แชร์

Bab⁶—Ajakan nikah dadakan~

ผู้เขียน: Na_Vya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-15 01:06:15

Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin.

Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala.

Dan saat ini roda empat milik Bagas sudah memasuki kawasan kompleks perumahan elite.

'Ini tempat kayaknya gak asing.'

Entah mengapa, tiba-tiba Bagas merasa jika area perumahan Rachel tidak asing di ingatannya.

"Gue turun di sini aja."

Ucapan Rachel, membuat Bagas seketika menoleh sekilas. "Di sini?" tanyanya sambil memelankan laju mobil dan berhenti.

Rachel yang rupanya sudah melepas sabuk pengaman, menatap Bagas dan mengangguk.

"Rumah lo yang mana?" tanya Bagas, yang merasa kurang pantas jika menurunkan seorang gadis di sini.

"Tuh!" Rachel menunjuk rumah berlantai tiga tak jauh dari jangkauannya..

Bagas memalingkan pandangan ke arah yang ditunjuk Rachel. "Beneran yang itu?"

"Iya." Rachel menjawab singkat, lantas berkata lagi, "Makasih, udah repot-repot nganterin gue sampe sini."

Bagas menoleh cepat, menelisik sesaat raut Rachel. "Sama-sama," sahutnya. Tiba-tiba dia berkata sesuai yang ada di otaknya. "besok-besok kalo mau ke kelab lagi hubungin gue aja. Biar nanti gue temenin."

Rachel termangu sejenak, selanjutnya dia mengangguk.

"Lo udah save nomer gue 'kan?"

Rachel mengangguk lagi. "Gue turun."

"Gue liatin dari sini."

Bagas terus memerhatikan Rachel yang turun dari mobil sampai gadis itu benar-benar memasuki sebuah rumah mewah berlantai tiga.

"Anak orang kaya ternyata."

Menurut Bagas rumah Rachel sangat mewah, dan dia baru menyadari sesuatu.

"Tapi kayaknya gue gak asing sama rumah ini."

Beberapa saat Bagas memerhatikan rumah Rachel sambil mengingat-ingat.

Namun, yang ada justru kepalanya terasa pusing.

"Bodo, ah!" Bagas memutuskan untuk menyudahi.

Dinyalakannya kembali mesin mobil, lantas dia pun bergegas pergi dari sana untuk menemui seseorang.

***

Mobil Bagas memasuki sebuah rumah sederhana yang belakangan ini jarang dia sambangi. Rumah bercat putih gading, yang terletak di pinggiran kota. Rumah yang selalu menjadi tempatnya pulang kala dia sedang penat dan banyak pikiran.

Raut Bagas terlihat sangat semringah, sambil bersiul dia turun dari mobil, dan melangkah menuju pintu, yang sengaja tidak dikunci oleh sang empunya. Sebelum datang, dia sudah lebih dulu mengabari, dan meminta tidak perlu menunggu.

Senyum Bagas makin merekah saat membuka pintu dan masuk. Ditutupnya kembali pintu itu.

Tiba di dalam, aroma yang selalu dirindukan menyambut kedatangan Bagas. Aroma khas dari seseorang yang bertahun-tahun bersamanya.

Melepas sepatunya, Bagas terlebih dahulu menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Selesai mandi dia menuju kamar tamu, dan berganti baju di sana.

Sang pemilik rumah memang sengaja menyiapkan beberapa baju untuk Bagas, agar pada saat pemuda itu sedang ingin datang atau menginap tidak perlu repot-repot membawa baju ganti.

Setelah berganti baju, Bagas menuju kamar lain yang menjadi kamar utama di rumah itu. Seorang perempuan sudah tertidur pulas di atas ranjang ukuran Queen, dengan selembar selimut menutupi sebatas bahunya.

Senyum Bagas langsung terbit hanya dengan memandang punggung sang gadis, yang masih belum menyadari kedatangannya.

Melangkah sepelan mungkin, Bagas mendekat, lalu naik ke ranjang, menyingkap selimut, dan ikut masuk ke dalamnya. Bagas merebahkan tubuhnya di belakang punggung sang gadis, tidur dengan posisi miring, dan memeluknya.

"Udah dateng?" tanyanya perempuan yang saat ini berada di pelukan Bagas.

"Hmm." Bagas bergumam, sambil menghirup aroma wangi perempuan yang selalu bisa menenangkan pikirannya. "gue bangunin Lo." Tangannya yang melingkar di pinggang menelusup masuk ke dalam kamisol, dan mengusap-usap permukaan kulit perut perempuan itu. "gue capek, Van."

"Capek ya, istirahat. Biar ada tenaga buat besok."

Bagas tersenyum di balik punggung perempuan itu. "Cuma sama lo, gue bisa jadi diri gue sendiri, Van." Dia makin mengeratkan pelukannya, dan menghirup dalam-dalam aroma yang belakangan ini dia rindukan.

"Dan kamu … Tetap Bagas yang kukenal walau perempuan di luar sana kenal kamu sebagai Lingga."

~~~

Beberapa hari kemudian~

Rutinitas Bagas belum ada yang berubah, dan masih berkutat dengan para tante-tante yang menyewa jasanya.

Pelanggan Bagas pun bertambah setelah Cindy membeberkan service pemuda itu pada teman-temannya, yang merupakan para tante-tante kesepian.

Bagas juga masih menerima B.O lagi dari Cindy setelah terakhir kali mereka bertemu.

Lalu Maudy?

Bagas belum dihubungi lagi oleh perempuan itu. Dari informasi yang dia dapat kalau Maudy sedang sibuk bolak-balik rumah sakit.

Informan yang membuntuti Maudy, cukup kesulitan mencari informasi terkait apa yang dilakukan oleh perempuan itu di rumah sakit. Pihak rumah sakit tidak bisa sembarangan memberikan informasi pasien pada orang asing.

Selama empat hari ini Bagas menunggu kabar Maudy yang katanya akan segera mengurus pernikahan mereka.

Entah apa yang akan perempuan itu lakukan.

Bagas hanya bisa menunggu dan berpura-pura patuh agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Siang itu Nathan tiba-tiba muncul, mendatangi apartemen Bagas dengan raut tertekuk masam dan tak bersemangat.

Bagas yang baru bangun tidur dan merasa terganggu dengan kedatangan Nathan tidak banyak bicara ketika membukakan pintu.

Nathan menghempas tubuhnya di sofa, sambil menarik napas panjang, sedangkan Bagas kembali ke kamarnya dan mencuci muka.

Setelah mencuci muka, Bagas yang masih bertelanjang dada keluar kamar, lalu melangkah ke pantry. Mengambil air mineral kemasan botol yang masih tersegel, kemudian menenggaknya hingga separuh.

Sudut mata Bagas melirik Nathan yang belum bersuara sejak tiba di sini. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang kemungkinan sedang ada masalah.

"Kenapa lo?" Akhirnya Bagas bertanya, karena tidak tahan melihat temannya terus bungkam. "masalah Bela lagi?" Bagas hanya menebak asal.

Bagas mengambil dua kaleng bir non alkohol dari lemari es, dan membawanya ke ruang tamu. Meletakkan kaleng bir itu di meja, Bagas menghempas tubuhnya di sofa, tepat di samping Nathan, yang belum merespon pertanyaannya.

"Si Bela kenapa lagi?" tanya Bagas lagi, kali ini suaranya setengah meninggi serta terdengar agak kesal.

Dia menghela, menyandarkan punggung ke sandaran sofa, dan bersedekap dada. Menatap jengkel Nathan yang belum berniat menceritakan permasalahannya.

Gara-gara perempuan, temannya yang pernah bilang tidak mau memiliki perasaan terhadap pelanggan, kini terlihat menyedihkan dan menyebalkan.

Bagas berdecak, lalu meraih kaleng bir dan membukanya. Dia berceletuk, "Minum, Nat. Minum. Gak usah terlalu dipikirin. Anggep aja bukan jodoh." Kemudian menenggak minuman berkarbonasi itu, yang meninggalkan kesan menggelitik di lidah.

Nathan menghela, lalu melakukan hal serupa dengan Bagas. Menenggak kaleng minumannya.

"Si Bela kayaknya pergi, Gas," ucap Nathan, yang baru mau membuka suara setelah beberapa menit hanya diam dan merenung. "kayaknya pergi sama suaminya ke luar negeri," lanjutnya.

"Luar negeri?" Bagas nampak berpikir sejenak. "emangnya kalo dia ke luar negeri sama suaminya, kenapa, Nat? Kan, sah-sah aja."

Nathan menatap Bagas, dan menjawab, "Ya emang gak ada masalah, cuma—"

Ponsel Bagas yang ada di kamar berdering nyaring, membuat ucapan Nathan terpotong.

"Bentar." Bagas bergegas berdiri, melangkah menuju kamar untuk mengambil ponselnya.

Tak lama kemudian Bagas kembali ke luar, sambil menjawab panggilan yang rupanya dari Maudy.

"Halo, Tan?" Bagas kembali duduk.

Nathan menatap Bagas sambil menikmati bir di tangan.

"Kamu lagi sibuk, gak, Lingga?" tanya Maudy di ujung sana.

Bagas melirik Nathan, yang ikut mencuri dengar. "Enggak, Tan. Lingga lagi di rumah. Emangnya kenapa, Tan? Tante mau ngajak ketemu?"

"Kamu dateng ke alamat yang Tante kirim, ya??"

"Mau ngapain, Tan?" tanya Bagas yang belum sepenuhnya paham dengan perintah Maudy.

"Kita nikah, Lingga," kata Maudy.

Bola mata Bagas melebar. "Nikah? Sekarang?" Diliriknya Nathan, yang sepertinya juga ikut terkejut.

"Ya."

"Tante yakin? Kita nikah sekarang?" Bagas hanya basa-basi, padahal dalam hatinya dia bersorak gembira.

"Yakin, dong. Ya udah cepetan ke sini. Tante tunggu, ya."

"Oke-oke, Tan," sahut Bagas. "Lingga siap-siap dulu."

"Cepetan, Lingga."

"Iya-iya."

Pembicaraan Bagas dan Maudy berakhir.

"Elo beneran mau nikah, Gas?" Raut Nathan terlihat penasaran dan belum percaya.

Bagas mengangguk.

Alis Nathan naik. "Serius? Sama siapa?"

"Sama Tante Maudy."

"Tante Maudy?" Nathan sampai mencondongkan badan. "Tante Maudy yang itu?"

"Iya. Maudy yang itu," kata Bagas menjawab dugaan Nathan yang mengarah pada seorang perempuan, yang sempat bertemu dengannya beberapa kali.

"Loh, kok, bisa? Kan, dia masih ada suami?"

"Suaminya lagi di luar negeri, Nat," kata Bagas.

"Tapi 'kan, Gas …" Raut Nathan sangat serius. "itu gak dibolehin dalam keyakinan manapun. Itu termasuk poliandri, bukan, sih?"

"Gue sama dia cuma nikah kontrak, Nat," jelas Bagas agar Nathan tidak salah menanggapi. "gue sama dia cuma nikah siri." Bagas menenggak sisa bir.

"Dan elo mau?"

Sorot mata Bagas berubah dingin, dan dengan gerakan yakin dia mengangguk. "Hmm."

Nathan menghela, dan Bagas melihat itu.

Tentu Bagas yakin sekali jika Nathan saat ini menentang dan tidak percaya dengan keputusannya. Dia tentu sangat ingin mengatakan alasan di balik keputusannya ini.

Namun, belum saatnya.

Bagas belum bisa menceritakan masa lalunya pada Nathan serta dendam yang dia miliki pada Maudy.

"Elo mau 'kan jadi saksi?" tanya Bagas.

"Gue?" Nathan menunjuk dirinya sendiri.

Bagas mengangguk.

Nathan yang tidak bisa menolak permintaan Bagas lantas mengangguk tanpa banyak berpikir. "Oke, deh. Gue mau."

***

Bersambung...

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷⁵—Menjadi Diri Sendiri~

    Dua hari kemudian...Pukul tujuh pagi Bagas sudah berada di dalam mobilnya.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia berangkat bekerja bukan untuk menjalankan sebuah penyamaran.Tidak ada identitas palsu.Tidak ada nama Lingga.Tidak ada rencana rahasia.Tidak ada target yang harus dia dekati.Hanya sebuah pekerjaan.Sederhana.Namun justru karena kesederhanaan itu, Bagas merasa sedikit asing.Dia melirik dirinya sendiri melalui kaca spion.Kemeja putih.Celana bahan hitam.Rambut yang ditata sederhana.Tidak ada lagi penampilan yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian perempuan seperti Maudy.Bagas tersenyum tipis."Bagaskara..." gumamnya pelan.Nama yang selama berbulan-bulan hampir dia tinggalkan.Kemudian mesin mobil kembali dinyalakan.Dia melajukan kendaraan menuju kantor Hendra.---Hari-hari pertama bekerja ternyata tidak semudah yang Bagas bayangkan.Hendra benar-benar memperlakukannya seperti karyawan biasa.Tidak ada perlakuan khusus.Tidak ada toleransi hanya kare

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷⁴—Langkah Baru~

    Malam itu, setelah mengantar Rachel kembali ke rumah Vanila, Bagas tidak ikut masuk. Dia hanya memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja sebelum kembali ke mobilnya. "Aku masuk dulu, ya," ucap Rachel. Bagas mengangguk. "Istirahat." "Kamu juga." Bagas tersenyum tipis. "Besok aku telepon." Rachel mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Bagas menunggu sampai pintu tertutup sebelum akhirnya kembali menuju mobil. Beberapa menit kemudian, mobilnya melaju meninggalkan halaman rumah Vanila. Bagas tidak menuju tempat lain. Melainkan apartemennya sendiri. --- Sesampainya di apartemen Bagas meletakkan kunci mobil di atas meja. Jas yang dikenakannya dilepas dan diletakkan di sandaran kursi. Kemudian dia berdiri cukup lama di depan jendela. Pemandangan kota terlihat ramai dari ketinggian. Lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di bawah sana. Namun entah kenapa, malam ini pikirannya justru terasa lebih kosong. Persidangan tadi masih te

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷³—Belum Waktunya~

    Persidangan hari itu akhirnya dihentikan setelah Bagas menyelesaikan rangkaian keterangannya. Masih ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Masih ada saksi-saksi lain yang akan dihadirkan. Namun majelis hakim memutuskan pemeriksaan akan dilanjutkan pada persidangan berikutnya. Tok! Tok! Tok! Palu diketukkan tiga kali. "Persidangan ditunda dan akan dilanjutkan sesuai jadwal yang telah ditetapkan." "Sidang selesai." Semua orang mulai berdiri. Suasana ruang sidang yang sejak tadi tegang perlahan berubah ramai. Para wartawan segera keluar untuk mengejar beberapa pihak yang dianggap penting dalam perkara tersebut. Bagas turun dari kursi saksi. Sebelum kembali ke tempat duduknya, dia sempat menatap Maudy. Perempuan itu masih duduk di kursi terdakwa. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Namun kali ini... Tidak ada senyum kemenangan di wajahnya. Bagas tahu. Beberapa bagian dari rencana Maudy sudah mulai terbuka di depan umum. Dan perempuan itu pasti menyadarinya. Bagas

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷²—Bukti-bukti

    Hakim Ketua kembali menatap Jaksa Penuntut Umum."Saudara Penuntut Umum, apakah masih ada bukti yang akan diajukan berkaitan dengan keterangan saksi?"Jaksa berdiri. "Ada, Yang Mulia."Dia lantas mengambil sebuah map tebal dari meja. "Penuntut Umum akan mengajukan beberapa dokumen medis yang berkaitan dengan almarhum Roy Darmawan."Bagas kembali menegakkan tubuhnya.Rachel pun perlahan mengangkat wajah.Jaksa melanjutkan, "Dokumen tersebut terdiri dari rekam medis pasien, catatan perawatan, catatan pemberian obat, serta hasil pemeriksaan kondisi pasien selama berada di rumah sakit."Penasihat hukum Maudy langsung berdiri."Yang Mulia, kami meminta agar seluruh dokumen tersebut diperiksa keasliannya terlebih dahulu."Jaksa mengangguk. "Itu akan dilakukan."Hakim Ketua menatap panitera. "Catat sebagai barang bukti dan lakukan pemeriksaan sesuai prosedur.""Baik, Yang Mulia."Beberapa lembar dokumen kemudian diserahkan kepada majelis hakim.Ruangan kembali hening.Jaksa lalu berkata, "Se

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷¹—Fakta Berikutnya

    IYAAA, paham sekarang 😭❤️ Jadi teks yang kamu kirim ini adalah bagian awal pemeriksaan Bagas, dan lanjutan yang kita buat harus langsung menyambung dari kalimat:> “Tidak ada jalan untuk kembali.”Bagas masih duduk tegak di kursi saksi. Tatapannya tertuju kepada majelis hakim.Dia sudah membuka terlalu banyak hal hari ini.Tentang dirinya.Tentang keluarganya.Tentang alasan dia menjadi Lingga.Tentang pernikahan sirinya dengan Maudy.Namun...Masih ada bagian yang jauh lebih berat untuk diceritakan.Jaksa Penuntut Umum kembali berdiri."Yang Mulia, kami melanjutkan pemeriksaan saksi."Hakim Ketua mengangguk."Silakan."Jaksa kembali menghadap Bagas."Saudara Bagaskara.""Iya.""Setelah Saudara mendapatkan kepercayaan terdakwa, apa yang kemudian Saudara ketahui?"Bagas menarik napas perlahan. "Maudy mulai menceritakan beberapa rencananya kepada saya.""Rencana apa?"Bagas terdiam sesaat. Tatapannya sempat beralih kepada Maudy. Perempuan itu masih duduk diam. Namun kali ini wajahnya

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷⁰—Tidak Ada Jalan Kembali

    Bagas mengembuskan napas panjang. "Karena terdakwa adalah salah satu penyebab keluarga saya hancur."Ruangan kembali sunyi. "Siapa nama ayah Saudara?" "Raditya Saputra." "Almarhum?" "Iya." "Apa yang terjadi dengan beliau?" Bagas mengepalkan tangan di atas pahanya. "Papa saya memiliki perusahaan. Perusahaan itu kemudian mengalami kebangkrutan." Jaksa mengangguk. "Dan apa hubungan kebangkrutan tersebut dengan terdakwa?" Bagas menatap Maudy. "Maudy mengambil hampir seluruh aset perusahaan Papa." Penasihat hukum Maudy langsung berdiri. "Keberatan, Yang Mulia. Pernyataan tersebut merupakan tuduhan yang belum dibuktikan." Jaksa menoleh. "Kami memiliki dokumen transaksi dan laporan keuangan yang akan diajukan sebagai barang bukti." Hakim Ketua mengangkat tangannya.. "Keberatan dicatat. Saksi tetap dipersilakan menjelaskan berdasarkan apa yang dia ketahui." Bagas mengangguk kecil. Dia kembali menatap lurus ke depan, dan lanjut bicara, "Setelah aset perusahaan habis..." Suarany

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

    Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab³—Tante Cindy~

    Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab²—Informan~

    "Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami. "Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sek

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹—Masuk Perangkap🔞

    "Lingga …." Desahan bernada putus asa itu lolos dari bibir wanita cantik, yang saat ini sedang berada di dalam kendali berondong bayarannya. "tante udah gak tahan." Wanita bernama Maudy itu melenguh, menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.Jari-jari milik Maudy, yang dihias kuku-kuku akrilik be

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status