Masuk"Iya, aku akan berusaha!" Sarah berjanji.
Selanjutnya, untuk kali kedua Sarah merasakan hangatnya jemari Rama menyusup ke dalam celah pribadinya. Dua jari Rama yang bergerak di dalam memang untuk mencapit patahan mentimun. Namun, yang dirasakan Sarah adalah sentuhan pemberi kenikmatan. Lalu tak berapa lama kemudian, tubuh Sarah mulai meliuk-liuk tanpa bisa dikendalikan, karena merasakan gelombang kenikmatan yang sama seperti sebelumnya kembali mendekat. "Ada apa?" Sarah tersentak ketika jemari Rama di dalam miliknya tiba-tiba berhenti bergerak. Jelas, penghentian tanpa aba-aba itu sangat merusak kebahagiaannya, dan membuat raut wajahnya terlihat tidak terima. Rama menggeleng karena frustasi melihat kakak ipar ini langsung lupa pada janjinya barusan. "Kak, sekarang kamu sangat licin, kalau terlalu banyak bergerak, aku nggak bisa mencapitnya!" Rama mengingatkan sambil menatap kakak iparnya itu dengan tegas. "Baiklah, kali ini akan aku tahan!" Sarah menurut, tapi wajahnya cemberut, dan sebenarnya ia mulai merajuk dalam hati. Memangnya gampang? Untuk tetap diam, tidak menunjukkan reaksi apa pun, di saat ada jemari nakal yang terus menggoda dirimu di dalam sana? Kemudian, Rama kembali berusaha dengan sungguh-sungguh. Sementara Sarah tetap menggila karena sensasi hangat, geli, dan nikmat, yang menyerang tubuhnya secara bersamaan. "Akhirnya kau tertangkap lagi sialan!" Setelah beberapa kali percobaan yang gagal, Rama akhirnya berhasil mencapit patahan mentimun itu, dan kini siap menariknya keluar. Rama tahu ia harus buru-buru, sebab ia dapat merasakan tanda-tanda Sarah akan kembali menyemburkan lava licin dalam waktu dekat. Meski belum memiliki pengalaman, kondisi Sarah saat ini pernah ditemukan Rama dalam buku pelajaran biologi. Mekanisme pelepasan hormon kebahagiaan pada pria dan wanita itu sangat berbeda. Pria umumnya lebih cepat dalam mencapai pelepasan pertama, hanya membutuhkan waktu 2 sampai 10 menit. Namun, pria akan menjadi lebih lama untuk periode kedua dan seterusnya. Sebaliknya, wanita cenderung lebih lama untuk mencapai pelepasan pertama, dengan estimasi waktu yang bisa mencapai 10 hingga 20 menit. Namun, mereka memiliki kemampuan unik untuk mengalami pelepasan berulang yang lebih cepat setelahnya. Hal ini dikarenakan periode refraktori pada wanita sangat singkat, bahkan hampir tidak ada. Jadi karena otak mereka masih terstimulasi dan tubuh mereka tetap sensitif, pelepasan kedua dan seterusnya dapat dicapai hanya dalam hitungan detik setelah pelepasan pertama. "Ouuch, Rama ...." Benar saja, Sarah kembali melepaskan lenguhan panjang, dia sampai pada puncak kebahagiaan untuk yang ketiga kalinya. Untungnya Rama sudah mengantisipasi kejadian ini sejak awal, dan berhasil menarik patahan mentimun itu keluar sebelum semburan lava licin dan denyutan liar di dalam sana membuat capitannya kembali terlepas. Kini Rama merasa lega, setelah melalui perjuangan yang tidak mudah, akhirnya mentimun muda berdiameter seukuran ibu jari itu berhasil ia singkirkan. Kondisi benda sialan yang menjadi sumber masalah itu juga sudah mulai layu, mungkin karena paparan panas di dalam sana. "Kak Sarah, masalahmu sudah selesai, kalau begitu aku pergi dulu." Rama tidak ingin melihat ekspresi cabul kakak iparnya yang tengah keenakan menikmati sensasi kebahagiaan duniawi. Jadi dia segera berdiri dan ingin pergi secepat mungkin. Dia perlu berendam dengan air dingin, untuk memadamkan api gairah yang sudah terlanjur membakar dirinya. "Tunggu, Rama!" Sebelum Rama sempat melangkah, Sarah langsung duduk dan meraih tangannya. Rama menoleh. "Ada apa? Apa di tempat lain ada yang sakit?" Sarah menggelengkan kepala. "Bukan, aku udah baik-baik aja. Tapi, Rama, apakah di matamu aku ini begitu menjijikkan?" Rama menatap Sarah dengan dahi berkerut. "Apa maksud Kakak? Bagaimana mungkin aku merasa jijik sama wanita secantik kamu?" Tentu saja Rama tidak berbohong. Bahkan Sarah ini termasuk kategori wanita idaman di matanya. Dengan paras yang begitu cantik, dan kulit putih meski tubuhnya agak kurus. "Benarkah?" Sarah menatap Rama dengan sorot mata yang masih berkabut gairah. Lalu ia melirik tonjolan besar di bagian tengah tubuh Rama. "Kalau begitu kenapa kamu mau buru-buru pergi? Sebenarnya, aku juga bisa membantumu." Bagi Sarah, Rama sudah mengatasi masalahnya, bahkan meski bukan tujuan yang sebenarnya, Rama masih termasuk memberikan servis yang ia damba-dambakan, dan membuatnya dapat menikmati sensasi kebahagiaan duniawi yang belum pernah tersalurkan. Lalu sepanjang prosesnya, hanya dia yang merasakan nikmat. Sebaliknya, Rama harus berjuang mati-matian untuk menjaga kewarasan. Hal semacam ini jelas tidak bisa dikatakan adil! Sarah sendiri juga belum berpengalaman, tapi belajar dari kejadian semalam, dia tahu bagaimana pusingnya harus berhenti di saat sudah tanggung. Itu benar-benar menyiksa diri sendiri! "Maksudnya Kakak mau menyerahkan diri padaku?" Rama yang dapat menebak maksud Sarah, bertanya sekedar untuk memperjelas. Sarah mengangguk, tidak ada keraguan yang terpancar dari sorot matanya. Baru saja, Rama membuatnya seolah terbang ke surga, bahkan sampai tiga kali, hanya dengan dua jari yang bekerja. Cukup? Tentu saja belum! "Iya, sekarang ini kamu lagi tersiksa, kan? Kalau kamu mau, kamu nggak perlu menahan diri, aku nggak keberatan." Niatnya memang ingin membantu Rama agar tidak tersiksa karena menahan gairah. Namun, itu bukan satu-satunya, sebab dia sendiri mendambakan sensasi bercinta yang lebih nyata, sebab belum pernah mengalaminya. Padahal usianya sudah 20 tahun dan statusnya janda. "Kak Sarah, tawaranmu ini jangan harap bisa ditarik kembali!" kata Rama dengan suara serak. Tentu saja Rama sangat menghormati kakak iparnya ini, tapi ketika pihak lain yang lebih dulu menawarkan diri, dia juga tidak perlu bersikap munafik. Persetan dengan Sarah adalah kakak iparnya, persetan dengan tabu! Terlebih, simbol keperkasaannya memang sudah tantrum di bawah sana, dan hanya ada satu cara untuk menenangkan si nakal itu. Yaitu dihukum dengan cara dibenamkan berulang kali, membuatnya pusing hingga muntah, sampai akhirnya kembali tidur. Lagipula, kucing kelaparan mana di dunia ini yang akan menolak ketika disuguhi ikan asin? Ah, salah! Enak saja ingin menggambarkan kakak iparnya yang cantik dan mempesona ini sebagai ikan asin, jelas-jelas dia adalah ikan kakap super lezat, dengan daging putih yang lembut, tebal, sedikit manis, dan berserat. "Aku nggak akan menariknya, sekarang cepat bebaskan dia! Apa kamu masih ingin membiarkannya tersiksa lebih lama lagi karena terkurung di tempat sempit itu?" Sarah melirik tonjolan di tengah tubuh Rama sambil menggigit bibir, lalu mendekat hingga nyaris tidak ada jarak yang tersisa di antara keduanya. Dalam situasi normal, dia tidak akan memiliki keberanian untuk bersikap menggoda seperti ini, karena sifat aslinya yang pemalu dan konservatif. Terlebih, ia juga sadar diri, tahu Rama tidak pernah menyukainya, dan selalu menganggapnya wanita rendahan. Namun, sekarang ini dia sudah terlanjur dikuasai birahi, jadi tidak bisa berpikir jernih. Bahkan ia yang sejatinya pemalu itu, secara tiba-tiba mendapat keberanian untuk menjulurkan tangan dan mengelus tepat pada bagian yang membengkak di tubuh Rama. Hanya dengan meraba dari luar, Sarah sudah bisa memastikan bahwa pentungan yang tersembunyi di balik celana Rama berukuran jumbo. Lalu ia tak kuasa untuk tidak menelan ludah. 'Oh, Tuhan ... ini besar sekali! Kira-kira nanti bakal muat nggak, ya?' batinnya. Tadi saja tubuhnya sudah begitu penuh dan sesak hanya dengan dimasuki oleh dua jari Rama. Lalu akan seperti apa rasanya jika keperkasaan Rama yang bertugas secara langsung? Mungkinkah sensasinya akan berkali-kali lipat lebih luar biasa? Atau malah membuatnya mati tersedak? Rama menyadari bukan hanya dia yang dikuasai nafsu, tapi Sarah juga. Saat ini, keduanya saling membutuhkan, bahkan Sarah terlihat lebih agresif. Rama pun tersenyum penuh maksud, bersamaan insting nakal alami pria merasuk ke kepalanya. "Kakak iparku tersayang, bukankah kamu sendiri yang menawarkan bantuan? Kamu harus sepenuh hati kalau mau membantu kesusahan orang, jadi kenapa bukan kamu sendiri yang membukanya?"RRRRAAAUUUGHH!Auman itu mengguncang hutan.Burung-burung beterbangan dari pucuk pepohonan, sementara dedaunan bergetar seolah ikut gentar mendengar suara sang penguasa rimba.Semua pemburu menegang.Wiguna adalah orang pertama yang bereaksi."Bentuk formasi!" serunya lantang.Pengalaman bertahun-tahun keluar masuk gunung membuatnya tetap mampu berpikir jernih meski bahaya berada begitu dekat."Jangan berpencar! Pastikan kalian saling melindungi!"Para pemburu segera bergerak.Mereka merapatkan posisi, membentuk formasi pertahanan dengan orang-orang bertombak berada di bagian depan, sedangkan para pemanah mengambil posisi di belakang.Rama berdiri di sisi Wiguna.Tangannya menggenggam busur pusaka, sementara pandangannya bergerak perlahan menyusuri semak-semak di hadapan mereka.Auman tadi berasal dari sana.Tak lama kemudian...Kresek...Kresek...Semak belukar bergoyang.Suara langkah berat terdengar dari balik rimbunan.Satu langkah.Dua langkah.Lalu...Seekor harimau perlahan kel
Rama menerima busur itu dengan tubuh membungkuk sebagai tanda tanda hormat.Begitu telapak tangannya menyentuh permukaan kayu yang dingin, ia langsung merasakan sesuatu yang berbeda.Busur itu jauh lebih berat daripada yang terlihat. Bahkan, ketika mengangkatnya saja, ia bisa merasakan kepadatan luar biasa yang tersembunyi di balik bentuknya yang sederhana.Para pemburu di sekitar tanpa sadar menahan napas, mereka semua penasaran.Apakah Rama akan bernasib sama seperti orang-orang sebelumnya?Ataukah...Rama mengamati busur itu sejenak.Pandangannya menyusuri setiap lekukan, setiap serat kayu keemasan yang membentang di sepanjang badannya.Lalu, tanpa terburu-buru, Rama memasang satu anak panah ke talinya.Wiguna berkata dengan maksud membesarkan hati Rama. "Rama, kau hanya perlu mencoba, tidak perlu memaksakan diri. Kalau tidak sanggup—...."Kalimatnya terputus, sebab pada saat itu, Rama mulai menarik tali busur.Krekk...Tali busur bergerak.Sedikit.Lalu sedikit lagi.Mata Wiguna p
"Apa kamu ingin mengusirku dari sini?"Sarah yang tidak mengerti arah pertanyaan Rama, langsung terlihat agak muram.Melihat Sarah malah berpikir sembarangan, Rama buru-buru melambaikan tangan. "Bukan, bukan! Kamu salah paham.""Lalu apa maksudnya?" tanya Sarah lagi.Rama tersenyum agak jahil. "Nanti kamu renungin aja pas lagi sendirian. Yang jelas, maksudnya bukan mau mengusirmu, aku justru ingin kamu di sini selamanya."Kemudian, Rama berdiri, lalu mengambil bekal yang disiapkan Sarah.Selesai itu, Rama langsung keluar rumah, meninggalkan Sarah yang menatap punggungnya dengan terheran-heran.Setibanya di rumah Wiguna, Rama melihat beberapa pemburu desa sudah berkumpul di halaman.Mereka sedang memeriksa tombak, anak panah, dan berbagai perlengkapan berburu."Rama!" Wiguna melambaikan tangan, "Kau benar-benar datang."Rama tersenyum. "Iya, Paman."Wiguna mengangguk puas, kemudian ia mengernyit. "Sepertinya kamu belum punya busur, ya?"Rama menggeleng. "Iya, Paman. Aku memang nggak pu
Detik berikutnya, Rama langsung meloncat turun dari tempat tidur, berlari keluar kamar menuju sumber suara.Braakk!Dia mendobrak pintu kamar Sarah.Namun, dia tidak melihat ada orang lain di sana, hanya ada Sarah seorang diri.Kakak iparnya itu terbaring di tempat tidur dengan mata terpejam, tapi tubuhnya bergerak gelisah bahkan sudah berkeringat dingin, sementara mulutnya terus mengeluarkan teriakan ketakutan."Dia mimpi buruk?" gumam Rama sambil berusaha menstabilkan tarikan napasnya yang sempat memburu.Rama mempercepat langkah untuk mendekati tempat tidur, kemudian menangkap kedua bahu Sarah."Kak Sarah, bangun! Kamu mimpi buruk!"Rama mengguncang tubuh Sarah dengan lembut.Butuh beberapa saat sebelum kelopak mata wanita itu akhirnya terbuka."Ngh..."Namun, sebelum kesadarannya terkumpul, Sarah yang dilanda kepanikan langsung memukuli dengan membabi-buta."Jangan! Jangan sentuh aku!" teriaknya histeris.Rama tidak tinggal diam, dia menangkap tangan Sarah, lalu mendekapnya erat-e
"Kalau masakannya seenak ini, mungkin bisa laku."Sekilas jawaban Sarah terdengar setengah hati.Namun, Rama bisa melihat dengan jelas bahwa perhatian Sarah sama sekali tidak tertuju pada percakapan mereka.Kakak iparnya itu bahkan tidak menunggu reaksinya. Begitu selesai berbicara, ia langsung mengambil suapan berikutnya.Lagi, lagi, dan lagi.Pipi Sarah sedikit menggembung saat mengunyah. Matanya terus tertuju pada mangkuk semur, seolah takut isinya akan menghilang jika lengah sesaat saja.Melihat pemandangan itu, Rama mengangkat sebelah alis matanya. "Mungkin?"Sarah hanya mengangguk cepat tanpa benar-benar mendengarkan.Hal itu membuat Rama hampir tertawa.Jelas sekali wanita itu sedang menikmati makanannya sampai lupa memikirkan hal lain.Namun, justru reaksi itulah yang membuat keyakinan Rama semakin kuat.Semur buatannya berhasil menaklukkan Sarah yang sejak awal bersikeras bahwa cabai adalah buah beracun.Kalau begitu, bagaimana reaksi orang-orang lain nanti?Rama menyandarkan
"Rama, kamu harus dengarkan aku. Kalau buah beracun itu dicampurkan ke dalam masakan, nanti semuanya jadi nggak bisa dimakan lagi."Sarah menatap Rama dengan wajah tidak rela.Bagaimana tidak?Sejak tadi, aroma daging dan rempah yang memenuhi dapur terasa begitu menggugah selera hingga ia diam-diam menantikan masakan itu matang, kemudian mencicipinya.Namun, Rama malah berniat memasukkan buah beracun ke dalamnya.Bukankah itu sama saja merusak semuanya?Rama sempat terdiam sesaat sebelum terkekeh pelan."Kak, tenang saja. Aku sudah bilang, cabai ini nggak beracun."Sebelum Sarah sempat menghentikannya lagi, Rama langsung memasukkan potongan cabai ke dalam belanga.Sarah hanya bisa menatap isi belanga dengan tatapan kecewa.Dalam benaknya, masakan yang tadi terlihat begitu menjanjikan kini telah berubah menjadi sesuatu yang mustahil untuk dimakan."Rama, apa kamu lupa?" Sarah berkata dengan nada penuh penyesalan, "Dulu waktu musim paceklik, semua orang kekurangan makanan. Wardi yang te
Di zaman ini, praktik perbudakan dan perdagangan manusia masih sangat umum, dan hukum selalu berpihak pada mereka yang punya uang. Bermodal surat jual beli yang sudah terdapat cap sidik jari Rama, ditambah memberi sedikit uang suap pada orang pengadilan, Barata memang bisa memenangkan perkara deng
"Dasar! Sejak kapan kamu jadi pandai menggoda orang?"Sarah mendesis, lalu memberikan cubitan kecil di perut Rama.Namun, ia tetap bertindak sesuai permintaan, dan kini telah berjongkok tepat di hadapan Rama.Tangannya langsung bergerak cekatan membuka apa yang harus dibuka, sementara matanya tidak
Setelah mendapat persetujuan Sarah, Rama pun memberanikan diri untuk menyentuh area terlarang kakak iparnya itu."Aaahh ...."Saat jari-jari Rama yang besar dan hangat mendarat di bagian pribadinya, Sarah langsung mengeluarkan desahan dan tubuhnya ikut menggeliat seperti cacing kepanasan.Reaksinya
Hah?Rama tercengang, hingga dagunya nyaris jatuh ke lantai.Dengan kepala yang masih tunduk karena malu, Sarah lanjut menjelaskan, "Aku udah berusaha mengeluarkannya, tapi nggak berhasil. Ini benar-benar menyiksa, aku bahkan kesusahan bergerak karena patahan itu mengganjal di dalam."Sarah sangat







