Share

Mengejar Ryuga

last update Huling Na-update: 2024-03-18 10:27:37

“Kami tidak saling kenal.” 

Claudia menghela napas, bersyukur Ryuga masih memiliki kebaikan hati. Bisa gawat nasibnya kalau masalah kemarin malam terbongkar!

Namun, detik berikutnya, Claudia mendengar pria itu menambahkan, “Hanya saja, dia tampak amatir.”

Ucapan itu membuat Claudia menatap Ryuga dengan pelipis berkedut. Pria ini … sedang menyindirnya seperti saat kejadian di malam yang lalu!

Tidak terima disindir seperti itu, Claudia membalas, “Saya rasa, Bapak tidak berhak menilai saya seperti itu. Bukankah Bapak tidak mengenal saya? Atas dasar dan bukti apa Bapak bisa menyimpulkan bahwa saya amatir?”

“Apakah ucapan saya menyinggung perasaan Bu Claudia?”

‘YA MENURUT BAPAK!?’ Claudia merengut dalam hatinya sebagai respons ucapan Ryuga.

Bu Yuli sadar bahwa tampaknya terjadi kesalahpahaman. Dia menatap Ryuga lalu Claudia, dan akhirnya memutuskan untuk mengambil alih menjelaskan, “Claudia, maksud Pak Ryuga bukan seperti itu. Pak Ryuga taunya kamu dosen baru di sini, jadi mungkin Pak Ryuga khawatir kamu akan cukup kesulitan memegang program acara gelar seni ini.”

“Terima kasih, Bu Yuli. Anda bisa menangkap kekhawatiran yang saya maksud.” Manik hitam Ryuga tak lepas dari Claudia. “Saya tahu program acara ini sukses besar sebelumnya. Jadi, saya menginginkan hal yang sama di masa mendatang. Itu artinya, butuh seseorang yang profesional agar program ini bisa sukses lebih besar lagi. Seseorang yang tidak akan ‘lari’ dari masalah.”

Mendengar itu Claudia tertawa dalam hati. Dia tidak sebodoh itu sampai tidak menyadari kalau Ryuga sedang mengejeknya, orang yang ‘lari’ dari hotel di malam yang lalu.

Masih enggan mengalah, Claudia membalas, “Seandainya Pak Ryuga ingin mengetahui kemampuan saya sudah sehandal apa, saya dengan senang hati bersedia mengirimkan portofolio milik saya pada Pak Ryuga.”

Tunggu sebentar, Claudia merasa ada yang salah. Kenapa dia terdengar seperti sangat ingin terlibat dalam proyek ini? Bukankah tadi dia ingin menolaknya!?

Ketika Claudia sadar dirinya salah langkah, Ryuga sendiri tampak menyunggingkan senyuman. Layaknya seorang pemburu yang berhasil menangkap mangsa.

Di sisi lain, melihat Ryuga tersenyum, Bu Yuli terkejut, sebab Ryuga biasanya selalu memasang wajah datar dan bersikap dingin. Harus Bu Yuli akui, senyum Ryuga terlihat mahal.

“Saya tidak perlu portofolio Anda, Bu Claudia.” Ryuga kemudian bangkit dari sofa. “Saya perlu bukti hasil program acara ini akan seperti apa nantinya,” imbuhnya seraya berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. 

Bu Yuli cepat-cepat berdiri. “Pak Ryuga, ucapan Anda bermaksud untuk mengatakan … bahwa Anda menerima rekomendasi saya, begitu?”

Ryuga menghentikan langkah, lalu berbalik untuk menatap Bu Yuli. “Bu Claudia Mada tampak sangat percaya diri dengan kemampuannya.” Dia pun melirik ke arah Claudia. “Dengan begitu, mari kita lihat bagaimana dia bisa menangani program besar ini.”

Lalu setelah mengatakan itu, Ryuga benar-benar pergi, menghilang ke balik pintu yang tertutup. 

Untuk sesaat, tidak ada yang bersuara, sampai akhirnya Bu Yuli cepat-cepat melompat ke arah Claudia. “Claudiaaaaa, congratulations sayang!” ucap wanita yang sudah memeluk Claudia dengan erat itu. “Hebatnya kamu dapat proyek besar di hari pertama kerja!”

Seharusnya ucapan selamat dari Bu Yuli itu membuat Claudia bahagia. Namun, entah kenapa ucapan itu malah membuat Claudia merasa putus asa.

Dia merasa seperti kelinci yang sudah masuk jebakan singa!

Dan lagi, ini hari pertama Claudia bekerja. Kenapa bebannya sudah seberat ini?

Menyadari Claudia melamun, Bu Yuli pun melepaskan pelukannya dan menatap Claudia dengan bertanya-tanya, “Claudia? Kok bengong sih?!” Dia melanjutkan, “Oh, Tante tahu. Kamu pasti kelewat seneng sampai bingung ‘kan?! Nggak masalah, Tante akan pandu kamu perihal program ini agar kamu bisa buktiin sama Pak Ryuga kalau–”

“Tan,” potong Claudia selagi menggigit bagian bibir dalamnya tanpa sadar. Dia menatap sang tante yang terdiam dan menatapnya bingung. “Aku … aku harus keluar dulu!”

“Loh, kok!?”

Claudia melepaskan pegangan Bu Yuli dan berkata seraya berlari keluar ruangan, “Nanti Claudia ke sini lagi!”

“Clau!”

Belum sempat Bu Yuli mengatakan apa pun, Claudia sudah lebih dulu pergi meninggalkan ruangan Dekan dengan tergesa.

Pokoknya, bagaimanapun, Claudia harus memastikan untuk menyelesaikan salah paham dan memastikan Ryuga tidak akan buka mulut tentang apa yang terjadi di antara mereka kepada siapa pun!

Di mana Ryuga!?’ batin Claudia bertanya-tanya. Sampai akhirnya di ujung pandangannya, sosok Ryuga berjalan di kejauhan. “Itu dia!”

Claudia gegas berusaha mengejar Ryuga. Namun, entah kenapa langkah pria itu begitu cepat!

'Astaga, apakah selain Presdir, diam-diam dia juga berprofesi sebagai atlet lari?! Jalannya cepet banget!’

Claudia melihat pria itu berbelok ke satu arah, dan hal itu membuat gadis tersebut mempercepat langkahnya. Namun, begitu sampai di tempat, dia bingung lantaran hanya ada tangga darurat dan jalan lurus ke depan.

Masa iya dia masuk tangga darurat?’ pikir Claudia. ‘Buat apa?!’ 

Baru saja bertanya begitu, tiba-tiba sebuah tangan langsung terjulur untuk meraih pinggang Claudia dan menariknya masuk ke dalam pintu tangga darurat.

“Ah! Mmph!”

Sempat memekik lantaran kaget, suara Claudia dengan cepat dibungkam oleh tangan besar yang menutup mulutnya. Punggungnya yang membentur dinding akibat himpitan tubuh tinggi menjulang di depan membuat Claudia sedikit takut, sampai akhirnya dia mengangkat pandangan dan melihat sosok yang berdiri di hadapannya.

Wajah dengan sepasang manik hitam tajam, hidung mancung, bibir tipis menggoda, dan rahang tegas itu sangatlah familier. Sama persis dengan wajah pria yang kemarin malam hampir tidur dengannya dan juga pria yang dia temui di ruang dekan tadi. 

'Pak Ryuga ….’

**

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (69)
goodnovel comment avatar
Adell Sibarani
bagaimana kelanjutan nya
goodnovel comment avatar
Yusraida Siregar
makin seru
goodnovel comment avatar
Tuti Rahman
episod slnjtx
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pesona Presdir Posesif   Ending Diana Garvi

    Pulang dari apartemen Anjani, senyum di bibir Aruna mengembang lebih lebar sampai-sampai Garvi yang menjemputnya sore itu merasa sedikit keheranan. Demikian, dibalik setir kemudinya, pria itu bertanya, “Apa ada kabar baik hari ini?”Di kursi penumpang, Aruna menoleh dengan penuh semangat. Kepalanya mengangguk kuat-kuat. “Yap, sebenarnya memang ada kabar baik. Tapi, karena ini masih rahasia, jadi Kak Garvi nggak boleh tahu dulu.”Seandainya saja kabar pernikahan Dirga diumumkan, bukankah itu akan menjadi kabar baik bagi orang-orang terdekatnya? Namun, karena sudah berjanji untuk tidak memberitahu siapapun, Aruna terpaksa mengunci mulutnya rapat-rapat.Pun, rencananya dengan Anjani yang akan pergi ke luar kota untuk mengurus urusan bisnis juga enggan Aruna beritahukan pada kakak laki-lakinya itu. Apalagi dia memiliki niatan lain untuk menemui Pras. Kalau sampai informasi itu bocor, besar kemungkinan pertemuan mereka akan gagal.Demi menghindari itu, Aruna memilih merahasiakannya dan mem

  • Pesona Presdir Posesif   Tawaran Anjani

    Aruna memiliki pilihan untuk menolak. Sayangnya, dia berakhir mengiakan permintaan Dirga. Tentu untuk mengulik tujuan tersembunyi pria tersebut. “Ada hubungan apa kamu dengan keluarga ini?” tanyanya sambil menoleh ke arah Dirga yang duduk di kursi kemudi mobil. Ya, keduanya sudah berpindah tempat dari cafe tadi dan meluncur pergi menuju mansion keluarga Blair. Mobil Dirga terparkir berhenti tak jauh dari mansion mewah di sekitar mereka. Belum sempat memberikan respons, ponsel Dirga berdering. Pria itu langsung mengangkatnya. Dan dalam hitungan detik, Dirga larut dalam pembicaraan panggilan tersebut. Sejujurnya Aruna merasa penasaran dan berniat menguping. Namun, itu bukan hal baik untuk dilakukan. Jadi, selagi menunggu Dirga selesai, Aruna mengotak-atik ponselnya. Pun, jari tangannya sibuk menekan layar ponsel. Aruna sibuk memikirkan hal lain, satu di antaranya adalah tentang keluarga Blair. Dia membatin, ‘Sudah lama aku nggak pernah melihat Natasha.’ Dimana wanita itu sekarang?

  • Pesona Presdir Posesif   Bertemu Dirga

    [Bisakah kita bertemu? Tapi, tolong jangan beritahu siapapun.] Aruna kembali membaca email yang dikirimkan Dirga. Lantas mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap ke sekitar. Kini, dia sudah berada di restoran–tempat janji temunya dengan Dirga. Sesekali dia menyeruput kopi pesanannya. Aruna mencoba meyakinkan diri bahwa keputusannya pagi ini untuk datang menemui Dirga adalah bukan sesuatu yang salah. Rasa penasaran memenuhi benaknya. Bukankah terakhir kali Dirga yang mengatakan untuk tidak saling bertemu lagi? Jadi, dengan alasan–ah, hal mendesak apa yang membuat pria itu kembali menghubunginya? Itu pasti sesuatu yang tak bisa dibicarakan melalui ponsel pintar. Selagi menunggu kedatangan Dirga, Aruna mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Pendingin di ruangan VIP ini cukup membuat tubuhnya sedikit menggigil. Mungkin karena bahan cardigan yang dia kenakan cukup tipis. Akan tetapi, tidak masalah mengingat ruangannya menjaga privasi dan menawarkan kenyamanan. Dia berharap t

  • Pesona Presdir Posesif   Pria di Masa Lalu

    “Aruna nggak mau jawab.” Menurutnya, itu pilihan yang tepat. Toh memberitahu Ryuga juga akan berakhir sia-sia. Daddy-nya menginginkan hubungannya berakhir, sementara dia sendiri berkebalikan dari itu. Aruna memiliki cara pandangnya sendiri. Baginya, terlalu mudah untuk mengakhiri hubungannya dengan Pras begitu saja. Ryuga tidak mengatakan apapun lagi setelahnya. Jawaban Aruna menutup perbincangan di antara ayah dan anak tersebut. Pun, setibanya di rumah, Aruna masuk ke dalam lebih dulu tanpa menunggu Daddy-nya. Kedatangannya langsung mendapatkan atensi Claudia beserta adik-adiknya yang tengah bersantai di ruang keluarga: Gara dengan Lego di tangan dan Cherrish tengah memakan camilan. “Kenapa sudah pulang, Na?” tanya Claudia kebingungan. Netra matanya menatap ke arah buah-buahan dan buket bunga yang ditenteng kedua tangan Aruna. Dia segera bisa menjawab pertanyaan sendiri. “Unga, mau!” Cherrish menengadahkan tangan seolah meminta buket bunga dari kakak pertamanya itu. “Buat Cher

  • Pesona Presdir Posesif   Aruna vs Ryuga

    “Ya, dijodohkan,” pertegas Ryuga seraya menganggukkan kepalanya. Masih menatap Ryuga, Aruna berusaha mencari celah kebohongan dari ucapan Daddy-nya barusan. Namun, tak ada keraguan sama sekali. Sepertinya ucapan Ryuga benar-benar serius. Alih-alih memberikan respons, Aruna meneguk ludahnya susah payah dan memilih melangkahkan kaki, meninggalkan Ryuga yang dengan cepat langsung mengekor di belakang. Dalam hatinya, Ryuga mengutuk dirinya sendiri. Langkahnya yang terbiasa tiga kali lebih cepat kini melambat, menyesuaikan dengan langkah Aruna. Manik hitamnya menatap tajam punggung putrinya yang terus melangkah tanpa menoleh. “Sial. Kenapa aku tidak bisa menahan diri?!” gumam Ryuga setengah kesal. Beberapa saat lalu, dia merasa sudah lepas kendali. Ucapan itu terlontar begitu saja dan kini Ryuga menyesalinya sebab membuat Aruna tak ingin bicara padanya. Entah darimana datangnya ide konyol tersebut. Dijodohkan? Ryuga mendengus kasar memikirkannya. Di depan sana, sama halnya Ryuga ya

  • Pesona Presdir Posesif   Life Update Aruna

    Seperti kakaknya Garvi yang membatalkan kencan, Aruna juga membatalkan kunjungan untuk menjenguk Sandra pada saat malam kepulangannya waktu itu. Ternyata tak mudah baginya untuk menemui baik Sandra maupun Pras setelah melihat panggilan video yang mencabik hatinya.Kala itu Ryuga menyetujui keputusan pembatalan Aruna. Terang-terangan Ryuga malah mengatakan, “Kalau mau bertemu Pras, silakan. Tapi, kalau Sandra … jangan coba-coba pergi menemuinya tanpa izin dari Daddy.”Demikian, Aruna perlu mencocokkan waktu agar Ryuga bisa menemaninya pergi menemui Sandra. Pun, dia sendiri membutuhkan keberanian untuk bisa menemui mereka.Bohong kalau semenjak saat itu Aruna bersikap baik-baik saja. Dia cukup kesulitan karena harus menahan diri untuk tak menceritakan perbuatan Pras dan Karina pada siapapun dan memilih menyimpannya sendirian.Beruntungnya, Aruna cukup ahli dalam hal menyembunyikan sesuatu. Jika tengah bersama keluarganya, dia akan memasang senyum sepanjang hari. Namun, setelah di kamar,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status