Início / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

Compartilhar

Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

Autor: Na_Vya
last update Última atualização: 2026-02-13 10:36:32

Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti.

Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia sudah mengambil B.O di luar jam kerja.

Tak masalah. Asalkan pelanggannya merasa puas dan rekeningnya terus terisi.

Ngomong-ngomong soal awal mula Bagas bisa bergabung di kelab mami Kumala. Dan menjadi salah satu pekerja lendir di tempat ini.

Bagas yang kala itu terdesak biaya untuk membiayai pengobatan sang mama, yang dirawat di rumah sakit jiwa, tidak sengaja bertemu mami Kumala di sebuah restoran.

Waktu itu Bagas yang mengambil berbagai macam jenis pekerjaan di semua tempat, sudah begitu frustrasi dengan hasil yang tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Gajinya sangat kurang sekadar untuk makan dan bayar kos-an.

Mami Kumala yang sudah tertarik dengan Bagas, yang katanya memiliki paras yang sangat rupawan, tanpa basa-basi menawarkan sebuah pekerjaan. Katanya—Bagas tidak perlu membuang-buang banyak tenaga dan cara kerjanya pun sangat menyenangkan.

Bagas pun tertarik tanpa berpikir panjang soal kemungkinan-kemungkinan yang akan menghampirinya. Mami Kumala pun menjamin keamanan setiap pekerjanya.

Dan menurut Bagas peluang untuk mendekati Maudy makin besar, saat dia memiliki segalanya. Namun sebelum itu, Bagas mengajukan persyaratan pada Mami, jika dirinya tidak mau memasuki para pelanggannya walaupun menggunakan pengaman.

Persyaratan tersebut diterima oleh mami Kumala, yang tidak banyak menuntut apa pun pada Bagas yang pada saat itu masih sangat muda.

Mami Kumala bisa memaklumi. Remaja yang baru lulus sekolah, pasti masih perlu banyak belajar dan belum punya banyak pengalaman.

Usia Bagas baru 19 tahun pada saat dia mulai terjun ke dunia malam. Dari pekerjaan inilah, dia bisa membiayai pengobatan mamanya serta memiliki kehidupan yang terbilang sangat layak.

Dan kemarin, Maudy secara sadar sudah masuk ke perangkapnya. Tinggal selangkah lagi bagi pemuda itu mengambil apa yang sudah dicuri oleh Maudy.

"Lah, si kunyuk udah di sini."

Bagas hanya melirik Nathan yang baru saja tiba, dan menduduki stolbar kosong di sampingnya. Temannya itu memesan minuman pada Axel—bartender di kelab ini. "Bikinin gue minuman yang enak, dong."

Sudut mata Bagas melirik sekilas pada Axel yang mengacungkan jempol ke udara.

Lantas, dia kembali menyesap minumannya, sambil memikirkan segala rencana, yang sudah tersusun rapi di kepala. Bahkan, keberadaan Nathan sama sekali tidak membuatnya terusik.

Seandainya Bagas benar-benar menikah siri dengan Maudy, dan mendapat kepercayaan dari nenek-nenek itu. Dia berjanji akan membuat Maudy jadi gelandangan.

"Woi!"

Tepukan di pundak membuat Bagas mendengkus, dan menyahut, "Gak usah rese!"

Bagas melirik sinis ke arah Nathan sambil menenggak habis isi gelasnya, kemudian mengisinya kembali.

"Elo kenapa? Kesambet?" celetuk Nathan.

Kekepoan Nathan tak ditanggapi Bagas, yang sudah menikmati minuman dari Axel.

Tetapi tiba-tiba...

"Gue diajak nikah, Nat," ucap Bagas, menoleh ke arah Nathan yang langsung menyemburkan minumannya tepat di hadapannya. "Bangkek! Nyiprat ke gue semua, Njir!" omelnya, sambil beringsut menjauh. Bajunya jadi basah karena kecipratan air yang disemburkan Nathan.

"Lagian, omongan lo bikin kaget." Nathan menarik beberapa lembar tisu, lalu menyodorkannya ke Bagas. "bersihin pake ini."

Bagas mengambil tisu, lalu mengeringkan cipratan air di baju dan celananya. "Perasaan gue ngomong wajar, deh. Kenapa lo jadi kaget? Aneh, Lo!"

Emang aneh bin rese temennya ini. Main sembur-sembur, dikira Bagas lagi butuh diruqiyah apa.

"Ya elo tiba-tiba banget ngomong diajak nikah. Siapa yang gak kaget, coba?" sahut Nathan bersungut-sungut.

"Ya kenapa elo mesti kaget?" Bagas meletakkan tisu bekas di atas meja. "Ya wajar 'kan? Namanya juga orang cakep, banyak yang mau ngajak kawin."

"Dih, narsis banget, sih, lo, Gas! Amit-amit!" Nathan menoyor kepala Bagas. "gue kasian sama cewek yang ngajak lo nikah, Gas," ejeknya lalu terkekeh.

"Sialan!" sungut Bagas tak terima Nathan mengejeknya. "mereka juga gak rugi dapet gue."

Nathan menghela panjang, menggeleng, kemudian memicingkan mata. "Yang ngajak lo nikah siapa?" tanyanya, yang juga merasa penasaran.

Mulut Bagas sudah terbuka, bersiap menjawab, tetapi... "Si Ma—"

"Om!"

Tiba-tiba seorang gadis ABG muncul. Gadis berpakaian minim bahan itu berdiri tepat di belakang punggung Bagas.

Bagas dan Nathan menoleh serentak ke arah gadis berkulit putih itu. Tatapan penuh tanya keduanya seolah sedang menguliti gadis yang saat ini terlihat gusar.

Sosok cantik dan belia itu menelan ludah, menatap dengan tatapan memohon.

"Nih, anak tadi manggil siapa, Gas?" tanya Nathan, menoleh sekilas ke arah Bagas lalu kembali menatap gadis itu.

Bagas menoleh, dan menjawab, "Ya mana gue tau. Manggil elo kali?"

Nathan menoleh ke arah Bagas, menunjuk dirinya dan berkata, "Gue? Elo kali, Gas! Enak aja gue dipanggil 'Om'." Raut Nathan masam merasa tidak terima dipanggil 'Om' karena dia belum setua itu.

"Muka Lo 'kan udah kayak om-om, Nat," sindir Bagas, menahan tawa yang hampir meledak.

"Sialan lo!" umpat Nathan. "Elo, tuh, yang …"

"Om, tolongin aku …."

Nathan menelan kalimatnya kembali saat gadis itu kembali bersuara, dan tahu-tahu sudah mendekat.

Bagas dan Nathan memutar stolbar serentak. Kali ini benar-benar jelas melihat gadis yang entah datangnya darimana.

"Om, aku cariin dari tadi ternyata Om di sini," ucap gadis itu, yang tanpa permisi mengamit lengan Bagas.

Tingkah gadis tak dikenal itu membuat Bagas melongo sesaat.

Namun, dia bisa melihat dengan jelas dari sorot mata sang gadis, yang seolah sedang memohon.

Instingnya langsung bekerja dengan cepat, mencoba membaca situasi dengan cermat. Sudut mata Bagas melirik ke arah belakang punggung sang gadis yang masih mengamit lengannya begitu erat.

'Oh ….'

Begitu dia sadar akan situasi, sudut bibir Bagas tertarik, membentuk senyum yang hanya dapat dipahami oleh dirinya sendiri.

Namun, sebelum Bagas sempat mengatasi, tahu-tahu sang gadis menyentuh rahangnya, dan memaksanya untuk menatapnya.

"Maafin aku, Om." Gadis yang ujung rambutnya dibuat bergelombang itu membungkam mulut Bagas tanpa permisi.

'Et, dah! Nih, anak berani juga.' Bagas membatin kaget dengan keberanian gadis ini.

"Bantuin aku, Om. Please …." ucap gadis itu disela-sela pagutannya yang masih sangat kaku dan terkesan amatiran.

Bagas mendengkus, walau kesal karena ulah gadis ini yang tanpa permisi menciumnya, dia tidak marah. Justru dia berinisiatif membuat adegan ciuman ini terlihat nyata.

Mendorong pelan gadis itu, membuat pagutan terlepas sejenak. Lengan Bagas melingkar dan merengkuh pinggang sang gadis yang masih mencoba mengatur napas.

Dengan seringai penuh arti, Bagas berkata, "Gue ajarin caranya ciuman yang bener."

Dan adegan ciuman kembali terulang. Kali ini Bagaslah yang mengambil alih permainan.

"Anjay …." Nathan berseloroh sambil geleng-geleng kepala, melihat tontonan gratis di depan mata.

Seluruh pengunjung kelab juga menyaksikan pertautan bibir antara Bagas dan gadis asing itu. Termasuk cowok yang ada di balik punggung mereka.

***

Bersambung...

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹¹—Hubungan ibu dan anak~

    Manik Bagas tak berkedip, menatap lurus sosok gadis yang tempo hari dia bantu dan antar pulang, saat ini sedang berdiri di hadapan.Nampaknya, gadis itu juga sama terkejutnya. 'Jadi … Rachel anak tirinya Maudy?'Seketika Bagas merasa paling bodoh ketika baru menyadari fakta sebesar ini.Kalau Rachel anak tirinya Maudy, lantas semua rencana yang sudah dia susun rapi terpaksa dirubah."Elo ngapain ada di rumah gue?"Pertanyaan Rachel membuat Bagas terpaksa kembali pada kenyataan yang amat sangat mengejutkan ini.Pemuda itu terhenyak, lalu berdehem singkat guna menyingkirkan kegugupan yang bisa saja membuat dirinya terlihat makin bodoh."Gue ke sini karena ada urusan sama Tante Maudy," kata Bagas sesuai fakta, sambil diam-diam mengakhiri panggilan dengan Firman yang terjeda. Di ujung sana pasti Firman sudah mendengar semuanya. Bagas memasukkan ponselnya ke saku jas, sambil melirik Rachel yang k

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰—Fakta yang terlupakan~

    Bagas menatap perempuan yang paling berjasa dalam hidupnya selama ini. Sorot mata Mami memancarkan sesuatu yang sulit ditebak. Kalimat yang baru saja dia dengar dari mami, seolah menyiratkan pesan. Entah apa. Namun, Bagas tetap menghargai serta berterima kasih pada perempuan yang usianya hampir setengah abad itu, tetapi masih terlihat sangat cantik dan modis. "Lingga bakal hati-hati, Mi," ucap Bagas. "Mami gak perlu khawatir." Diusapnya lengan mami Kumala, sekadar meyakinkan perempuan itu bila dia bisa menjaga diri. Mami Kumala balas mengusap lengan Bagas dengan seulas senyum bangga. "Kamu pasti bisa mencapai tujuanmu, Ga." Bagas mengangguk. "Berkat mami juga." "Mami cuma bantu seorang anak yang lagi putus asa waktu itu." Kalimat dari Mami Kumala memberi Bagas semangat baru. Dialah perempuan paling berjasa serta baik yang pernah Bagas temui. Berkat tawaran mami kal

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹—Kembar siyam~

    Dari semenjak kakinya menginjak paving di halaman parkir, sepasang mata Bagas tak lepas memerhatikan rumah mewah bergaya klasik Eropa itu dengan raut datar, dan penuh tanya.Pilar-pilar menjulang tinggi dan kokoh di setiap sudut rumah berwarna putih gading itu. Sayup-sayup terdengar suara musik dari arah halaman belakang rumah bertingkat tiga tersebut. Nampaknya, pesta sudah dimulai sebelum Bagas tiba di sini.Bagas menghela panjang, menatap nyalang sekelilingnya. Sementara di kepalanya sudah tersusun berbagai rencana, termasuk mengambil alih seluruh harta yang pernah dicuri oleh Maudy beberapa tahun yang lalu.Sebagian kenangan masa lalu muncul sekilas di ingatan pemuda dua puluh empat tahun itu. Rumah mewah Maudy hampir mirip dengan rumah Bagas yang dijual untuk biaya pengobatan sang mama.Rumah yang penuh kenangan masa kecilnya sekaligus trauma yang tidak akan pernah bisa Bagas lupakan seumur hidup.Suami baru Maudy memang sangat kaya, terbukti saat ini jalang itu bisa hidup mewah

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸—Rumah Maudy~

    Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan."Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol."Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalahannya dengan Bela.Bagas bahkan bisa melihat dengan jelas jika Nathan sangat nyaman mengobrol berdua dengan Tante Karin di bangku panjang paling ujung. Mereka memilih tempat yang jauh dari jangkauan semua orang yang berada di gereja.Berteman dengan Nathan tidak sehari dua hari. Bagas ingat betul waktu pertama kali dia bertemu dengan Nathan di kelab beberapa tahun yang lalu.Temannya itu bukan berasal dari keluarga sembarangan. Nathan pernah bilang kalau dia sengaja bekerja menjadi pria bayaran karena ingin membuktikan pada ayahnya, jika dia bisa berdiri di kakinya sendiri.Nathan diusir dari rumah oleh ayahnya ketika masih sekolah di bangku SMA. Ayahnya tidak tahan dengan kelakuan Nathan yang t

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷—Pernikahan~

    Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari pemilihan tempat untuk pemberkatan, pastor, pakaian, para saksi, serta mas kawin. Semua benar-benar mirip pernikahan sungguhan. Pernikahan dilangsungkan secara tertutup tentunya. Hanya orang-orang terdekat Maudy yang diperkenankan hadir. Sedangkan dari pihak Bagas hanya Nathan yang hadir. Bagas terlihat sangat tampan dan gagah dengan balutan jas warna hitam, yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Maudy untuknya. Sementara perempuan itu mengenakan gaun warna putih tanpa lengan, dan panjang hanya sebatas paha. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, dan ditutupi dengan selendang transparan warna putih. Perasaan Bagas pastinya campur aduk detik ini. Bisa menjebak jalang sialan yang menghancurkan keluarganya dengan pernikahan, sesuatu yang sudah sangat lama dia nantikan. Tak

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶—Ajakan nikah dadakan~

    Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini roda empat milik Bagas sudah memasuki kawasan kompleks perumahan elite. 'Ini tempat kayaknya gak asing.' Entah mengapa, tiba-tiba Bagas merasa jika area perumahan Rachel tidak asing di ingatannya. "Gue turun di sini aja." Ucapan Rachel, membuat Bagas seketika menoleh sekilas. "Di sini?" tanyanya sambil memelankan laju mobil dan berhenti. Rachel yang rupanya sudah melepas sabuk pengaman, menatap Bagas dan mengangguk. "Rumah lo yang mana?" tanya Bagas, yang merasa kurang pantas jika menurunkan seorang gadis di sini. "Tuh!" Rachel menunjuk rumah berlantai tiga tak jauh dari jangkauannya.. Bagas memalingkan pandangan ke arah yang ditunjuk Rachel. "Beneran yang itu?" "Iya." Rach

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status