首頁 / Romansa Pria / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁵—Iseng nawarin pulang~

分享

Bab⁵—Iseng nawarin pulang~

作者: Na_Vya
last update publish date: 2026-02-13 13:36:58

Gila!

Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan.

Oh … tidak!

Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini.

Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak."

Anggap saja ini rejeki nomplok!

Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah membuat gadis yang sedang berada di rengkuhannya kelimpungan. Gadis itu terlihat sedang berusaha menyeimbangi pagutan-pagutan lembut, tetapi cukup terasa cepat baginya yang baru pertama kali berciuman.

Setelah merasa cukup, Bagas melepas pagutannya. "Napas, Manis," bisiknya sambil mengusapkan ibu jari di bibir sang gadis, yang agak membengkak karena ulahnya. "baru pertama kali, ya?" Bagas tersenyum, lalu melepaskan lengannya perlahan dari pinggang sang gadis.

Tentu saja Bagas bisa membedakan—mana yang pertama kali dan mana yang sudah pro. Dan ABG di hadapannya ini masih sangat amatiran.

Dari bungkamnya sang gadis, Bagas sudah bisa menyimpulkan.

Tapi ngomong-ngomong, bila diperhatikan gadis ini memang sangat cantik, walau penampilannya kurang cocok dengan usianya. Pakaiannya terlalu terbuka dan sangat minim.

"Rachel!"

'Oh, jadi namanya Rachel.' Bagas membatin sambil menatap sekilas pada pemuda yang memanggil Rachel, dan melangkah menghampiri.

Lalu, tahu-tahu tangan Rachel ditarik paksa oleh pemuda yang entah siapa.

Manik Bagas memicing tak suka, saat Rachel menolak disentuh oleh temannya. "Lepasin, Fandi!" bentaknya.

Fandi menggeleng. "Gak akan! Gue gak akan lepasin lo, Chel! Kita pulang sekarang!"

"Gue gak mau!" tolak Rachel, berusaha melepas cengkeraman tangan Fandi. "gue gak mau pulang sama lo! Gue mau pulang sama cowok gue!" Rachel menatap Bagas, dengan raut memohon.

"Cowok lo? Ini cowok lo?" Fandi tertawa mengejek. "Om-om ini cowok lo?" Tatapannya seolah sedang menertawakan Bagas.

Bagas yang terus dikait-kaitkan jelas merasa tak terima apalagi disebut 'Om-om' sama bocah tengik ini. "Eh, yang lo panggil 'om' siapa?"

Fandi menyalak. "Lo!"

Sialan!

Bagas membentak. "Gue ini bukan om lo, ya! Kalo ngomong yang bener!"

"Ayo pulang!"

Fandi tak mengacuhkan Bagas, dan justru kembali berulah. Kali ini dia bahkan menyeret Rachel.

"Gak mau!" Rachel yang kukuh tidak ingin Fandi membawanya, reflek menggenggam tangan Bagas.

Merasa sangat dibutuhkan, Bagas tentu tidak bisa tinggal diam. Dengan sekali sentak, dia melepas tangan Fandi dari tangan Rachel.

"Elo budek!" bentak Bagas. "apa lo pura-pura budek, hah! Dia dari tadi udah gak mau sama lo, ngapain lo masih maksa?"

Teriakan Bagas tentu mengundang perhatian para pengunjung kelab, tak terkecuali gadis di sampingnya.

Nathan bergegas menghampiri. Kemudian dia menyentuh pundak Bagas. "Ga …" Dia menyebut nama belakang 'Lingga', agar kawannya ini tidak ikut campur urusan yang sama sekali bukan urusannya. "ini bukan urusan lo, Ga. Elo mending gak usah ikut campur," bisiknya.

Namun, Bagas sudah terlanjur ikut campur. Dan dia harus segera menyelesaikan masalah ini. "Elo mending pergi dari sini sebelum gue panggilin keamanan, biar lo diseret sampe pintu depan! Mau lo?" ancamnya pada Fandi, yang terlihat mulai menciut.

Sudut bibir Bagas tertarik saat melihat Fandi nampaknya mulai menyadari jika sedang menjadi tontonan di tempat ini. Melirik ke kedua telapak tangan Fandi yang mengepal di sisi tubuh dengan senyum puas.

Sialan banget 'kan, udah seenaknya manggil 'Om', pakek berlagak sok garang. Baru diancem doang udah ciyut kayak ayam sayur.

Senyum kemenangan terbit di bibir Bagas ketika Fandi tiba-tiba pergi tanpa berani melawannya.

"Bubar! Bubar! Bubar!" Nathan mengibaskan tangan ke arah pengunjung yang sempat berkerumun. Kemudian dia kembali duduk di tempatnya semula.

Bagas meraih tangan Rachel, dan membawanya duduk di stolbar.

"Duduk sini. Kaki lo pasti pegel," kata Bagas, melirik sekilas heels yang dipakai Rachel. "Heels lo tinggi banget. Baju lo juga keliatan gak nyaman." Dia lantas duduk di tempatnya semula, dan meminta Axel membuatkan minum untuk Rachel.

Gimana gak nyaman. Yang dipake baju cuma setengah jadi, yang cuma nutupin separuh badan mulusnya. Bagas menggeleng kecil, melihat gadis di sampingnya berusaha menutupi sebagian perutnya yang terekspos.

"Lain kali, kalo pakek baju yang sekiranya nyaman buat lo," celetuk Bagas, yang menyadari ketidaknyamanan Rachel. "Nama lo Rachel?"

Rachel mengangguk.

Bagas tersenyum. "Itu tadi cowok lo?" Kan, si Bagas jadi kepo...

"Mantan," sahut Rachel.

Sepasang alis Bagas naik tipis. "Mantan?"

Dan tak sengaja Bagas ngegepin Rachel yang lagi natap dengan mulut setengah terbuka dan liurnya hampir menetes.

Bagas lalu iseng nyeletuk, "Iya gue ganteng, tapi biasa aja ngeliatinnya." Kemudian dengan sengaja dia mengatupkan dagu Rachel dengan seringai andalannya.

Bisa dilihat dengan jelas kalau pipi Rachel memerah mirip udang rebus. Bagas mengerling jail pada gadis itu.

Rachel mengedip, dan berkata lirih, "Makasih, ya, Om."

Dipanggil 'Om' lagi oleh Rachel, Bagas tentu berdecak keras. "Gue gak setua itu, kali. Sampe dipanggil Om," protesnya. "muka masih seger kayak gini dipanggil 'Om'. Gak terima gue."

Bagas merengut, pura-pura jengkel, lalu melirik Rachel yang menundukkan kepala.

Buru-buru Bagas menjelaskan, "Umur gue masih dua puluh empat, belum empat puluh. Jadi, lo gak usah terlalu kaku sama gue. Santai aja."

Dan lagi-lagi dia membuat anak orang jadi panas dingin dengan sikapnya, karena mengusak puncak kepala Rachel tanpa permisi.

"Minumannya, Gas."

Axel menyodorkan minuman di atas meja, lalu segera Bagas ambil.

Disodorkannya minuman itu ke Rachel. "Minum nih, biar lo gak dehidrasi."

Rachel tak bergeming, dan hanya menatap ragu pada gelas minuman yang masih berada di tangan Bagas.

Bagas yang langsung paham segera menjelaskan, "Tenang aja. Ini cuma jus stroberi yang dicampur soda dikit," ucapnya, lalu terkekeh. "gak ada campuran apa-apa lagi. Buat lo ini masih aman. Nih, diminum." Bagas menuntun tangan Rachel agar menerima gelas minuman itu.

Bagas tersenyum, saat Rachel mau menerima minumannya. Dia lantas meminum minumannya sendiri.

"Ga, gue cabut dulu, ya!" Nathan tiba-tiba pamit. "gue mau tidur aja di apartemen." Dia turun dari stolbar.

"Tante Bela masih gak bisa dihubungin?" tanya Bagas asal menebak, karena terlihat dari raut Nathan yang bete.

"Belom," sahut Nathan.

Bagas berdecak, karena saat ini Nathan melirik Rachel, lalu mendekati gadis itu dengan raut jail. Pasti temannya itu ingin menjahili Rachel.

Dan benar saja. Samar-samar Bagas mendengar Nathan berbisik di telinga Rachel, "hati-hati sama om Lingga. Nanti kamu dimakan sama dia."

Sialan banget 'kan?

Habis nakut-nakutin anak orang, Nathan malah ketawa, terus pergi gitu aja kayak gak ada dosa.

"Eh, kunyuk! Ga usah nakut-nakutin anak orang lo!" teriak Bagas, memandang punggung Nathan yang sudah menjauh dari pandangan.

Bagas lantas memandang Rachel yang saat ini menatapnya. Hancur sudah reputasinya di depan gadis ini.

Menggaruk leher yang tidak gatal sama sekali, Bagas berkata, "Gak usah didengerin omongannya dia. Tuh, anak mulutnya emang suka usil."

Entah apa yang dipikirkan Rachel tentangnya. Bagas sama sekali tidak bisa menebak.

Kan, gak lucu. Belum apa-apa udah tau kartu As-nya Bagas.

Eh?

Canda, kok.

Walau sebenarnya, Bagas penasaran dengan Rachel, yang menurutnya sangat cantik dan menarik. Apalagi kalau mengingat ciuman tadi.

Haiss… Bagas mulai, deh!

Jiwa-jiwa pemain seorang Bagas meronta, dan tanpa ragu dia bertanya, "Mau gue anterin pulang?"

Rachel mengerjap bingung.

***

Bersambung...

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁸⁴—Ingin Hidup Sepenuhnya

    Sepanjang perjalanan meninggalkan rumah sakit, Bagas beberapa kali melirik Rachel yang duduk di sampingnya. Perempuan itu tampak sedang memikirkan sesuatu sambil sesekali mengusap perutnya yang semakin membesar. Ada senyum tipis di wajah Rachel, senyum yang sejak tadi belum benar-benar menghilang setelah pertemuan mereka dengan Sandra. Bagas tahu pertemuan tadi bukan sesuatu yang mudah bagi mereka. Untuk Rachel, itu adalah pertemuan pertama dengan perempuan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan laki-laki yang dicintainya. Sementara bagi Bagas, melihat ibunya bisa tersenyum, tertawa, bahkan memarahi dirinya karena kehamilan Rachel memberikan perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ada bagian dari kehidupannya yang selama bertahun-tahun terasa kosong, kini mulai terisi kembali. "Mikirin apa?" tanya Bagas akhirnya. Rachel menoleh. "Nggak." "Kalau nggak mikirin apa-apa, kenapa senyum sendiri?" "Aku seneng." Bagas mengangkat alis. "Seneng karena apa? Karena akhirn

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁸³—Bertemu Mama~

    Keesokan harinya... Sejak pagi, Bagas sudah memikirkan satu hal. Hari ini dia ingin membawa Rachel menemui mamanya. Bukan karena dia ingin sekadar mengenalkan perempuan yang dicintainya. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu. Selama bertahun-tahun, satu-satunya keluarga yang masih dia miliki adalah Sandra. Namun setelah kematian Raditya, keadaan Sandra perlahan memburuk. Depresi yang dialaminya membuat perempuan itu harus menjalani perawatan panjang. Ada masa ketika Sandra bahkan tidak mengenali Bagas dengan baik. Ada hari-hari ketika dia hanya diam menatap jendela. Ada pula saat-saat ketika emosinya tidak stabil dan dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian suaminya. Bagas pernah merasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan keduanya. Ayahnya sudah pergi. Ibunya jatuh sakit. Dan dirinya sendiri justru sibuk membangun kehidupan sebagai Lingga demi membalas dendam. Sekarang... Setelah semuanya selesai, Bagas ingin memperbaiki satu hal yang paling la

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁸²—Kejutan untuk Calon Ibu~

    Sore itu...Rumah Vanila terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Rachel yang sejak siang berada di ruang tengah bahkan tidak menyadari ada sesuatu yang aneh.Vanila beberapa kali keluar masuk rumah. Kadang membawa sesuatu ke belakang. Kadang menerima telepon dan berbicara dengan suara yang sengaja dikecilkan. Rachel sebenarnya sempat curiga. Namun setiap kali ditanya, Vanila selalu memberikan jawaban yang sama. "Nanti juga kamu tau." Rachel akhirnya menyerah. Dia duduk nyaman di sofa sambil mengusap perutnya yang semakin membesar. Sejak beberapa hari terakhir, gerakan bayinya juga mulai semakin terasa. Tidak selalu kuat. Tetapi cukup untuk membuat Rachel tersenyum setiap kali merasakannya. Dia masih sering tidak percaya bahwa sebentar lagi akan ada seorang anak kecil yang memanggilnya Mama. Ada rasa takut. Ada rasa gugup. Tetapi lebih banyak rasa bahagia. Terutama setelah semua masalah yang mereka lalui akhirnya selesai. Rachel baru saja mengambil ponsel ketika terdengar su

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁸¹—Langkah Pertama~

    Hari pertama kembali bekerja ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang Bagas bayangkan.Bukan karena pekerjaannya terlalu berat. Justru karena sudah cukup lama pikirannya terbiasa hidup dalam ketegangan, sampai rutinitas kantor terasa seperti sesuatu yang asing. Pukul lima sore, Bagas keluar dari ruangannya sambil mengembuskan napas. Hari itu dia tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Hanya memeriksa beberapa dokumen, mengikuti rapat, mempelajari pekerjaan yang diberikan Hendra, dan menerima teguran kecil karena beberapa hal yang masih belum dia pahami. Tetapi anehnya...Bagas merasa senang. Bahkan ketika Hendra menyuruhnya memperbaiki laporan yang salah, dia tidak merasa kesal. Dulu, seluruh waktunya dipakai untuk menyusun strategi. Sekarang dia hanya perlu memikirkan pekerjaan yang ada di depan mata. Sesederhana itu. Bagas baru saja hendak masuk ke mobil ketika Hendra memanggilnya. "Bagas." Bagas menoleh. "Iya, Om?" Hendra berjalan mendekat. "Gimana kerja sama om

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁸⁰—Dengan cara yang benar~

    Malam itu...Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bagas kembali ke apartemennya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Biasanya, ketika pintu apartemen itu terbuka, kepalanya langsung dipenuhi berbagai hal. Tentang Maudy.Tentang rencana yang belum selesai.Tentang bukti yang harus disimpan.Tentang identitas Lingga yang harus terus dia jaga. Bahkan setelah semuanya selesai, tubuhnya sering kali masih terasa tegang seolah-olah ada sesuatu yang harus dia waspadai. Namun malam ini berbeda. Bagas menutup pintu apartemennya, kemudian berdiri beberapa saat tanpa melakukan apa-apa. Sunyi. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara orang lain. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Bagas mengembuskan napas panjang. Kemudian dia berjalan menuju ruang tengah dan meletakkan kunci mobil di atas meja. Matanya menyapu seluruh ruangan. Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi entah kenapa, malam ini terasa berbeda. Mungkin karena untuk pertama kalinya, dia ti

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷⁹—Putusan~

    Beberapa hari kemudian...Pengadilan Negeri Jakarta kembali dipenuhi orang sejak pagi.Namun suasananya berbeda dari persidangan sebelumnya.Tidak banyak saksi yang menunggu di luar ruang sidang.Tidak ada lagi pemeriksaan panjang.Hari itu...Majelis hakim akan membacakan putusan terhadap Maudy Prameswari.Bagas berdiri di samping mobil sambil menatap gedung pengadilan.Untuk beberapa detik, dia hanya diam.Dulu...Dia datang ke tempat seperti ini dengan membawa satu tujuan.Balas dendam.Dia ingin melihat Maudy kehilangan semuanya.Seperti dirinya yang pernah kehilangan keluarga.Namun sekarang...Perasaannya sudah berbeda.Dendam itu masih meninggalkan bekas.Tetapi tidak lagi menguasai hidupnya.Sebuah tangan menyentuh lengannya."Mas."Bagas menoleh.Rachel berdiri di sampingnya.Perempuan itu mengenakan dress sederhana dan cardigan tipis. Perutnya yang semakin membesar membuat Bagas otomatis memperhatikan langkahnya."Pelan-pelan," ujar Bagas.Rachel tersenyum. "Aku masih bisa j

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸—Rumah Maudy~

    Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan. "Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol." Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalaha

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷—Pernikahan~

    Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari tempat, penghulu dan para saksi. Oh, jangan lupa mas kawin yang berupa cincin berlian, yang past

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶—Ajakan nikah dadakan~

    Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

    Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status