LOGINClaudia kehilangan kata-katanya saat netranya beradu dengan manik hitam milik Ryuga.
Ya, itu Ryuga.
Mau sebanyak apa pun Claudia mengedipkan mata, sosok yang sedang duduk di sofa itu tetaplah Ryuga. Tidak berubah bentuk menjadi seekor kucing, siluman jadi-jadian, atau pun menghilang layaknya hantu.
Sadar akan hal itu, Claudia langsung memekik dalam hati, ‘KENAPA PRIA ITU BISA DI SINI!?’
Claudia bertanya-tanya, sedang apa Ryuga di ruangan Dekan? Tidak mungkin kalau pria itu tahu identitas soal Claudia, bukan? Lagi pula, Mami sudah berjanji, bahkan dibayar mahal oleh Claudia agar privasinya itu terjaga dan aman!
Detik berikutnya, Claudia menutup mulutnya tak percaya. Apa jangan-jangan Ryuga adalah satu satu dosen juga di sini? Kebetulan macam apa ini!?
Bu Yuli yang sedari tadi melihat Claudia melirik ke arah Ryuga menangkap sinyal-sinyal asmara. Dia kira putri teman baiknya ini menyukai Ryuga. Alhasil, dia langsung berkata, “Claudia, sini masuk!”
Bu Yuli membuka pintu lebar-lebar, sengaja memberi kesempatan bagi Claudia untuk mengejar cintanya. Namun, Claudia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
“Nggak usah, Tante. Aku cuma mau kasih hampers dari Claire.” Dia menyodorkan hampers di tangan ke arah Bu Yuli. “Kalau masuk, aku takutnya ganggu.”
Halah, jelas-jelas Claudia tidak mau masuk karena ada Ryuga.
“Nggak kok, nggak ganggu!” kekeh Bu Yuli. “Udah masuk saja sini!” Alih-alih mengambil hampers di tangan Claudia, Bu Yuli malah menyambar lengan wanita itu dan menyeretnya masuk ke dalam ruangannya.
“Tante!” pekik Claudia membelalakkan matanya seiring Bu Yuli membawanya ke dalam ruangan.
“Kamu duduk di sini saja,” ujar Bu Yuli seraya memaksa Claudia duduk di salah satu sofa yang cukup dekat dengan tempat Ryuga.
Setelah itu, Bu Yuli menatap Ryuga. “Pak Ryuga, kenalkan, ini adalah Bu Claudia Mada, salah satu dosen baru berprestasi yang baru bergabung dengan kampus kami,” ucap Bu Yuli memperkenalkan.
Ryuga melirik ke arah Claudia. Manik hitamnya terasa menusuk wanita itu.
Ditatap seperti itu membuat Claudia frustasi. Bukan hanya di malam yang lalu dia salah mengenali Ryuga sebagai gigolo, dia juga kabur meninggalkan pria tersebut setelah memberikannya uang receh. Sekarang, mereka bertemu lagi di kampus sebagai dosen dan tamu dekan ….
Astaga, mau ditaruh mana muka Claudia sekarang!?
Claudia menoleh ke arah Bu Yuli. “Tante, sepertinya Tante sedang berbincang soal hal penting, ‘kan? Nggak pantas deh aku di sini ….” Dia masih mencoba untuk kabur.
Namun, Bu Yuli menggeleng. “Clau, kamu tahu 'kan dulu Ibu kamu yang menjalankan program gelar pameran seni untuk para dosen?” tanyanya.
Claudia mengangguk. Tentu saja dia ingat program ibunya itu, tapi kenapa mengungkitnya sekarang?!
Melihat Claudia mengangguk, Bu Yuli tersenyum. “Nah, Tante akan jalankan program acara itu lagi. Kali ini, Pak Ryuga Daksa di sini, selaku presdir dari Daksa Company, akan menjadi sponsor kita,” jelas Bu Yuli dengan senyum semringah, membuat Claudia mengangguk-angguk.
‘Oh, presdir. Syukur bukan dosen …,’ batin Claudia.
Namun, detik berikutnya tubuh Claudia membeku.
‘PRESDIR!?”
Dengan cepat, mata Claudia menatap ke arah Ryuga dengan wajah terkejut. Pria bernama Ryuga ini, yang sempat Claudia kira gigolo, ternyata adalah presdir dari perusahaan konglomerat multinasional Indonesia itu!?
Ingin rasanya Claudia menjambak rambutnya sendiri. ‘Claudia, kebodohan macam apa yang sudah kamu lakukan!?’
Mengira seorang presdir sebagai seorang gigolo, dan meninggalkan uang receh untuknya, pasti Ryuga menganggap Claudia telah menghinanya!
Tunggu, apa Ryuga juga akan membunuhnya!?
Ahhh! Claudia mau gila!!!
Tepat pada saat benak Claudia menggila, suara seseorang berdiri dari sofa terdengar, membuat Bu Yuli dan Claudia menoleh. Ternyata, Ryuga yang berdiri dari duduknya.
“Saya rasa, Anda punya tamu lain, Bu Yuli,” ujar Ryuga, mengisyaratkan bahwa dia terganggu dengan keberadaan Claudia. “Karena demikian, saya akan pamit terlebih dahulu.”
Mendengar itu, Claudia ingin bersorak, ‘Ya pergilah, Ryuga! Pergi dan jangan kembali lagi di hadapanku!’
Namun, Bu Yuli malah berkata, “Tunggu sebentar, Pak Ryuga.” Wanita itu berdiri, menahan kepergian Ryuga. “Jangan pergi dulu. Percakapan kita belum selesai.”
Kalimat Bu Yuli membuat Claudia menatap kenalan ibunya itu dengan wajah merengut, mempertanyakan kenapa kepergian Ryuga harus ditahan. Semakin lama pria itu di sini, sepertinya reputasi Claudia akan semakin terancam. Bisa-bisa Ryuga membongkar kejadian di malam lalu!
Ah, tapi tidak mungkin juga. Presdir Daksa Company ini pasti juga harus menyelamatkan reputasinya sendiri, ‘kan?
Ditinggal dengan uang receh oleh seorang wanita muda, itu sangat memalukan.
Berhasil menahan Ryuga, Bu Yuli pun lanjut menjelaskan, “Claudia ini adalah dosen Seni Rupa yang baru masuk. Dia yang saya rekomendasikan untuk menjadi penanggung jawab program acara gelar pameran seni nanti.”
Claudia kaget. Sejak kapan dia setuju untuk menjadi bagian dari program apa pun itu yang Bu Yuli sebutkan barusan?
Bu Yuli melanjutkan, “Dengan sifat Claudia yang tenang dan bertanggung jawab, ditambah dengan kemampuannya yang luar biasa perihal karya seni, saya merasa dia sangat cocok untuk posisi ini, Pak Ryuga.”
Claudia meneguk ludah. Apa ini perasaannya atau Bu Yuli tampak seperti seorang ibu yang sedang mempromosikan putrinya?
Sementara itu, Ryuga melirik ke arah Claudia, matanya memicing penuh keraguan. “Tenang dan bertanggung jawab? Saya rasa lebih cocok mengatakan bahwa dia berjiwa bebas.”
Komentar Ryuga membuat tubuh Claudia mematung. Wanita itu perlahan memutar kepalanya ke arah Ryuga, lalu tersenyum penuh arti pada pria tersebut.
‘Apa maksud Anda, Pak Ryuga?’ Itu yang sepertinya dikatakan oleh wajah Claudia.
Ucapan Ryuga membuat Bu Yuli agak kaget. “Sepertinya … Pak Ryuga mengenal Claudia?”
Claudia melirik Bu Yuli, lalu menoleh lagi ke Ryuga cepat. Wajahnya tampak memohon agar pria itu tidak mengatakan apa pun yang macam-macam. Sekali aib kemarin terbongkar, bukan hanya karirnya, tapi reputasinya sebagai putri sang ibu akan hancur di depan Bu Yuli!
Hal itu membuat sudut bibir Ryuga terangkat, lalu dia menatap Bu Yuli. “Kami ….”
Mata Claudia membola. Pria itu mau bilang apa?!
Pulang dari apartemen Anjani, senyum di bibir Aruna mengembang lebih lebar sampai-sampai Garvi yang menjemputnya sore itu merasa sedikit keheranan. Demikian, dibalik setir kemudinya, pria itu bertanya, “Apa ada kabar baik hari ini?”Di kursi penumpang, Aruna menoleh dengan penuh semangat. Kepalanya mengangguk kuat-kuat. “Yap, sebenarnya memang ada kabar baik. Tapi, karena ini masih rahasia, jadi Kak Garvi nggak boleh tahu dulu.”Seandainya saja kabar pernikahan Dirga diumumkan, bukankah itu akan menjadi kabar baik bagi orang-orang terdekatnya? Namun, karena sudah berjanji untuk tidak memberitahu siapapun, Aruna terpaksa mengunci mulutnya rapat-rapat.Pun, rencananya dengan Anjani yang akan pergi ke luar kota untuk mengurus urusan bisnis juga enggan Aruna beritahukan pada kakak laki-lakinya itu. Apalagi dia memiliki niatan lain untuk menemui Pras. Kalau sampai informasi itu bocor, besar kemungkinan pertemuan mereka akan gagal.Demi menghindari itu, Aruna memilih merahasiakannya dan mem
Aruna memiliki pilihan untuk menolak. Sayangnya, dia berakhir mengiakan permintaan Dirga. Tentu untuk mengulik tujuan tersembunyi pria tersebut. “Ada hubungan apa kamu dengan keluarga ini?” tanyanya sambil menoleh ke arah Dirga yang duduk di kursi kemudi mobil. Ya, keduanya sudah berpindah tempat dari cafe tadi dan meluncur pergi menuju mansion keluarga Blair. Mobil Dirga terparkir berhenti tak jauh dari mansion mewah di sekitar mereka. Belum sempat memberikan respons, ponsel Dirga berdering. Pria itu langsung mengangkatnya. Dan dalam hitungan detik, Dirga larut dalam pembicaraan panggilan tersebut. Sejujurnya Aruna merasa penasaran dan berniat menguping. Namun, itu bukan hal baik untuk dilakukan. Jadi, selagi menunggu Dirga selesai, Aruna mengotak-atik ponselnya. Pun, jari tangannya sibuk menekan layar ponsel. Aruna sibuk memikirkan hal lain, satu di antaranya adalah tentang keluarga Blair. Dia membatin, ‘Sudah lama aku nggak pernah melihat Natasha.’ Dimana wanita itu sekarang?
[Bisakah kita bertemu? Tapi, tolong jangan beritahu siapapun.] Aruna kembali membaca email yang dikirimkan Dirga. Lantas mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap ke sekitar. Kini, dia sudah berada di restoran–tempat janji temunya dengan Dirga. Sesekali dia menyeruput kopi pesanannya. Aruna mencoba meyakinkan diri bahwa keputusannya pagi ini untuk datang menemui Dirga adalah bukan sesuatu yang salah. Rasa penasaran memenuhi benaknya. Bukankah terakhir kali Dirga yang mengatakan untuk tidak saling bertemu lagi? Jadi, dengan alasan–ah, hal mendesak apa yang membuat pria itu kembali menghubunginya? Itu pasti sesuatu yang tak bisa dibicarakan melalui ponsel pintar. Selagi menunggu kedatangan Dirga, Aruna mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Pendingin di ruangan VIP ini cukup membuat tubuhnya sedikit menggigil. Mungkin karena bahan cardigan yang dia kenakan cukup tipis. Akan tetapi, tidak masalah mengingat ruangannya menjaga privasi dan menawarkan kenyamanan. Dia berharap t
“Aruna nggak mau jawab.” Menurutnya, itu pilihan yang tepat. Toh memberitahu Ryuga juga akan berakhir sia-sia. Daddy-nya menginginkan hubungannya berakhir, sementara dia sendiri berkebalikan dari itu. Aruna memiliki cara pandangnya sendiri. Baginya, terlalu mudah untuk mengakhiri hubungannya dengan Pras begitu saja. Ryuga tidak mengatakan apapun lagi setelahnya. Jawaban Aruna menutup perbincangan di antara ayah dan anak tersebut. Pun, setibanya di rumah, Aruna masuk ke dalam lebih dulu tanpa menunggu Daddy-nya. Kedatangannya langsung mendapatkan atensi Claudia beserta adik-adiknya yang tengah bersantai di ruang keluarga: Gara dengan Lego di tangan dan Cherrish tengah memakan camilan. “Kenapa sudah pulang, Na?” tanya Claudia kebingungan. Netra matanya menatap ke arah buah-buahan dan buket bunga yang ditenteng kedua tangan Aruna. Dia segera bisa menjawab pertanyaan sendiri. “Unga, mau!” Cherrish menengadahkan tangan seolah meminta buket bunga dari kakak pertamanya itu. “Buat Cher
“Ya, dijodohkan,” pertegas Ryuga seraya menganggukkan kepalanya. Masih menatap Ryuga, Aruna berusaha mencari celah kebohongan dari ucapan Daddy-nya barusan. Namun, tak ada keraguan sama sekali. Sepertinya ucapan Ryuga benar-benar serius. Alih-alih memberikan respons, Aruna meneguk ludahnya susah payah dan memilih melangkahkan kaki, meninggalkan Ryuga yang dengan cepat langsung mengekor di belakang. Dalam hatinya, Ryuga mengutuk dirinya sendiri. Langkahnya yang terbiasa tiga kali lebih cepat kini melambat, menyesuaikan dengan langkah Aruna. Manik hitamnya menatap tajam punggung putrinya yang terus melangkah tanpa menoleh. “Sial. Kenapa aku tidak bisa menahan diri?!” gumam Ryuga setengah kesal. Beberapa saat lalu, dia merasa sudah lepas kendali. Ucapan itu terlontar begitu saja dan kini Ryuga menyesalinya sebab membuat Aruna tak ingin bicara padanya. Entah darimana datangnya ide konyol tersebut. Dijodohkan? Ryuga mendengus kasar memikirkannya. Di depan sana, sama halnya Ryuga ya
Seperti kakaknya Garvi yang membatalkan kencan, Aruna juga membatalkan kunjungan untuk menjenguk Sandra pada saat malam kepulangannya waktu itu. Ternyata tak mudah baginya untuk menemui baik Sandra maupun Pras setelah melihat panggilan video yang mencabik hatinya.Kala itu Ryuga menyetujui keputusan pembatalan Aruna. Terang-terangan Ryuga malah mengatakan, “Kalau mau bertemu Pras, silakan. Tapi, kalau Sandra … jangan coba-coba pergi menemuinya tanpa izin dari Daddy.”Demikian, Aruna perlu mencocokkan waktu agar Ryuga bisa menemaninya pergi menemui Sandra. Pun, dia sendiri membutuhkan keberanian untuk bisa menemui mereka.Bohong kalau semenjak saat itu Aruna bersikap baik-baik saja. Dia cukup kesulitan karena harus menahan diri untuk tak menceritakan perbuatan Pras dan Karina pada siapapun dan memilih menyimpannya sendirian.Beruntungnya, Aruna cukup ahli dalam hal menyembunyikan sesuatu. Jika tengah bersama keluarganya, dia akan memasang senyum sepanjang hari. Namun, setelah di kamar,







