Share

Bab 131 Luluh

last update Last Updated: 2026-01-17 01:09:45

Satu dua sampai lima detik menunggu, Alisa masih menunggu respons Dirga. Sekilas, raut wajahnya menunjukkan keterkejutan. Tapi, mulutnya masih terbungkam rapat.

Rasanya seperti tak jauh berbeda berbicara dengan tembok.

Keheningan di antara mereka membuat Alisa canggung sendiri. Dia meringis pelan.

Hubby?

Dirga tidak mungkin luluh hanya mendengar nama panggilan tersebut.

Diam-diam Alisa malu sendiri dan ingin sekali menarik ucapannya beberapa saat lalu. Namun, semuanya sudah terlanjur terjadi.

Mata besarnya kemudian melirik Pak Badru yang tampak menahan senyum. Hal itu membuat Alisa merutukki aksi nekadnya.

Dia memejamkan mata bersamaan mendengar suara Dirga mengudara.

"Bawa dia.”

Tepat Alisa kembali membuka mata, Dirga sudah menyerahkan anak anjing dalam pangkuannya pada Pak Badru.

Dengan sigap, Pak Badru menerimanya.

Kini, giliran Alisa yang mematung di tempat. Mata besarnya yang berbinar seolah redup. Dia mengembuskan napas berat. Bahunya terlihat merosot tanpa semangat.

'Seharusnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Nur Deene
Thor jgn ponteng terus up nya.. makin lupa aku jalan ceritanya
goodnovel comment avatar
Adilah Ismail
ah malu malu kucing pulak hubby...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 131 Luluh

    Satu dua sampai lima detik menunggu, Alisa masih menunggu respons Dirga. Sekilas, raut wajahnya menunjukkan keterkejutan. Tapi, mulutnya masih terbungkam rapat.Rasanya seperti tak jauh berbeda berbicara dengan tembok.Keheningan di antara mereka membuat Alisa canggung sendiri. Dia meringis pelan.Hubby?Dirga tidak mungkin luluh hanya mendengar nama panggilan tersebut.Diam-diam Alisa malu sendiri dan ingin sekali menarik ucapannya beberapa saat lalu. Namun, semuanya sudah terlanjur terjadi.Mata besarnya kemudian melirik Pak Badru yang tampak menahan senyum. Hal itu membuat Alisa merutukki aksi nekadnya.Dia memejamkan mata bersamaan mendengar suara Dirga mengudara."Bawa dia.”Tepat Alisa kembali membuka mata, Dirga sudah menyerahkan anak anjing dalam pangkuannya pada Pak Badru.Dengan sigap, Pak Badru menerimanya.Kini, giliran Alisa yang mematung di tempat. Mata besarnya yang berbinar seolah redup. Dia mengembuskan napas berat. Bahunya terlihat merosot tanpa semangat.'Seharusnya

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 130 Hubby, Please

    Alisa tak sempat berpikir lebih lama ketika suara Sam kembali mengudara. “Alisa, tidak ingin melihat kadonya?” Pria itu menatap ke arahnya lantas menatap Dirga lalu menambahkan, “Aku rasa kalian berdua akan menyukainya.” Hal itu sukses membuat rasa penasaran Alisa melambung tinggi. Mungkin hadiah pernikahan Sam sedikit berbeda mengingat pria itu tidak menentengnya sendiri ke dalam rumah. Bermacam-macam dugaan mengisi kepala Alisa. Tapi, dengan cepat dia memutuskan pemikirannya tersebut dan memilih menatap Sam balik. “Oke, aku coba lihat ke depan,” angguknya. “Terima kasih, Kak Sam!” Sebelum melangkahkan kakinya pergi, Alisa melempar senyum penuh pada kakak sepupu Dirga itu. Tak pernah ada dalam bayangan Alisa sebelumnya jika pernikahannya dengan Dirga akan mendapatkan kelimpahan yang seperti tidak ada habisnya. ‘Wahh … diberi kado?’ batin Alisa menjerit senang. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya berdebar. Siapa yang tidak bahagia mendapatkan hadiah dari aktor favoritnya? Mungkin

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 129 Kedatangan Sepupu Dirga

    Ucapan Dirga yang terakhir kali terus menempel di dalam kepala Alisa bahkan setelah enam jam berlalu. ‘Memangnya apa yang sudah aku lakukan?’Ketika Alisa menanyakan maksud lebih jelasnya, Dirga hanya menjawab singkat, “Lupakan.”Suaranya terdengar dingin diakhiri dengusan pelan. Pun tepukan pelan di paha Alisa yang seolah memberikan isyarat agar dia bangkit dari pangkuan Dirga.“Aku ingin istirahat,” ucap pria itu dengan datar. “Bisa tinggalkan aku sendirian?”Mungkin Alisa masih kesulitan membaca sorot manik hitam legam Dirga. Namun, suara Dirga mudah dikenali. Itu bernada perintah.“Bisa, tentu saja …,” balas Alisa dengan perasaan yang bercokol kesal.Wanita itu bangkit dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil sprei dan merapikan tempat tidur secepat yang dia bisa. Alisa sempat mencuri pandangan. Didapatinya Dirga sudah berbaring dengan posisi yang terlihat memunggunginya.Alisa mengembuskan napas berat. Batinnya berbisik lirih, “Dirga mungkin butuh istirahat.”Walau sejujurnya

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 128 Dipat-pat

    Halmonie, aku mau bicara dengan Uncle!” Suara rengekan seorang bocah perempuan di seberang sana sontak menarik perhatian Alisa. Dalam hitungan detik, rasa malunya menguap, tergantikan dengan rasa penasaran mendengar suara lembut itu. Masih menenteng kotak P3K, Alisa melangkahkan kaki mendekat ke arah ranjang. Dirga sempat melirik sekilas sebelum akhirnya kembali fokus menatap layar ponselnya. “Uncle, ini Clarissa, keponakan Uncle yang paling imut dan cantik!” seru bocah itu dengan riang. Hal itu sukses membuat Dirga melengkungkan senyum di bibirnya. Walau tipis, Alisa bisa melihat ada ketulusan disana. “Uncle Dirga masih tertidur? Tidak berangkat kerja?” tanya Clarissa polos. Di sebelahnya, Larissa memberikan handuk kecil di kepala bocah tersebut. Alisa tak bisa menahan rasa ingin tahunya terhadap keponakan yang belum pernah ditemuinya itu. Maka, dia pun duduk di tepi ranjang, cukup dekat dengan Dirga agar bisa mengintip ke arah layar. Sambil menjawab pertanyaan Clarissa, Dirga

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 127 Cucu untuk Mama

    Beberapa saat kemudian, Alisa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia sedikit kesulitan berjalan mengingat kakinya cukup pegal akibat aktivitas semalam. Untuk menuruni anak tangga pun, Alisa melangkah dengan penuh kehati-hatian. Bi Mirna yang sedang membereskan ruang tengah langsung tergopoh-gopoh menghampirinya. “Selamat pagi, Bi,” sapa Alisa dengan senyum cerahnya. “Nona Alisa baik-baik saja?” tanya Bi Mirna dengan nada sedikit khawatir. Pandangannya mengarah pada kaki Alisa. Mengikuti arah pandang Bi Mirna, Alisa seketika meringis pelan. Sebisa mungkin dia berjalan dengan langkah tenang. “Tentu, aku baik. Tapi, Dirga demam pagi ini, Bi. Tolong buatkan bubur dan sup hangat, ya,” beritahu Alisa salam satu kali ucapan. Mata Bi Mirna membola. “Ya ampun, Tuan Dirga sakit?” Air wajahnya tampak panik. “Perlu dibawa ke rumah sakit sekarang?” Kepala Alisa menggeleng cepat. “Kalau demamnya tidak turun, kita bawa Dirga ke rumah sakit. Untuk sekarang, biar aku yang tangani du

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 126 Sisi Lain Dirga

    ‘Ya sudah, mau bagaimana lagi ….’ Pada akhirnya, Alisa memilih mengikuti suara hatinya dengan tetap tinggal di sisi Dirga. Bagaimanapun juga, itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang istri untuk merawat suaminya dalam keadaan sehat maupun sakit. Alisa mendongakkan wajah, menatap Dirga yang masih memejamkan mata. Wajah tampannya terlihat lebih pucat. Dia semakin tidak tega apabila meninggalkan Dirga. “Aku akan minta izin ke Argo untuk mengerjakan naskahnya di rumah,” beritahu Alisa dengan suara lembutnya. Diam-diam dia berdoa semoga Argo tidak keberatan. “Sekarang … bisa tolong lepaskan aku?” lanjutnya sambil menyipitkan mata. Dirga tak segera menjawab. Ketika Alisa mencoba melepaskan diri, pelukan pria itu justru tak mengendur sedikit pun. “Dirga …?” panggilnya lirih. Napas Alisa tertahan karena wajahnya nyaris menempel di dada pria itu. Dan lebih parahnya, Alisa tidak mengenakan apapun di tubuhnya. BLUSH Rasa panas kembali menjalar ke wajahnya. Ini jauh lebih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status