LOGIN
Tenggorokan Santi terasa kering bagai padang pasir. Hari ini ia pulang cukup larut setelah menutup toko, badannya terasa remuk redam sisa bekerja seharian. Dengan langkah gontai dan mata yang masih berat, ia beranjak turun dari ranjang, berniat mengambil air minum di dapur guna melepas dahaga.
Rumah kontrakan itu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang menemani langkah Santi. Namun, saat ia sedang meneguk air dingin dari gelas, kesunyian malam itu mendadak terusik.
Telinga Santi menangkap suara-suara asing. Suara napas tertahan dan derit ranjang yang berirama. Suara itu berasal dari kamar sebelah, kamar Rina, teman satu rumahnya.
Santi menoleh. Pintu kamar Rina tidak tertutup rapat, menyisakan celah sempit yang memancarkan cahaya lampu tidur remang-remang.
"Ah... Iya... Riki..."
Suara Rina terdengar lirih, namun penuh dengan nada yang tidak biasa. Ada getaran aneh dalam suaranya yang membuat bulu kuduk Santi meremang.
Santi mematung di ambang pintu dapur. Kakinya yang seharusnya melangkah kembali ke kamar justru terpaku. Rasa penasaran yang kuat menariknya untuk mendekat, meski akal sehatnya melarang. Dengan jantung berdegup kencang, ia memberanikan diri mengintip sekilas lewat celah pintu itu.
Santi menahan napas.
Di bawah cahaya lampu yang temaram, ia menangkap bayangan dua siluet tubuh yang sedang menyatu. Rina tidak sendiri. Ada Riki di sana. Mereka tampak begitu intim, hanyut dalam dunia mereka sendiri, melupakan segala hal di sekitar mereka.
Wajah Santi memanas seketika. Ia tidak melihat detail yang vulgar, namun atmosfer di ruangan itu begitu intens. Ia melihat ekspresi Rina yang terpejam dengan napas memburu, seolah sedang menahan rasa nikmat yang luar biasa. Pemandangan itu begitu asing bagi Santi yang selama ini hidup lurus-lurus saja.
Santi teringat ucapan Rina yang sering menggoda kepolosannya. "Lo harus coba, San. Kalau sudah ngerasain, pasti ketagihan."
Dulu Santi selalu menutup telinga. Tapi malam ini, melihat betapa Rina tampak begitu lepas dan menikmati momen itu, benteng pertahanan Santi sedikit terguncang. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya, campuran antara rasa malu, takut, namun juga... penasaran.
Darah Santi berdesir hangat, menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa gelisah tanpa alasan.
Sadar bahwa ia telah lancang mengganggu privasi orang lain, Santi buru-buru memalingkan wajah. Dengan langkah seribu, ia berjingkat mundur dan masuk ke kamarnya sendiri yang terletak tepat di sebelah kamar Rina.
Ia menutup pintu pelan-pelan, bersandar pada daun pintu dengan lutut lemas. Napasnya tersengal seolah habis berlari jauh.
Namun, dinding kontrakan yang tipis tak bisa menyembunyikan apa pun. Suara-suara dari kamar sebelah masih terdengar samar, menembus tembok pemisah. Bisikan-bisikan dan suara pergerakan ranjang itu seolah mengejar Santi.
Santi melempar tubuhnya ke atas kasur, menarik selimut hingga menutupi kepala, mencoba mengusir bayangan yang tadi ia lihat. Tapi tubuhnya bereaksi lain. Ada rasa gerah yang tiba-tiba menyergap, membuat keringat dingin membasahi pelipisnya.
Perasaan hangat yang asing itu kembali muncul, menuntut untuk diredakan. Santi merasa bingung dengan tubuhnya sendiri. Ia merasa aneh, gelisah, dan hampa di saat yang bersamaan.
Perlahan, tangan Santi bergerak ragu di balik selimut. Bukan karena ia mahir, melainkan karena insting untuk menenangkan diri dari sensasi yang membingungkan itu. Ia mencoba mencari tahu, apa sebenarnya yang dirasakan Rina hingga bisa bersuara seperti itu?
Malam itu, diiringi detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang, Santi mulai mengenali sisi lain dari dirinya yang selama ini tersembunyi. Sebuah penjelajahan kecil yang membuatnya merasa takut sekaligus berdebar.
Ceklek!
Suara gagang pintu kamar Santi ditekan dari luar membuat Santi terlonjak kaget. Aktivitasnya terhenti seketika. Tubuhnya membeku di bawah selimut.
"San? Lo belum tidur?"
Suara berat Riki terdengar dari balik pintu.
Jantung Santi serasa berhenti berdetak. Ia merapatkan selimut, menyembunyikan tubuhnya yang gemetar.
"Ehh... be-belum, Rik. Kenapa?" jawab Santi dengan suara tercekat, berusaha keras agar suaranya terdengar normal.
Hening sejenak. Santi menggigit bibir bawahnya, takut jika Riki tahu apa yang baru saja ia lakukan atau apa yang ia lihat tadi.
"Oh, enggak. Sorry ganggu. Tadi gue dengar suara dari kamar lo, kirain ada apa-apa," ujar Riki dari luar. Nada suaranya datar, namun cukup membuat nyali Santi ciut.
"Enggak... aku cuma lagi nonton film di HP kok," kilah Santi cepat.
Riki terlihat sama sekali tidak percaya dengan ucapan Santi. Wajah Santi merah merona, sangat menggemaskan. Riki jadi ingin menggoda Santi.
Riki tersenyum tipis. “Oh, tapi itu kayak suara lo, San. Apa mau gue bantu aja?”
Santi tersentak, kaget karena ketahuan tapi tawaran yang diberikan Riki juga seperti tidak ingin ia tolak.
Riki mendekat. Ia tahu Santi ragu, tapi tidak sepenuhnya menolak. Perlahan, Riki duduk di tepi ranjang dan memeluk Santi. “Lo coba dulu, kalau memang enggak enak, lo boleh minta berhenti,” bujuk Riki.
Tetapi, Santi justru mengangkat selimutnya, sebagai tanda penolakannya pada Riki. Riki yang melihat itu tidak merasa tersinggung. Ia tahu dari Rina bahwa Santi masih polos, dan itu justru membuatnya semakin penasaran. Jadi, Riki tidak akan memaksa dulu kali ini. "Oke. Tidur gih. Jangan begadang," ucap Riki singkat.
Langkah kaki Riki terdengar menjauh. Santi menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Tubuhnya lemas seketika.
Santi menurunkan selimutnya dan menyentuh dirinya sendiri.
Santi langsung tersentak tidak percaya.
Hanya didekati dan digoda Riki, ia bisa sebasah ini?!
“Kamu pasti haus juga kan?” Santi mengangguk pelan.Baga menarik kereta dorong makan dan mengambil minuman, “Ini coklat hangat dan ada jus jeruk hangat. Kamu mau dua-duanya?” Bukan pilihan yang dikatakan Baga, tapi keduanya.Lagi-lagi Santi menurut, Baga menarik kursi agar mereka bisa saling berhadapan. Lalu Baga mengarahkan gelas jeruk hangat lebih dulu ke mulut Santi. Santi meneguknya.Ada sedikit ragu sebenarnya karena sekarang posisinya. “Anakku sedang kelaparan rupanya!” Santi tidak menjawab hanya menerima suapan minuman lagi dari Baga, “biarkan aku bantu,” Baga secara naluri seperti seorang ayah juga suami mengambil alih gendongan tadi dan meletakkan di kereta bayi. Kemudian mengambil lagi satunya dan memberikan pada Santi.“Kamu cantik sekali kalau sedang seperti ini,” Baga merapikan rambut Santi dan meletakkannya di daun telinga. Tentu saja Santi tidak bisa menolak karena posisinya sekarang memang tidak bisa menolak. “Aga!” Dia hanya bersedia.“Aku mengatakan yang sebenarn
“Kenapa terus melihatku? Kamu sudah mulai tertarik padaku?” Santi menelan ludahnya saat mendengar Baga berbicara.Lelaki itu benar-benar seperti kehilangan pikiran. Santi bahkan benar-benar tidak habis pikir kenapa dia bisa bertemu dengan laki-laki itu.“Kamu yakin bisa menggendongnya?” nada bicara Santi sedikit rendah. Dia tidak ngegas atau sewot sendiri.“Sekarang menurutmu bagaimana?! Apa aku terlihat kaku?! Atau anakmu yang kugendong akan jatuh?” Spontan Santi menggeleng. Dia memang tidak melihat tanda-tanda itu. Dibandingkan dengan suaminya Bimo, Ini pertama kalinya Santi melihat anaknya digendong orang lain selain Rossa dan Pak Abdi.“Sepertinya suamiku harus belajar darimu!” Kata Santi berucap tanpa sadar. “Belajar dariku? Kau yakin? Bukankah dia ayahnya?” Santi terdiam saat mendengar ucapan Baga, “ada apa? Kau bertengkar dengannya? Apakah serius? Apa ada kemungkinan kau bercerai dengannya?”Baga bicara terus terang pada Santi. Dia benar-benar sudah bertekad akan mengambil Sa
“Dasar cecunguk bodoh dan nggak tahu diri. Itu namanya dia sedang memberikan kamu kesempatan. Eh, malah kamu tolak!” sergap pak Abdi sedikit emosi saat mendengar ucapan anak yang selalu dianggap mencari masalah.“Udahlah Pa, Santi juga nggak masalah. Dia nggak keberatan. Papa masih mau protes?!” Bimo malah semakin sewot saat pak Abdi melakukan protesnya.“Awas aja kalau sampai terjadi apa-apa sama menantuku. Papa nggak akan maafin sama belain kamu ya. Minta tolong sambil bersujud pun papa nggak akan mau nolongin kamu!” cetus pak Abdi melakukan serangkaian serangan.“Ya ampun, Pa, segitunya. Yang anak Papa itu siapa sih? Aku apa Santi? Papa malah lebih ngebelanya?” dengus Bimo malah tidak mau kalah dengan ucapan Pak Abdi. “Papa beneran ya Bimo, Papa nggak bakal maafin kamu kalau Santi mengambil keputusan yang berbeda dengan pikiranmu. Saat ini Santi itu berada dalam tahap yang harus diperhatikan. Dia akan mudah lelah bukan hanya melayani kamu, tapi juga menjaga anak-anakmu. Dia pasti
Tidak peduli dimanapun, Lana selalu menjadi teman, adik yang paling baik untuk Santi. Dia akan selalu membelanya. Namun, ada sedikit rasa ragu dalam hati Santi.“Mana kak Bimo, mana orangnya, ma. Kalau aku ada disitu aku yang jambak rambutnya!” Lana masih bersemangat dari ujung pengeras suara telepon Rossa.“Apa sih, kamu, Lana!” Bimo sedikit sewot saat menjawabnya. Dia terdengar tidak suka saat mendengar Lana mengumpatnya.“Kakak, kamu ngapain kak Santi, aku nggak mau ya kakak nyakitin kak Santi. Kalau kakak ngelakuin itu, aku bakal kabur dari sini dan langsung pulang. Aku nggak mau lagi sama Alan!” ujar Santi dalam panggilan dengan nada setengah berteriak.“Aku udah kangen banget pengen ketemu kak Santi dan dua keponakanku … pokoknya kalau kak Bimo macam—macam sama kakak, kakak bilang aku ya!” Santi tidak bisa berkata saat mendapatkan dukungan yang paling besar.Padahal Lana bukanlah adik kandungnya, tapi dia memperlakukan Santi seperti kakaknya sendiri.“Jangan macam—macam Lana, A
“Apakah dulu aku salah mengambilnya keputusan? Aku terlalu cepat menerima lamaran hanya karena mas Bimo nggak ingin aku kembali lagi dengan Riki!” sambil menyusui, pikiran Santi terus melayang.Ada sedikit rasa sesal Santi jika melihat Bimo sekarang. Bimo seperti menjadi sosok lain setelah dia melahirkan atau itu memang hanya pikiran sempitnya saja.“Kenapa aku merasa mas Bimo berubah? Apa yang salah sebenarnya? Atau memang sejak awal aku yang sudah salah. Harusnya aku nggak ada diantara mereka. Aku bahkan nggak mengetahui banyak tentang kisah cinta mas Bimo sebelumnya. Aku hanya tahu, kalau mas Bimo suka sekali main dengan perawat papa.”Semakin dalam pikirannya, Santi semakin merasa goyah dengan segala prinsip kehidupannya.Dia merasa Bimo sudah berpaling hati atau memang sejak awal, Santi memang hanya seorang pengganti. Sekarang kisah lama suaminya sudah kembali, dia harus segera menyadarinya.Perasaan galau dan menyesakkan itu semakin mengganggu pikiran Santi. Dia tidak menyangka
“Aku bisa berbuat lebih gila lagi kalau kamu tidak memberikan balasan pesanku. Aku bisa masuk sekarang tanpa izin siapapun. Aku sanggup melakukannya. Asalkan aku bisa mendengar jawabanmu!”Ucapannya semakin terdengar tidak masuk akal, Baga masih menatap Santi dari bawah pagar rumah Bimo.Tatapannya yang sangat dalam mengartikan, dia tidak berbohong.“Jadi, apa jawabanmu, Sayang? Semakin kamu mengulur waktu, aku sama sekali tidak keberatan. Aku bisa tetap disini sambil memandangimu,” selagi Santi berpikir, aroma tekanan dari Baga semakin kuat.“Iya, baik, aku akan datang!” Santi langsung menjawabnya agar urusan segera selesai.“Sesuai waktu yang aku tentukan. Aku akan meminta orang untuk menjemputmu. Kamu juga bisa membawa anak-anak kita,” ucapannya lagi yang tidak masuk akal semakin membuat Santi frustasi dengan ucapannya.“Kamu gila! Itu nggak masuk akal. Aku bukan istrimu dan dia juga bukan anak-anakmu!” Santi hanya mengingatkan, kalau apa yang dilakukannya salah. “Istri? Apa kamu







