Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab¹⁰—Fakta yang terlupakan~

Share

Bab¹⁰—Fakta yang terlupakan~

Author: Na_Vya
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-16 23:30:18

Bagas menatap perempuan yang paling berjasa dalam hidupnya selama ini. Sorot mata Mami memancarkan sesuatu yang sulit ditebak.

Kalimat yang baru saja dia dengar dari mami, seolah menyiratkan pesan. Entah apa.

Namun, Bagas tetap menghargai serta berterima kasih pada perempuan yang usianya hampir setengah abad itu, tetapi masih terlihat sangat cantik dan modis.

"Lingga bakal hati-hati, Mi," ucap Bagas. "Mami gak perlu khawatir." Diusapnya lengan mami
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pesona Pria Plus-plus    bab¹⁰³—Perintah Maudy~

    Lantas, panggilan telepon diganti dengan panggilan video oleh Bagas. Wajah perempuan yang sangat dia benci itu langsung terpampang di layar ponselnya. Maudy nampak sedang duduk tenang di kursi kebesarannya. "Hai, Tan?" Bagas menyapa dengan senyuman manis, merubah rautnya senatural mungkin. "Hai, Lingga...." Maudy membalas dengan senyuman yang manis pula. Mengarahkan kamera ponselnya tepat di depan wajahnya yang terlihat masih sangat kencang. Dari layar, Bagas bahkan tak menemukan satu pun kerutan di wajah Maudy. "Tante di kantor?" tanyanya, lalu berjalan mendekati dan Rachel dan Roy. ''Iya. Tadi ada tamu," jawab Maudy. ''Mana? Mana Rachel sama Roy?" Perempuan itu nampaknya sudah tidak sabar ingin melihat kedua orang tersebut. Kamera ponsel langsung dialihkan ke arah Rachel dan Roy. "Nih! Tante bisa liat sendiri." Bagas mengarahkan kamera bergantian. Rachel terlihat marah, ketika dia melihat wajah Maudy di layar ponsel Bagas. "Mami jahat!!" geramnya. "Mami kejam!" Tetes de

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰²—Akting~

    Suasana menjadi hening sejenak, diantara mereka tak ada satu pun yang bersuara lagi. Hingga dering ponsel menggema di seluruh ruangan dan memecah kesunyian sesaat itu. Semua mata tertuju pada Bagas, yang sibuk merogoh saku celananya. Rupanya, bunyi tersebut berasal dari ponselnya.. "Maudy?" Keningnya mengernyit saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar. Dia lantas mengalihkan pandangan ke Marco, dan bertanya. "Bang, Maudy telepon. Gimana?" "Angkat aja. Kalo dia tanya, bilang aja lagi proses." Marco menjawab, lalu beralih pada Rachel. "Chel, gue minta kerja samanya kali ini. Elo bisa 'kan?" tanyanya, berharap gadis itu bisa diajak bekerja sama. Raut gadis itu nampak menahan kesal sedari tadi. "Terserah!" sahutnya galak. Namun, tak urung dia menuruti Marco, dan ikut bersama Vanila. "Gue keluar dulu, ya, Bang. Sementara kalian siapin semuanya," ucap Bagas. Marco mengangguk, lantas gegas menyiapkan segalanya agar terlihat seperti sebuah drama betulan. Kali ini dia akan

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰¹—Persiapan eksekusi(2)

    "Gue cuma jaga-jaga, Gas," sahut Marco, mengambil bungkusan plastik berlabel nama apotek dari tas. Dia lantas mengambil botol air mineral di meja. Bagas membuntuti Marco dari belakang, bertanya-tanya dalam hati perihal rencana yang sama sekali dia tidak tahu. Jenazah? Dapat dari mana Marco, dua jenazah sekaligus, pikir Bagas. "Nah, kalo itu obat apa, Bang?" tunjuk Bagas pada obat yang ada di tangan Marco. "Ini obat penetral. Untuk sementara kita bisa kasih ini dulu ke Roy. Baru nanti kalo udah di rumah sakit bisa dapet penanganan dari dokter," jelas Marco, yang kemudian memasukkan dua butir obat berwarna putih ke mulut Roy, tentu dengan bantuan Bagas. Kondisi Roy yang masih belum sadarkan diri cukup menyulitkan. Apalagi, selama ini Roy mengonsumsi obat tidur secara berlebih. Dan, untuk sementara waktu Marco memberikan obat penetral, untuk mengurangi kandungan yang mungkin sudah menumpuk di tubuh Roy. Sembari menunggu penanganan dari dokter ahli. Mendengar penjelasan yang

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰⁰—Persiapan Eksekusi(1)

    Waktu terus berjalan, dan langit sebentar lagi gelap. Suasana di gubuk itu agak tegang sekaligus mengharukan. Perasaan Bagas pun saat ini campur aduk. Untuk pertama kalinya dia menjalankan rencana besar yang melibatkan banyak orang. Walau semua ini hanya sandiwara, rasa gugup pastinya ada. Apalagi, di luar sana ada anak buah Maudy yang membuntuti. "Papi!" Rachel loncat dari bangku dan berlari, begitu melihat sosok yang baru saja masuk. Sosok yang hampir enam bulan dia tunggu-tunggu kepulangannya. Sang papi yang dia rindu selama ini. "Papi!" Gadis itu memeluk Roy yang terduduk di kursi roda dalam kondisi masih belum sadarkan diri. Menumpahkan segala kerinduannya di pundak renta sang papi, yang tak bergerak sama sekali. Tangisan Rachel pecah, disusul ucapan syukur. Sementara semua orang yang berada di gubuk itu ikut larut dalam pertemuan yang penuh haru, dan emosional. Bagas menyusut lelehan bening yang menetes di pipi dengan lengan. Hatinya cukup merasa lega, lantara

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁹—Diikuti~

    Setelah mengobrol cukup panjang dengan Hendra di kafe dekat kantor, Bagas akhirnya bisa bernapas lega lantaran teman dekat papanya itu mau membantunya. Hendra berjanji akan mendukung Bagas dan memberikan apa yang dibutuhkan untuk memperlancar rencananya. Saat ini, yang Bagas butuhkan sebenarnya hanya sebuah dukungan dari banyak pihak, dikarenakan lawannya bukanlah dari orang sembarangan. Maudy sangat licik, dan Bagas tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah dia berhasil menjatuhkan jalang itu. Kendati di tangannya sudah ada bukti yang jelas dan cukup untuk menyeret Maudy ke penjara. Namun, Bagas harus mencari celah lain supaya hukuman yang diterima Maudy setimpal. Bagas ingin, Maudy mendekam di jeruji besi dengan waktu yang tidak sebentar. Mengingat, jejak kejahatan yang banyak di lakukan selama ini. *** Beberapa jam kemudian... Bagas sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat, yakni rumah yang akan menjadi tempat untuk mengeksekusi Roy dan Rachel. Tentunya, di

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁸—Meminta bantuan~

    Bagas menghela panjang guna menjeda seraya meraup pasokan oksigen sebanyak-banyaknya. Maniknya yang mulai memerah tak bisa menyembunyikan pedihnya luka yang dia alami selama ini. Hendra pun dapat melihat duka yang menggelayuti anak dari sahabatnya itu. Begitu dalam dan pasti sangat menyakitkan."Om, turut berdukacita, Gas. Maaf, karena om gak datang ke pemakaman papamu." Hendra mencodongkan badan, mengulurkan tangan ke pundak Bagas, lalu menepuk-nepuknya. Berharap perkataan yang dia lontarkan akan sedikit meringankan beban pemuda ini."Om nyesel banget karena gak bisa dateng," kata Hendra lagi. "waktu itu kerjaan om lagi banyak-banyaknya. Jadi, om gak bisa balik ke Indonesia mendadak." Bagas mengangguk maklum dan paham akan kesibukan teman papanya itu. "Bagas ngerti, Om. Lagian, semua itu juga udah lewat. Bagas pelan-pelan belajar buat lupain luka itu. Dan papa juga udah tenang di sana."Ucapan yang hanya sekadar untuk menghibur diri sendiri sudah sering dia lontarkan, agar luka di

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status