بيت / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁹⁹—Diikuti~

مشاركة

Bab⁹⁹—Diikuti~

مؤلف: Na_Vya
last update تاريخ النشر: 2026-05-17 23:16:21

Setelah mengobrol cukup panjang dengan Hendra di kafe dekat kantor, Bagas akhirnya bisa bernapas lega lantaran teman dekat papanya itu mau membantunya.

Hendra berjanji akan mendukung Bagas dan memberikan apa yang dibutuhkan untuk memperlancar rencananya.

Saat ini, yang Bagas butuhkan sebenarnya hanya sebuah dukungan dari banyak pihak, dikarenakan lawannya bukanlah dari orang sembarangan. Maudy sangat licik, dan Bagas tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah dia berhasil menjatuhka
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁹—Diikuti~

    Setelah mengobrol cukup panjang dengan Hendra di kafe dekat kantor, Bagas akhirnya bisa bernapas lega lantaran teman dekat papanya itu mau membantunya. Hendra berjanji akan mendukung Bagas dan memberikan apa yang dibutuhkan untuk memperlancar rencananya. Saat ini, yang Bagas butuhkan sebenarnya hanya sebuah dukungan dari banyak pihak, dikarenakan lawannya bukanlah dari orang sembarangan. Maudy sangat licik, dan Bagas tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah dia berhasil menjatuhkan jalang itu. Kendati di tangannya sudah ada bukti yang jelas dan cukup untuk menyeret Maudy ke penjara. Namun, Bagas harus mencari celah lain supaya hukuman yang diterima Maudy setimpal. Bagas ingin, Maudy mendekam di jeruji besi dengan waktu yang tidak sebentar. Mengingat, jejak kejahatan yang banyak di lakukan selama ini. *** Beberapa jam kemudian... Bagas sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat, yakni rumah yang akan menjadi tempat untuk mengeksekusi Roy dan Rachel. Tentunya, di

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁸—Meminta bantuan~

    Bagas menghela panjang guna menjeda seraya meraup pasokan oksigen sebanyak-banyaknya. Maniknya yang mulai memerah tak bisa menyembunyikan pedihnya luka yang dia alami selama ini. Hendra pun dapat melihat duka yang menggelayuti anak dari sahabatnya itu. Begitu dalam dan pasti sangat menyakitkan."Om, turut berdukacita, Gas. Maaf, karena om gak datang ke pemakaman papamu." Hendra mencodongkan badan, mengulurkan tangan ke pundak Bagas, lalu menepuk-nepuknya. Berharap perkataan yang dia lontarkan akan sedikit meringankan beban pemuda ini."Om nyesel banget karena gak bisa dateng," kata Hendra lagi. "waktu itu kerjaan om lagi banyak-banyaknya. Jadi, om gak bisa balik ke Indonesia mendadak." Bagas mengangguk maklum dan paham akan kesibukan teman papanya itu. "Bagas ngerti, Om. Lagian, semua itu juga udah lewat. Bagas pelan-pelan belajar buat lupain luka itu. Dan papa juga udah tenang di sana."Ucapan yang hanya sekadar untuk menghibur diri sendiri sudah sering dia lontarkan, agar luka di

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁷—Membuka luka lama~

    "Karena urusan saya sudah selesai, saya mohon pamit, Bu." Hendra berdiri, sambil mengamit dokumen yang baru saja ditandatangani Bagas. Urusannya di kantor ini sudah selesai, dan dia segera pamit undur lantaran masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan di kantornya. Maudy dan Bagas menyusul berdiri. "Baiklah, Pak. Terima kasih atas waktunya yang sudah berkenan menyempatkan buat datang ke sini." Maudy mengulurkan tangan, dan Hendra lekas menyambutnya. "Sama-sama, Bu. Urusan klien penting seperti Bu Maudy pasti akan saya dahulukan," ujar Hendra yang sedikit melebih-lebihkan. "Lingga, kamu tolong anter Pak Hendra sampai ke lobby, ya?" pinta Maudy pada Bagas. "Iya, Tan." Bagas mengiyakan. Menuruti perintah Maudy, yang sebenarnya hanya dijadikan sebagai alasan. Kesempatan untuk dirinya yang ingin menanyakan sesuatu kepada Hendra. Ada hal yang sejak tadi menggangu pikiran Bagas. Tentang siapa Hendra yang baru saja dia ingat beberapa saat lalu. Ternyata, dunia ini tak seleb

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁶—Notaris~

    Berbeda dari biasanya, Bagas yang belakangan ini berangkat bersama Maudy, kali ini mereka berangkat dengan mobil masing-masing. Dan setibanya di kantor, rupanya sudah ada orang yang menunggu di ruangan Maudy. Pria paruh baya, berjas rapi dan terlihat berwibawa. Bagas seketika tertegun saat melihat pria berperawakan tinggi dan agak berisi itu. Dia pun jadi berandai-andai dalam benaknya. Seandainya papanya masih hidup, kemungkinan mirip dengan pria itu. Ah... Bagas jadi rindu papa dan mamanya. Namun... Sepasang maniknya memicing, sambil membatin. 'Kayanya gue pernah liat orang ini? Tapi di mana ya ...?' Bagas terpaku di tempatnya, diam-diam menelisik pria yang rambutnya hampir memutih itu dari atas sampai bawah. Rasa-rasanya, dia pernah bertemu dengan pria ini, tetapi lupa Bagas pernah bertemu di mana. Maudy yang sudah lebih dulu duduk di sofa, lantas menegur Bagas yang betah berdiri di depan pintu. "Lingga..." Bagas terkesiap dengan suara Maudy. Atensinya sek

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁵—Menuju eksekusi~

    Bagas dan Vanila benar-benar merealisasikan niat yang ingin bergadang. Bahkan, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi keduanya masih asyik menonton film drama action yang diperankan aktor asal Amerika tersebut. Film yang menurut Bagas sangat membosankan. Namun, tidak dengan Vanila yang sangat mengidolakan aktor di film itu. Bagas menyomot potongan pizza dari wadah sambil berseloroh, "Bosen banget, sih, Van. Ganti yang lain, napa?" Dia menggigit ujung pizza, lalu mengunyahnya. Dia paling tidak suka menonton film yang isinya hanya adegan perkelahian, pukul-pukulan, dan tembak-menembak. Apalagi tanpa pemain wanita seksi atau adegan hot. Ah .... Untung yang meminta ditemani menonton film tersebut Vanila. Coba kalo misalkan gadis lain, pasti sudah Bagas tinggal tidur sejak tadi. Malas dan bosan sekali dia. Ck! Manik Vanila melirik Bagas sekilas. "Nanggung, Gas.Lagi seru ini!" sahutnya yang lantas merebahkan diri di sisi Bagas, dan meletakkan kepalanya di atas paha lelak

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁴—Mupeng!

    "Dingin, Gas. Masa aku tidur pakek jubah mandi?" Vanila terkekeh, menggeliat lantaran Bagas mengecupi kulit lehernya yang terekspos bebas. "Bagas, geli!" Tubuhnya bahkan sampai melengkung ke belakang, dan Bagas sigap menopangnya dengan kedua tangan. "Elo wangi, Van." Bibir lelaki itu terus menjelajah di lekukan leher, lalu turun ke tulang selangka Vanila yang menonjol. "Pakek sabun apa, sih? Hmm?" Suaranya mulai terdengar rendah dan parau. Vanila sekejap memejam, sekejap mendesah, isapan bibir Bagas di kulitnya menghantarkan gelenyar aneh, yang mendesirkan setiap aliran darahnya. Hangat dan lembut. Bagas ...." Suaranya pun mulai terdengar rendah dan parau. "Gas...." Vanila menggigit kecil bibir bawahnya, menekan sensasi yang ditimbulkan akibat kecupan-kecupan basah yang dihujani Bagas tiada henti. Telapak tangan lelaki itu merambat pelan di pinggang, lalu naik ke punggung Vanila menekannya hingga dada keduanya saling menempel. "Elo cantik banget, Van." Satu kecupan singkat dil

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status