Share

Overdos

last update Date de publication: 2025-12-21 12:02:34

Getar ponsel terasa di saku celana Asuki. Pesan masuk tertera di sana dari direktur Omega. Asuki membukanya cepat dan membacanya.

‘Kembali ke apartemen Kento sekarang juga Asuki, aku tahu apa yang terjadi dua minggu ini. Datanglah setiap hari ke apartemen Kento dan pulang saat Kento tidur dimalam hari’

Bunyi pesan direktur Omega terlihat sedikit menakutkan. Asuki bertanya-tanya bagaimana pria itu tahu dua minggu ini dia selalu pulang lebih cepat dari apartemen Kento? Tidak mungkin Kento yang melaporkannya bukan? Kento sendiri yang mengatakan tidak ingin sering bertemu dengannya. Pikiran menerka-nerka memenuhi kepala Asuki.

Ah sudahlah … bukan urusanku! batin Asuki. Kakinya berbalik, kembali naik kereta menuju apartemen Kento. Asuki memang baru saja turun di stasiun kereta tempatnya pulang setelah menerima pesan singkat direktur Omega.

Hanya butuh lima belas menit Asuki tiba di depan pintu apartemen Kento. Jika aktor itu bertanya padanya kenapa dia ada di sana saat Kento bangun, Asuki hanya perlu mengatakan direktur Omega yang memberinya perintah kembali ke apartemen. Asuki rasa Kento tidak akan banyak protes jika mendengar alasannya.

Asuki mendorong pintu besar apartemen Kento dan sempat terdiam melihat pintu kamar Kento sudah terbuka. Kento sepertinya sudah bangun, batin Asuki.

Asuki menutup pintu pelan dan berjalan masuk melangkah seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara apapun. Namun keheningan yang tidak biasa justru membuat Asuki penasaran.

Asuki melirik ke arah kamar mandi yang pintunya sama terbuka. Dimana Kento? Mata Asuki sibuk mencari dimana bayangan Kento berada. Kakinya memutuskan pergi ke kamar Kento lebih dulu memastikan dia ada di sana atau tidak.

Di depan pintu Asuki membola melihat Kento berbaring di ranjang dengan mulut penuh busa. Tubuh Kento masih kejang saat Asuki berteriak memanggil namanya.

“Tuan Kento…!” Asuki panik berlari mendekati ranjang, mata Kento perlahan tertutup seiring tubuhnya berhenti kejang. Kento pingsan di depan mata Asuki.

“Tuan Kento, apa yang terjadi padamu?” Asuki menggoyang lengan Kento namun tidak ada respon.

Asuki segera merogoh ponsel dan menekan nomor panggilan darurat 119 di layar memanggil ambulance.

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Berita Kento Yamaguchi masuk rumah sakit dengan cepat mengisi semua media berita online setelah model dan aktor itu dilarikan ke sana.

Terhitung sudah lima jam Kento masih dirawat di ICU. Menurut dokter Kento masih kritis dan memerlukan tindakan lebih lanjut.

Asuki duduk tidak tenang di depan pintu kaca blur yang tertutup rapat. Direktur Omega sempat datang ke rumah sakit setelah dihubungi Asuki. Namun tidak lama direktur Omega kembali ke kantor agensi karena sibuk mengurus berita Kento masuk rumah sakit yang terlanjur meluas.

Sebelum pergi direktur Omega juga sempat berbicara dengan pihak rumah sakit meminta mereka merahasiakan penyebab Kento dirawat. Skandal artis overdosis obat penenang pasti akan menjadi berita panas jika media mengetahuinya. Direktur Omega tidak mau masalah artis naungannya berdampak lebih panjang pada agensi.

Asuki pun diharuskan berjaga sendirian, memastikan tidak ada siapapun yang mendekati ruang ICU selain dokter dan perawat. Hanya ada beberapa bodyguard yang disebar direktur Omega berjaga di dalam rumah sakit.

Asuki tidak mengerti kenapa Kento bisa overdosis seperti ini, dan sejak kapan model tampan itu mengonsumsi obat penenang? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Kento sampai dia harus bergantung dengan obat penenang? Asuki beremuk dengan pikirannya.

Sudah berapa minggu dia menjadi asisten Kento, Asuki sadar tidak ada yang dia tahu sama sekali tentang Kento Yamaguchi. Asuki hanya tahu informasi umum yang ada di internet.

Asuki sedikit menyesal karena posisinya sebagai asisten pribadi Kento nyatanya tidak bisa membantu Kento disaat begini. Kalau saja kejadian menyambar dan mencium benda perkasa Kento tidak terjadi, mungkin mereka sudah mulai dekat sekarang dan Kento tidak akan menyentuh obat-obatan itu. Asuki menyalahkan diri lagi, rasa bersalah memenuhi hatinya.

Bunyi pintu ICU dibuka membuyarkan pikiran Asuki. Seorang pria paruh baya dengan jubah putih keluar.

Asuki beranjak cepat mendekatinya. “Bagaimana keadaan Tuan Kento, Dokter?”

“Jangan khawatir, Tuan Kento sudah berhasil melewati masa kritis, tekanan darah dan detak jantungnya sudah lebih stabil. Namun Tuan Kento masih perlu dirawat di ICU karena dia masih membutuhkan alat bantu pernapasan ventilator. Kami akan memantaunya semalaman ini, jika keadaannya terus membaik, besok pagi Tuan Kento bisa dipindahkan ke ruang rawat.”

Asuki sedikit bernafas lega, dokter berlalu meninggalkan Asuki yang membungkuk berterima kasih dan kembali duduk di kursi tunggu. Rasa khawatir perlahan terangkat dari dadanya. Asuki merasa nyawanya kembali terkumpul satu persatu. Terima kasih karena sudah baik-baik saja Tuan Kento, batinnya dengan mata sembab.

Besoknya Kento akhirnya bisa dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Wajah pucat Kento dengan tangan masih diinfus menyambut Asuki yang baru saja masuk menemuinya.

Selama berada di ICU, Asuki hanya diperbolehkan duduk diluar menunggu Kento namun kali ini Asuki bisa langsung menemani Kento di ruang perawatan. Asuki benar-benar bernafas lega, raut mukanya menunjukkan kebahagiaan yang tak terhingga. Asuki merasa tenang bisa menjaga dan merawat Kento secara langsung.

Asuki pun mendekati ranjang dan menatap wajah tanpa cela Kento. Hidung mancung bak seluncurannya tampak gagah dengan bibir merekah yang meskipun kering dan pucat tapi tidak membuat kesempurnaannya hilang. Bulu mata panjang Kento yang tertutup membingkai sempurna kedua matanya. Kento memang tampan meski sedang terkulai lemah. Asuki tidak menampik, Kento adalah bukti pangeran dunia halu itu hidup. Sudut bibir Asuki terangkat menikmati pikiran kekagumannya pada Kento.

Di tengah pemandangan indah itu, Kento bergerak dengan gumaman kecil terdengar dari bibirnya. Mata Kento perlahan terbuka, dia mulai sadar.

“Tuan Kento…,” panggil Asuki lembut. Manik mata gelap Kento terlihat berkilau di bawah cahaya lampu ruang rawat yang terbuka sempurna.

“Kamu sudah sadar?” Asuki segera menekan tombol di samping ranjang memanggil perawat.

Kento masih meraba-raba dimana dia sekarang. Kepalanya sedikit pusing dengan pandangan mata yang perlahan menerang. Wajah manis dengan sorot mata khawatir memenuhi pandangan bingung Kento. Asuki terlihat lesu dengan lingkaran mata menghitam, apa yang terjadi? Kento mencoba mengingat hal terakhir yang dia lakukan sebelum berakhir disini.

Dokter dan seorang perawat lalu masuk memeriksa keadaan Kento, pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang dirasakan Kento dijawabnya pelan. Dilihatnya Asuki berdiri tidak jauh dari mereka.

Mata monolid Asuki merah dengan hidung yang sama merahnya. Apa Asuki menangis? Pikiran Kento teralihkan melihat keadaan Asuki yang entah kenapa mengusiknya. Asistennya tampak berantakan dengan rambut yang diikat asal dan baju yang kusut. Apa Asuki tidak tidur dan berada dirumah sakit semalaman? Kepala Kento kini dipenuhi Asuki.

“Minum dulu Tuan Kento.” Suara Asuki menembus kesibukan isi kepala Kento, dia tidak sadar dokter dan perawat sudah keluar setelah memastikan keadaannya baik-baik saja.

Asuki mengatur ranjang Kento lebih tinggi agar Kento bisa minum dengan mudah. Ditangan, Asuki memegang segelas air putih dan mendekatkan sedotan ke mulut Kento.

“Aku bisa sendiri,” tolak Kento malu.

Asuki mengangguk dan menyodorkan gelas yang diterima Kento gugup dan tanpa sadar menggigit bibir keringnya. Asuki menatap Kento seksama. “Kamu yakin sudah lebih baik Tuan Kento?”

“Iya, kamu tidak dengar apa yang dokter katakan tadi?” ketus Kento berusaha menutupi kegugupannya. Asuki terus menatapnya. Air putih yang diminum Kento terasa melegakan tenggorokan.

“Baiklah, aku senang mendengarnya.” Wajah khawatir Asuki sejak tadi berubah lega.

Hati Kento tergelitik melihat perubahan itu, ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan Kento. Apa dia bahagia diperhatikan dan dikhawatirkan lagi oleh orang lain?

“Kamu yang membawaku kesini?” tanya Kento. Rasa penasaran apa yang terjadi padanya setelah tidak sadarkan diri berganti memenuhi kepala Kento.

Asuki mengambil gelas di tangan Kento dan mengangguk. “Iya, direktur Omega mengirimiku pesan kembali ke apartemenmu kemarin. Sepertinya dia sudah tahu aku selalu pulang lebih awal dari apartemenmu,” jawabnya.

Kento diam, Asuki tidak bicara lebih lanjut. Wanita itu tidak bertanya apa-apa tentang kejadian kemarin yang membuatnya sampai overdosis. Kento heran, kenapa Asuki tidak seperti orang lain yang penasaran dan selalu ingin tahu tentang kehidupannya.

Bukankah tugas asisten selalu banyak bicara dan bertanya pada artis yang diurusnya? Kenapa Asuki tidak? Asuki malah sibuk meletakkan baju-baju Kento di lemari dan mengatur beberapa buah di atas meja. Asuki sibuk kesana kemari bak setrika di depan Kento.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pesona Panas Tuan Idol   Bukti Foto

    “Kamu sudah siap?” tanya Asuki. “Ya, bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat cocok menggunakan pakaian ini?” Asuki menyorot penampilan kekasihnya dari atas ke bawah, entah kenapa Kento merasa pakaian semi jas yang dikenakannya terasa tidak pas di badan. Asuki tersenyum geli melihat Kento. “Aku tidak percaya kamu ternyata bisa juga merasa tidak percaya diri dengan dirimu sendiri Sayang,” godanya. Kento mencebik, “Aku juga manusia biasa kamu tahu…!” sinisnya. Asuki tertawa mendekati Kento. “Kamu selalu tampak sempurna di mataku Sayang….” Kento tersipu, Asuki mengatur kembali kerah kemeja Kento mendaratkan kecupan sekilas di pipinya. “Semua pakaian yang kamu pakai akan selalu terlihat pantas jika kamu memakainya,” ucap Asuki lembut. Wajah Kento semakin merona, Asuki paling tahu memuji pria tinggi itu. “Bersiaplah, sebentar lagi syuting akan dimulai,” sambung Asuki. Kento mengangguk, membalas kecupan singkat Asuki di bibir. “Aku mencintaimu…,” tandas Kento bahagia. Pasangan kekas

  • Pesona Panas Tuan Idol   Perasaan Tidak Enak

    Kento membawa mobil pulang ke apartemen setelah melihat Asuki lebih tenang. Asuki duduk diam di sampingnya, tidak mengeluarkan kata sedikitpun. Sehabis menangis menumpahkan ketakutan dan kekesalan Asuki diam seribu bahasa, Kento bahkan tidak digubrisnya yang sejak tadi membujuk Asuki. Asuki keluar lebih dulu dari mobil begitu mereka tiba di parkiran basement apartemen meninggalkan Kento yang memanggilnya berulang kali. Kento menarik nafas panjang, Asuki benar-benar marah batinnya. Beruntung Asuki masih mau menunggu Kento di dalam lift hingga Kento tidak perlu menunggu lift berikutnya. “Sayang…,” panggil Kento. Asuki diam, mereka berdiri cukup jauh. “Sayang…,” panggil Kento lagi mendekat, namun bunyi pintu lift terbuka menghentikan langkah Kento. Asuki menghambur keluar. Kento sekali lagi menarik nafas panjang, memanjangkan langkah mengikuti Asuki dari belakang. Masuk di dalam apartemen, Kento segera menahan Asuki tidak mengizinkan wanitanya menghindari dia lagi. “Sayang

  • Pesona Panas Tuan Idol   Kencan

    “Kencan?” “Iya, kita tidak pernah kencan selama ini bukan? Aku juga ingin punya momen kencan seperti pasangan pada umumnya,” tukas Kento.Asuki terdiam, sejak tiga hari yang lalu Kento terus memberondong Asuki dengan keinginannya untuk kencan diluar. Seperti pasangan lain yang bebas keluar kencan pergi ke festival musim panas, Kento ingin melakukannya juga bersama Asuki. Asuki bingung harus memberi jawaban apalagi pada Kento. Semua alasan tentang Kento yang seorang publik figur dan dirinya yang diketahui orang banyak sebagai asisten Kento, sudah diberikan Asuki. Tapi Kento terus saja memaksa, Kento bahkan berkata kalaupun hubungan mereka terekspos nantinya, Kento akan dengan senang hati mempublikasikannya ke publik tentang hubungan mereka. Asuki kehabisan alasan lagi. “Ayolah Sayang, apa kamu malu keluar denganku?” bujuk Kento berpura-pura sedih. Asuki menggigit bibir, bagaimana ini? Kento terlihat sangat mengharapkan kencan orang biasa ini. “Kita kencan ok?” bujuk Kento lagi.

  • Pesona Panas Tuan Idol   Aku Akan Bertanggung Jawab

    Syuting hari pertama setelah peristiwa kebakaran waktu lalu dimulai. Jadwal tayang yang harusnya diadakan akhir bulan ini terpaksa diundur, tim produksi mengambil keputusan untuk mengganti lokasi syuting lanjutan mereka. Kento datang bersama Asuki lebih awal demi bisa beradaptasi dengan lokasi syuting yang baru. Ruang-ruang set dan properti kebutuhan syuting tertata rapi di sana. Kento dibawa tim kru ke ruang ganti dan istirahatnya. “Silahkan Tuan Kento….” Tim kru wanita membuka pintu. Kento masuk diikuti Asuki. Di dalam ruangan berpendingin udara dengan warna putih yang mendominasi terlihat lebih luas dari ruang istirahat Kento sebelumnya. Tim menyediakan ranjang kecil di dekat pintu menuju kamar mandi juga sofa panjang berwarna abu yang turut disediakan oleh mereka. Tim kru wanita yang membawa mereka pun pamit setelah Asuki membungkuk berterima kasih. Kento duduk di sofa, merebahkan diri sebentar sebelum di make up. “Ada yang ingin kamu makan?” tanya Asuki. Kento menggeleng,

  • Pesona Panas Tuan Idol   Arti Mencintai

    Hari-hari Sebelumnya…“Kamu tidak pulang?” Miyano terkejut mendapati Yamazaki masih ada di apartemennya. Pria itu tampak berantakan dengan mata bengkak. Yamazaki hanya menjawab dengan gelengan kepala lemah. Miyano berdecak melepas mantel dan tas. Seperginya Miyano tadi pagi meninggalkan Yamazaki seorang diri di apartemen malah membuat Yamazaki kembali meratapi kesedihannya kehilangan Asuki. Miyano tidak menyangka kepahitan Yamazaki sampai begini. “Kamu sudah makan?” Yamazaki menggeleng lagi. Miyano membuka kulkas mendapati isi dalamnya kosong, dia belum sempat belanja bulanan akhir ini. “Bangunlah, kita akan pergi makan diluar,” perintah Miyano. “Aku tidak mau, kamu tidak lihat keadaanku?!” tunjuk Yamazaki pada dirinya. “Kenapa, apa orang patah hati tidak boleh makan!?” sindir Miyano. “Ck, bukan begitu. Aku malas keluar, aku tidak mau orang yang melihatku justru mengira kamu telah menindasku. Aku sedang tidak ingin bertemu orang banyak!” tukas Yamazaki beralasan. Miyano mendeng

  • Pesona Panas Tuan Idol   Peringatan

    “Apa yang kamu ingin bicarakan dengan Asuki?” selidik Kento. Mereka beriringan masuk ke dalam apartemen. Direktur Omega duduk di sofa menyilangkan kaki santai. “Ada yang penting, kamu bisa istirahat dulu sebentar,” sahut direktur Omega. Kento memicing, “Apa yang penting sampai aku tidak bisa tahu!?” “Kamu tidak perlu tahu karena ini bukanlah ranahmu! Aku bicara sebagai direktur agensi pada asisten yang aku gaji untukmu!” sarkas direktur Omega. Wajah Kento semakin menunjukkan aura tidak suka, melihat direktur Omega tiba-tiba datang ke apartemennya saja sudah membuat Kento kesal ditambah harus menghadapi sikap sok berwenangnya. Kento mengepal menahan emosi. “Tuan Kento, aku akan bicara sebentar dengan direktur Omega. Bagaimana kalau Tuan Kento mandi dulu dan aku akan menyiapkan makan malam juga untukmu dan direktur Omega?” tukas Asuki menengahi. Ditatapnya Kento penuh harap, meminta agar pria itu berhenti mengadu mulut dengan pemimpin Starlight, Co. Asuki tidak mau mereka berteng

  • Pesona Panas Tuan Idol   Malam Panjang

    “Cu–cukup…,” desah Asuki. Kento masih bermain-main di bawah sana, bibir dan lidahnya memaksa masuk diantara lubang kecil, sempit Asuki. Rasa manis bercampur saliva yang disesap Kento meninggalkan candu yang menggetarkan mulut Kento. Sensasi itu membuat celana Kento sesak. Kento membuka kaki Asuk

  • Pesona Panas Tuan Idol   Malam Indah

    Makan malam romantis sengaja diatur Kento diluar kediamannya. Lampu-lampu panjang ditarik memenuhi halaman dengan bunga mawar kuning diletakkan diatas meja. Kento mengajak Asuki keluar setelah memastikan semuanya selesai. Makan malam perdana mereka sebagai sepasang kekasih ingin Kento berikan deng

  • Pesona Panas Tuan Idol   Dibalik Trauma

    “Asuki, hati-hati!” Kento berteriak panik memanggil wanitanya. Asuki berjengkit mundur mendengar teriakan Kento. Pijakannya goyah dan tersungkur di tanah, Kento bergerak cepat menarik Asuki. “Kamu baik-baik saja?” cemas Kento. Tangannya membolak balikkan tubuh Asuki memeriksa Asuki cermat. “Aku

  • Pesona Panas Tuan Idol   Patah Hati

    Yamazaki duduk meneguk bir di tangan, dua hari setelah bertemu Asuki dan mengetahui hubungannya dengan Kento menyisakan penderitaan yang mendalam di hati Yamazaki.Pria berambut lurus dengan warna mentereng itu menangis sedih menikmati dingin malam kota Tokyo. Yamazaki belum kembali ke desa Shiraka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status