Share

Bab²—Informan~

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-02-11 14:41:58

"Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami.

"Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sekilas, lalu memainkan telunjuknya pada rahang pemuda itu dan berbisik, "suami Tante lagi di luar negeri. Jadi, gak ada masalah."

Terkejut pastinya.

Jawaban Maudy sungguh di luar dugaan Bagas, bahkan perempuan itu berani melanggar norma yang ada.

Alis Bagas naik tipis. "Tante yakin?" tanyanya. "Lingga gak punya apa-apa, loh, Tan. Lingga cuma gigolo bayaran, gak punya masa depan." Bagas mengusap-usap kepala Maudy, seolah dia terlihat sangat peduli.

Aslinya mah kagak!

Bodo amat!

Yang penting untuk saat ini Maudy sudah berada dalam kendali. Urusan suaminya itu bisa diatur lagi.

Ya ampun, ternyata segampang itu jebak nenek-nenek satu ini. Bagas pikir Maudy tidak akan pernah memikirkan soal nikah.

"Uang tante banyak, Lingga," ucap Maudy. "kamu nanti jadi suami kontrak tante selama setahun. Gimana? Nanti tante kasih apa pun yang Lingga mau. Apartemen? Mobil?" Telunjuknya bermain-main di perut Bagas yang keras, dan padat.

'Yang gue mau nyawa lo, Jalang!' Bagas menyahut dalam hati, dengan seringai tipis di sudut bibir.

"Nanti kita bisa nikah siri aja. Udah," kata Maudy lagi, kemudian menggelayut manja di pundak Bagas. "Mau, ya, Lingga? Mau mau?" Dia menciumi rahang Bagas berulang-ulang.

Bagas terkekeh, kegelian. Kedua lengannya langsung merengkuh pinggang ramping Maudy, membuatnya makin merapat. "Oke-oke. Lingga mau."

Maudy menyeringai senang. "Beneran, ya?" tanyanya, yang masih belum yakin. "kita nikah siri dan kontrak selama setahun, loh, Lingga."

"Iya, Tan. Iya," sahut Bagas, mengecup leher Maudy lalu menyesapnya sampai berbekas kemerahan. "Lingga mau."

Maudy tersenyum senang mendengar persetujuan Bagas. Melingkarkan lengan di pundak Bagas dia berkata dengan nada manja, "Kalo udah jadi suami tante, Lingga gak boleh nerima job lain. Apalagi job dari temen-temen Tante."

"Siap, Nyonya," sahut Bagas, lalu mencium pipi Maudy. "Sekarang kita lanjut, gak, nih? Tante mau pindah tempat apa mau di sini lagi?"

Maudy menggigit bibir bawah, sambil berpikir sejenak. "Kayaknya di bawah shower asik, deh, Lingga. Kayak waktu di Puncak. Kamu tambah ganteng kalo basah-basahan." Maudy terkikik.

Tanpa aba-aba Bagas mengangkat Maudy, menggendong bak bayi koala yang menempel. Lalu, Berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar hotel itu.

 "Nanti masuk angin, loh, Tan." Bagas membuka pintu kamar mandi perlahan, lantas masuk dan berhenti di depan bak wastafel. Pantulan punggung Maudy terlihat begitu seksi di cermin.

"Gak akan. Kan ada kamu, Lingga." Maudy melingkar erat di pinggang Bagas, lalu memagut bibir pemuda itu. "kita semaleman main air."

Keduanya lantas tertawa bersama, suara mereka menggema di kamar mandi. Bagas menurunkan Maudy tepat di bawah shower yang langsung dia putar dan mengeluarkan air dingin.

"Kita lembur malem ini." Dia mengusap belahan sensitif milik Maudy yang sudah sangat basah.

"Tante gak sabar." Maudy memagut bibir Bagas dengan gerakan tergesa.

~~~

Tepat pukul tujuh pagi Bagas dan Maudy check out dari hotel.

"Dua hari ini tante yang bakal urus keperluan nikah kita, Lingga," ucap Maudy, yang saat ini berdiri di depan mobilnya.

Bagas mengangguk. "Santai aja, Tan. Gak usah buru-buru," katanya santai, berbanding terbalik dengan kata hatinya yang saat ini sedang bersorak gembira.

"Tante yang gak bisa santai, Lingga." Maudy mencebik.

"Iya-iya." Bagas memeluk wanita yang pagi ini sudah berpenampilan sangat rapi, karena setelah dari sini Maudy langsung berangkat ke perusahaan.

Keduanya lantas berpisah di basement parkir setelah saling memagut singkat. Maudy memasuki mobil warna merah miliknya dan Bagas memasuki mobil warna hitam miliknya.

***

Pukul delapan Bagas tiba di unitnya. Tempat tinggal yang dibelinya secara kontan dari hasil jual diri. Istilah itu terdengar sangat menjijikkan, tetapi bagi Bagas semua itu tak ada artinya dibanding dengan rasa sakit yang hampir bertahun-tahun dia simpan sendirian.

Bagas langsung merebahkan diri di kasur, untuk sekadar mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Efek semaleman mandi sambil main di air, sepertinya mulai dirasakan pemuda itu..

Matanya terpejam, dan untuk sejenak pikirannya kembali pada usahanya beberapa bulan yang lalu, ketika dia sengaja mendekati Maudy, yang sering mendatangi kelab.

Upaya mendekati Maudy pun bukan perkara sulit bagi Bagas yang memiliki daya tarik bagi para wanita-wanita kesepian sejenis Maudy. Dan dari sanalah dia tahu, jika wanita empat puluh lima tahun itu sering menyewa berondong bayaran.

Sebelumnya, Bagas tentu sudah mencari informasi terkait kehidupan Maudy, yang dikenal sebagai wanita karier yang sangat sukses. Wanita itu juga dikenal sebagai istri pengusaha pemilik online shop terbesar di negeri ini.

Namun, tak ada yang tahu jika semua yang dimiliki Maudy bukanlah murni hasil kerja keras. Perusahaan yang saat ini Maudy kuasai merupakan perusahaan hasil mencuri dari milik Pak Raditya Saputra.

Bagaskara Saputra adalah putra kandung dari Raditya Saputra. Sepuluh tahun yang lalu seorang pengusaha sukses dikabarkan mengalami kebangkrutan dan tak lama gantung diri karena tidak sanggup menanggung beban utang.

Kabar tersebut sempat menjadi perbincangan banyak orang kala itu. Kebangkrutan serta kematian tidak wajar Raditya Saputra seolah sebuah hiburan yang menarik.

Sudut mata Bagas melelehkan cairan bening, saat ingatan pahit itu terlintas. Panas menjalar di dada. Rasa sakit akan kehilangan sang papa mengubahnya menjadi pria pendendam.

"Papamu, Bagas. Papamu. Papamu mati gara-gara jalang itu. Dia yang sudah membunuh papamu. Jalang itu yang sudah menghancurkan keluarga kita."

Kalimat yang syarat akan kehilangan dan putus asa dari sang ibu, tak pernah terhapus dari ingatan Bagas selama ini. Seakan kalimat itu menguatkan keinginan balas dendamnya.

Dan tiba-tiba suara ponsel membuat Bagas membuka mata. Diambilnya benda pipih miliknya itu dari saku celana.

Di layar tertera nama 'Informan—1'.

"Halo?" Bagas bersiap menerima info dari seseorang di seberang sana.

"Hari ini Maudy ke rumah sakit, Gas," kata si informan.

Kening Bagas mengernyit samar, dengan raut terlihat penasaran. "Rumah sakit?" tanyanya. "Ngapain dia ke rumah sakit?"

"Gue gak tau," kata si informan. "tapi, dari yang gue liat, dia kayak udah janjian sama dokter di sana."

"Dia ke rumah sakit." Seingat Bagas, Maudy tadi sempat bilang kalau dia ada meeting penting di kantor. Karenanya wanita itu berangkat pagi-pagi sekali dan terlihat terburu-buru.

Tetapi rupanya, wanita itu justru pergi ke rumah sakit.

"Rumah sakit mana?" tanya Bagas, yang kemudian bangkit dan duduk.

"Rumah sakit swasta, Gas."

Bagas tercenung sejenak, lalu berkata, "Oke, makasih infonya. Kalo gitu elo awasin dia terus."

"Oke-oke. Gue mau lanjut dulu."

Pembicaraan singkat itu berakhir. Bagas menghela panjang, dan cukup penasaran dengan apa yang dilakukan Maudy di rumah sakit daerah.

"Dia ngapain ke rumah sakit?" Otak Bagas berpikir keras, menerka-nerka sendiri. Namun yang ada kepalanya malah berdenyut.

***

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁵—Hari spesial untuk Rachel~

    Rachel membuka pintu rumah perlahan. Sementara Marco, Sandi, dan Firman mengikutinya dari belakang.Begitu satu langkah memasuki ruang tamu, lampu yang semula redup mendadak menyala lebih terang.Pandangan Rachel langsung tertuju ke meja makan. Di sana Vanila berdiri sambil membawa strawberry cheesecake yang dihiasi lilin angka dua puluh. Nyala api kecil itu bergoyang pelan diterpa embusan pendingin ruangan.Di belakang Vanila tergantung beberapa balon putih dan merah muda. Sederhana..Namun cukup membuat suasana rumah terasa hangat.Vanila tersenyum lembut dan menyeru, "Selamat ulang tahun, Rachel."Langkah Rachel langsung terhenti. Matanya membulat. Tatapannya bergantian memandang Vanila, kue ulang tahun, lalu Bagas yang berdiri tak jauh darinya."Kalian..." gumamnya lirih. "... ini semua..."Bagas menyeru, "Surprise!"Hanya satu kata. Namun cukup membuat pertahanan Rachel runtuh. Kedua tangannya perlahan menutup mulut. Air mata yang sejak tadi ditahannya kembali mengalir."Bukannya

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁴—Kejutan#3

    Begitu keluar dari toko perlengkapan bayi, Rachel masih beberapa kali menoleh ke belakang. Tatapannya seolah belum rela meninggalkan deretan pakaian mungil yang tadi sempat mereka lihat. Bagas yang berjalan di sampingnya tersenyum dan bertanya, "Kepikiran?" Rachel mengangguk kecil. "Iya." Bagas melirik sekilas ke arah Rachel. "Pengen beli?" Rachel langsung menggeleng cepat. "Enggak." "Kenapa?" Rachel mengusap pelan perutnya. "Masih lama, Mas. Baru empat bulan. Lagian... " Dia tersenyum malu. "...jenis kelaminnya aja belum pasti." Bagas mengangguk setuju."Iya juga." Mereka lantas kembali berjalan menyusuri lorong pusat perbelanjaan. Suasana sore itu mulai semakin ramai. Beberapa toko sudah menyalakan lampu-lampu etalase. Musik instrumental terdengar mengalun pelan dari pengeras suara. Rachel tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan sebuah toko aksesoris. "Mas." "Hm?" Lihat deh." Bagas menoleh. Di balik kaca etalase tampak deretan gantungan kunci berbentuk berbagai macam

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶³—Kejutan#2

    Mobil Bagas akhirnya berhenti di pelataran sebuah pusat perbelanjaan. Begitu mesin dimatikan, Rachel langsung menoleh heran."Mas...""Hm?""Kita gak salah belok?" Bagas membuka sabuk pengamannya.."Enggak. "Katanya mau makan.""Iya."Rachel kembali melihat bangunan besar di depannya. "Terus kenapa ke sini?"Bagas hanya tersenyum kecil. "Ikut aja. Ayo."Rachel mengembuskan napas pelan. "Bikin penasaran aja."Bagas terkekeh pelan. "Sabar. Sekali-kali boleh 'kan?"Rachel akhirnya mengangguk pasrah. "Yaudah."---Begitu memasuki pusat perbelanjaan, hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka.Suasana siang itu cukup ramai. Beberapa keluarga tampak berjalan santai. Anak-anak kecil berlarian sambil menggenggam balon. Sesekali terdengar suara tawa memenuhi lorong. Rachel tanpa sadar memperhatikan sepasang suami istri yang sedang mendorong stroller bayi. Dia ersenyum kecil lalu refleks mengusap perutnya.Bagas yang melihat itu ikut tersenyum. "Ada apa?" Rachel menggeleng.

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶²—Kejutan#1

    Bagas masih menatap lembar hasil USG yang berada di tangannya. Sudah hampir lima menit sejak mereka keluar dari ruang praktik dr. Yoshi.Namun, tatapannya tak juga beralih dari foto hitam putih berukuran kecil itu.Sesekali dia tersenyum sendiri, lalu menggeleng pelan. Kemudian kembali melihatnya lagi.Rachel yang berjalan di sampingnya hanya bisa menahan tawa. "Mas ….""Hm?""Itu fotonya nanti juga dibawa pulang.""Iya.""Terus kenapa dilihatin terus?"Bagas tersenyum kecil. "Soalnya lucu."Rachel mengangkat sebelah alis. "Lucu?""Iya. Padahal masih kecil begini." Bagas menunjuk gambar di foto itu. "Ini hidungnya."Rachel langsung melongok. "Yang mana?""Nah... ini."Rachel menyipitkan mata. "Mas, itu kayaknya tangan."Bagas terdiam beberapa detik. "Hah?"Rachel tak lagi mampu menahan tawanya. "Kmu juga sebenernya gak tau, kan?"Bagas langsung ikut tertawa. "Sedikit.""Sedikit apanya?""Sedikit bingung."Rachel menggeleng geli. "Papa baru.""Iya." Bagas mengakui tanpa malu. "Belajar.

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶¹—Jenis Kelamin Anak Pertama~

    Mobil Bagas melaju membelah jalanan Kota Jakarta yang mulai dipenuhi kendaraan. Sesekali Rachel menoleh ke luar jendela. Sudah cukup lama dia tidak benar-benar menikmati suasana kota.Selama beberapa bulan terakhir, hidupnya seolah berhenti. Kesedihan karena kehilangan Roy. Kasus hukum Maudy. Kehamilan yang datang di saat tak pernah diduga.Semua itu membuat dunianya hanya berkisar antara rumah, rumah sakit, dan kantor polisi.Hari ini... Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rachel merasa sedikit lebih ringan.Entah karena mualnya mulai berkurang. Atau... Karena sejak tadi Bagas tak berhenti membuatnya tersenyum."Mas." Rachel menoleh ke arah Bagas. "Hm?""Kamu beneran lupa jadwal kontrol?"Bagas menggaruk tengkuknya. "Iya."Rachel terkekeh. "Parah.""Sorry." "Kalau aku gak nelepon?"Bagas melirik sekilas ke arah Rachel, dan. menyahut, "Mungkin baru inget malam."Rachel tertawa sampai memegangi perutnya. "Untung anak kita belum bisa ngomong," celetuknya. "Loh?""Nanti dia nga

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁰—Kontrol~

    Tiga hari telah berlalu sejak Bagas memenuhi panggilan penyidik. Selama tiga hari itu pula, dia berusaha menjalani rutinitas seperti biasa—mengurus beberapa pekerjaan yang sempat tertunda, dan menyempatkan diri ke kelab untuk berpamitan kepada Mami Kumala. Biar bagaimanapun perempuan itu sudah sangat baik padanya selama ini. Mami Kumala sudah sangat banyak membantunya. Beliau juga turut senang karena akhirnya Maudy mendapat ganjaran. Bagas juga sesekali menemui Marco untuk membahas perkembangan kasus Maudy.Namun, sesibuk apa pun dirinya, pikirannya tetap saja kembali pada surat milik Roy Darmawan yang kini tersimpan sebagai barang bukti di ruang penyimpanan Polres.Kalimat pembukanya terus terngiang di kepalanya. "Untuk Rachel, putri kecil Papi yang paling Papi sayangi..."Bagas mengembuskan napas pelan. Dia menatap secangkir kopi yang sejak tadi mulai mendingin di atas meja. Semalam dia bahkan sulit memejamkan mata. Bukan karena memikirkan persidangan. Melainkan memikirkan bagaim

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁵—Iseng nawarin pulang~

    Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

    Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab³—Tante Cindy~

    Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹—Masuk Perangkap🔞

    "Lingga …." Desahan bernada putus asa itu lolos dari bibir wanita cantik, yang saat ini sedang berada di dalam kendali berondong bayarannya. "tante udah gak tahan." Wanita bernama Maudy itu melenguh, menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.Jari-jari milik Maudy, yang dihias kuku-kuku akrilik be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status