LOGINBibir itu—melihatnya membuat Dewa ingin mengecupnya. Keinginan sederhana yang seharusnya bisa ia abaikan dengan mudah justru terasa begitu sulit ketika Mentari berada sedekat ini.Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Ia bahkan bisa merasakan embusan napas lembut gadis itu setiap kali Mentari mengembuskannya.Dewa memiringkan kepala sedikit. Matanya menatap wajah Mentari lekat-lekat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sejak tadi berusaha ia singkirkan dari pikirannya."Astaga, Dewa," gumamnya nyaris tanpa suara. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" Ia memejamkan mata sesaat, kemudian mengembuskan napas panjang.Tidak. Ia tidak akan melakukannya.Mentari sedang tidur. Gadis itu tidak akan tahu apa pun jika ia benar-benar menuruti keinginannya, tetapi justru itulah alasan Dewa harus menahan diri. Ia tidak ingin mengambil sesuatu yang belum diberikan Mentari kepadanya dengan kesadaran penuh.Lagi pula, ia masih ingin melihat gadis itu tersipu-sipu ketika dirinya menggodanya.
Beberapa menit kemudian, Mentari keluar dari ruang ganti dengan pakaian lamanya. Ia menyerahkan pakaian yang sudah dicoba kepada pegawai, kemudian berjalan menghampiri Dewa."Sudah, Pak."Dewa mengangguk, lalu mengambil beberapa kantong belanja yang sudah disiapkan pegawai.Mentari buru-buru mengulurkan tangan."Biar saya bawa sendiri.""Tidak perlu.""Tapi kantongnya banyak, Pak."Dewa menatapnya datar. "Mentari, kamu pikir aku tidak sanggup membawa beberapa kantong belanja? Bahkan aku bawa ini sambil menggendong kamu pun, tidak masalah.""Bukan begitu. Saya cuma tidak enak kalau Bapak harus membawa semuanya."Dewa menghela napas, lalu menyerahkan satu kantong yang paling ringan kepadanya. "Nah, kamu bawa yang ini. Sisanya biar aku."Mentari menatap kantong di tangannya, kemudian menoleh kepada Dewa yang sudah berjalan lebih dahulu. Akhirnya, ia mengikuti pria itu dengan senyum kecil. Setidaknya, kali ini Dewa masih memberinya kesempatan untuk membantu.Namun, baru beberapa langkah,
Dengan bibir sedikit mengerucut, Mentari akhirnya mulai memilih pakaian. Gadis itu mengambil beberapa blus dengan warna netral, dua celana panjang yang nyaman, serta beberapa atasan sederhana yang menurutnya cocok untuk dipakai ke kampus.Setiap kali menemukan pakaian yang disukai, ia memeriksa harganya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membawanya. Dewa memperhatikan semua itu dari kejauhan. Awalnya, ia membiarkan Mentari memilih sendiri. Namun, ketika melihat gadis itu berkali-kali meletakkan kembali pakaian yang disukainya hanya karena harganya sedikit lebih mahal daripada yang lain, Dewa akhirnya menghampirinya."Kenapa dikembalikan?"Mentari terkejut. "Eh, Pak! Tidak apa-apa. Saya cuma lihat-lihat."Dewa mengambil blus yang baru saja diletakkannya kembali. "Kamu suka yang ini?"Mentari ragu-ragu, lalu mengangguk kecil."Bagus. Coba ukurannya.""Tapi, Pak, saya masih punya blus yang mirip di rumah.""Warna yang ini belum ada, kan? Jadi tidak masalah, beli saja!"Huuuh— Menta
Sambil menunggu ponsel Mentari dibungkus, Dewa berdiri di sampingnya. "Jangan lupa simpan nomorku ya!" kata Dewa pada gadis itu."Boleh?""Itu kewajiban, Mentari!" kata Dewa tegas. "Memang sebelum ini kamu tidak menyimpan nomorku?"Dengan wajah tak berdosa, Mentari menggeleng. "Tidak, Pak.""Keterlaluan!" Dewa mengerutkan keningnya. Lalu kembali berkata, "Mana ponselmu? Sini aku saja yang simpan nomorku di ponselmu!"Mentari menyerahkan ponsel barunya. Dewa menyimpan nomor teleponnya, kemudian mengembalikannya kepada gadis itu. "Sudah. Sekarang kamu bisa menghubungiku kapan saja."Mentari menatap layar ponselnya. Ketika melihat nama kontak yang baru saja disimpan, ia mengerutkan dahi. "Pak, kenapa nama kontak Bapak cuma Dewa?""Memangnya harus ditulis apa?""Ya, Pak Dewa. Kalau cuma Dewa saja, ini kesannya tidak sopan.""Aku suka nama itu." Dewa tersenyum jahil. "Tapi kalau kamu mau menulis nama lain, silakan saja."Mentari menatapnya curiga. "Nama apa?"Dewa mendekat sedikit, lalu be
Mentari masih belum bisa menghilangkan rona merah di pipinya setelah mendengar ucapan Dewa tadi. Pria itu benar-benar tidak pernah kehabisan cara untuk membuatnya salah tingkah. Bahkan, sepertinya Dewa justru menikmati setiap detik ketika dirinya kebingungan harus bereaksi seperti apa.Sementara itu, Dewa sudah kembali berjalan santai sambil menggenggam tangannya."Ayo, kita cari laptop dulu!"Mentari yang masih sibuk menenangkan jantungnya langsung menoleh. "Laptop, Pak?""Iya. Kamu mau kuliah pakai apa? Mesin ketik?"Mentari mengerucutkan bibir. "Kan bisa pakai laptop yang ada di rumah, Pak.""Laptop siapa?""Punya Bapak.""Kalau aku sedang memakainya, kamu mau bagaimana?"Mentari terdiam sesaat. "Ya… saya tunggu sampai Bapak selesai."Dewa menghentikan langkahnya, lalu menoleh dengan ekspresi tidak percaya. "Kamu mau mengerjakan tugas kuliah sambil menunggu aku selesai bekerja?"Mentari mengangguk kecil. "Kalau memang terpaksa, bisa saja, Pak."Dewa menghela napas panjang, kemudian
"Pak Dewa...""Hm?" sahut Dewa sambil membetulkan posisi kacamatanya."Mall-nya tutup, ya?"Dewa menahan senyum. "Menurutmu?"Mentari memandang ke sekeliling dengan bingung. "Tapi pintunya terbuka. Lampunya juga menyala. Cuma kok nggak ada orang sama sekali?""Kayaknya semua orang udah pulang."Mentari menggeleng cepat. "Enggak mungkin, Pak. Ini masih sore. Masa semua orang pulang barengan?""Bisa saja. Mungkin mereka punya firasat kalau aku akan datang."Mentari langsung menatapnya tidak percaya. "Pak Dewa!"Dewa akhirnya tertawa kecil. Ia menikmati sekali melihat ekspresi gadis itu yang semakin kebingungan. Padahal, ada alasan yang jauh lebih masuk akal di balik pemandangan tidak biasa tersebut. Sebelum berangkat, Dewa sudah menghubungi pihak pengelola mall.Untuk beberapa waktu, akses pengunjung umum dibatasi dan sejumlah area dikosongkan. Tim keamanan juga sudah ditempatkan di berbagai titik. Pria yang OTW menyandang status duda itu, tidak ingin ada media yang tiba-tiba mengambil







