Compartir

87. Canggung

Autor: Suci Komala
last update Fecha de publicación: 2025-12-01 13:52:53

Pagi itu, aroma bubur ayam dan teh hangat memenuhi ruang makan rumah Zhang Yichen. Mei Lin berdiri di dapur dengan celemek, wajahnya serius, tetapi matanya sedikit linglung. Semalaman ia tidak bisa tidur.

"Kenapa juga aku nekat begitu?" gumamnya sambil menepuk pipinya sendiri.

"Itu bukan ciuman, itu tindakan medis! Tapi kenapa deg-degan sampai pagi?"

Baru saja ia hendak mengambil mangkuk, ponselnya bergetar di meja. Nama di layar membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Madam Zhang.

"Ma-Ma?" ka
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pesona Suami Wasiatku   119. Malam Pertama -- End

    Mei Lin berdiri di depan bathtub besar yang dipenuhi kelopak bunga mawar. Air hangat mengepul lembut, lampu temaram, lilin beraroma lavender menyala di sudut ruangan."Sayang, menurutmu, kalau aku mandi di sini sambil pakai masker muka, efeknya double glowing gak?"Dari balik pintu, suara Zhang Yichen terdengar tenang. "Kalau kau tenggelam karena terlalu fokus skincare, efeknya malah double chaos."Mei Lin cemberut. "Kau tuh gak ngerti romantisnya drama Korea. Harusnya kau duduk di samping bathtub, terus ngobrol lembut sambil pegang tanganku. Gitu loh, Sayang."Zhang Yichen membuka pintu kamar mandi, berdiri di ambang pintu dengan piyama satin abu-abu dan ekspresi sedikit tegang. "Kalau di drama, biasanya setelah adegan itu, lampunya mati.""Ya iyalah, soalnya abis itu--" Mei Lin menggantung ucapannya, pipinya merona. "Abis itu mereka ngobrol dari hati ke hati," lanjutnya cepat."Ngobrol dari hati ke hati, atau melancarkan niat?"Mei Lin langsung menatap suaminya waspada. "Sayang, ak

  • Pesona Suami Wasiatku   118. Bulan Madu

    Pagi di Haicheng baru saja merekah ketika roda dua koper besar bergelinding pelan di lantai marmer rumah Zhang Yichen. Mei Lin berdiri di tengah ruang tamu, rambut dikuncir tinggi, memakai kacamata hitam dan dress bunga warna cerah."Yichen! Cepat! Kau tahu gak, aku sudah mimpi ke Bali dari aku masih suka nonton drama Taiwan!"Zhang Yichen datang menuruni anak tangga membawa paspor dan tiket dengan ekspresi tenang. "Dan aku baru tahu impianmu itu disponsori oleh kelakuan berisik sejak subuh.""Yah, Sayang, harus heboh dong! Namanya juga bulan madu," sahut Mei Lin sambil nyengir. Zhang Yichen berhenti sejenak, lalu menatap lekat Mei Lin. "Ulangi!""Ulangi apa?""Panggilan barusan."Mei Lin mengedip, pura-pura polos. "Sayang?"Zhang Yichen menahan senyum, tetapi ujung bibirnya bergerak tersenyum. "Teruskan, aku suka versi itu."Mei Lin tersipu malu. Keduanya berangkat, menuju bandara. ---Bandara Haicheng ramai seperti biasa. Namun, ada satu hal di sana yang membuat Zhang Yichen terl

  • Pesona Suami Wasiatku   117. Pernikahan Heboh di Haicheng

    Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Matahari pagi memantulkan cahaya keemasan di atas kota Haicheng, dan di seluruh gedung hotel megah tempat pesta diadakan. Para pekerja sibuk menata bunga, lampu, dan panggung utama.Zhang Yichen --sang pengantin pria, sudah berdiri di depan cermin, memakai jas hitam elegan dengan dasi perak.Chen yang membantu merapikan lipatan kecil di kerah tuannya angkat bicara. "Tuan," katanya hati-hati, "acara akan dimulai dua jam lagi.""Semua sudah siap?""Ya, kecuali …" Chen berhenti sejenak, "pengantin wanita."Zhang Yichen mengangkat alis. "Apa maksudmu 'kecuali pengantin wanita'?"Chen menelan ludah. "Nyonya sepertinya ... menimbulkan sedikit ... kekacauan kecil di ruang rias."Zhang Yichen mengembuskan napas kasar dan segera keluar dari kamar hotel yang dijadikan kamar pengantin. Benar saja, diruang rias utama terdengar seperti arena perang antara manusia dan tulle. "AKU BILANG JANGAN PAKE VEIL PANJANG!" teriak Mei Lin. "AKU MAU YANG BISA DILEPAS KALAU A

  • Pesona Suami Wasiatku   116. Persiapan Pernikahan

    Tiga hari setelah malam lamaran, rumah Zhang Yichen berubah total.Bunga, brosur, dan contoh gaun pengantin memenuhi meja ruang tamu. Di tengah kekacauan itu berdirilah Mei Lin, dengan rambut dikuncir tinggi, kacamata di ujung hidung, dan ekspresi super serius. "WO yang mana yang lebih bagus?" katanya sambil memegang dua proposal di tangannya."Yang A punya dekor bintang jatuh. Tapi yang B kasih bonus 200 undangan digital dengan foto kita yang bisa gerak-gerak," lanjutnya. Dari seberang meja, Zhang Yichen hanya menatapnya dengan ekspresi datar. "Aku pikir kau ingin pernikahan yang sederhana."Mei Lin mengernyit. "Sederhana? Yichen, ini pesta pernikahan kita. Aku gak mau cuma sederhana, aku mau meledak anggun!""Meledak ... anggun?" Zhang Yichen mengulang pelan, seolah-olah memastikan ia tidak salah dengar."Ya! Elegan tapi spektakuler!" seru Mei Lin penuh semangat. "Aku mau semua orang Haicheng tahu kalau pasangan perjodohan paling absurd ini ternyata paling bahagia!"Zhang Yichen m

  • Pesona Suami Wasiatku   115. Ulang Tahun Mei Lin

    Keesokan harinya. Tidur Mei Lin terusik oleh suara ponselnya yang berbunyi cukup nyaring. "Yichen, tolong angkat dulu. Bilang saja aku masih berlayar di pulau kapuk," cicitnya tanpa membuka mata. "Yichen!" katanya lagi, karena ternyata ponselnya terus menyala. Mei Lin membuka matanya pelan, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia lupa jika Zhang Yichen sudah berpamitan pergi. Mei Lin menyambar ponselnya di atas nakas. Matanya terbuka lebar saat gambar Qian Qian terpampang di sana. Ia lekas menerima panggilan vidio itu. "Ha--" Mei Lin tercekat saat Qian Qian yang muncul di layar tiba-tiba saja meniup lilin kecil. "Happy birthday, Mei!" Mei Lin melongo. Tak lama ia menepuk dahinya. "Aku sampai lupa ini hari ulang tahunku, Qian."Qian Qian ngakak di seberang layar."Kau tuh parah banget, Mei Lin! Sampe lupa tanggal lahir sendiri!"Tawa Qian Qian seketika sirna. "Eh, btw ... jangan jangan suamimu belum ngucapin, ya?"Mei Lin menggeleng pelan. "Belum!Dari pagi malah ngomongin soal kerjaan

  • Pesona Suami Wasiatku   114. Tak Lagi Menerima Tawaran

    Satu bulan berlalu. Setelah Zhang Yichen merajuk kala itu, untuk pertama kalinya setelah sibuk tampil di berbagai acara, Mei Lin membuka matanya karena matahari pagi yang menampar wajahnya."Aaakh! Mataharinya kejam banget hari ini!" serunya sambil menarik selimut sampai ke kepala.Di sisi tempat tidur, terdengar suara tawa pelan. "Biasanya kau bangun jam enam. Sekarang jam delapan lewat."Mei Lin mengintip dari balik selimut. "Tuan Zhang, kenapa kau masih di sini? Bukannya ada rapat?""Rapat bisa ditunda," jawab Zhang Yichen sambil membaca koran. "Sekali-kali aku ingin melihat bagaimana rasanya punya istri yang bangun siang."Mei Lin melotot. "Hei! Aku gak bangun siang. Ini disebut recharge energi cinta."Zhang Yichen mengernyit. "Energi cinta?""Ya. Supaya bisa sayang padamu seharian."Zhang Yichen menurunkan koran sambil menatap Mei Lin datar. "Aku mulai khawatir istilah ilmumu semakin aneh.""Tidak yang aneh.""Aneh!""Tidak!"Setelah beberapa menit perdebatan, Mei Lin akhirnya b

  • Pesona Suami Wasiatku   65. Jejak di Balik Sistem dan Kedatangan Mertua

    Hari itu kantor Zhang Group tidak seperti biasanya. Bukan karena sistem IT mereka sedang diselidiki, tetapi karena ada tamu yang membuat seluruh lantai 31 terkena serangan panik kecil."Astaga, itu ... itu bukannya ibunya CEO?""Iya, Madam Zhang!""Kenapa ke kantor? Ini bukan acara keluarga, kan?"

  • Pesona Suami Wasiatku   60. Rapat Besar Aurora

    Tiada hari selain rapat. Itulah slogan yang Mei Lin kantongi selama magang di Zhang Grup. Nasib si magang yang beruntung? Entahlah, Mei Lin sendiri tidak mengerti. Seorang magang yang selalu terlibat dalam rapat dan proyek besar. Seperti pagi ini, Zhang Group terasa dalam kapal perang sebelum berl

  • Pesona Suami Wasiatku   59. Gosip (lagi)?

    Siang itu, suasana di Zhang Group sibuk seperti biasa. Para staf jalan terburu-buru, dokumen yang menumpuk hampir di semua meja, dan penuh dengan rumor segar yang menyebar lebih cepat dari laporan keuangan.Akan tetapi, siang itu … rumor yang beredar terasa lebih berbumbu dari biasanya."Eh, kau de

  • Pesona Suami Wasiatku   58. Bos yang Tak Ngaku Kangen

    Pagi itu, udara di Haicheng masih segar setelah semalaman hujan.Matahari baru muncul dari balik gedung tinggi, menembus jendela kecil rumah Ibu Mei Lin, membuat dapur terlihat hangat dan nyaman.Aroma bubur ayam buatan Ibu Mei Lin memenuhi udara, dan di meja makan, Mei Lin duduk setengah mengantuk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status