LOGINMei Lin yang belum bisa tidur memilih keluar kamar. Ruang tamu malam itu tampak seperti foto dari majalah interior. Semua tertata sempurna, rapi, dan tenang. Terlalu tenang.
"Aku merasa seperti sedang syuting iklan furnitur," gumamnya pelan sambil menatap sofa kulit abu-abu yang mengilap. Tak ada lawan bicara. Tentu saja, Zhang Yichen sedang membaca dokumen di ruang kerja bahkan setelah menikah sore tadi. "Menikah jam empat, kerja jam tujuh. Hebat. Cinta sejati antara manusia dan laporan keuangan," gerutu Mei Lin pelan. Ia menatap cincinnya. Masih berkilau di jari manis, tetapi terasa asing. Lucunya, setiap kali ia menatapnya, wajah Zhang Yichen muncul di kepala. Dan entah kenapa ... bukan karena marah, tetapi ... geli. --- Pukul sepuluh malam. Zhang Yichen akhirnya keluar dari ruang kerja. Masih dengan kemeja putih, kancing atas terbuka satu. Ia tampak lelah, tetapi elegan dan tentu saja tetap dingin. Sedangkan, Mei Lin memilih duduk manis di sofa ruang keluarga. "Kau belum tidur?" tanya Zhang Yichen datar. "Sulit tidur di rumah orang kaya," jawab Mei Lin jujur. "Kasurnya terlalu empuk. Aku takut tenggelam." "Itu alasan paling aneh yang pernah kudengar." "Aku banyak alasan, tunggu aja daftar lengkapnya besok." Zhang Yichen menarik napas pendek, lalu berjalan menuju kulkas. Mei Lin memperhatikan punggungnya. Tinggi, tegap, tetapi entah kenapa ... terasa kesepian. "Kau mau kopi?" tawar Mei Lin. "Tidak. Aku mau susu." "Susu?" "Membantu tidur." Mei Lin berkedip. "Astaga, siapa sangka bos dingin minum susu sebelum tidur. Itu ... menggemaskan." "Kata yang lebih tepat adalah sehat." "Enggak, yang tepat itu lucu banget, Tuan Zhang." Zhang Yichen menatapnya, seolah sedang menilai apakah dia serius. "Kau suka berbicara tanpa berpikir, ya?" "Kau suka berpikir tanpa berbicara." Hening sejenak. Lalu, senyum tipis di wajah Zhang Yichen muncul lagi. "Benar," katanya singkat. "Ya Tuhan, dia ngaku!" seru Mei Lin pelan, menepuk tangan sendiri. "Cepat! Aku butuh kamera untuk dokumentasi momen langka ini!" "Jangan berlebihan." "Aku nggak berlebihan, aku realistis. Lihat wajahmu, itu senyum kedua sejak aku kenal kau. Prestasi besar!" Zhang Yichen menggeleng, tetapi senyumnya tidak hilang. "Kau benar-benar tidak bisa diam, ya?" "Itu bagian dari daya tarikku." "Atau sumber potensial sakit kepala." "Tergantung siapa yang menilai." Keduanya saling menatap. Untuk sesaat, waktu terasa berhenti. Tatapan Zhang Yichen bukan lagi dingin, tetapi tenang, lembut, dan sedikit ... hangat. Sementara Mei Lin, tanpa sadar, mulai merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Detik berikutnya, Zhang Yichen memecah suasana. "Kau tidur di kamar tamu sebelah. Aku di kamar utama." "Oke!" Lalu setelah jeda dua detik. "Loh, memang aku udah nempatin kamar tamu, kan?" "Bukan di bawah, tapi di atas sebelah kamarku." Mei Lin menyipitkan mata. "Itu seperti menaruh anak kucing di samping kulkas." "Kau bisa menutup pintunya kalau takut." "Aku takut ... tapi bukan karena pintunya." Zhang Yichen menatapnya, setengah bingung. "Apa maksudmu?” "Aku takut kalau suatu hari ... aku terbiasa sama kehadiranmu." Zhang Yichen terdiam. Kata-kata itu terdengar ringan, tetapi anehnya menancap dalam. Ia menatap Mei Lin lama, sampai gadis itu gelisah sendiri. "Kenapa kau lihat aku begitu?" "Aku hanya berpikir ... mungkin aku juga takut hal yang sama." "Eh?" "Selamat malam, Mei Lin." Zhang Yichen berbalik, meninggalkan Mei Lin yang kini berdiri terpaku, pipinya terasa panas entah karena malu atau sesuatu yang lain. "Dia ... takut terbiasa padaku?" bisiknya pelan. "Astaga, Zhang Yichen, jangan manis gitu dong ... aku bisa meleleh." Mei Lin menatap punggung suaminya yang sedang menaiki anak tangga, lalu memegangi dadanya."Deg-degan ini bukan karena kopi siang tadi kan?" Mei Lin mengerjap, lalu bergegas ke kamar yang sudah ia tempati sejak tadi untuk mengambil koper dan siap pindah. Di luar, angin malam meniup lembut tirai putih. Di kamar, Zhang Yichen membuka lampu tidurnya, menatap cincin di jarinya sendiri, lalu menghela napas panjang. "Aku sudah menandatangani kontrak paling aneh di hidupku," gumamnya pelan. "Dan anehnya ... aku tidak menyesal."Mei Lin berdiri di depan bathtub besar yang dipenuhi kelopak bunga mawar. Air hangat mengepul lembut, lampu temaram, lilin beraroma lavender menyala di sudut ruangan."Sayang, menurutmu, kalau aku mandi di sini sambil pakai masker muka, efeknya double glowing gak?"Dari balik pintu, suara Zhang Yichen terdengar tenang. "Kalau kau tenggelam karena terlalu fokus skincare, efeknya malah double chaos."Mei Lin cemberut. "Kau tuh gak ngerti romantisnya drama Korea. Harusnya kau duduk di samping bathtub, terus ngobrol lembut sambil pegang tanganku. Gitu loh, Sayang."Zhang Yichen membuka pintu kamar mandi, berdiri di ambang pintu dengan piyama satin abu-abu dan ekspresi sedikit tegang. "Kalau di drama, biasanya setelah adegan itu, lampunya mati.""Ya iyalah, soalnya abis itu--" Mei Lin menggantung ucapannya, pipinya merona. "Abis itu mereka ngobrol dari hati ke hati," lanjutnya cepat."Ngobrol dari hati ke hati, atau melancarkan niat?"Mei Lin langsung menatap suaminya waspada. "Sayang, ak
Pagi di Haicheng baru saja merekah ketika roda dua koper besar bergelinding pelan di lantai marmer rumah Zhang Yichen. Mei Lin berdiri di tengah ruang tamu, rambut dikuncir tinggi, memakai kacamata hitam dan dress bunga warna cerah."Yichen! Cepat! Kau tahu gak, aku sudah mimpi ke Bali dari aku masih suka nonton drama Taiwan!"Zhang Yichen datang menuruni anak tangga membawa paspor dan tiket dengan ekspresi tenang. "Dan aku baru tahu impianmu itu disponsori oleh kelakuan berisik sejak subuh.""Yah, Sayang, harus heboh dong! Namanya juga bulan madu," sahut Mei Lin sambil nyengir. Zhang Yichen berhenti sejenak, lalu menatap lekat Mei Lin. "Ulangi!""Ulangi apa?""Panggilan barusan."Mei Lin mengedip, pura-pura polos. "Sayang?"Zhang Yichen menahan senyum, tetapi ujung bibirnya bergerak tersenyum. "Teruskan, aku suka versi itu."Mei Lin tersipu malu. Keduanya berangkat, menuju bandara. ---Bandara Haicheng ramai seperti biasa. Namun, ada satu hal di sana yang membuat Zhang Yichen terl
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Matahari pagi memantulkan cahaya keemasan di atas kota Haicheng, dan di seluruh gedung hotel megah tempat pesta diadakan. Para pekerja sibuk menata bunga, lampu, dan panggung utama.Zhang Yichen --sang pengantin pria, sudah berdiri di depan cermin, memakai jas hitam elegan dengan dasi perak.Chen yang membantu merapikan lipatan kecil di kerah tuannya angkat bicara. "Tuan," katanya hati-hati, "acara akan dimulai dua jam lagi.""Semua sudah siap?""Ya, kecuali …" Chen berhenti sejenak, "pengantin wanita."Zhang Yichen mengangkat alis. "Apa maksudmu 'kecuali pengantin wanita'?"Chen menelan ludah. "Nyonya sepertinya ... menimbulkan sedikit ... kekacauan kecil di ruang rias."Zhang Yichen mengembuskan napas kasar dan segera keluar dari kamar hotel yang dijadikan kamar pengantin. Benar saja, diruang rias utama terdengar seperti arena perang antara manusia dan tulle. "AKU BILANG JANGAN PAKE VEIL PANJANG!" teriak Mei Lin. "AKU MAU YANG BISA DILEPAS KALAU A
Tiga hari setelah malam lamaran, rumah Zhang Yichen berubah total.Bunga, brosur, dan contoh gaun pengantin memenuhi meja ruang tamu. Di tengah kekacauan itu berdirilah Mei Lin, dengan rambut dikuncir tinggi, kacamata di ujung hidung, dan ekspresi super serius. "WO yang mana yang lebih bagus?" katanya sambil memegang dua proposal di tangannya."Yang A punya dekor bintang jatuh. Tapi yang B kasih bonus 200 undangan digital dengan foto kita yang bisa gerak-gerak," lanjutnya. Dari seberang meja, Zhang Yichen hanya menatapnya dengan ekspresi datar. "Aku pikir kau ingin pernikahan yang sederhana."Mei Lin mengernyit. "Sederhana? Yichen, ini pesta pernikahan kita. Aku gak mau cuma sederhana, aku mau meledak anggun!""Meledak ... anggun?" Zhang Yichen mengulang pelan, seolah-olah memastikan ia tidak salah dengar."Ya! Elegan tapi spektakuler!" seru Mei Lin penuh semangat. "Aku mau semua orang Haicheng tahu kalau pasangan perjodohan paling absurd ini ternyata paling bahagia!"Zhang Yichen m
Keesokan harinya. Tidur Mei Lin terusik oleh suara ponselnya yang berbunyi cukup nyaring. "Yichen, tolong angkat dulu. Bilang saja aku masih berlayar di pulau kapuk," cicitnya tanpa membuka mata. "Yichen!" katanya lagi, karena ternyata ponselnya terus menyala. Mei Lin membuka matanya pelan, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia lupa jika Zhang Yichen sudah berpamitan pergi. Mei Lin menyambar ponselnya di atas nakas. Matanya terbuka lebar saat gambar Qian Qian terpampang di sana. Ia lekas menerima panggilan vidio itu. "Ha--" Mei Lin tercekat saat Qian Qian yang muncul di layar tiba-tiba saja meniup lilin kecil. "Happy birthday, Mei!" Mei Lin melongo. Tak lama ia menepuk dahinya. "Aku sampai lupa ini hari ulang tahunku, Qian."Qian Qian ngakak di seberang layar."Kau tuh parah banget, Mei Lin! Sampe lupa tanggal lahir sendiri!"Tawa Qian Qian seketika sirna. "Eh, btw ... jangan jangan suamimu belum ngucapin, ya?"Mei Lin menggeleng pelan. "Belum!Dari pagi malah ngomongin soal kerjaan
Satu bulan berlalu. Setelah Zhang Yichen merajuk kala itu, untuk pertama kalinya setelah sibuk tampil di berbagai acara, Mei Lin membuka matanya karena matahari pagi yang menampar wajahnya."Aaakh! Mataharinya kejam banget hari ini!" serunya sambil menarik selimut sampai ke kepala.Di sisi tempat tidur, terdengar suara tawa pelan. "Biasanya kau bangun jam enam. Sekarang jam delapan lewat."Mei Lin mengintip dari balik selimut. "Tuan Zhang, kenapa kau masih di sini? Bukannya ada rapat?""Rapat bisa ditunda," jawab Zhang Yichen sambil membaca koran. "Sekali-kali aku ingin melihat bagaimana rasanya punya istri yang bangun siang."Mei Lin melotot. "Hei! Aku gak bangun siang. Ini disebut recharge energi cinta."Zhang Yichen mengernyit. "Energi cinta?""Ya. Supaya bisa sayang padamu seharian."Zhang Yichen menurunkan koran sambil menatap Mei Lin datar. "Aku mulai khawatir istilah ilmumu semakin aneh.""Tidak yang aneh.""Aneh!""Tidak!"Setelah beberapa menit perdebatan, Mei Lin akhirnya b







