MasukSore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap.
Suasana kafe cukup ramai di jam segini. Dan rata-rata pengunjungnya muda mudi. Bagas memilih meja paling ujung, yang hanya diisi dua kursi. Setelah duduk tak lama waiters menghampiri Bagas dan menanyai pesanan. "Saya pesen best seller-nya kafe ini aja, Mas," ucap Bagas.. "Baik, Kak. Best seller di kafe kami ada steak, croffle, rice bowl, croissant." Waiters pria berseragam merah itu memaparkan.. "Saya minta rice bowl aja, Mas," pinta Bagas, memilih makanan yang tidak ribet dan cepat disantap. "Baik." Waiters mencatat pesanan Bagas. "untuk minumannya, Kak?" "Es americano ada, gak?" Bagas butuh kafein setelah seharian ini tenaga dan pikirannya terkuras. "Ada, Kak." "Ya udah. Es americano aja." "Baik. Silakan ditunggu, ya, Kak. Kami akan segera mengantarnya." Waiters meninggalkan meja Bagas. Lalu pemuda itu mengambil ponselnya dari saku celana. Dia mengetik pesan untuk seseorang. [Entar malem gue ke tempat lo, Van. Agak maleman kayaknya. Elo tidur dulu aja. Gak usah nunggu gue.] Pesan terkirim, dan langsung centang dua, dan berwarna biru. Senyum Bagas seketika terukir. [Oke.] Kening Bagas mengernyit ketika pesan balasan yang terlalu singkat itu masuk. "Gitu doang?" Bagas kembali mengirim pesan. [Mau gue bawain apa?] Tak lama pesan balasan masuk. [Gak usah bawa apa-apa, Gas. Entar yang ada aku gendut kalo setiap hari kamu bawain cemilan malem. Cukup kamu dateng aja, aku udah seneng.] Duh... Hati Bagas langsung berbunga-bunga mendapat pesan manis seperti itu. Dia sampai senyum-senyum sendiri kayak orang gila. [Enak yang lebih berisi, Van. Tapi punya lo masih pas kok, di telapak tangan gue😋] Bagas membalas pesan itu lagi, dengan emoji melet. [Mesum!👊🏻] Bagas terkekeh membaca pesan balasan yang disertai emoji tangan meninju. Saking asyiknya, dia sampai tidak sadar kalau ada seseorang yang sedang memerhatikannya. "Lingga?" seru wanita seumuran Maudy, yang berdiri di depan meja Bagas. Dia tadi sedang lewat, dan tidak sengaja melihat seorang pemuda yang dia kenal. Lantas memberanikan diri untuk menghampiri. Atensi Bagas dari layar hape seketika berpindah. Keningnya mengernyit, berusaha mengenali perempuan berpotongan bob seleher itu. Penampilannya yang seksi cukup mampu menyamarkan usia yang tidak lagi muda. Tapi... Sumpah! Bagas lupa saking banyaknya perempuan-perempuan seumuran tante di hadapannya ini yang pernah memakai jasanya. "Tante …." Sengaja Bagas tidak menyebut nama, karena dia takut salah sebut. Dia meringis sambil menggaruk pelipis, dan membatin, 'Siapa, ya? Gue beneran gak inget nama ini tante. Kalo salah sebut bisa kacau.' "Kamu lupa sama tante?" Raut Bagas seketika pucat. Dia menelan ludah susah payah. "Lingga …." "Aku Cindy, temennya Maudy," ucap tante yang mengaku bernama Cindy itu. "kamu masih inget 'kan? Pesta di Labuan Bajo beberapa bulan yang lalu?" Pelan-pelan kening Bagas mengernyit. Otaknya sedang berusaha mengingat-ingat nama itu. Tante Cindy? Labuan Bajo? *** "Papa!" teriak remaja yang masih duduk di kelas tiga SMP itu ketika mendapati ayahnya gantung diri di plafon kamar, dan sudah tidak bernyawa. "Ada apa, Bagas?" Seorang wanita menyusul saat mendengar suara teriakan sang anak, yang memanggil papanya. Tanpa menoleh ke arah sang mama, Bagas menunjuk papanya. "Papa, Ma. Papa. Papa …." Tangis remaja laki-laki itu pun pecah, karena sang papa tak lagi merespon panggilannya. Sang mama membeku menyaksikan pemandangan itu. "Mas Radit! Mas! Mas Radit!" Dia berlari mendekat, memeluk kaki sang suami yang sudah terbujur kaku. "Mas Radit … Mas, kamu tega ninggalin kami. Kamu tega! Kenapa kamu malah ninggalin kami, Mas …." Tangisan ibu dan anak itu memenuhi ruangan. Dalam sekejap semuanya telah berubah. Mereka berharap jika semua ini hanyalah mimpi buruk. Sang penopang hidup memutuskan untuk pergi selamanya tanpa memberi pesan. Meninggalkan beban yang seharusnya masih dia tanggung. "Papamu udah gak ada, Bagas. Papamu udah ninggalin kita." Sang mama terisak di atas gundukan tanah merah yang masih basah, di depan foto sang suami. Bagas memeluk erat sang mama, yang masih belum ingin pergi dari makam sang papa. "Masih ada Bagas, Ma. Bagas yang akan jagain Mama. Mama gak perlu khawatir." Dari luar dia terlihat tegar karena tidak ingin membebani sang mama dengan kesedihannya. Namun, dalam hatinya ada luka bercampur amarah. "Kita udah gak punya apa-apa, Bagas. Keluarga kita hancur. Papa kamu bunuh diri gara-gara perempuan itu. Dia … Dia yang jadi penyebab keluarga kita hancur, Bagas. Perempuan itu udah nipu papa kamu. Jalang itu udah nipu papa kamu." Hati anak mana yang tidak teriris menyaksikan mamanya terisak di atas pembaringan terakhir papanya. Mengingat, sang mama adalah perempuan yang ceria dan paling tegar. Namun, ketika sosok yang selama ini mendampingi sudah tak berpijak di bumi, dia rapuh dan kehilangan pegangan. "Ma ... udah, Ma. Ayo kita pulang." Bagas berusaha keras membujuk sang mama, yang tangisnya makin pecah. Memeluknya erat-erat, seolah dia ingin sang mama tahu jika masih ada dirinya di sini, yang akan menjaga dan mendampingi. "Mama benci perempuan itu! Mama benci! Mama benci!" Bu Sandra memaki orang yang sudah menjadi penyebab semua ini. "harusnya dia yang mati! Bukan papamu." Dia mengutuk jalang yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Dan pada akhirnya hujan pun turun dari langit yang menggelap, membasahi tubuh keduanya yang berbalut pakaian berduka. Seakan Tuhan ingin meluruhkan duka dari hati mereka yang baru saja ditinggalkan. Tetapi, tidak dengan dendam yang terlanjur bersemayam. Sebuah janji kepada sang mama dari anak laki-lakinya. Bahwa dia akan membalas setiap tetes air mata dan rasa sakit sang mama, serta mengambil apa yang sudah dicuri oleh jalang itu. Ya ... Bagas berjanji .... "Mama!" Bagas tersentak dari tidurnya. Rautnya pias. Napasnya terengah, titik-titik keringat dingin muncul di sekitar dahi dan pelipis. Kenangan buruk itu seolah sudah menjadi kembang tidur Bagas setiap hari. Melekat dan mungkin akan selamanya terus membayangi. "Lingga, kamu kenapa?" Cindy yang baru saja keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan bathrobe, dengan handuk yang tergulung di kepala, bergegas menghampiri Bagas di ranjang. Detik itu juga Bagas tersadar, jika dia masih berada di kamar hotel bersama Cindy. Dia juga ingat, setelah memberi service untuk wanita cantik itu, dia tertidur. Bagas menatap ke arah Cindy yang nampak mencemaskannya. "Lingga gak pa-pa, Tante," ucapnya menepis kecemasan Cindy. "Kamu beneran gak pa-pa?" Telapak tangan Cindy mengusap kening Bagas yang berkeringat. "kamu mimpi buruk, ya?" Ditelisiknya lamat-lamat raut Bagas, yang agak memucat. Bagas hanya tersenyum, lalu menarik tangan Cindy dan menggenggamnya. "Lingga gak pa-pa, Tante. Beneran." Sebisa mungkin dia menutupi hal itu. "Beneran?" Bagas mengangguk, dan mengalihkan pembicaraan, "Tante udah mandi?" tanyanya sambil menghirup aroma wangi sabun yang menguar dari tubuh Cindy. "tante wangi banget." Bagas melabuhkan kecupan basah di lekukan leher wanita itu. Cindy menggeliat kegelian karena ulah Bagas. "Geli, Lingga." "Tante gak pengen lagi?" Bagas sudah membawa Cindy ke pangkuan. Meremas pinggul wanita itu yang tentunya langsung bereaksi. "mumpung aku lagi baik hati. Aku kasih bonus. Gimana?" "Gak bisa, Lingga," tolak Cindy. Namun, desahan yang lolos dari bibir Cindy, saat Bagas meremas area dadanya cukup mewakili. "Pesawat suami tante bentar lagi landing. Tante diminta jemput ke bandara." Tubuh Cindy justru berkata lain. Bagas menghentikan cumbuannya. Menarik diri, memberi jarak, dan menatap wajah Cindy, "Sayang banget, Tan," cicitnya frustrasi. "Besok-besok 'kan masih bisa, Lingga." Cindy mengusap pipi Bagas, dan menciumnya. "tante nanti yang hubungin kamu." Cindy akui jika dia ketagihan dengan service Bagas meskipun pemuda itu tidak memasukinya. Dia justru dibuat makin penasaran karenanya dia berencana untuk menyewa pemuda ini lagi. Bagas mengerling polos, memberi tatapan seolah dia kecewa. "Ya udah." "Anak pinter …." Cindy tersenyum dan mencubit gemas pipi Bagas. *** bersambung...Dari kantor Maudy, Bagas langsung menuju Rumah Sakit. Namun, sebelum itu dia mampir ke toko bunga yang kebetulan berjejer tepat di depan Rumah Sakit. Wah.. Bagas sama sekali tidak memerhatikan selama ini—jika ada banyak toko bunga di dekat Rumah Sakit. "Kenapa gue gak ngeh, ya?" Bagas merutuk dirinya, sambil melihat-lihat bunga-bunga yang ditata rapi dan warnanya sangat cantik. Hidungnya mencium setiap aroma yang menguar dari beberapa bunga yang memiliki wangi yang cukup tajam. Contohnya bunga sedap malam. Dan pilihan Bagas tentunya jatuh pada bunga mawar merah, sesuai permintaan Vanila. "Mbak, saya mau mawar merah ini. Tolong dirangkai yang bagus, ya," ucap Bagas pada perempuan pemilik toko bunga tersebut. "Baik, Mas. Silakan ditunggu sebentar." Selagi menunggu, Bagas pun berinisiatif untuk pergi ke toko kue yang jaraknya tidak terlalu jauh dari toko bunga. Entah mengapa, tiba-tiba dia ingin makan cake yang manis-manis. Di toko kue, Bagas membeli cheese cake y
"Eum ... Sebenernya suami tante ...." Maudy nampak tengah berpikir keras—antara ingin bicara sekaligus ragu. Bila Bagas perhatikan, perempuan itu agaknya ingin mengatakan sesuatu yang menyangkut soal Roy Darmawan. Namun, entah mengapa Bagas melihat keraguan dari sorot mata Maudy. 'Semoga dia mau cerita soal Roy sama gue.' Kalau Maudy mau cerita tentang Roy, tentunya sangat menguntungkan bagi Bagas. Masalahnya, perempuan ini nampak begitu hati-hati. Maudy mengulas senyum tipis, kemudian mengangkat cangkir kopinya lagi. Disesapnya lagi capucino buatan Bagas, sedikit demi sedikit sambil berpikir keras. Bagas menghela panjang, dan terlihat tak sabar. Pemuda itu masih menatap Maudy, yang bersikap tenang, tetapi sedikit mencurigakan. "Begini, Lingga." Maudy meletakkan cangkir ke atas meja. Menjilat bibir, lalu, "hmm ... Sebenernya ada yang mau tante kasih tau ke kamu." Rautnya berubah serius, dan tatapannya nampak sangat yakin, seolah-olah dia sudah siap bicara. Sedangka
Beberapa saat setelah bercinta di dalam mobil~ Raut Bagas terlihat semringah saat keluar dari pantry dengan membawa nampan berisi secangkir kopi, yang dibuatnya khusus untuk Maudy. Langkah Bagas begitu mantap saat berjalan melewati meja Susan, yang menatapnya keheranan. "Kamu bikin kopi buat Ibu?" tanya Susan, melirik sekilas pada cangkir kopi yang asapnya mengepul ke atas. Bagas berhenti sebentar di depan meja Susan, lalu mengangguk. "Biar keliatan ada kerjaan, Mbak," sahutnya, yang kemudian meringis. "Kan tadi udah kerja? Ikut Ibu meeting di luar, ke sana kemari." "Iya, sih... Anggep aja ini sebagai penutup sebelum saya pulang." "Ooh..." Susan menatap Bagas dengan raut penuh makna. Dan Bagas yang paham, buru-buru kabur. "Ya udah, Mbak. Aku ke ruangan Bu Maudy dulu. Keburu kopinya adem." Sebelum Susan menjawab, Bagas lebih dulu pergi dari hadapan perempuan itu. Selama beberapa hari bekerja di perusahaan Maudy, dan sering berinteraksi dengan beberapa staf perempuan t
Matahari mulai beranjak saat Bagas memarkir mobilnya di basement kantor. Dia lantas membuka pengait sabuk pengaman. Sejurus kemudian dia beringsut maju mendekat pada Maudy. Bagas membantu perempuan itu— membukakan sabuk pengaman. Hal yang sudah terbiasa dia lakukan semenjak bersama Maudy. Bagas memainkan perannya dengan apik selama ini. Bersikap manis dan memberi perhatian kecil, yang sering dia berikan untuk para tante-tante penyewa jasanya. Hati perempuan mana yang tidak akan meleleh dan menghangat, apabila terus diperlakukan sedemikian rupa. Tak terkecuali Maudy, yang semakin hari semakin mengaguminya. Bagas bisa menjamin seribu persen. Terbukti, saat ini Maudy menatapnya dengan tatapan kagum. Dan tak ragu mengecup pipinya. Bagas mengulas senyum ketika Maudy memujinya, "Makasih ganteng." Perempuan itu menyeringai nakal, seraya mengusap pipi Bagas. Tatapan matanya pun tak lepas dari bibir Bagas. "Sama-sama, Cantik." Bagas membelai pipi Maudy dengan punggung tangan.
Untuk pertama kalinya Bagas bertemu dengan orang-orang untuk membicarakan masalah pekerjaan. Membahas hal-hal yang menurutnya sangatlah asing di telinga. Jujur, urusan tersebut bukanlah dalam ranah Bagas yang hanya lulusan Sekolah Menengah Ke Atas. Bisnis, faktur penjualan, pendapatan dan lain sebagainya. Pembicaraan yang bagi Bagas sangatlah menguras pikiran dan otak. Dia sama sekali tidak paham maupun mengerti dengan semua itu. Bukannya Bagas tidak ingin belajar dan berusaha memahami ranah yang kali ini dia datangi. Mungkin pelan-pelan dia akan belajar dan mencari tahu tentang ilmu bisnis. Sebab, mau tidak mau Bagas harus mempunyai skill tersebut untuk kelangsungan hidupnya di masa yang akan datang. Bila nanti tiba waktunya, perusahaan sang ayah yang telah diambil Maudy jatuh ke tangannya lagi. Mau tidak mau Bagas harus memiliki kemampuan dalam bidang bisnis. Tak mau jika hasil kerja keras sang ayah terbuang sia-sia hanya karena dia yang belum memiliki pengalaman. Contohny
"Oh, gue belum ngomong, ya, sama lo." Bagas mengingat sesuatu. "Apa?" Kening Rachel mengernyit, lalu memberanikan diri duduk di samping Bagas. Tanpa melihat lawan bicaranya, Bagas berucap lagi, "Bokap lo masih hidup. Dia sekarang ada di rumah sakit." "Apa? Papi masih hidup?" Raut Rachel terkejut setengah hidup—antara syok sekaligus tidak percaya. Reaksi Rachel menarik perhatian Bagas. Melihat gadis itu tertegun sambil menatap tak percaya padanya, membuat hati Bagas merasakan desiran aneh. Mungkin, kabar yang Bagas berikan barusan telah memberi harapan baru pada Rachel yang selama ini yakin—jika sang papi masih hidup. Sorot mata gadis itu terlalu kentara sekali. Senang bercampur sedih. Bola mata bulat Rachel berkaca-kaca.. "Elo gak bohong 'kan, Lingga?" Manik Rachel yang mengembun menatap Bagas penuh harap. "bokap gue...." "Bokap lo masih hidup, Chel," ucap Bagas, sambil mengisap filter tembakau yang masih menyala. "dia ada di rumah sakit tapi dalam kondisi koma." Ketika







