Share

Tes

last update publish date: 2026-03-16 21:43:15

“Ada apa?” Meski merutuki dengan kata-kata yang tidak masuk akal, pada akhirnya Bimo masih mengangkat telepon itu.

“Aku ingin makan di luar, apa bisa kamu menemaniku?” Baru saja Dia tiba di rumah, Danira sudah mencari kesempatan untuk bertemu dengan Bimo.

“Aku nggak bisa melakukan itu dan jangan hubungi aku lagi kalau bukan urusan pekerjaan,” Bima berpikir sejenak, “itu pun nggak perlu kau lakukan, karena kau bukan lagi sekretarisku.” Bimo hampir saja melupakan kalau Danira sudah dipindahkan d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Perawat Papa   Kecewa

    “Sungguh aku tidak akan marah, kamu nggak perlu mengkhawatirkan itu. Seandainya nanti keputusanmu benar-benar berbeda, aku memang mungkin akan sangat kecewa. Namun, dibandingkan apapun, aku pasti akan mengutamakan kebahagiaanmu,” ujar Baga benar-benar tulus.Dia Mungkin memang sangat menginginkan Santi sebagai belahan jiwa juga pasangan hidupnya yang akan menemani hingga tua nanti. Tapi, melihat kondisinya saat ini, Baga tidak bisa terlalu banyak memaksa. Semua hal yang sudah mereka lakukan bukan hanya sekedar mainan atau perasaan yang hanya akan berlalu begitu saja, Baga sangat menghargai itu. Dia tidak mungkin melupakan wanita yang sangat dicintainya. Bertemu dengan Santi yang merupakan penolong adalah suatu hal yang tidak pernah Baga bayangkan. Hidupnya memang sudah menjadi milik Santi semenjak dia menolong Baga. Karena itu dia rela menjadi pengikut Santi seumur hidup meskipun nanti mungkin saja Santi akan memilih untuk melupakannya.Kagak harus mempersiapkan perasaan itu dan ti

  • Pesona Perawat Papa   Hati Yang Berubah

    Bimo masih berdiri mematung di depan gerbang tinggi kediaman Baga. Hujan gerimis mulai turun, membasahi bahu kemejanya yang kusut, namun egonya jauh lebih basah oleh rasa hina.Diusir oleh pengawal pria lain di depan rumah yang menampung istrinya sendiri adalah tamparan paling keras yang pernah dia terima. Dia mendapatkan ini karena karma sedang berlaku padanya.Memang bukan sepenuhnya benar-benar tinggal bersama, tapi menempatkan wanita itu ditempat yang khusus dan dijaga oleh beberapa pengawal itu adalah perlakuan Bimo yang tidak biasa.“Biarkan aku bertemu dengan Santi!” Bimo masih ngotot ingin bertemu, dia yakin pengawal itu diperintahkan untuk mengusirnya.“Nyonya sedang tidak di rumah. Sebaiknya anda pergi, Tuan!” pengawal tetao bersikeras mengusirnya.“Bohong! Kalian pasti sedang berbohong!” ujar Bimo masih tetap tidak mempercayai ucapan pengawal-pengawal itu.“Untuk apa kami berbohong, jika anda tidak percaya silahkan anda menghubungi nyonya secara langsung,” tantang pengawal

  • Pesona Perawat Papa   Mengejar Kembali

    “Kamu benar-benar akan mengizinkanku, Bim? Kamu nggak berbohong kan?” Dengan suara sedikit lega Danira bisa tertolong. Asalkan dia bisa keluar semua usaha yang akan dilakukan tidak sia-sia. “Aku akan memerintahkan pengawal untuk tetap berada dalam jarak jangkauan mereka. Kalau kau merasa tidak nyaman Kau boleh meminta mereka sedikit menjauh,” ujar Bimo yang sudah bisa bernegosiasi dengan keinginannya. “Tetap saja itu bukan solusi. Aku nggak mau dilihat orang-orang seperti tahanan,” jawab danira sedang mencari alasan lagi, “aku benar-benar akan menurut, Bim. Aku nggak akan ganggu kamu lagi. Aku hanya ingin kebebasan dan kau mencabut dua orang ini dari sini. Aku nggak mau diawasi seperti aku adalah pembuat onar!” Danira sedang mengetes apakah Bimo masih memiliki perasaan sedikit saja padanya. “Nggak! Aku nggak mau mengambil resiko. Selama anak itu masih dalam perutmu, kamu adalah tanggung jawab keluargaku. Dan aku nggak mau terjadi sesuatu dengan anakku itu!” Tetap saja meski mendap

  • Pesona Perawat Papa   Keluarga Danira Toxic

    “Aku akan berbicara langsung dengan Bimo. Kalian nggak berhak ikut campur dan mengambil ponselku,” Danira sudah tahu tujuan mata mereka yang terus menatap karena Danira berbicara serius di telepon tadi.“Saya!” Danira mendelik dan mau tidak mau pengawal itu pergi.“Pergilah! Jangan ganggu aku dan anakku makan siang. Kalau ada apa-apa sama anakku, aku nggak akan sungkan melaporkan. Aku akan bilang, kalian menyiksaku,” ancam Danira karena sudah merasa tertekan dengan apa yang sedang terjadi.Dia tidak mengira kalau hidupnya akan lebih sulit dibandingkan dia dulu tinggal bersama ibu dan adik laki-lakinya. Perlakuan mereka setiap hari yang memeras keringat Danira membuatnya kehilangan semangat hidup, tapi sekarang dia merasa sudah menemukan seseorang yang bisa diandalkan malah membuatnya seperti seorang tahanan.Ternyata uang tidak bisa menjamin semua. Sekarang dia merasa lebih menderita dibandingkan dengan tinggal bersama ibu dan adik laki-lakinya.“Aku nggak akan mau dikurung seperti in

  • Pesona Perawat Papa   Mati Rasa

    “Bimo?” suara serak dari ujung telepon menjawab, seakan dia juga terkejut karena sudah sangat lama tidak mendengar nama itu. “Iya, Bimo Prakoso Abdinegara!” secara lengkap Danira menyebutkan nama Bimo. Meski dia setengah berbisik saat berbicara, Danira agak menjauh dari dua pengawal tadi masuk kembali. Dia tidak ingin percakapannya di telepon di dengar mereka. “Kamu nggak sedang main-main dengan ucapanmu?” suara di ujung semakin penasaran, “lalu untuk apa kau malah tiba-tiba menghubungiku?” dia menegaskan kembali, dia tahu, tidak mungkin Danira menghubungi tanpa maksud terselubung. “Bukannya kamu ingin membalaskan luka yang pernah dia berikan dulu? Sekarang, ada kesempatan yang mungkin saja dia akan sangat menyesal karena sudah berurusan denganmu,” kali ini Danira serius menjalankan tokoh antagonisnya. Perasaan kecewa dan terluka akibat perbuatan Bimo, benar-benar ingin sekali Danira membalasnya dua kali lipat. Dia tidak akan berubah dan melepaskannya kali ini. Perasaan kecewanya s

  • Pesona Perawat Papa   Meminta Bantuan

    “Kamu tega berbuat seperti itu padaku, Bim?” Danira protes. Dia benar-benar tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini. Ini bukan hanya tentang penjara yang Bimo buat, tapi secara tidak langsung kebebasannya sudah dikekang. Akibat anak yang sedang berada di perutnya, Danira kehilangan kebebasan. “Seharusnya kau sudah sadar sejak awal, berani menanggung akibat atas perbuatan, berarti kamu siap mempertanggungjawabkan segalanya,” ujar Bimo tidak mau kalah. “Tapi, aku nggak nyangka kalau kamu sampai tega memperlakukanku seperti ini. Aku bukan tahanan, Bim. Aku nggak mau diperlakukan seperti ini. Aku punya hak dan kebebasan sendiri. Aku nggak mau dikurung dan mendapatkan penjagaan yang seperti itu!” Danira menolak tegas, namun kali ini dia sudah tidak punya hak untuk berbicara ataupun menolak. “Itu sudah menjadi pilihanmu. Sejak Kau bersiap menjadi atau membuat apapun yang seharusnya tidak terjadi. Ini adalah resiko yang harus kamu tanggung,” ujar Bimo. Sikapnya yang keras dan d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status