan memanggilnya saat dia hampir tertidur karena mabuk.

Suara wanita? Iya, wanita. Wanita itu menindih dia dan … oh tidak! Kento menutup mulutnya, dia bangkit dan mulai berjalan mondar mandir tidak tenang. Kento lupa, malam saat dia minum-minum direktur Omega mengirimkannya pesan teks dan mengatakan asistennya yang baru akan datang kemarin pagi.

“Kamu sudah ingat sekarang?” selidik direktur Omega.

Kento mengusap kasar wajahnya lagi dan terduduk lemas di sofa. “Aku benar-benar tidak sadar dan mabuk Direktur Omega,” ucapnya sontak merasa bersalah.

Ingatan Kento pagi itu masih kabur namun samar-samar dia mengingat teriakan minta tolong Asuki yang memintanya berhenti. Kento menggigit bibir menyalahkan diri, kenapa bisa dia mabuk dan bertingkah seperti orang tidak waras lalu menyerang Asuki? Dahi Kento mulai berkeringat, jantungnya berdegup cepat.

Direktur Omega memperhatikan wajah ketakutan Kento. Ingin sekali dia menyarangkan tinju ke wajah Kento jika tidak berpikir pria itu adalah salah satu penghasil pundi-pundi uang terbesarnya. Kebodohan Kento membuat direktur Omega harus memutar otak mencari cara agar karir Kento dan juga agensinya tidak hancur.

“Kamu harus minta maaf yang tulus pada Asuki, Kento. Yang paling penting jangan sampai dia melaporkan kejadian ini ke polisi, karirmu dan masa depan agensiku akan ikut terseret dalam masalah yang kamu buat jika dia sampai melaporkannya!”

Kento masih menggigit bibirnya, keringat dingin mulai mengucur dari dahi. Apa yang dikatakan direktur Omega benar, dia harus minta maaf agar masalah ini tidak melebar dan menghancurkan karirnya. Kento memaki dirinya dalam hati. Sial! Dasar bodoh!

Direktur Omega memijit pelipis, sakit kepala memikirkan masalah Kento. Direktur Omega yakin kejadian ini akan cukup membuat Kento kapok yang kedepannya pasti tidak akan minum sampai mabuk hingga bertindak liar.

“Aku sudah mengambil keputusan, Asuki akan tetap bekerja menjadi asistenmu!”

Kento terperanjat. “A–apa? Kenapa?”

“Ini adalah keputusan yang paling baik untukmu Kento!” tegas direktur Omega. “Jika kita tetap mempertahankan Asuki, dia tidak akan berani melaporkan kejadian ini ke polisi. Kamu harus ingat dengan karirmu, selain itu aku juga tidak mau nama agensiku ikut rusak. Aku tidak mau terseret ke dalam perbuatan bodohmu!” raungnya menunjuk wajah Kento.

“Tapi dia—”

“Keputusanku sudah final Kento!” Suara direktur Omega meninggi, tangannya mengepal dengan wajah memerah. Dia kesal Kento masih saja ingin menolak pengaturannya setelah menyebabkan masalah besar untuknya.

“Selanjutnya kamu hanya perlu minta maaf!” Direktur Omega beranjak meninggalkan Kento yang terdiam di sofa. Disaat seperti ini pun Kento masih saja banyak tingkah, batinnya.

—----------

“Teh Hojicha untukmu Nona Asuki.” Sekretaris Omega meletakkan gelas teh yang masih mengepul di meja. Asuki duduk lemas bersandar di sofa ruang kantor direktur agensi Starlight, Co.

Seminggu yang lalu Asuki masih ingat bagaimana bahagianya dia bisa berada di dalam ruangan ini dan tidak sabar untuk memulai pekerjaannya yang baru. Sekarang Asuki malah kembali dengan perasaan yang campur aduk.

Hikari, sekretaris Omega ikut duduk di samping Asuki. “Kamu baik-baik saja?”

Asuki mengangguk. “Iya. Terima kasih.”

“Jangan khawatir, Direktur Omega pasti akan membuat keputusan yang adil untukmu Nona Asuki.” Hiraki menepuk pelan punggung tangan Asuki.

Tadi malam direktur Omega menghubungi Asuki untuk bertemu dengannya di kantor. Sudah satu minggu setelah kejadian yang masih membuat Asuki syok, terjadi. Jejak-jejak di tubuh Asuki mulai memudar, tapi kejadian itu masih meninggalkan bekas di pikirannya.

Asuki tidak mau masalah ini berlarut-larut, dia juga khawatir Mirae, ibunya akan tahu kejadian naas yang menimpanya saat dia baru saja akan mulai bekerja. Dua hari yang lalu Mirae menghubungi Asuki dan menanyakan kabar serta pekerjaannya di Tokyo.

“Semuanya lancar Ibu. Ibu tidak perlu khawatir,” jawab Asuki dari ujung telepon.

“Syukurlah jika semuanya baik-baik saja Asuki. Aku hanya berharap pekerjaanmu yang baru sebagai asisten artis tidak membebanimu. Tapi sejujurnya aku sangat senang mendengarmu diterima, semua warga desa bahkan memujimu karena bisa mendapatkan pekerjaan yang sangat baik di Tokyo.”

Asuki menghembuskan napas mengingat ucapan Mirae ditelepon. Asuki malah merasa terbebani sekarang. Dia bingung apa dia harus berhenti dari pekerjaannya atau melanjutkannya demi bisa membantu Mirae yang kini tinggal sendirian di desa. Bahkan sudah satu minggu berlalu Asuki tidak bisa mengambil keputusan apa-apa.

Meski sudah sepakat dengan direktur Omega tidak akan membawa masalah ini ke polisi, Asuki masih ragu apa Kento tidak akan mengulangi perbuatannya lagi atau tidak.

Larut dalam pikirannya, direktur Omega masuk diikuti Kento Yamaguchi. Asuki merasakan jantungnya berdegup kencang saat manik mata gelap Kento menyambar manik mata coklatnya. Tubuh Asuki mulai bergetar.

“Maaf membuatmu menunggu Asuki,” sapa Direktur Omega hangat dan tersenyum. Dia tahu Asuki pasti ketakutan melihat Kento juga ada disini.

“Saya senang melihatmu sudah jauh lebih baik sekarang.” Direktur Omega melirik ke arah Kento yang memilih duduk sedikit berjauhan dengan mereka.

Kento sadar Asuki pasti tidak nyaman melihatnya. Wanita berparas manis yang sedang duduk beberapa meter darinya terlihat tidak tenang dengan tangan meremas-remas celana.

“Saya akan langsung saja Asuki. Mengenai kontrakmu sebagai asisten Kento, saya akan melanjutkannya. Kamu tetap akan bekerja di agensi kami sebagai asisten Kento Yamaguchi,” sambung direktur Omega.

Asuki tercekat. “A–apa!?”

“Iya. Saya dan Kento sudah membicarakannya. Dia juga setuju.”

Asuki melirik ke arah Kento yang duduk sama tidak tenangnya seperti dia. Seakan menunggu jawaban atas pernyataan direktur Omega, pria berambut gelombang itu mengangguk pelan dengan sorot mata bersalah pada Asuki.

Melihat wajah Kento secara jelas malah membuat kejadian waktu itu kembali menyambar pikiran Asuki, dia dengan cepat memalingkan muka.

“Saya hanya ingin menyampaikan tentang itu Asuki. Kento ingin berbicara empat mata denganmu.” Direktur Omega beranjak dari sofa diikuti Hikari yang sempat membungkuk pada Asuki dan Kento.

“Tu–tunggu Direktur Omega. A–aku tidak bisa—”

“Jangan khawatir. Dia tidak akan berbuat apapun padamu,” potong direktur Omega meyakinkan Asuki.

Hikari ikut menganggukkan kepala memberi keyakinan pada Asuki sebelum menghilang dibalik pintu bersama direktur Omega. Asuki makin kuat meremas celananya. Kenapa direktur Omega malah memintanya tetap menjadi asisten Kento dan bukan memecatnya saja? Pikiran tidak mengerti menyambar Asuki.

Kento berpikir keras mau mulai berbicara dari mana pada Asuki. Asisten barunya tidak bergerak sama sekali dengan kepala tertunduk. Kento tahu Asuki pasti sedang gugup dan ketakutan saat ini.

“Aku minta maaf Nona Asuki!” Suara berat Kento menggema di dalam ruangan direktur. Kento bangkit dan membungkuk di depan Asuki demi menunjukkan ketulusannya.

Asuki yang kacau membatu melihat sikap Kento. Pria yang minggu lalu menerkamnya seperti binatang buas kini terlihat seperti tikus basah.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan membela diri, aku tahu aku yang salah. Perbuatanku padamu sangat tidak bisa dimaafkan, tapi aku ingin meminta maaf dengan penuh penyesalan padamu. Jika kamu tidak ingin memaafkanku aku tidak akan menyalahkanmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Panas Tuan Idol   Bukti Rekaman

    Beberapa rekaman cctv akhir tahun 2018 menjadi bukti terkuat kasus bullying yang menimpa Kento berhasil di dapatkan Asuki. Mata monolid Asuki terbuka lebar dengan tangan menutup mulut tidak percaya. Asuki melihat bagaimana Sasaki, senior Kento di agensi Treecom dengan sengaja mendorong Kento dari belakang hingga Kento terpeleset dan jatuh menyambar dinding. Peristiwa ini mengakibatkan kaki Kento harus mendapatkan perawatan karena terkilir. Asuki juga menemukan rekaman lain yang menunjukkan Sasaki menyiram Kento dengan air bahkan sempat melemparkan barang ke arahnya. Kejadian-kejadian tidak mengenakkan itu terjadi pada saat Kento sedang latihan dance bersama anggota grupnya dulu. Tidak ada seorang pun yang berani membela Kento karena Sasaki adalah senior mereka. Bahkan seorang perempuan yang juga berada disana terlihat berapa kali sengaja memanas-manasi Sasaki agar terus mempermainkan Kento. Meski wanita itu tidak secara langsung membully Kento, tapi jika diperhatikan baik-baik, di

  • Pesona Panas Tuan Idol   Pelaku

    “Ada berita baru Nona Asuki, tim kita berhasil mendapatkan siapa orang yang sengaja menyebar berita pembullyan tuan Kento. Namanya Sasaki, seniornya dulu di agensi Treecom,” tukas Hikari menghubungi Asuki. “Sasaki?” “Iya, sepertinya senior tuan Kento ini punya dendam dengan tuan Kento hingga sengaja menyebar berita tidak benar tentangnya. Tim kita menemukan Sasaki sempat ditawari kontrak menjadi brand ambassador LV namun dibatalkan sepihak oleh mereka lalu diganti dengan tuan Kento. Kemungkinan dia tidak terima tentang itu, sebelumnya juga ada kontrak-kontrak drama series yang gagal didapatkan beliau dan jatuh pada tuan Kento. Aku rasa ini yang menjadi motif Sasaki bertindak demikian!” terang Hikari panjang lebar. Asuki ingat dia pernah mendengar nama Sasaki. Mantan idol yang kini juga menjadi aktor seperti Kento adalah artis dibawah naungan agensi Treecom sampai sekarang. Asuki ingat para pegawai pernah menggosipkan Sasaki sedang menjalin hubungan dengan seorang aktris yang cukup

  • Pesona Panas Tuan Idol   "Dimana Asuki!?"

    “Jadi dimana sebenarnya Asuki berada, Sekretaris Hikari?!” Suara menggelegar terdengar memenuhi kediaman Kento. Kento sedang marah, menatap tajam wanita yang seketika tertunduk meremas jari. Terhitung empat hari keluar dari rumah sakit, Asuki tidak kunjung mendatangi Kento. Kento tidak bisa mencari asistennya karena terkurung di kediaman, Kento tidak bisa keluar menunjukkan diri diluar. Ponsel Asuki pun tidak bisa dihubungi, Kento mulai berpikiran macam-macam dan khawatir Asuki menghilang. “Apa kalian sengaja melarang Asuki datang menemuiku, hah!?” tuduh Kento. “Tidak Tuan Kento, tidak ada yang pernah berkata demikian. Nona Asuki benar-benar sedang mengerjakan sesuatu, dia tidak bisa menemuimu dalam waktu dekat ini. Mohon Tuan Kento bersabar sedikit.” Hikari menengadah menatap Kento takut-takut. Wajah Kento seperti ingin melahapnya hidup-hidup. “Lalu apa pekerjaan Asuki yang kamu maksud? Bukankah pekerjaannya adalah sebagai asistenku!? Apa kalian memintanya mengerjakan hal lain h

  • Pesona Panas Tuan Idol   Mencari Bukti

    Terhitung sudah tiga hari Asuki tidak datang ke rumah sakit menjenguk dan menjaga Kento. Pria itu mulai uring-uringan menanti asistennya yang tidak tahu ada di mana. Bunyi pintu dibuka seketika membuat Kento bangkit dari ranjang, matanya jelalatan mencari siapa yang masuk. Wanita berpakaian rapi tersenyum begitu mata mereka bertemu.“Selamat pagi Tuan Kento,” sapa sekretaris Hikari. Kento mendengus, kembali bersandar di ranjang. Hikari masuk membawa tas berisi baju ganti Kento. Hari ini Kento akan keluar rumah sakit setelah hampir seminggu dirawat. “Mana Asuki, kenapa kamu yang datang?!” sinis Kento. Hikari meletakkan tas di atas nakas dekat ranjang. “Asuki sedang mengerjakan sesuatu, dia menitip maaf karena tidak bisa ikut mengantar Tuan Kento keluar rumah sakit,” sahutnya beralasan. Kento mendengus lagi dengan pikiran tidak terima. Bisa-bisanya Asuki lebih mementingkan hal lain ketimbang dirinya? Kento membatin kesal. “Aku akan mengantarmu ke kediaman Tuan Kento, bersiaplah.”

  • Pesona Panas Tuan Idol   Awal Rencana

    Setelah mendapatkan izin direktur Omega, pagi ini Asuki secara resmi melamar kerja di Agensi Treecom sebagai cleaning service. Bermodal nekat dan keyakinan, Asuki berhasil diterima setelah dibantu koneksi sekretaris Hikari. Kepala seksi bernama Mio adalah bibinya. “Aku tidak pernah tahu keponakanku Hikari punya teman lama bernama Asuki.” Mio bergumam, membaca surat lamaran Asuki. Tadi pagi begitu tiba di gedung agensi Treecom, Asuki langsung dipanggil kepala seksi Mio. Asuki tersenyum canggung, melihat lirikan tajam Mio. “Sudahlah, karena kamu adalah teman Hikari kamu bisa langsung bekerja di sini,” sambung Mio. Dan seperti rencana Asuki, Mio memberikan tugas padanya untuk bertanggung jawab membersihkan bagian ruang HRD dan ruang kontrol agensi. Hikari menyakinkan bibinya agar Asuki mendapatkan tempat yang baik dengan alasan Asuki pernah menolongnya dulu. Meski Mio terlihat judes tapi wanita berusia sekitar lima puluh tahun itu tidak mengecewakan permintaan ponakannya Hikari. As

  • Pesona Panas Tuan Idol   Pilihan Asuki

    “Asuki, tolong ambilkan aku minum.” Kento duduk bersandar di ranjang rumah sakit, tangannya masih menempel jarum mengaliri cairan infus. Kento telah dirawat sehari semalam di rumah sakit. Asuki setia menunggu dan menjaga pria bertubuh tinggi itu. Namun sejak Kento bangun, Asuki tidak berbicara dengannya. Asuki mendiamkan Kento. “Arigato (terima kasih),” tukas Kento tersenyum. Asuki mundur tidak peduli, dia menyibukkan diri lagi. Kento membuang nafas, kecewa dicueki asistennya. Dia tahu Asuki sedang marah. Beberapa kali Kento meminta ini dan itu demi bisa berbicara dengan Asuki, tetapi Asuki masih sama diam padanya. Asuki menutup mulut rapat seakan Kento hanyalah bayangan di sana. Bunyi pintu dibuka dari luar mengalihkan pikiran Kento dan Asuki, direktur Omega bersama sekretaris Hikari beriringan masuk.“Lama tidak bertemu Kento Yamaguchi…,” sapa direktur Omega mengayunkan tangan. Kento memutar mata malas melihat pria beruban yang belum lama tiba di Tokyo datang menemuinya. “Hmm…,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status