首頁 / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab³—Tante Cindy~

分享

Bab³—Tante Cindy~

作者: Na_Vya
last update publish date: 2026-02-11 21:05:50

Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap.

Suasana kafe cukup ramai di jam segini. Dan rata-rata pengunjungnya muda mudi. Bagas memilih meja paling ujung, yang hanya diisi dua kursi.

Setelah duduk tak lama waiters menghampiri Bagas dan menanyai pesanan.

"Saya pesen best seller-nya kafe ini aja, Mas," ucap Bagas..

"Baik, Kak. Best seller di kafe kami ada steak, croffle, rice bowl, croissant." Waiters pria berseragam merah itu memaparkan..

"Saya minta rice bowl aja, Mas," pinta Bagas, memilih makanan yang tidak ribet dan cepat disantap.

"Baik." Waiters mencatat pesanan Bagas. "untuk minumannya, Kak?"

"Es americano ada, gak?" Bagas butuh kafein setelah seharian ini tenaga dan pikirannya terkuras.

"Ada, Kak."

"Ya udah. Es americano aja."

"Baik. Silakan ditunggu, ya, Kak. Kami akan segera mengantarnya."

Waiters meninggalkan meja Bagas. Lalu pemuda itu mengambil ponselnya dari saku celana. Dia mengetik pesan untuk seseorang.

[Entar malem gue ke tempat lo, Van. Agak maleman kayaknya. Elo tidur dulu aja. Gak usah nunggu gue.]

Pesan terkirim, dan langsung centang dua, dan berwarna biru.

Senyum Bagas seketika terukir.

[Oke.]

Kening Bagas mengernyit ketika pesan balasan yang terlalu singkat itu masuk. "Gitu doang?"

Bagas kembali mengirim pesan.

[Mau gue bawain apa?]

Tak lama pesan balasan masuk.

[Gak usah bawa apa-apa, Gas. Entar yang ada aku gendut kalo setiap hari kamu bawain cemilan malem. Cukup kamu dateng aja, aku udah seneng.]

Duh... Hati Bagas langsung berbunga-bunga mendapat pesan manis seperti itu. Dia sampai senyum-senyum sendiri kayak orang gila.

[Enak yang lebih berisi, Van. Tapi punya lo masih pas kok, di telapak tangan gue😋]

Bagas membalas pesan itu lagi, dengan emoji melet.

[Mesum!👊🏻]

Bagas terkekeh membaca pesan balasan yang disertai emoji tangan meninju. Saking asyiknya, dia sampai tidak sadar kalau ada seseorang yang sedang memerhatikannya.

"Lingga?" seru wanita seumuran Maudy, yang berdiri di depan meja Bagas. Dia tadi sedang lewat, dan tidak sengaja melihat seorang pemuda yang dia kenal. Lantas memberanikan diri untuk menghampiri.

Atensi Bagas dari layar hape seketika berpindah. Keningnya mengernyit, berusaha mengenali perempuan berpotongan bob seleher itu. Penampilannya yang seksi cukup mampu menyamarkan usia yang tidak lagi muda.

Tapi...

Sumpah! Bagas lupa saking banyaknya perempuan-perempuan seumuran tante di hadapannya ini yang pernah memakai jasanya.

"Tante …." Sengaja Bagas tidak menyebut nama, karena dia takut salah sebut.

Dia meringis sambil menggaruk pelipis, dan membatin, 'Siapa, ya? Gue beneran gak inget nama ini tante. Kalo salah sebut bisa kacau.'

"Kamu lupa sama tante?"

Raut Bagas seketika pucat. Dia menelan ludah susah payah. "Lingga …."

 "Aku Cindy, temennya Maudy," ucap tante yang mengaku bernama Cindy itu. "kamu masih inget 'kan? Pesta di Labuan Bajo beberapa bulan yang lalu?"

Pelan-pelan kening Bagas mengernyit. Otaknya sedang berusaha mengingat-ingat nama itu.

Tante Cindy?

Labuan Bajo?

***

"Papa!" teriak remaja yang masih duduk di kelas tiga SMP itu ketika mendapati ayahnya gantung diri di plafon kamar, dan sudah tidak bernyawa.

"Ada apa, Bagas?" Seorang wanita menyusul saat mendengar suara teriakan sang anak, yang memanggil papanya.

Tanpa menoleh ke arah sang mama, Bagas menunjuk papanya. "Papa, Ma. Papa. Papa …." Tangis remaja laki-laki itu pun pecah, karena sang papa tak lagi merespon panggilannya.

Sang mama membeku menyaksikan pemandangan itu. "Mas Radit! Mas! Mas Radit!" Dia berlari mendekat, memeluk kaki sang suami yang sudah terbujur kaku. "Mas Radit … Mas, kamu tega ninggalin kami. Kamu tega! Kenapa kamu malah ninggalin kami, Mas …."

Tangisan ibu dan anak itu memenuhi ruangan. Dalam sekejap semuanya telah berubah. Mereka berharap jika semua ini hanyalah mimpi buruk. Sang penopang hidup memutuskan untuk pergi selamanya tanpa memberi pesan. Meninggalkan beban yang seharusnya masih dia tanggung.

"Papamu udah gak ada, Bagas. Papamu udah ninggalin kita." Sang mama terisak di atas gundukan tanah merah yang masih basah, di depan foto sang suami.

Bagas memeluk erat sang mama, yang masih belum ingin pergi dari makam sang papa. "Masih ada Bagas, Ma. Bagas yang akan jagain Mama. Mama gak perlu khawatir."

Dari luar dia terlihat tegar karena tidak ingin membebani sang mama dengan kesedihannya. Namun, dalam hatinya ada luka bercampur amarah.

"Kita udah gak punya apa-apa, Bagas. Keluarga kita hancur. Papa kamu bunuh diri gara-gara perempuan itu. Dia … Dia yang jadi penyebab keluarga kita hancur, Bagas. Perempuan itu udah nipu papa kamu. Jalang itu udah nipu papa kamu."

Hati anak mana yang tidak teriris menyaksikan mamanya terisak di atas pembaringan terakhir papanya. Mengingat, sang mama adalah perempuan yang ceria dan paling tegar.

 Namun, ketika sosok yang selama ini mendampingi sudah tak berpijak di bumi, dia rapuh dan kehilangan pegangan.

"Ma ... udah, Ma. Ayo kita pulang." Bagas berusaha keras membujuk sang mama, yang tangisnya makin pecah. Memeluknya erat-erat, seolah dia ingin sang mama tahu jika masih ada dirinya di sini, yang akan menjaga dan mendampingi.

"Mama benci perempuan itu! Mama benci! Mama benci!" Bu Sandra memaki orang yang sudah menjadi penyebab semua ini. "harusnya dia yang mati! Bukan papamu." Dia mengutuk jalang yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya.

Dan pada akhirnya hujan pun turun dari langit yang menggelap, membasahi tubuh keduanya yang berbalut pakaian berduka. Seakan Tuhan ingin meluruhkan duka dari hati mereka yang baru saja ditinggalkan.

Tetapi, tidak dengan dendam yang terlanjur bersemayam. Sebuah janji kepada sang mama dari anak laki-lakinya. Bahwa dia akan membalas setiap tetes air mata dan rasa sakit sang mama, serta mengambil apa yang sudah dicuri oleh jalang itu.

Ya ... Bagas berjanji ....

"Mama!" Bagas tersentak dari tidurnya. Rautnya pias. Napasnya terengah, titik-titik keringat dingin muncul di sekitar dahi dan pelipis.

Kenangan buruk itu seolah sudah menjadi kembang tidur Bagas setiap hari.

Melekat dan mungkin akan selamanya terus membayangi.

"Lingga, kamu kenapa?" Cindy yang baru saja keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan bathrobe, dengan handuk yang tergulung di kepala, bergegas menghampiri Bagas di ranjang.

Detik itu juga Bagas tersadar, jika dia masih berada di kamar hotel bersama Cindy. Dia juga ingat, setelah memberi service untuk wanita cantik itu, dia tertidur.

Bagas menatap ke arah Cindy yang nampak mencemaskannya. "Lingga gak pa-pa, Tante," ucapnya menepis kecemasan Cindy.

"Kamu beneran gak pa-pa?" Telapak tangan Cindy mengusap kening Bagas yang berkeringat. "kamu mimpi buruk, ya?" Ditelisiknya lamat-lamat raut Bagas, yang agak memucat.

Bagas hanya tersenyum, lalu menarik tangan Cindy dan menggenggamnya. "Lingga gak pa-pa, Tante. Beneran." Sebisa mungkin dia menutupi hal itu.

"Beneran?"

Bagas mengangguk, dan mengalihkan pembicaraan, "Tante udah mandi?" tanyanya sambil menghirup aroma wangi sabun yang menguar dari tubuh Cindy. "tante wangi banget." Bagas melabuhkan kecupan basah di lekukan leher wanita itu.

Cindy menggeliat kegelian karena ulah Bagas. "Geli, Lingga."

"Tante gak pengen lagi?" Bagas sudah membawa Cindy ke pangkuan. Meremas pinggul wanita itu yang tentunya langsung bereaksi. "mumpung aku lagi baik hati. Aku kasih bonus. Gimana?"

"Gak bisa, Lingga," tolak Cindy.

Namun, desahan yang lolos dari bibir Cindy, saat Bagas meremas area dadanya cukup mewakili. "Pesawat suami tante bentar lagi landing. Tante diminta jemput ke bandara." Tubuh Cindy justru berkata lain.

Bagas menghentikan cumbuannya. Menarik diri, memberi jarak, dan menatap wajah Cindy, "Sayang banget, Tan," cicitnya frustrasi.

"Besok-besok 'kan masih bisa, Lingga." Cindy mengusap pipi Bagas, dan menciumnya. "tante nanti yang hubungin kamu."

Cindy akui jika dia ketagihan dengan service Bagas meskipun pemuda itu tidak memasukinya. Dia justru dibuat makin penasaran karenanya dia berencana untuk menyewa pemuda ini lagi.

Bagas mengerling polos, memberi tatapan seolah dia kecewa. "Ya udah."

"Anak pinter …." Cindy tersenyum dan mencubit gemas pipi Bagas.

***

bersambung...

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁵—Hari spesial untuk Rachel~

    Rachel membuka pintu rumah perlahan. Sementara Marco, Sandi, dan Firman mengikutinya dari belakang.Begitu satu langkah memasuki ruang tamu, lampu yang semula redup mendadak menyala lebih terang.Pandangan Rachel langsung tertuju ke meja makan. Di sana Vanila berdiri sambil membawa strawberry cheesecake yang dihiasi lilin angka dua puluh. Nyala api kecil itu bergoyang pelan diterpa embusan pendingin ruangan.Di belakang Vanila tergantung beberapa balon putih dan merah muda. Sederhana..Namun cukup membuat suasana rumah terasa hangat.Vanila tersenyum lembut dan menyeru, "Selamat ulang tahun, Rachel."Langkah Rachel langsung terhenti. Matanya membulat. Tatapannya bergantian memandang Vanila, kue ulang tahun, lalu Bagas yang berdiri tak jauh darinya."Kalian..." gumamnya lirih. "... ini semua..."Bagas menyeru, "Surprise!"Hanya satu kata. Namun cukup membuat pertahanan Rachel runtuh. Kedua tangannya perlahan menutup mulut. Air mata yang sejak tadi ditahannya kembali mengalir."Bukannya

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁴—Kejutan#3

    Begitu keluar dari toko perlengkapan bayi, Rachel masih beberapa kali menoleh ke belakang. Tatapannya seolah belum rela meninggalkan deretan pakaian mungil yang tadi sempat mereka lihat. Bagas yang berjalan di sampingnya tersenyum dan bertanya, "Kepikiran?" Rachel mengangguk kecil. "Iya." Bagas melirik sekilas ke arah Rachel. "Pengen beli?" Rachel langsung menggeleng cepat. "Enggak." "Kenapa?" Rachel mengusap pelan perutnya. "Masih lama, Mas. Baru empat bulan. Lagian... " Dia tersenyum malu. "...jenis kelaminnya aja belum pasti." Bagas mengangguk setuju."Iya juga." Mereka lantas kembali berjalan menyusuri lorong pusat perbelanjaan. Suasana sore itu mulai semakin ramai. Beberapa toko sudah menyalakan lampu-lampu etalase. Musik instrumental terdengar mengalun pelan dari pengeras suara. Rachel tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan sebuah toko aksesoris. "Mas." "Hm?" Lihat deh." Bagas menoleh. Di balik kaca etalase tampak deretan gantungan kunci berbentuk berbagai macam

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶³—Kejutan#2

    Mobil Bagas akhirnya berhenti di pelataran sebuah pusat perbelanjaan. Begitu mesin dimatikan, Rachel langsung menoleh heran."Mas...""Hm?""Kita gak salah belok?" Bagas membuka sabuk pengamannya.."Enggak. "Katanya mau makan.""Iya."Rachel kembali melihat bangunan besar di depannya. "Terus kenapa ke sini?"Bagas hanya tersenyum kecil. "Ikut aja. Ayo."Rachel mengembuskan napas pelan. "Bikin penasaran aja."Bagas terkekeh pelan. "Sabar. Sekali-kali boleh 'kan?"Rachel akhirnya mengangguk pasrah. "Yaudah."---Begitu memasuki pusat perbelanjaan, hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka.Suasana siang itu cukup ramai. Beberapa keluarga tampak berjalan santai. Anak-anak kecil berlarian sambil menggenggam balon. Sesekali terdengar suara tawa memenuhi lorong. Rachel tanpa sadar memperhatikan sepasang suami istri yang sedang mendorong stroller bayi. Dia ersenyum kecil lalu refleks mengusap perutnya.Bagas yang melihat itu ikut tersenyum. "Ada apa?" Rachel menggeleng.

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶²—Kejutan#1

    Bagas masih menatap lembar hasil USG yang berada di tangannya. Sudah hampir lima menit sejak mereka keluar dari ruang praktik dr. Yoshi.Namun, tatapannya tak juga beralih dari foto hitam putih berukuran kecil itu.Sesekali dia tersenyum sendiri, lalu menggeleng pelan. Kemudian kembali melihatnya lagi.Rachel yang berjalan di sampingnya hanya bisa menahan tawa. "Mas ….""Hm?""Itu fotonya nanti juga dibawa pulang.""Iya.""Terus kenapa dilihatin terus?"Bagas tersenyum kecil. "Soalnya lucu."Rachel mengangkat sebelah alis. "Lucu?""Iya. Padahal masih kecil begini." Bagas menunjuk gambar di foto itu. "Ini hidungnya."Rachel langsung melongok. "Yang mana?""Nah... ini."Rachel menyipitkan mata. "Mas, itu kayaknya tangan."Bagas terdiam beberapa detik. "Hah?"Rachel tak lagi mampu menahan tawanya. "Kmu juga sebenernya gak tau, kan?"Bagas langsung ikut tertawa. "Sedikit.""Sedikit apanya?""Sedikit bingung."Rachel menggeleng geli. "Papa baru.""Iya." Bagas mengakui tanpa malu. "Belajar.

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶¹—Jenis Kelamin Anak Pertama~

    Mobil Bagas melaju membelah jalanan Kota Jakarta yang mulai dipenuhi kendaraan. Sesekali Rachel menoleh ke luar jendela. Sudah cukup lama dia tidak benar-benar menikmati suasana kota.Selama beberapa bulan terakhir, hidupnya seolah berhenti. Kesedihan karena kehilangan Roy. Kasus hukum Maudy. Kehamilan yang datang di saat tak pernah diduga.Semua itu membuat dunianya hanya berkisar antara rumah, rumah sakit, dan kantor polisi.Hari ini... Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rachel merasa sedikit lebih ringan.Entah karena mualnya mulai berkurang. Atau... Karena sejak tadi Bagas tak berhenti membuatnya tersenyum."Mas." Rachel menoleh ke arah Bagas. "Hm?""Kamu beneran lupa jadwal kontrol?"Bagas menggaruk tengkuknya. "Iya."Rachel terkekeh. "Parah.""Sorry." "Kalau aku gak nelepon?"Bagas melirik sekilas ke arah Rachel, dan. menyahut, "Mungkin baru inget malam."Rachel tertawa sampai memegangi perutnya. "Untung anak kita belum bisa ngomong," celetuknya. "Loh?""Nanti dia nga

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁰—Kontrol~

    Tiga hari telah berlalu sejak Bagas memenuhi panggilan penyidik. Selama tiga hari itu pula, dia berusaha menjalani rutinitas seperti biasa—mengurus beberapa pekerjaan yang sempat tertunda, dan menyempatkan diri ke kelab untuk berpamitan kepada Mami Kumala. Biar bagaimanapun perempuan itu sudah sangat baik padanya selama ini. Mami Kumala sudah sangat banyak membantunya. Beliau juga turut senang karena akhirnya Maudy mendapat ganjaran. Bagas juga sesekali menemui Marco untuk membahas perkembangan kasus Maudy.Namun, sesibuk apa pun dirinya, pikirannya tetap saja kembali pada surat milik Roy Darmawan yang kini tersimpan sebagai barang bukti di ruang penyimpanan Polres.Kalimat pembukanya terus terngiang di kepalanya. "Untuk Rachel, putri kecil Papi yang paling Papi sayangi..."Bagas mengembuskan napas pelan. Dia menatap secangkir kopi yang sejak tadi mulai mendingin di atas meja. Semalam dia bahkan sulit memejamkan mata. Bukan karena memikirkan persidangan. Melainkan memikirkan bagaim

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶⁰—Sudah bisa diajak bicara~

    Orang itu memarkir mobilnya beberapa meter dari mobil Bagas. Lantas, langsung turun dan membuntuti Bagas masuk dengan jarak yang tentunya aman. Sementara Bagas yang tidak sadar jika sedang diikuti, terus berjalan melewati lorong demi lorong tanpa merasa curiga sedikit pun. Langkahnya agak cepat

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷—Pernikahan~

    Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari tempat, penghulu dan para saksi. Oh, jangan lupa mas kawin yang berupa cincin berlian, yang past

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶—Ajakan nikah dadakan~

    Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸—Rumah Maudy~

    Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan. "Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol." Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalaha

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status