LOGIN"Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami.
"Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sekilas, lalu memainkan telunjuknya pada rahang pemuda itu dan berbisik, "suami Tante lagi di luar negeri. Jadi, gak ada masalah." Terkejut pastinya. Jawaban Maudy sungguh di luar dugaan Bagas, bahkan perempuan itu berani melanggar norma yang ada. Alis Bagas naik tipis. "Tante yakin?" tanyanya. "Lingga gak punya apa-apa, loh, Tan. Lingga cuma gigolo bayaran, gak punya masa depan." Bagas mengusap-usap kepala Maudy, seolah dia terlihat sangat peduli. Aslinya mah kagak! Bodo amat! Yang penting untuk saat ini Maudy sudah berada dalam kendali. Urusan suaminya itu bisa diatur lagi. Ya ampun, ternyata segampang itu jebak nenek-nenek satu ini. Bagas pikir Maudy tidak akan pernah memikirkan soal nikah. "Uang tante banyak, Lingga," ucap Maudy. "kamu nanti jadi suami kontrak tante selama setahun. Gimana? Nanti tante kasih apa pun yang Lingga mau. Apartemen? Mobil?" Telunjuknya bermain-main di perut Bagas yang keras, dan padat. 'Yang gue mau nyawa lo, Jalang!' Bagas menyahut dalam hati, dengan seringai tipis di sudut bibir. "Nanti kita bisa nikah siri aja. Di gereja. Udah," kata Maudy lagi, kemudian menggelayut manja di pundak Bagas. "Mau, ya, Lingga? Mau mau?" Dia menciumi rahang Bagas berulang-ulang. Bagas terkekeh, kegelian. Kedua lengannya langsung merengkuh pinggang ramping Maudy, membuatnya makin merapat. "Oke-oke. Lingga mau." Maudy menyeringai senang. "Beneran, ya?" tanyanya, yang masih belum yakin. "kita nikah siri dan kontrak selama setahun, loh, Lingga." "Iya, Tan. Iya," sahut Bagas, mengecup leher Maudy lalu menyesapnya sampai berbekas kemerahan. "Lingga mau." Maudy tersenyum senang mendengar persetujuan Bagas. Melingkarkan lengan di pundak Bagas dia berkata dengan nada manja, "Kalo udah jadi suami tante, Lingga gak boleh nerima job lain. Apalagi job dari temen-temen Tante." "Siap, Nyonya," sahut Bagas, lalu mencium pipi Maudy. "Sekarang kita lanjut, gak, nih? Tante mau pindah tempat apa mau di sini lagi?" Maudy menggigit bibir bawah, sambil berpikir sejenak. "Kayaknya di bawah shower asik, deh, Lingga. Kayak waktu di Puncak. Kamu tambah ganteng kalo basah-basahan." Maudy terkikik. Tanpa aba-aba Bagas mengangkat Maudy, menggendong bak bayi koala yang menempel. Lalu, Berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar hotel itu. "Nanti masuk angin, loh, Tan." Bagas membuka pintu kamar mandi perlahan, lantas masuk dan berhenti di depan bak wastafel. Pantulan punggung Maudy terlihat begitu seksi di cermin. "Gak akan. Kan ada kamu, Lingga." Maudy melingkar erat di pinggang Bagas, lalu memagut bibir pemuda itu. "kita semaleman main air." Keduanya lantas tertawa bersama, suara mereka menggema di kamar mandi. Bagas menurunkan Maudy tepat di bawah shower yang langsung dia putar dan mengeluarkan air dingin. "Kita lembur malem ini." Dia mengusap belahan sensitif milik Maudy yang sudah sangat basah. "Tante gak sabar." Maudy memagut bibir Bagas dengan gerakan tergesa. ~~~ Tepat pukul tujuh pagi Bagas dan Maudy check out dari hotel. "Dua hari ini tante yang bakal urus keperluan nikah kita, Lingga," ucap Maudy, yang saat ini berdiri di depan mobilnya. Bagas mengangguk. "Santai aja, Tan. Gak usah buru-buru," katanya santai, berbanding terbalik dengan kata hatinya yang saat ini sedang bersorak gembira. "Tante yang gak bisa santai, Lingga." Maudy mencebik. "Iya-iya." Bagas memeluk wanita yang pagi ini sudah berpenampilan sangat rapi, karena setelah dari sini Maudy langsung berangkat ke perusahaan. Keduanya lantas berpisah di basement parkir setelah saling memagut singkat. Maudy memasuki mobil warna merah miliknya dan Bagas memasuki mobil warna hitam miliknya. *** Pukul delapan Bagas tiba di unitnya. Tempat tinggal yang dibelinya secara kontan dari hasil jual diri. Istilah itu terdengar sangat menjijikkan, tetapi bagi Bagas semua itu tak ada artinya dibanding dengan rasa sakit yang hampir bertahun-tahun dia simpan sendirian. Bagas langsung merebahkan diri di kasur, untuk sekadar mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Efek semaleman mandi sambil main di air, sepertinya mulai dirasakan pemuda itu.. Matanya terpejam, dan untuk sejenak pikirannya kembali pada usahanya beberapa bulan yang lalu, ketika dia sengaja mendekati Maudy, yang sering mendatangi kelab. Upaya mendekati Maudy pun bukan perkara sulit bagi Bagas yang memiliki daya tarik bagi para wanita-wanita kesepian sejenis Maudy. Dan dari sanalah dia tahu, jika wanita empat puluh lima tahun itu sering menyewa berondong bayaran. Sebelumnya, Bagas tentu sudah mencari informasi terkait kehidupan Maudy, yang dikenal sebagai wanita karier yang sangat sukses. Wanita itu juga dikenal sebagai istri pengusaha pemilik online shop terbesar di negeri ini. Namun, tak ada yang tahu jika semua yang dimiliki Maudy bukanlah murni hasil kerja keras. Perusahaan yang saat ini Maudy kuasai merupakan perusahaan hasil mencuri dari milik Pak Raditya Saputra. Bagaskara Saputra adalah putra kandung dari Raditya Saputra. Sepuluh tahun yang lalu seorang pengusaha sukses dikabarkan mengalami kebangkrutan dan tak lama gantung diri karena tidak sanggup menanggung beban utang. Kabar tersebut sempat menjadi perbincangan banyak orang kala itu. Kebangkrutan serta kematian tidak wajar Raditya Saputra seolah sebuah hiburan yang menarik. Sudut mata Bagas melelehkan cairan bening, saat ingatan pahit itu terlintas. Panas menjalar di dada. Rasa sakit akan kehilangan sang papa mengubahnya menjadi pria pendendam. "Papamu, Bagas. Papamu. Papamu mati gara-gara jalang itu. Dia yang sudah membunuh papamu. Jalang itu yang sudah menghancurkan keluarga kita." Kalimat yang syarat akan kehilangan dan putus asa dari sang ibu, tak pernah terhapus dari ingatan Bagas selama ini. Seakan kalimat itu menguatkan keinginan balas dendamnya. Dan tiba-tiba suara ponsel membuat Bagas membuka mata. Diambilnya benda pipih miliknya itu dari saku celana. Di layar tertera nama 'Informan—1'. "Halo?" Bagas bersiap menerima info dari seseorang di seberang sana. "Hari ini Maudy ke rumah sakit, Gas," kata si informan. Kening Bagas mengernyit samar, dengan raut terlihat penasaran. "Rumah sakit?" tanyanya. "Ngapain dia ke rumah sakit?" "Gue gak tau," kata si informan. "tapi, dari yang gue liat, dia kayak udah janjian sama dokter di sana." "Dia ke rumah sakit." Seingat Bagas, Maudy tadi sempat bilang kalau dia ada meeting penting di kantor. Karenanya wanita itu berangkat pagi-pagi sekali dan terlihat terburu-buru. Tetapi rupanya, wanita itu justru pergi ke rumah sakit. "Rumah sakit mana?" tanya Bagas, yang kemudian bangkit dan duduk. "Rumah sakit swasta, Gas." Bagas tercenung sejenak, lalu berkata, "Oke, makasih infonya. Kalo gitu elo awasin dia terus." "Oke-oke. Gue mau lanjut dulu." Pembicaraan singkat itu berakhir. Bagas menghela panjang, dan cukup penasaran dengan apa yang dilakukan Maudy di rumah sakit daerah. "Dia ngapain ke rumah sakit?" Otak Bagas berpikir keras, menerka-nerka sendiri. Namun yang ada kepalanya malah berdenyut. *** Bersambung...Manik Bagas tak berkedip, menatap lurus sosok gadis yang tempo hari dia bantu dan antar pulang, saat ini sedang berdiri di hadapan.Nampaknya, gadis itu juga sama terkejutnya. 'Jadi … Rachel anak tirinya Maudy?'Seketika Bagas merasa paling bodoh ketika baru menyadari fakta sebesar ini.Kalau Rachel anak tirinya Maudy, lantas semua rencana yang sudah dia susun rapi terpaksa dirubah."Elo ngapain ada di rumah gue?"Pertanyaan Rachel membuat Bagas terpaksa kembali pada kenyataan yang amat sangat mengejutkan ini.Pemuda itu terhenyak, lalu berdehem singkat guna menyingkirkan kegugupan yang bisa saja membuat dirinya terlihat makin bodoh."Gue ke sini karena ada urusan sama Tante Maudy," kata Bagas sesuai fakta, sambil diam-diam mengakhiri panggilan dengan Firman yang terjeda. Di ujung sana pasti Firman sudah mendengar semuanya. Bagas memasukkan ponselnya ke saku jas, sambil melirik Rachel yang k
Bagas menatap perempuan yang paling berjasa dalam hidupnya selama ini. Sorot mata Mami memancarkan sesuatu yang sulit ditebak. Kalimat yang baru saja dia dengar dari mami, seolah menyiratkan pesan. Entah apa. Namun, Bagas tetap menghargai serta berterima kasih pada perempuan yang usianya hampir setengah abad itu, tetapi masih terlihat sangat cantik dan modis. "Lingga bakal hati-hati, Mi," ucap Bagas. "Mami gak perlu khawatir." Diusapnya lengan mami Kumala, sekadar meyakinkan perempuan itu bila dia bisa menjaga diri. Mami Kumala balas mengusap lengan Bagas dengan seulas senyum bangga. "Kamu pasti bisa mencapai tujuanmu, Ga." Bagas mengangguk. "Berkat mami juga." "Mami cuma bantu seorang anak yang lagi putus asa waktu itu." Kalimat dari Mami Kumala memberi Bagas semangat baru. Dialah perempuan paling berjasa serta baik yang pernah Bagas temui. Berkat tawaran mami kal
Dari semenjak kakinya menginjak paving di halaman parkir, sepasang mata Bagas tak lepas memerhatikan rumah mewah bergaya klasik Eropa itu dengan raut datar, dan penuh tanya.Pilar-pilar menjulang tinggi dan kokoh di setiap sudut rumah berwarna putih gading itu. Sayup-sayup terdengar suara musik dari arah halaman belakang rumah bertingkat tiga tersebut. Nampaknya, pesta sudah dimulai sebelum Bagas tiba di sini.Bagas menghela panjang, menatap nyalang sekelilingnya. Sementara di kepalanya sudah tersusun berbagai rencana, termasuk mengambil alih seluruh harta yang pernah dicuri oleh Maudy beberapa tahun yang lalu.Sebagian kenangan masa lalu muncul sekilas di ingatan pemuda dua puluh empat tahun itu. Rumah mewah Maudy hampir mirip dengan rumah Bagas yang dijual untuk biaya pengobatan sang mama.Rumah yang penuh kenangan masa kecilnya sekaligus trauma yang tidak akan pernah bisa Bagas lupakan seumur hidup.Suami baru Maudy memang sangat kaya, terbukti saat ini jalang itu bisa hidup mewah
Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan."Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol."Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalahannya dengan Bela.Bagas bahkan bisa melihat dengan jelas jika Nathan sangat nyaman mengobrol berdua dengan Tante Karin di bangku panjang paling ujung. Mereka memilih tempat yang jauh dari jangkauan semua orang yang berada di gereja.Berteman dengan Nathan tidak sehari dua hari. Bagas ingat betul waktu pertama kali dia bertemu dengan Nathan di kelab beberapa tahun yang lalu.Temannya itu bukan berasal dari keluarga sembarangan. Nathan pernah bilang kalau dia sengaja bekerja menjadi pria bayaran karena ingin membuktikan pada ayahnya, jika dia bisa berdiri di kakinya sendiri.Nathan diusir dari rumah oleh ayahnya ketika masih sekolah di bangku SMA. Ayahnya tidak tahan dengan kelakuan Nathan yang t
Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari pemilihan tempat untuk pemberkatan, pastor, pakaian, para saksi, serta mas kawin. Semua benar-benar mirip pernikahan sungguhan. Pernikahan dilangsungkan secara tertutup tentunya. Hanya orang-orang terdekat Maudy yang diperkenankan hadir. Sedangkan dari pihak Bagas hanya Nathan yang hadir. Bagas terlihat sangat tampan dan gagah dengan balutan jas warna hitam, yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Maudy untuknya. Sementara perempuan itu mengenakan gaun warna putih tanpa lengan, dan panjang hanya sebatas paha. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, dan ditutupi dengan selendang transparan warna putih. Perasaan Bagas pastinya campur aduk detik ini. Bisa menjebak jalang sialan yang menghancurkan keluarganya dengan pernikahan, sesuatu yang sudah sangat lama dia nantikan. Tak
Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini roda empat milik Bagas sudah memasuki kawasan kompleks perumahan elite. 'Ini tempat kayaknya gak asing.' Entah mengapa, tiba-tiba Bagas merasa jika area perumahan Rachel tidak asing di ingatannya. "Gue turun di sini aja." Ucapan Rachel, membuat Bagas seketika menoleh sekilas. "Di sini?" tanyanya sambil memelankan laju mobil dan berhenti. Rachel yang rupanya sudah melepas sabuk pengaman, menatap Bagas dan mengangguk. "Rumah lo yang mana?" tanya Bagas, yang merasa kurang pantas jika menurunkan seorang gadis di sini. "Tuh!" Rachel menunjuk rumah berlantai tiga tak jauh dari jangkauannya.. Bagas memalingkan pandangan ke arah yang ditunjuk Rachel. "Beneran yang itu?" "Iya." Rach