Mag-log inSetelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti.
Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia sudah mengambil B.O di luar jam kerja. Tak masalah. Asalkan pelanggannya merasa puas dan rekeningnya terus terisi. Ngomong-ngomong soal awal mula Bagas bisa bergabung di kelab mami Kumala. Dan menjadi salah satu pekerja lendir di tempat ini. Bagas yang kala itu terdesak biaya untuk membiayai pengobatan sang mama, yang dirawat di rumah sakit jiwa, tidak sengaja bertemu mami Kumala di sebuah restoran. Waktu itu Bagas yang mengambil berbagai macam jenis pekerjaan di semua tempat, sudah begitu frustrasi dengan hasil yang tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Gajinya sangat kurang sekadar untuk makan dan bayar kos-an. Mami Kumala yang sudah tertarik dengan Bagas, yang katanya memiliki paras yang sangat rupawan, tanpa basa-basi menawarkan sebuah pekerjaan. Katanya—Bagas tidak perlu membuang-buang banyak tenaga dan cara kerjanya pun sangat menyenangkan. Bagas pun tertarik tanpa berpikir panjang soal kemungkinan-kemungkinan yang akan menghampirinya. Mami Kumala pun menjamin keamanan setiap pekerjanya. Dan menurut Bagas peluang untuk mendekati Maudy makin besar, saat dia memiliki segalanya. Namun sebelum itu, Bagas mengajukan persyaratan pada Mami, jika dirinya tidak mau memasuki para pelanggannya walaupun menggunakan pengaman. Persyaratan tersebut diterima oleh mami Kumala, yang tidak banyak menuntut apa pun pada Bagas yang pada saat itu masih sangat muda. Mami Kumala bisa memaklumi. Remaja yang baru lulus sekolah, pasti masih perlu banyak belajar dan belum punya banyak pengalaman. Usia Bagas baru 19 tahun pada saat dia mulai terjun ke dunia malam. Dari pekerjaan inilah, dia bisa membiayai pengobatan mamanya serta memiliki kehidupan yang terbilang sangat layak. Dan kemarin, Maudy secara sadar sudah masuk ke perangkapnya. Tinggal selangkah lagi bagi pemuda itu mengambil apa yang sudah dicuri oleh Maudy. "Lah, si kunyuk udah di sini." Bagas hanya melirik Nathan yang baru saja tiba, dan menduduki stolbar kosong di sampingnya. Temannya itu memesan minuman pada Axel—bartender di kelab ini. "Bikinin gue minuman yang enak, dong." Sudut mata Bagas melirik sekilas pada Axel yang mengacungkan jempol ke udara. Lantas, dia kembali menyesap minumannya, sambil memikirkan segala rencana, yang sudah tersusun rapi di kepala. Bahkan, keberadaan Nathan sama sekali tidak membuatnya terusik. Seandainya Bagas benar-benar menikah siri dengan Maudy, dan mendapat kepercayaan dari nenek-nenek itu. Dia berjanji akan membuat Maudy jadi gelandangan. "Woi!" Tepukan di pundak membuat Bagas mendengkus, dan menyahut, "Gak usah rese!" Bagas melirik sinis ke arah Nathan sambil menenggak habis isi gelasnya, kemudian mengisinya kembali. "Elo kenapa? Kesambet?" celetuk Nathan. Kekepoan Nathan tak ditanggapi Bagas, yang sudah menikmati minuman dari Axel. Tetapi tiba-tiba... "Gue diajak nikah, Nat," ucap Bagas, menoleh ke arah Nathan yang langsung menyemburkan minumannya tepat di hadapannya. "Bangkek! Nyiprat ke gue semua, Njir!" omelnya, sambil beringsut menjauh. Bajunya jadi basah karena kecipratan air yang disemburkan Nathan. "Lagian, omongan lo bikin kaget." Nathan menarik beberapa lembar tisu, lalu menyodorkannya ke Bagas. "bersihin pake ini." Bagas mengambil tisu, lalu mengeringkan cipratan air di baju dan celananya. "Perasaan gue ngomong wajar, deh. Kenapa lo jadi kaget? Aneh, Lo!" Emang aneh bin rese temennya ini. Main sembur-sembur, dikira Bagas lagi butuh diruqiyah apa. "Ya elo tiba-tiba banget ngomong diajak nikah. Siapa yang gak kaget, coba?" sahut Nathan bersungut-sungut. "Ya kenapa elo mesti kaget?" Bagas meletakkan tisu bekas di atas meja. "Ya wajar 'kan? Namanya juga orang cakep, banyak yang mau ngajak kawin." "Dih, narsis banget, sih, lo, Gas! Amit-amit!" Nathan menoyor kepala Bagas. "gue kasian sama cewek yang ngajak lo nikah, Gas," ejeknya lalu terkekeh. "Sialan!" sungut Bagas tak terima Nathan mengejeknya. "mereka juga gak rugi dapet gue." Nathan menghela panjang, menggeleng, kemudian memicingkan mata. "Yang ngajak lo nikah siapa?" tanyanya, yang juga merasa penasaran. Mulut Bagas sudah terbuka, bersiap menjawab, tetapi... "Si Ma—" "Om!" Tiba-tiba seorang gadis ABG muncul. Gadis berpakaian minim bahan itu berdiri tepat di belakang punggung Bagas. Bagas dan Nathan menoleh serentak ke arah gadis berkulit putih itu. Tatapan penuh tanya keduanya seolah sedang menguliti gadis yang saat ini terlihat gusar. Sosok cantik dan belia itu menelan ludah, menatap dengan tatapan memohon. "Nih, anak tadi manggil siapa, Gas?" tanya Nathan, menoleh sekilas ke arah Bagas lalu kembali menatap gadis itu. Bagas menoleh, dan menjawab, "Ya mana gue tau. Manggil elo kali?" Nathan menoleh ke arah Bagas, menunjuk dirinya dan berkata, "Gue? Elo kali, Gas! Enak aja gue dipanggil 'Om'." Raut Nathan masam merasa tidak terima dipanggil 'Om' karena dia belum setua itu. "Muka Lo 'kan udah kayak om-om, Nat," sindir Bagas, menahan tawa yang hampir meledak. "Sialan lo!" umpat Nathan. "Elo, tuh, yang …" "Om, tolongin aku …." Nathan menelan kalimatnya kembali saat gadis itu kembali bersuara, dan tahu-tahu sudah mendekat. Bagas dan Nathan memutar stolbar serentak. Kali ini benar-benar jelas melihat gadis yang entah datangnya darimana. "Om, aku cariin dari tadi ternyata Om di sini," ucap gadis itu, yang tanpa permisi mengamit lengan Bagas. Tingkah gadis tak dikenal itu membuat Bagas melongo sesaat. Namun, dia bisa melihat dengan jelas dari sorot mata sang gadis, yang seolah sedang memohon. Instingnya langsung bekerja dengan cepat, mencoba membaca situasi dengan cermat. Sudut mata Bagas melirik ke arah belakang punggung sang gadis yang masih mengamit lengannya begitu erat. 'Oh ….' Begitu dia sadar akan situasi, sudut bibir Bagas tertarik, membentuk senyum yang hanya dapat dipahami oleh dirinya sendiri. Namun, sebelum Bagas sempat mengatasi, tahu-tahu sang gadis menyentuh rahangnya, dan memaksanya untuk menatapnya. "Maafin aku, Om." Gadis yang ujung rambutnya dibuat bergelombang itu membungkam mulut Bagas tanpa permisi. 'Et, dah! Nih, anak berani juga.' Bagas membatin kaget dengan keberanian gadis ini. "Bantuin aku, Om. Please …." ucap gadis itu disela-sela pagutannya yang masih sangat kaku dan terkesan amatiran. Bagas mendengkus, walau kesal karena ulah gadis ini yang tanpa permisi menciumnya, dia tidak marah. Justru dia berinisiatif membuat adegan ciuman ini terlihat nyata. Mendorong pelan gadis itu, membuat pagutan terlepas sejenak. Lengan Bagas melingkar dan merengkuh pinggang sang gadis yang masih mencoba mengatur napas. Dengan seringai penuh arti, Bagas berkata, "Gue ajarin caranya ciuman yang bener." Dan adegan ciuman kembali terulang. Kali ini Bagaslah yang mengambil alih permainan. "Anjay …." Nathan berseloroh sambil geleng-geleng kepala, melihat tontonan gratis di depan mata. Seluruh pengunjung kelab juga menyaksikan pertautan bibir antara Bagas dan gadis asing itu. Termasuk cowok yang ada di balik punggung mereka. *** Bersambung...Dua hari kemudian...Pukul tujuh pagi Bagas sudah berada di dalam mobilnya.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia berangkat bekerja bukan untuk menjalankan sebuah penyamaran.Tidak ada identitas palsu.Tidak ada nama Lingga.Tidak ada rencana rahasia.Tidak ada target yang harus dia dekati.Hanya sebuah pekerjaan.Sederhana.Namun justru karena kesederhanaan itu, Bagas merasa sedikit asing.Dia melirik dirinya sendiri melalui kaca spion.Kemeja putih.Celana bahan hitam.Rambut yang ditata sederhana.Tidak ada lagi penampilan yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian perempuan seperti Maudy.Bagas tersenyum tipis."Bagaskara..." gumamnya pelan.Nama yang selama berbulan-bulan hampir dia tinggalkan.Kemudian mesin mobil kembali dinyalakan.Dia melajukan kendaraan menuju kantor Hendra.---Hari-hari pertama bekerja ternyata tidak semudah yang Bagas bayangkan.Hendra benar-benar memperlakukannya seperti karyawan biasa.Tidak ada perlakuan khusus.Tidak ada toleransi hanya kare
Malam itu, setelah mengantar Rachel kembali ke rumah Vanila, Bagas tidak ikut masuk. Dia hanya memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja sebelum kembali ke mobilnya. "Aku masuk dulu, ya," ucap Rachel. Bagas mengangguk. "Istirahat." "Kamu juga." Bagas tersenyum tipis. "Besok aku telepon." Rachel mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Bagas menunggu sampai pintu tertutup sebelum akhirnya kembali menuju mobil. Beberapa menit kemudian, mobilnya melaju meninggalkan halaman rumah Vanila. Bagas tidak menuju tempat lain. Melainkan apartemennya sendiri. --- Sesampainya di apartemen Bagas meletakkan kunci mobil di atas meja. Jas yang dikenakannya dilepas dan diletakkan di sandaran kursi. Kemudian dia berdiri cukup lama di depan jendela. Pemandangan kota terlihat ramai dari ketinggian. Lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di bawah sana. Namun entah kenapa, malam ini pikirannya justru terasa lebih kosong. Persidangan tadi masih te
Persidangan hari itu akhirnya dihentikan setelah Bagas menyelesaikan rangkaian keterangannya. Masih ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Masih ada saksi-saksi lain yang akan dihadirkan. Namun majelis hakim memutuskan pemeriksaan akan dilanjutkan pada persidangan berikutnya. Tok! Tok! Tok! Palu diketukkan tiga kali. "Persidangan ditunda dan akan dilanjutkan sesuai jadwal yang telah ditetapkan." "Sidang selesai." Semua orang mulai berdiri. Suasana ruang sidang yang sejak tadi tegang perlahan berubah ramai. Para wartawan segera keluar untuk mengejar beberapa pihak yang dianggap penting dalam perkara tersebut. Bagas turun dari kursi saksi. Sebelum kembali ke tempat duduknya, dia sempat menatap Maudy. Perempuan itu masih duduk di kursi terdakwa. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Namun kali ini... Tidak ada senyum kemenangan di wajahnya. Bagas tahu. Beberapa bagian dari rencana Maudy sudah mulai terbuka di depan umum. Dan perempuan itu pasti menyadarinya. Bagas
Hakim Ketua kembali menatap Jaksa Penuntut Umum."Saudara Penuntut Umum, apakah masih ada bukti yang akan diajukan berkaitan dengan keterangan saksi?"Jaksa berdiri. "Ada, Yang Mulia."Dia lantas mengambil sebuah map tebal dari meja. "Penuntut Umum akan mengajukan beberapa dokumen medis yang berkaitan dengan almarhum Roy Darmawan."Bagas kembali menegakkan tubuhnya.Rachel pun perlahan mengangkat wajah.Jaksa melanjutkan, "Dokumen tersebut terdiri dari rekam medis pasien, catatan perawatan, catatan pemberian obat, serta hasil pemeriksaan kondisi pasien selama berada di rumah sakit."Penasihat hukum Maudy langsung berdiri."Yang Mulia, kami meminta agar seluruh dokumen tersebut diperiksa keasliannya terlebih dahulu."Jaksa mengangguk. "Itu akan dilakukan."Hakim Ketua menatap panitera. "Catat sebagai barang bukti dan lakukan pemeriksaan sesuai prosedur.""Baik, Yang Mulia."Beberapa lembar dokumen kemudian diserahkan kepada majelis hakim.Ruangan kembali hening.Jaksa lalu berkata, "Se
IYAAA, paham sekarang 😭❤️ Jadi teks yang kamu kirim ini adalah bagian awal pemeriksaan Bagas, dan lanjutan yang kita buat harus langsung menyambung dari kalimat:> “Tidak ada jalan untuk kembali.”Bagas masih duduk tegak di kursi saksi. Tatapannya tertuju kepada majelis hakim.Dia sudah membuka terlalu banyak hal hari ini.Tentang dirinya.Tentang keluarganya.Tentang alasan dia menjadi Lingga.Tentang pernikahan sirinya dengan Maudy.Namun...Masih ada bagian yang jauh lebih berat untuk diceritakan.Jaksa Penuntut Umum kembali berdiri."Yang Mulia, kami melanjutkan pemeriksaan saksi."Hakim Ketua mengangguk."Silakan."Jaksa kembali menghadap Bagas."Saudara Bagaskara.""Iya.""Setelah Saudara mendapatkan kepercayaan terdakwa, apa yang kemudian Saudara ketahui?"Bagas menarik napas perlahan. "Maudy mulai menceritakan beberapa rencananya kepada saya.""Rencana apa?"Bagas terdiam sesaat. Tatapannya sempat beralih kepada Maudy. Perempuan itu masih duduk diam. Namun kali ini wajahnya
Bagas mengembuskan napas panjang. "Karena terdakwa adalah salah satu penyebab keluarga saya hancur."Ruangan kembali sunyi. "Siapa nama ayah Saudara?" "Raditya Saputra." "Almarhum?" "Iya." "Apa yang terjadi dengan beliau?" Bagas mengepalkan tangan di atas pahanya. "Papa saya memiliki perusahaan. Perusahaan itu kemudian mengalami kebangkrutan." Jaksa mengangguk. "Dan apa hubungan kebangkrutan tersebut dengan terdakwa?" Bagas menatap Maudy. "Maudy mengambil hampir seluruh aset perusahaan Papa." Penasihat hukum Maudy langsung berdiri. "Keberatan, Yang Mulia. Pernyataan tersebut merupakan tuduhan yang belum dibuktikan." Jaksa menoleh. "Kami memiliki dokumen transaksi dan laporan keuangan yang akan diajukan sebagai barang bukti." Hakim Ketua mengangkat tangannya.. "Keberatan dicatat. Saksi tetap dipersilakan menjelaskan berdasarkan apa yang dia ketahui." Bagas mengangguk kecil. Dia kembali menatap lurus ke depan, dan lanjut bicara, "Setelah aset perusahaan habis..." Suarany
Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m
Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su
"Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami. "Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sek
"Lingga …." Desahan bernada putus asa itu lolos dari bibir wanita cantik, yang saat ini sedang berada di dalam kendali berondong bayarannya. "tante udah gak tahan." Wanita bernama Maudy itu melenguh, menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.Jari-jari milik Maudy, yang dihias kuku-kuku akrilik be







