FAZER LOGINTawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin.
Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini roda empat milik Bagas sudah memasuki kawasan kompleks perumahan elite. 'Ini tempat kayaknya gak asing.' Entah mengapa, tiba-tiba Bagas merasa jika area perumahan Rachel tidak asing di ingatannya. "Gue turun di sini aja." Ucapan Rachel, membuat Bagas seketika menoleh sekilas. "Di sini?" tanyanya sambil memelankan laju mobil dan berhenti. Rachel yang rupanya sudah melepas sabuk pengaman, menatap Bagas dan mengangguk. "Rumah lo yang mana?" tanya Bagas, yang merasa kurang pantas jika menurunkan seorang gadis di sini. "Tuh!" Rachel menunjuk rumah berlantai tiga tak jauh dari jangkauannya.. Bagas memalingkan pandangan ke arah yang ditunjuk Rachel. "Beneran yang itu?" "Iya." Rachel menjawab singkat, lantas berkata lagi, "Makasih, udah repot-repot nganterin gue sampe sini." Bagas menoleh cepat, menelisik sesaat raut Rachel. "Sama-sama," sahutnya. Tiba-tiba dia berkata sesuai yang ada di otaknya. "besok-besok kalo mau ke kelab lagi hubungin gue aja. Biar nanti gue temenin." Rachel termangu sejenak, selanjutnya dia mengangguk. "Lo udah save nomer gue 'kan?" Rachel mengangguk lagi. "Gue turun." "Gue liatin dari sini." Bagas terus memerhatikan Rachel yang turun dari mobil sampai gadis itu benar-benar memasuki sebuah rumah mewah berlantai tiga. "Anak orang kaya ternyata." Menurut Bagas rumah Rachel sangat mewah, dan dia baru menyadari sesuatu. "Tapi kayaknya gue gak asing sama rumah ini." Beberapa saat Bagas memerhatikan rumah Rachel sambil mengingat-ingat. Namun, yang ada justru kepalanya terasa pusing. "Bodo, ah!" Bagas memutuskan untuk menyudahi. Dinyalakannya kembali mesin mobil, lantas dia pun bergegas pergi dari sana untuk menemui seseorang. *** Mobil Bagas memasuki sebuah rumah sederhana yang belakangan ini jarang dia sambangi. Rumah bercat putih gading, yang terletak di pinggiran kota. Rumah yang selalu menjadi tempatnya pulang kala dia sedang penat dan banyak pikiran. Raut Bagas terlihat sangat semringah, sambil bersiul dia turun dari mobil, dan melangkah menuju pintu, yang sengaja tidak dikunci oleh sang empunya. Sebelum datang, dia sudah lebih dulu mengabari, dan meminta tidak perlu menunggu. Senyum Bagas makin merekah saat membuka pintu dan masuk. Ditutupnya kembali pintu itu. Tiba di dalam, aroma yang selalu dirindukan menyambut kedatangan Bagas. Aroma khas dari seseorang yang bertahun-tahun bersamanya. Melepas sepatunya, Bagas terlebih dahulu menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Selesai mandi dia menuju kamar tamu, dan berganti baju di sana. Sang pemilik rumah memang sengaja menyiapkan beberapa baju untuk Bagas, agar pada saat pemuda itu sedang ingin datang atau menginap tidak perlu repot-repot membawa baju ganti. Setelah berganti baju, Bagas menuju kamar lain yang menjadi kamar utama di rumah itu. Seorang perempuan sudah tertidur pulas di atas ranjang ukuran Queen, dengan selembar selimut menutupi sebatas bahunya. Senyum Bagas langsung terbit hanya dengan memandang punggung sang gadis, yang masih belum menyadari kedatangannya. Melangkah sepelan mungkin, Bagas mendekat, lalu naik ke ranjang, menyingkap selimut, dan ikut masuk ke dalamnya. Bagas merebahkan tubuhnya di belakang punggung sang gadis, tidur dengan posisi miring, dan memeluknya. "Udah dateng?" tanyanya perempuan yang saat ini berada di pelukan Bagas. "Hmm." Bagas bergumam, sambil menghirup aroma wangi perempuan yang selalu bisa menenangkan pikirannya. "gue bangunin Lo." Tangannya yang melingkar di pinggang menelusup masuk ke dalam kamisol, dan mengusap-usap permukaan kulit perut perempuan itu. "gue capek, Van." "Capek ya, istirahat. Biar ada tenaga buat besok." Bagas tersenyum di balik punggung perempuan itu. "Cuma sama lo, gue bisa jadi diri gue sendiri, Van." Dia makin mengeratkan pelukannya, dan menghirup dalam-dalam aroma yang belakangan ini dia rindukan. "Dan kamu … Tetap Bagas yang kukenal walau perempuan di luar sana kenal kamu sebagai Lingga." ~~~ Beberapa hari kemudian~ Rutinitas Bagas belum ada yang berubah, dan masih berkutat dengan para tante-tante yang menyewa jasanya. Pelanggan Bagas pun bertambah setelah Cindy membeberkan service pemuda itu pada teman-temannya, yang merupakan para tante-tante kesepian. Bagas juga masih menerima B.O lagi dari Cindy setelah terakhir kali mereka bertemu. Lalu Maudy? Bagas belum dihubungi lagi oleh perempuan itu. Dari informasi yang dia dapat kalau Maudy sedang sibuk bolak-balik rumah sakit. Informan yang membuntuti Maudy, cukup kesulitan mencari informasi terkait apa yang dilakukan oleh perempuan itu di rumah sakit. Pihak rumah sakit tidak bisa sembarangan memberikan informasi pasien pada orang asing. Selama empat hari ini Bagas menunggu kabar Maudy yang katanya akan segera mengurus pernikahan mereka. Entah apa yang akan perempuan itu lakukan. Bagas hanya bisa menunggu dan berpura-pura patuh agar tidak menimbulkan kecurigaan. Siang itu Nathan tiba-tiba muncul, mendatangi apartemen Bagas dengan raut tertekuk masam dan tak bersemangat. Bagas yang baru bangun tidur dan merasa terganggu dengan kedatangan Nathan tidak banyak bicara ketika membukakan pintu. Nathan menghempas tubuhnya di sofa, sambil menarik napas panjang, sedangkan Bagas kembali ke kamarnya dan mencuci muka. Setelah mencuci muka, Bagas yang masih bertelanjang dada keluar kamar, lalu melangkah ke pantry. Mengambil air mineral kemasan botol yang masih tersegel, kemudian menenggaknya hingga separuh. Sudut mata Bagas melirik Nathan yang belum bersuara sejak tiba di sini. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang kemungkinan sedang ada masalah. "Kenapa lo?" Akhirnya Bagas bertanya, karena tidak tahan melihat temannya terus bungkam. "masalah Bela lagi?" Bagas hanya menebak asal. Bagas mengambil dua kaleng bir non alkohol dari lemari es, dan membawanya ke ruang tamu. Meletakkan kaleng bir itu di meja, Bagas menghempas tubuhnya di sofa, tepat di samping Nathan, yang belum merespon pertanyaannya. "Si Bela kenapa lagi?" tanya Bagas lagi, kali ini suaranya setengah meninggi serta terdengar agak kesal. Dia menghela, menyandarkan punggung ke sandaran sofa, dan bersedekap dada. Menatap jengkel Nathan yang belum berniat menceritakan permasalahannya. Gara-gara perempuan, temannya yang pernah bilang tidak mau memiliki perasaan terhadap pelanggan, kini terlihat menyedihkan dan menyebalkan. Bagas berdecak, lalu meraih kaleng bir dan membukanya. Dia berceletuk, "Minum, Nat. Minum. Gak usah terlalu dipikirin. Anggep aja bukan jodoh." Kemudian menenggak minuman berkarbonasi itu, yang meninggalkan kesan menggelitik di lidah. Nathan menghela, lalu melakukan hal serupa dengan Bagas. Menenggak kaleng minumannya. "Si Bela kayaknya pergi, Gas," ucap Nathan, yang baru mau membuka suara setelah beberapa menit hanya diam dan merenung. "kayaknya pergi sama suaminya ke luar negeri," lanjutnya. "Luar negeri?" Bagas nampak berpikir sejenak. "emangnya kalo dia ke luar negeri sama suaminya, kenapa, Nat? Kan, sah-sah aja." Nathan menatap Bagas, dan menjawab, "Ya emang gak ada masalah, cuma—" Ponsel Bagas yang ada di kamar berdering nyaring, membuat ucapan Nathan terpotong. "Bentar." Bagas bergegas berdiri, melangkah menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Tak lama kemudian Bagas kembali ke luar, sambil menjawab panggilan yang rupanya dari Maudy. "Halo, Tan?" Bagas kembali duduk. Nathan menatap Bagas sambil menikmati bir di tangan. "Kamu lagi sibuk, gak, Lingga?" tanya Maudy di ujung sana. Bagas melirik Nathan, yang ikut mencuri dengar. "Enggak, Tan. Lingga lagi di rumah. Emangnya kenapa, Tan? Tante mau ngajak ketemu?" "Kamu dateng ke gereja sekarang, ya?" "Ke gereja? Mau ngapain, Tan?" tanya Bagas yang belum sepenuhnya paham dengan perintah Maudy. "Kita nikah, Lingga," kata Maudy. Bola mata Bagas melebar. "Nikah? Sekarang?" Diliriknya Nathan, yang sepertinya juga ikut terkejut. "Ya." "Tante yakin? Kita nikah sekarang?" Bagas hanya basa-basi, padahal dalam hatinya dia bersorak gembira. "Yakin, dong. Ya udah cepetan ke sini. Tante tunggu, ya." "Oke-oke, Tan," sahut Bagas. "Lingga siap-siap dulu." "Cepetan, Lingga." "Iya-iya." Pembicaraan Bagas dan Maudy berakhir. "Elo beneran mau nikah, Gas?" Raut Nathan terlihat penasaran dan belum percaya. Bagas mengangguk. Alis Nathan naik. "Serius? Sama siapa?" "Sama Tante Maudy." "Tante Maudy?" Nathan sampai mencondongkan badan. "Tante Maudy yang itu?" "Iya. Maudy yang itu," kata Bagas menjawab dugaan Nathan yang mengarah pada seorang perempuan, yang sempat bertemu dengannya beberapa kali. "Loh, kok, bisa? Kan, dia masih ada suami?" "Suaminya lagi di luar negeri, Nat," kata Bagas. "Tapi 'kan, Gas …" Raut Nathan sangat serius. "itu gak dibolehin dalam keyakinan manapun. Itu termasuk poliandri, bukan, sih?" "Gue sama dia cuma nikah kontrak, Nat," jelas Bagas agar Nathan tidak salah menanggapi. "gue sama dia cuma nikah siri." Bagas menenggak sisa bir. "Dan elo mau?" Sorot mata Bagas berubah dingin, dan dengan gerakan yakin dia mengangguk. "Hmm." Nathan menghela, dan Bagas melihat itu. Tentu Bagas yakin sekali jika Nathan saat ini menentang dan tidak percaya dengan keputusannya. Dia tentu sangat ingin mengatakan alasan di balik keputusannya ini. Namun, belum saatnya. Bagas belum bisa menceritakan masa lalunya pada Nathan serta dendam yang dia miliki pada Maudy. "Elo mau 'kan jadi saksi?" tanya Bagas. "Gue?" Nathan menunjuk dirinya sendiri. Bagas mengangguk. Nathan yang tidak bisa menolak permintaan Bagas lantas mengangguk tanpa banyak berpikir. "Oke, deh. Gue mau." *** Bersambung...Manik Bagas tak berkedip, menatap lurus sosok gadis yang tempo hari dia bantu dan antar pulang, saat ini sedang berdiri di hadapan.Nampaknya, gadis itu juga sama terkejutnya. 'Jadi … Rachel anak tirinya Maudy?'Seketika Bagas merasa paling bodoh ketika baru menyadari fakta sebesar ini.Kalau Rachel anak tirinya Maudy, lantas semua rencana yang sudah dia susun rapi terpaksa dirubah."Elo ngapain ada di rumah gue?"Pertanyaan Rachel membuat Bagas terpaksa kembali pada kenyataan yang amat sangat mengejutkan ini.Pemuda itu terhenyak, lalu berdehem singkat guna menyingkirkan kegugupan yang bisa saja membuat dirinya terlihat makin bodoh."Gue ke sini karena ada urusan sama Tante Maudy," kata Bagas sesuai fakta, sambil diam-diam mengakhiri panggilan dengan Firman yang terjeda. Di ujung sana pasti Firman sudah mendengar semuanya. Bagas memasukkan ponselnya ke saku jas, sambil melirik Rachel yang k
Bagas menatap perempuan yang paling berjasa dalam hidupnya selama ini. Sorot mata Mami memancarkan sesuatu yang sulit ditebak. Kalimat yang baru saja dia dengar dari mami, seolah menyiratkan pesan. Entah apa. Namun, Bagas tetap menghargai serta berterima kasih pada perempuan yang usianya hampir setengah abad itu, tetapi masih terlihat sangat cantik dan modis. "Lingga bakal hati-hati, Mi," ucap Bagas. "Mami gak perlu khawatir." Diusapnya lengan mami Kumala, sekadar meyakinkan perempuan itu bila dia bisa menjaga diri. Mami Kumala balas mengusap lengan Bagas dengan seulas senyum bangga. "Kamu pasti bisa mencapai tujuanmu, Ga." Bagas mengangguk. "Berkat mami juga." "Mami cuma bantu seorang anak yang lagi putus asa waktu itu." Kalimat dari Mami Kumala memberi Bagas semangat baru. Dialah perempuan paling berjasa serta baik yang pernah Bagas temui. Berkat tawaran mami kal
Dari semenjak kakinya menginjak paving di halaman parkir, sepasang mata Bagas tak lepas memerhatikan rumah mewah bergaya klasik Eropa itu dengan raut datar, dan penuh tanya.Pilar-pilar menjulang tinggi dan kokoh di setiap sudut rumah berwarna putih gading itu. Sayup-sayup terdengar suara musik dari arah halaman belakang rumah bertingkat tiga tersebut. Nampaknya, pesta sudah dimulai sebelum Bagas tiba di sini.Bagas menghela panjang, menatap nyalang sekelilingnya. Sementara di kepalanya sudah tersusun berbagai rencana, termasuk mengambil alih seluruh harta yang pernah dicuri oleh Maudy beberapa tahun yang lalu.Sebagian kenangan masa lalu muncul sekilas di ingatan pemuda dua puluh empat tahun itu. Rumah mewah Maudy hampir mirip dengan rumah Bagas yang dijual untuk biaya pengobatan sang mama.Rumah yang penuh kenangan masa kecilnya sekaligus trauma yang tidak akan pernah bisa Bagas lupakan seumur hidup.Suami baru Maudy memang sangat kaya, terbukti saat ini jalang itu bisa hidup mewah
Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan."Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol."Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalahannya dengan Bela.Bagas bahkan bisa melihat dengan jelas jika Nathan sangat nyaman mengobrol berdua dengan Tante Karin di bangku panjang paling ujung. Mereka memilih tempat yang jauh dari jangkauan semua orang yang berada di gereja.Berteman dengan Nathan tidak sehari dua hari. Bagas ingat betul waktu pertama kali dia bertemu dengan Nathan di kelab beberapa tahun yang lalu.Temannya itu bukan berasal dari keluarga sembarangan. Nathan pernah bilang kalau dia sengaja bekerja menjadi pria bayaran karena ingin membuktikan pada ayahnya, jika dia bisa berdiri di kakinya sendiri.Nathan diusir dari rumah oleh ayahnya ketika masih sekolah di bangku SMA. Ayahnya tidak tahan dengan kelakuan Nathan yang t
Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari pemilihan tempat untuk pemberkatan, pastor, pakaian, para saksi, serta mas kawin. Semua benar-benar mirip pernikahan sungguhan. Pernikahan dilangsungkan secara tertutup tentunya. Hanya orang-orang terdekat Maudy yang diperkenankan hadir. Sedangkan dari pihak Bagas hanya Nathan yang hadir. Bagas terlihat sangat tampan dan gagah dengan balutan jas warna hitam, yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Maudy untuknya. Sementara perempuan itu mengenakan gaun warna putih tanpa lengan, dan panjang hanya sebatas paha. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, dan ditutupi dengan selendang transparan warna putih. Perasaan Bagas pastinya campur aduk detik ini. Bisa menjebak jalang sialan yang menghancurkan keluarganya dengan pernikahan, sesuatu yang sudah sangat lama dia nantikan. Tak
Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini roda empat milik Bagas sudah memasuki kawasan kompleks perumahan elite. 'Ini tempat kayaknya gak asing.' Entah mengapa, tiba-tiba Bagas merasa jika area perumahan Rachel tidak asing di ingatannya. "Gue turun di sini aja." Ucapan Rachel, membuat Bagas seketika menoleh sekilas. "Di sini?" tanyanya sambil memelankan laju mobil dan berhenti. Rachel yang rupanya sudah melepas sabuk pengaman, menatap Bagas dan mengangguk. "Rumah lo yang mana?" tanya Bagas, yang merasa kurang pantas jika menurunkan seorang gadis di sini. "Tuh!" Rachel menunjuk rumah berlantai tiga tak jauh dari jangkauannya.. Bagas memalingkan pandangan ke arah yang ditunjuk Rachel. "Beneran yang itu?" "Iya." Rach