LOGINBaga melirik dengan cemas. Walaupun kepercayaan dirinya teramat tinggi, namun jika berhubungan dengan Santi dan tatapannya mulai beralih lagi pada Bimo, Baga juga akan merasakan hal tidak nyaman itu.“Sayang, aku mohon, dengarkan aku. Aku benar-benar sudah nggak menyentuhnya lagi. Dia bukan siapa-siapa meski ada benihku,” nyess lagi saat Santi mendengar pengakuannya langsung.“Kapan kau akan mengembalikan anak-anak,” sahut Santi ketus.Tubuhnya pasti bergetar. Dia juga tidak mungkin serta merta begitu saja percaya dengan ucapannya.“Sayang … apa kamu sudah benar-benar melupakan aku? Aku berjuang untuk mendapatkan kamu bukan hanya sekedar bualan atau permainan, aku benar-benar mencintaimu, Keenan dan Kinara. Aku nggak mau ada ibu pengganti untuk mereka. Kau istri dan juga ibu untuk anak-anakku.”Baga pasti akan kalah telak jika mendengar ucapannya. Bimo akan tetap memastikan dulu kalau hati Santi mulai goyah.Selanjutnya kalau dia
“Kau juga sama sepertiku kan, David? Kau pasti juga ingin membalas dendam atas apa yang sudah dia lakukan padamu,” seraya mengingatkan kenangan lalu Danira benar-benar ingin membuat orang lain yang membalaskan dendamnya. “Kau ini dasar wanita licik. Benar-benar nggak pernah disangka kalau ratu sekolah yang sangat dibanggakan ternyata sifat aslinya adalah seperti ini,” ejek laki-laki itu yang bernama David.“Apa salahnya? Aku awalnya nggak seperti ini, semua perubahan yang terjadi itu penyebabnya adalah dia. Kalau Bimo nggak berubah sampai seperti ini, aku nggak mungkin nekat sampai melakukan hal ini,” ujar Danira.Sepertinya dendam itu sudah mengakar di dalam hati dan jiwanya. Danira yang sekarang hatinya sudah dipenuhi oleh dendam. Dia merasa terkhianati oleh sikap Bimo yang menolak, bahkan sekarang terkesan membuangnya seperti sampah.“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” David penasaran dengan semua sikapnya, “Apa kau tetap akan pura-pura menjadi wanita polos dan baik hati? Menerima
“Sungguh aku tidak akan marah, kamu nggak perlu mengkhawatirkan itu. Seandainya nanti keputusanmu benar-benar berbeda, aku memang mungkin akan sangat kecewa. Namun, dibandingkan apapun, aku pasti akan mengutamakan kebahagiaanmu,” ujar Baga benar-benar tulus.Dia Mungkin memang sangat menginginkan Santi sebagai belahan jiwa juga pasangan hidupnya yang akan menemani hingga tua nanti. Tapi, melihat kondisinya saat ini, Baga tidak bisa terlalu banyak memaksa. Semua hal yang sudah mereka lakukan bukan hanya sekedar mainan atau perasaan yang hanya akan berlalu begitu saja, Baga sangat menghargai itu. Dia tidak mungkin melupakan wanita yang sangat dicintainya. Bertemu dengan Santi yang merupakan penolong adalah suatu hal yang tidak pernah Baga bayangkan. Hidupnya memang sudah menjadi milik Santi semenjak dia menolong Baga. Karena itu dia rela menjadi pengikut Santi seumur hidup meskipun nanti mungkin saja Santi akan memilih untuk melupakannya.Kagak harus mempersiapkan perasaan itu dan ti
Bimo masih berdiri mematung di depan gerbang tinggi kediaman Baga. Hujan gerimis mulai turun, membasahi bahu kemejanya yang kusut, namun egonya jauh lebih basah oleh rasa hina.Diusir oleh pengawal pria lain di depan rumah yang menampung istrinya sendiri adalah tamparan paling keras yang pernah dia terima. Dia mendapatkan ini karena karma sedang berlaku padanya.Memang bukan sepenuhnya benar-benar tinggal bersama, tapi menempatkan wanita itu ditempat yang khusus dan dijaga oleh beberapa pengawal itu adalah perlakuan Bimo yang tidak biasa.“Biarkan aku bertemu dengan Santi!” Bimo masih ngotot ingin bertemu, dia yakin pengawal itu diperintahkan untuk mengusirnya.“Nyonya sedang tidak di rumah. Sebaiknya anda pergi, Tuan!” pengawal tetao bersikeras mengusirnya.“Bohong! Kalian pasti sedang berbohong!” ujar Bimo masih tetap tidak mempercayai ucapan pengawal-pengawal itu.“Untuk apa kami berbohong, jika anda tidak percaya silahkan anda menghubungi nyonya secara langsung,” tantang pengawal
“Kamu benar-benar akan mengizinkanku, Bim? Kamu nggak berbohong kan?” Dengan suara sedikit lega Danira bisa tertolong. Asalkan dia bisa keluar semua usaha yang akan dilakukan tidak sia-sia. “Aku akan memerintahkan pengawal untuk tetap berada dalam jarak jangkauan mereka. Kalau kau merasa tidak nyaman Kau boleh meminta mereka sedikit menjauh,” ujar Bimo yang sudah bisa bernegosiasi dengan keinginannya. “Tetap saja itu bukan solusi. Aku nggak mau dilihat orang-orang seperti tahanan,” jawab danira sedang mencari alasan lagi, “aku benar-benar akan menurut, Bim. Aku nggak akan ganggu kamu lagi. Aku hanya ingin kebebasan dan kau mencabut dua orang ini dari sini. Aku nggak mau diawasi seperti aku adalah pembuat onar!” Danira sedang mengetes apakah Bimo masih memiliki perasaan sedikit saja padanya. “Nggak! Aku nggak mau mengambil resiko. Selama anak itu masih dalam perutmu, kamu adalah tanggung jawab keluargaku. Dan aku nggak mau terjadi sesuatu dengan anakku itu!” Tetap saja meski mendap
“Aku akan berbicara langsung dengan Bimo. Kalian nggak berhak ikut campur dan mengambil ponselku,” Danira sudah tahu tujuan mata mereka yang terus menatap karena Danira berbicara serius di telepon tadi.“Saya!” Danira mendelik dan mau tidak mau pengawal itu pergi.“Pergilah! Jangan ganggu aku dan anakku makan siang. Kalau ada apa-apa sama anakku, aku nggak akan sungkan melaporkan. Aku akan bilang, kalian menyiksaku,” ancam Danira karena sudah merasa tertekan dengan apa yang sedang terjadi.Dia tidak mengira kalau hidupnya akan lebih sulit dibandingkan dia dulu tinggal bersama ibu dan adik laki-lakinya. Perlakuan mereka setiap hari yang memeras keringat Danira membuatnya kehilangan semangat hidup, tapi sekarang dia merasa sudah menemukan seseorang yang bisa diandalkan malah membuatnya seperti seorang tahanan.Ternyata uang tidak bisa menjamin semua. Sekarang dia merasa lebih menderita dibandingkan dengan tinggal bersama ibu dan adik laki-lakinya.“Aku nggak akan mau dikurung seperti in







