MasukGila!
Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah membuat gadis yang sedang berada di rengkuhannya kelimpungan. Gadis itu terlihat sedang berusaha menyeimbangi pagutan-pagutan lembut, tetapi cukup terasa cepat baginya yang baru pertama kali berciuman. Setelah merasa cukup, Bagas melepas pagutannya. "Napas, Manis," bisiknya sambil mengusapkan ibu jari di bibir sang gadis, yang agak membengkak karena ulahnya. "baru pertama kali, ya?" Bagas tersenyum, lalu melepaskan lengannya perlahan dari pinggang sang gadis. Tentu saja Bagas bisa membedakan—mana yang pertama kali dan mana yang sudah pro. Dan ABG di hadapannya ini masih sangat amatiran. Dari bungkamnya sang gadis, Bagas sudah bisa menyimpulkan. Tapi ngomong-ngomong, bila diperhatikan gadis ini memang sangat cantik, walau penampilannya kurang cocok dengan usianya. Pakaiannya terlalu terbuka dan sangat minim. "Rachel!" 'Oh, jadi namanya Rachel.' Bagas membatin sambil menatap sekilas pada pemuda yang memanggil Rachel, dan melangkah menghampiri. Lalu, tahu-tahu tangan Rachel ditarik paksa oleh pemuda yang entah siapa. Manik Bagas memicing tak suka, saat Rachel menolak disentuh oleh temannya. "Lepasin, Fandi!" bentaknya. Fandi menggeleng. "Gak akan! Gue gak akan lepasin lo, Chel! Kita pulang sekarang!" "Gue gak mau!" tolak Rachel, berusaha melepas cengkeraman tangan Fandi. "gue gak mau pulang sama lo! Gue mau pulang sama cowok gue!" Rachel menatap Bagas, dengan raut memohon. "Cowok lo? Ini cowok lo?" Fandi tertawa mengejek. "Om-om ini cowok lo?" Tatapannya seolah sedang menertawakan Bagas. Bagas yang terus dikait-kaitkan jelas merasa tak terima apalagi disebut 'Om-om' sama bocah tengik ini. "Eh, yang lo panggil 'om' siapa?" Fandi menyalak. "Lo!" Sialan! Bagas membentak. "Gue ini bukan om lo, ya! Kalo ngomong yang bener!" "Ayo pulang!" Fandi tak mengacuhkan Bagas, dan justru kembali berulah. Kali ini dia bahkan menyeret Rachel. "Gak mau!" Rachel yang kukuh tidak ingin Fandi membawanya, reflek menggenggam tangan Bagas. Merasa sangat dibutuhkan, Bagas tentu tidak bisa tinggal diam. Dengan sekali sentak, dia melepas tangan Fandi dari tangan Rachel. "Elo budek!" bentak Bagas. "apa lo pura-pura budek, hah! Dia dari tadi udah gak mau sama lo, ngapain lo masih maksa?" Teriakan Bagas tentu mengundang perhatian para pengunjung kelab, tak terkecuali gadis di sampingnya. Nathan bergegas menghampiri. Kemudian dia menyentuh pundak Bagas. "Ga …" Dia menyebut nama belakang 'Lingga', agar kawannya ini tidak ikut campur urusan yang sama sekali bukan urusannya. "ini bukan urusan lo, Ga. Elo mending gak usah ikut campur," bisiknya. Namun, Bagas sudah terlanjur ikut campur. Dan dia harus segera menyelesaikan masalah ini. "Elo mending pergi dari sini sebelum gue panggilin keamanan, biar lo diseret sampe pintu depan! Mau lo?" ancamnya pada Fandi, yang terlihat mulai menciut. Sudut bibir Bagas tertarik saat melihat Fandi nampaknya mulai menyadari jika sedang menjadi tontonan di tempat ini. Melirik ke kedua telapak tangan Fandi yang mengepal di sisi tubuh dengan senyum puas. Sialan banget 'kan, udah seenaknya manggil 'Om', pakek berlagak sok garang. Baru diancem doang udah ciyut kayak ayam sayur. Senyum kemenangan terbit di bibir Bagas ketika Fandi tiba-tiba pergi tanpa berani melawannya. "Bubar! Bubar! Bubar!" Nathan mengibaskan tangan ke arah pengunjung yang sempat berkerumun. Kemudian dia kembali duduk di tempatnya semula. Bagas meraih tangan Rachel, dan membawanya duduk di stolbar. "Duduk sini. Kaki lo pasti pegel," kata Bagas, melirik sekilas heels yang dipakai Rachel. "Heels lo tinggi banget. Baju lo juga keliatan gak nyaman." Dia lantas duduk di tempatnya semula, dan meminta Axel membuatkan minum untuk Rachel. Gimana gak nyaman. Yang dipake baju cuma setengah jadi, yang cuma nutupin separuh badan mulusnya. Bagas menggeleng kecil, melihat gadis di sampingnya berusaha menutupi sebagian perutnya yang terekspos. "Lain kali, kalo pakek baju yang sekiranya nyaman buat lo," celetuk Bagas, yang menyadari ketidaknyamanan Rachel. "Nama lo Rachel?" Rachel mengangguk. Bagas tersenyum. "Itu tadi cowok lo?" Kan, si Bagas jadi kepo... "Mantan," sahut Rachel. Sepasang alis Bagas naik tipis. "Mantan?" Dan tak sengaja Bagas ngegepin Rachel yang lagi natap dengan mulut setengah terbuka dan liurnya hampir menetes. Bagas lalu iseng nyeletuk, "Iya gue ganteng, tapi biasa aja ngeliatinnya." Kemudian dengan sengaja dia mengatupkan dagu Rachel dengan seringai andalannya. Bisa dilihat dengan jelas kalau pipi Rachel memerah mirip udang rebus. Bagas mengerling jail pada gadis itu. Rachel mengedip, dan berkata lirih, "Makasih, ya, Om." Dipanggil 'Om' lagi oleh Rachel, Bagas tentu berdecak keras. "Gue gak setua itu, kali. Sampe dipanggil Om," protesnya. "muka masih seger kayak gini dipanggil 'Om'. Gak terima gue." Bagas merengut, pura-pura jengkel, lalu melirik Rachel yang menundukkan kepala. Buru-buru Bagas menjelaskan, "Umur gue masih dua puluh empat, belum empat puluh. Jadi, lo gak usah terlalu kaku sama gue. Santai aja." Dan lagi-lagi dia membuat anak orang jadi panas dingin dengan sikapnya, karena mengusak puncak kepala Rachel tanpa permisi. "Minumannya, Gas." Axel menyodorkan minuman di atas meja, lalu segera Bagas ambil. Disodorkannya minuman itu ke Rachel. "Minum nih, biar lo gak dehidrasi." Rachel tak bergeming, dan hanya menatap ragu pada gelas minuman yang masih berada di tangan Bagas. Bagas yang langsung paham segera menjelaskan, "Tenang aja. Ini cuma jus stroberi yang dicampur soda dikit," ucapnya, lalu terkekeh. "gak ada campuran apa-apa lagi. Buat lo ini masih aman. Nih, diminum." Bagas menuntun tangan Rachel agar menerima gelas minuman itu. Bagas tersenyum, saat Rachel mau menerima minumannya. Dia lantas meminum minumannya sendiri. "Ga, gue cabut dulu, ya!" Nathan tiba-tiba pamit. "gue mau tidur aja di apartemen." Dia turun dari stolbar. "Tante Bela masih gak bisa dihubungin?" tanya Bagas asal menebak, karena terlihat dari raut Nathan yang bete. "Belom," sahut Nathan. Bagas berdecak, karena saat ini Nathan melirik Rachel, lalu mendekati gadis itu dengan raut jail. Pasti temannya itu ingin menjahili Rachel. Dan benar saja. Samar-samar Bagas mendengar Nathan berbisik di telinga Rachel, "hati-hati sama om Lingga. Nanti kamu dimakan sama dia." Sialan banget 'kan? Habis nakut-nakutin anak orang, Nathan malah ketawa, terus pergi gitu aja kayak gak ada dosa. "Eh, kunyuk! Ga usah nakut-nakutin anak orang lo!" teriak Bagas, memandang punggung Nathan yang sudah menjauh dari pandangan. Bagas lantas memandang Rachel yang saat ini menatapnya. Hancur sudah reputasinya di depan gadis ini. Menggaruk leher yang tidak gatal sama sekali, Bagas berkata, "Gak usah didengerin omongannya dia. Tuh, anak mulutnya emang suka usil." Entah apa yang dipikirkan Rachel tentangnya. Bagas sama sekali tidak bisa menebak. Kan, gak lucu. Belum apa-apa udah tau kartu As-nya Bagas. Eh? Canda, kok. Walau sebenarnya, Bagas penasaran dengan Rachel, yang menurutnya sangat cantik dan menarik. Apalagi kalau mengingat ciuman tadi. Haiss… Bagas mulai, deh! Jiwa-jiwa pemain seorang Bagas meronta, dan tanpa ragu dia bertanya, "Mau gue anterin pulang?" Rachel mengerjap bingung. *** Bersambung...Dari kantor Maudy, Bagas langsung menuju Rumah Sakit. Namun, sebelum itu dia mampir ke toko bunga yang kebetulan berjejer tepat di depan Rumah Sakit. Wah.. Bagas sama sekali tidak memerhatikan selama ini—jika ada banyak toko bunga di dekat Rumah Sakit. "Kenapa gue gak ngeh, ya?" Bagas merutuk dirinya, sambil melihat-lihat bunga-bunga yang ditata rapi dan warnanya sangat cantik. Hidungnya mencium setiap aroma yang menguar dari beberapa bunga yang memiliki wangi yang cukup tajam. Contohnya bunga sedap malam. Dan pilihan Bagas tentunya jatuh pada bunga mawar merah, sesuai permintaan Vanila. "Mbak, saya mau mawar merah ini. Tolong dirangkai yang bagus, ya," ucap Bagas pada perempuan pemilik toko bunga tersebut. "Baik, Mas. Silakan ditunggu sebentar." Selagi menunggu, Bagas pun berinisiatif untuk pergi ke toko kue yang jaraknya tidak terlalu jauh dari toko bunga. Entah mengapa, tiba-tiba dia ingin makan cake yang manis-manis. Di toko kue, Bagas membeli cheese cake y
"Eum ... Sebenernya suami tante ...." Maudy nampak tengah berpikir keras—antara ingin bicara sekaligus ragu. Bila Bagas perhatikan, perempuan itu agaknya ingin mengatakan sesuatu yang menyangkut soal Roy Darmawan. Namun, entah mengapa Bagas melihat keraguan dari sorot mata Maudy. 'Semoga dia mau cerita soal Roy sama gue.' Kalau Maudy mau cerita tentang Roy, tentunya sangat menguntungkan bagi Bagas. Masalahnya, perempuan ini nampak begitu hati-hati. Maudy mengulas senyum tipis, kemudian mengangkat cangkir kopinya lagi. Disesapnya lagi capucino buatan Bagas, sedikit demi sedikit sambil berpikir keras. Bagas menghela panjang, dan terlihat tak sabar. Pemuda itu masih menatap Maudy, yang bersikap tenang, tetapi sedikit mencurigakan. "Begini, Lingga." Maudy meletakkan cangkir ke atas meja. Menjilat bibir, lalu, "hmm ... Sebenernya ada yang mau tante kasih tau ke kamu." Rautnya berubah serius, dan tatapannya nampak sangat yakin, seolah-olah dia sudah siap bicara. Sedangka
Beberapa saat setelah bercinta di dalam mobil~ Raut Bagas terlihat semringah saat keluar dari pantry dengan membawa nampan berisi secangkir kopi, yang dibuatnya khusus untuk Maudy. Langkah Bagas begitu mantap saat berjalan melewati meja Susan, yang menatapnya keheranan. "Kamu bikin kopi buat Ibu?" tanya Susan, melirik sekilas pada cangkir kopi yang asapnya mengepul ke atas. Bagas berhenti sebentar di depan meja Susan, lalu mengangguk. "Biar keliatan ada kerjaan, Mbak," sahutnya, yang kemudian meringis. "Kan tadi udah kerja? Ikut Ibu meeting di luar, ke sana kemari." "Iya, sih... Anggep aja ini sebagai penutup sebelum saya pulang." "Ooh..." Susan menatap Bagas dengan raut penuh makna. Dan Bagas yang paham, buru-buru kabur. "Ya udah, Mbak. Aku ke ruangan Bu Maudy dulu. Keburu kopinya adem." Sebelum Susan menjawab, Bagas lebih dulu pergi dari hadapan perempuan itu. Selama beberapa hari bekerja di perusahaan Maudy, dan sering berinteraksi dengan beberapa staf perempuan t
Matahari mulai beranjak saat Bagas memarkir mobilnya di basement kantor. Dia lantas membuka pengait sabuk pengaman. Sejurus kemudian dia beringsut maju mendekat pada Maudy. Bagas membantu perempuan itu— membukakan sabuk pengaman. Hal yang sudah terbiasa dia lakukan semenjak bersama Maudy. Bagas memainkan perannya dengan apik selama ini. Bersikap manis dan memberi perhatian kecil, yang sering dia berikan untuk para tante-tante penyewa jasanya. Hati perempuan mana yang tidak akan meleleh dan menghangat, apabila terus diperlakukan sedemikian rupa. Tak terkecuali Maudy, yang semakin hari semakin mengaguminya. Bagas bisa menjamin seribu persen. Terbukti, saat ini Maudy menatapnya dengan tatapan kagum. Dan tak ragu mengecup pipinya. Bagas mengulas senyum ketika Maudy memujinya, "Makasih ganteng." Perempuan itu menyeringai nakal, seraya mengusap pipi Bagas. Tatapan matanya pun tak lepas dari bibir Bagas. "Sama-sama, Cantik." Bagas membelai pipi Maudy dengan punggung tangan.
Untuk pertama kalinya Bagas bertemu dengan orang-orang untuk membicarakan masalah pekerjaan. Membahas hal-hal yang menurutnya sangatlah asing di telinga. Jujur, urusan tersebut bukanlah dalam ranah Bagas yang hanya lulusan Sekolah Menengah Ke Atas. Bisnis, faktur penjualan, pendapatan dan lain sebagainya. Pembicaraan yang bagi Bagas sangatlah menguras pikiran dan otak. Dia sama sekali tidak paham maupun mengerti dengan semua itu. Bukannya Bagas tidak ingin belajar dan berusaha memahami ranah yang kali ini dia datangi. Mungkin pelan-pelan dia akan belajar dan mencari tahu tentang ilmu bisnis. Sebab, mau tidak mau Bagas harus mempunyai skill tersebut untuk kelangsungan hidupnya di masa yang akan datang. Bila nanti tiba waktunya, perusahaan sang ayah yang telah diambil Maudy jatuh ke tangannya lagi. Mau tidak mau Bagas harus memiliki kemampuan dalam bidang bisnis. Tak mau jika hasil kerja keras sang ayah terbuang sia-sia hanya karena dia yang belum memiliki pengalaman. Contohny
"Oh, gue belum ngomong, ya, sama lo." Bagas mengingat sesuatu. "Apa?" Kening Rachel mengernyit, lalu memberanikan diri duduk di samping Bagas. Tanpa melihat lawan bicaranya, Bagas berucap lagi, "Bokap lo masih hidup. Dia sekarang ada di rumah sakit." "Apa? Papi masih hidup?" Raut Rachel terkejut setengah hidup—antara syok sekaligus tidak percaya. Reaksi Rachel menarik perhatian Bagas. Melihat gadis itu tertegun sambil menatap tak percaya padanya, membuat hati Bagas merasakan desiran aneh. Mungkin, kabar yang Bagas berikan barusan telah memberi harapan baru pada Rachel yang selama ini yakin—jika sang papi masih hidup. Sorot mata gadis itu terlalu kentara sekali. Senang bercampur sedih. Bola mata bulat Rachel berkaca-kaca.. "Elo gak bohong 'kan, Lingga?" Manik Rachel yang mengembun menatap Bagas penuh harap. "bokap gue...." "Bokap lo masih hidup, Chel," ucap Bagas, sambil mengisap filter tembakau yang masih menyala. "dia ada di rumah sakit tapi dalam kondisi koma." Ketika






