MasukMalam itu, di dalam kamar yang hanya diterangi pendar lampu tidur temaram, batasan-batasan dunia seolah runtuh, menyisakan ruang bagi detak jantung yang berpacu liar dan peluh yang membasahi kulit.Sentuhan pertama Bima yang perlahan bertransisi menjadi gelombang tekanan yang dalam membuat seluruh pertahanan Ratna buyar seketika.Pria itu bergerak dengan ritme yang awalnya terukur, namun seiring erangan tertahan yang lolos dari bibir Ratna, tempo itu berubah drastis menjadi hantaman yang konstan, penuh hasrat, dan menuntut.Setiap kali tubuh mereka bergesekan, sengatan panas menjalar dari ujung kepala hingga jemari kaki, membuat Ratna melengkungkan punggungnya secara insting."Bima... ahhh..."Ratna mendesah putus asa, cengkeraman tangannya di bahu kokoh Bima semakin menguat hingga kuku-kukunya menorehkan tekanan.Ia merasa kepalang gila oleh sensasi asing yang menyerbu tubuhnya, suatu kenikmatan luar biasa yang selama bertahun-tahun pernikahan hampa dengan Hendra tak pernah ia bayang
Bima terdiam. Pria itu terpaku seraya menatap manik mata Ratna yang berkaca-kaca oleh genangan hasrat dan kerinduan yang membakar.Di satu sisi, ia ingin memegang prinsipnya untuk menunggu hingga segalanya resmi secara hukum; namun di sisi lain, gejolak di dadanya sudah mendesak hebat, menuntut untuk segera menyatu dengan wanita yang telah bertahta di hatinya selama enam tahun terakhir.Ia terdiam dalam kebingungan sejenak, tersudut oleh tarikan magnet gairah yang teramat kuat.Belum sempat Bima merumuskan kata-kata, Ratna justru mengambil alih kendali.Dengan gerakan yang tak disangka-sangka, wanita itu menarik wajah Bima mendekat, tampak jauh lebih berani dan agresif dari sebelumnya.Ratna membubuhkan ciuman panas di bibir Bima, menyesapnya penuh tuntutan sebelum perlahan turun mengecup rahang tegas sang pria, lalu mendaratkan ciuman basah yang memabukkan di ceruk leher Bima.Sensasi kehangatan bibir Ratna yang menyusuri lehernya membuat Bima refleks menggigit bibir bawahnya sendiri
Bima tidak menarik tangannya. Pengacara muda itu justru membalikkan telapak tangannya di dalam panci berisi air jernih tersebut, lalu menyusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Ratna.Pria itu mengunci genggaman mereka di bawah cucuran air wastafel yang mengalir dingin, menciptakan kontras yang membakar dengan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh Ratna."Masih mau mengajari saya cuci beras, Ratna?" bisik Bima rendah.Ratna tercekat, napasnya tertahan di tenggorokan.Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat ia bisa merasakan hembusan napas Bima membelai lembut kulit pipinya.Sepanjang hidupnya, dalam delapan tahun pernikahan yang dingin dan hampa bersama Hendra, Ratna tidak pernah diperlakukan dengan intensitas manis yang membuncah seperti ini.Bersama Hendra, segalanya adalah tentang kepatuhan, tugas rumah tangga, dan kritikan pedas.Namun bersama Bima, setiap detik terasa seperti dihargai, dicintai, dan dimanjakan sampai dadanya sesak oleh rasa bahagia."Bi... Bima... berasn
"Maafkan saya, Ratna," ucap Bima dengan suara parau yang amat pelan, terdengar begitu tulus namun menyayat hati."Bukannya saya ingin sengaja menutupinya dari kamu, hanya saja, saat ini saya benar-benar belum bisa menceritakan tentang latar belakang keluarga saya."Ratna tertegun mendengarnya. Ia bisa merasakan getaran halus di tangan pria itu."Hubungan saya dengan keluarga saya sangat buruk," lanjut Bima dengan tatapan menerawang jauh keluar jendela mobil yang basah oleh sisa hujan."Ada masa lalu yang teramat kelam dan keputusan besar yang membuat saya memilih memutus hubungan dengan mereka sejak lama. Luka itu masih terlalu basah untuk diungkit kembali, Ratna. Jadi, tolong mengertilah, bukan waktunya sekarang."Mendengar pengakuan yang begitu rapuh dari seorang Bima, pria yang selama ini selalu tampak tegar, kuat, dan diandalkan dalam setiap situasi, hati Ratna mendadak terasa ngilu.Rasa bersalah langsung menyergap dadanya karena telah memaksa membuka kotak Pandora yang sengaja d
"Huft..."Ratna menghela napas panjang begitu pintu mobil Bima tertutup rapat dari luar.Ia menyandarkan punggungnya pada jok mobil, memejamkan mata sejenak sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.Sidang perdana tadi benar-benar menguras emosinya; kemarahan melihat kepalsuan Hendra dan kelicikan Pengacara Surya berpadu menjadi satu dalam dada, menciptakan gelombang ketegangan yang baru saja mereda setelah palu hakim diketok.Bima yang duduk di kursi pengemudi langsung menoleh ke arahnya.Pria itu menatap Ratna dengan sorot mata yang begitu lembut, kontras dengan ketegasannya di hadapan majelis hakim beberapa menit lalu."Masih pusing, Ratna?" tanya Bima pelan, menyalakan mesin mobil dan menyalakan AC untuk mendinginkan kabin.Ratna membuka matanya, lalu menoleh menatap Bima dan menggeleng pelan sambil tersenyum tipis."Agak lelah aja. Tadi rasanya mau aku samperin si Hendra pas dia akting nangis di depan hakim. Bisa-bisanya dia playing victim padahal dia sendiri yang selingku
Suasana di dalam ruang sidang utama Pengadilan Negeri terasa begitu pekat dan menegangkan.Udara dingin dari pendingin ruangan seolah gagal menyejukkan hawa panas yang menguar dari bangku-bangku audiens.Di meja pihak penggugat, Ratna duduk tegak dengan balutan blazer hitam formal dan kemeja putih rapi; wajahnya tenang, namun debar di dadanya bergemuruh kencang menantikan detik-detik palu hakim diketuk.Tepat di samping kanannya, Bima duduk dengan postur santai namun penuh wibawa, mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan map dokumen tersusun rapi di hadapannya.Di seberang meja mereka, kubu tergugat tampak jauh lebih berisik dan agresif.Hendra duduk gelisah sambil merapikan dasinya, didampingi oleh seorang pengacara senior bernama Surya, pria paruh baya berambut kelabu dengan setelan jas mahal dan kacamata berbingkai emas yang memancarkan aura arogan.Begitu Hakim Ketua membuka sidang pemeriksaan pokok perkara dan meminta pihak penggugat membacakan argumen awal mengenai pemalsuan







