Share

Bab 2 - Pria Agresif

Bab 2 – Selena Lyra

Andai saja aku tidak pernah tidur di kelas bahasa inggris, aku pasti tidak akan salah paham mengira Gita sedang menjelek-jelekkanku di depan El. Entah apa yang Gita bisikan di telinga El, pria itu kemudian menyingkir dengan cara berjalan mundur tanpa melepas tatapannya dariku. Awalnya aku mengira dia punya kebiasaan menyentuh wanita yang baru dia kenal sebagai upaya mengakrabkan diri. Namun bila kucermati, caranya mengawasiku seperti aku pernah berbuat dosa tak terampuni padanya. Meskipun sedang sibuk menyesap minuman di gelas highball, matanya tetap saja terpaku padaku.

“Selamat datang di pesta pembuahan.” Lantunan suara merdu yang bersumber dari pusat ruangan menggema memberi sambutan. Ametika Putri, biasa dipanggil Madam Ame yakni, wanita yang sudah membesarkan sahabat seperjuanganku sejak di panti asuhan hingga sedewasa ini. Beliau berjiwa independen sehingga enggan berkomitmen dalam bentuk apapun. Selain itu sifatnya yang teguh pendirian, tegas dan dermawan, menjadikannya sosok yang dipuja-puja banyak orang. Jumlah koneksinya di seluruh dunia tak terhingga. Aku begitu mengaguminya.

“Tidak terasa hari istimewa ini datang kembali dan semakin hari jumlah anggota kita semakin bertambah. Saya berharap kita tidak perlu menggunakan konsep outdoor demi menghindari sesak.” Para hadirin serempak menertawakan lelucon Madam Ame. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bila tema pesta ini sampai tercium oleh media, entah akan seheboh apa tajuknya nanti.

Sejenak celingukan mencari sesuatu, Madam Ame menjulurkan kepala. “Gita, berapa jumlah anggota kita sekarang?”

Entah kapan Gita pergi, tahu-tahu dia sudah duduk santai di minibar bersama seorang pria bule. “Lima dua?”

Madam Ame mengernyit. Keriput di dahinya membentuk tiga lipatan dramatis. “Bukannya kemarin lima puluh?”

“Aku membawa Elmond dan Selena.”

“Oh iya, Mama hampir lupa. Elmond, Selena, silahkan kemari, perkenalkan diri kalian!” Para hadirin serentak bertepuk tangan menyambut kehadiranku. Jujur, aku gugup atas peristiwa Madam Ame yang melupakan koalisiku dan El. Aku khawatir beliau juga melupakan sandirawaku sebagai wanita lajang. Aku tak ingin beliau keceplosan memperkenalkanku di depan khalayak sebagai wanita bersuami.

“Di mana Elmond?” tanya Madam Ame seraya mencari-cari.

“Mungkin dia sedang ke kamar kecil,” sahut Gita meyakinkan.

Madam Ame menggeleng, mendesah letih. Sepertinya Elmond memiliki kebiasaan buruk menghilang di saat penting. Aku memang tidak melihatnya lagi selepas dia menyesap minuman di meja seberang. “Elmond Blueray adalah keponakan saya, sedangkan Selena Lyra adalah sahabat karib putri saya,” lanjut Madam Ame merangkul bahuku.

Aku membungkuk diikuti senyum canggung sebagai balasan. Sayup-sayup para tamu berkasak kusuk, beberapa memindai wujudku dari ujung kaki ke ujung kepala secara terang-terangan. Pada akhirnya salah satu wanita berpostur lebih pendek dariku melempar lelucon bernada serius. “Apakah Elmond dan Selena sengaja dipertemukan untuk dijodohkan? Sepertinya Nona ini bukan orang Indonesia.”

Aku tersedak saliva atas sikap kritis wanita itu. Ya ... aku memang berwajah bule, kontras dengan kedua orang tua yang mengadopsiku. Beberapa tetangga bahkan curiga aku adalah hasil persilangan terlarang dari turis Australia dengan penduduk pribumi.

Madam Ame buru-buru mengklarifikasi dengan menggeleng dan melambai heboh. “Oh tidak, Selena ini sudah meni —”

“Mama, ada telepon dari Mama Puput,” pekik Gita menyelamatkanku dari tepi jurang.

“Suruh telepon lagi nanti,” tolak Madam Ame.

“Penting!” kekeh Gita.

“Okey-okey. Para tamu silahkan menikmati hidangkan yang tersaji, saya permisi dulu.” Selepas berkata demikian, Madam Ame beralih padaku, beliau menggenggam pundakku seraya berucap. “Nikmati malam minggumu sayang. Kalau kamu butuh apa-apa, sampaikan saja pada Gita. Berdayakan dia,” pesannya diikuti senyum jenaka.

Madam Ame kemudian melenggang pergi tanpa merasa bersalah sedikit pun sebab hampir membocorkan rahasia yang telah kami sepakati. Maklum, beliau sudah lansia dan sempat mengalami gejala stroke.

Perlahan instrumen romantis mengalun memenuhi ruang pesta dan semua orang sigap  menempati sudut-sudut terpencil. Aula utama ini nyaris kosong, menyisahkan tiga pasang manusia yang sedang berdansa dan aku si wanita linglung. Sementara memperhatikan keasyikan Gita bercengkerama bersama pria bule dari kejauhan, aku menyabet segelas minuman berwarna hitam di atas meja walau tak berniat mengonsumsi. Aku yakin, semua minuman di sini mengandung alkohol dan aku tidak memiliki toleransi mencernanya. Aku akan hilang akal, meracau, mengutarakan semua isi hatiku yang tertimbun jika memaksakan diri menyesap alkohol. Cukup sekali saja aku meneguknya di pesta sweet saventeen Gita.

Atensiku tersita pada bingkai-bingkai foto di dinding bercat putih. Kebanyakan adalah foto kebersamaan Gita dan Madam Ame. Gita beruntung, di usia sepuluh tahun, dia diadopsi oleh wanita berhati malaikat. Setiap anak di dunia hanya butuh diterima, dicintai dan dirawat sepenuh hati, tanpa menghakimi sejarah kelahiran mereka. Begitulah kata Madam Ame setiap kali ada orang yang usil menanyakan tentang asal usul Gita. Parahnya ada yang kejam berspekulasi bahwa bisa jadi Gita adalah anak haram yang dibuang ke panti asuhan. Namun, Madam Ame tidak menggubris sebab rasa cintanya terhadap Gita sudah mendarah daging dan ikatan batin mereka terjalin erat sejak pandangan pertama.

Langkahku terus bergeser seiring mataku yang meniti bingkai demi bingkai. Momen di bingkai ini berawal dari tumbuh kembang Gita lalu berlanjut hingga liburan terakhir mereka ke Sydney. Semua foto ini cukup membuktikan kecintaan Madam Ame terhadap putri semata wayangnya dari waktu ke waktu. Tiba-tiba di pertengahan momen, tubuhku menubruk seseorang. Praktis aku tersentak dan saat aku menoleh, sepasang sklera merah berikut raut kaku menakutiku. Kami hanya bersitatap tanpa mengucapkan sepatah kata pun sampai akhirnya. “Hoeeeek!” Elmond Blueray mengeluarkan isi perut di busanaku. Busana berupa gaun sebatas lima sentimeter di atas paha berikut potongan bahu terbuka, hadiah dari Gita. Kugigit bibir bawahku demi menahan isi perutku sendiri selepas muntahan beraroma cuka itu merasuk ke dalam kulit dadaku.

“Oh my God El, are you drunk!” desis Gita  setibanya di dekat kami. Beberapa tamu mulai bergerak menciptakan setengah lingkaran, mengerumuni kami.

El sempoyongan mendekatiku tatkala aku berupaya menciptakan jarak yang cukup jauh. Aku hanya ingin segera sampai di toilet, membereskan kekacauan semampuku kemudian pulang untuk mengakhiri malam ini dengan berendam bunga tujuh rupa.

“I’m sorry, Dear. Come here, I will bathe you,” kata El parau disusul cekalan di lengan telanjangku. Aku menoleh ke arah Gita, menuntut terjemahan.

Gita memutar matanya kesal. “Kalian semua ikut aku!” Dia menarik kain tuksedo El yang otomatis ikut menarikku turut serta. “Aku akan mencari baju ganti untukmu,” tawar Gita.

“Carikan saja kamar yang bagus untuk kami menghabiskan malam ini,” kata El melantur.

Tu—tunggu, barusan El bicara bahasa Indonesia?

“Oh, jadi kamu fasih bicara bahasa Indonesia kalau sedang mabuk. Padahal kemarin-kemarin aku hampir putus asa mengajarimu,” keluh Gita seraya menoyor kepala belakang El.

“Jangan banyak bicara, carikan saja kamar buat kami,” ulang El tajam.

“Sadarlah El, dia bukan Natty. Ingat ... kau sudah berjanji tidak akan bertingkah, Kan?” desah Gita letih.

Aku jadi penasaran mengenai sosok Natty setelah menyaksikan si jelmaan Leonardo DiCaprio tertegun menatap Gita dan raut cerianya berubah pilu. El menangis sesenggukan seperti anak kecil yang direbut mainannya.

“Dia jelas-jelas Natty-ku,” rengeknya mendramatisasi. Dia lalu bergerak limbung menangkup pipiku menggunakan kedua tangan. Menatapku penuh khidmat. Membuatku terpatri pada iris abu-abu yang menyorot sayu seolah terlalu lama bersedih. “Mata coklat favoritku,” gumamnya. Aku mengernyit menahan bau alkohol yang menguar dari napas mulutnya.

Gita menarik El yang masih saja tidak mau melepas cekalan di lenganku. Tak nyaman dengan pandangan penasaran para tamu di sekitar kami yang kini sempurna bergerombol. Secepatnya kami bertiga bergandengan limbung meniti tangga dan sempat tersendat beberapa kali di pertengahan karena El berniat menggendongku. Setelah perjuangan panjangku dan Gita, kami akhirnya berhenti di salah satu pintu dari sekian banyak deretan pintu berkusen putih.

 “Kita akan menempatkan El di kamar ini sebelum kita mencari toilet untuk membersihkan gaunmu,” tutur Gita memberi instruksi. Tak ada seorang pun yang tergoda untuk menolong dua perempuan limbung. Para tamu hanya menonton dan berkasak-kusuk bahkan, suara sumbang mereka terdengar hingga di puncak tangga.

Selepas tersandung dan jatuh bersimpuh beberapa kali, aku dan Gita akhirnya berhasil menghempaskan tubuh El di ranjang. Nahas, dia menarikku bersamanya lalu mendekapku erat. Dia bahkan tidak peduli kalau aku berbau muntahannya.

“El, lepaskan Selena! Kau tidak boleh begini!” berang Gita seraya menarikku, tapi dua orang wanita ini kalah tenaga.

“Tidak mau, dia milikku,” sengau El diikuti dekapannya yang makin erat. Membuatku kesulitan bernapas. Mendadak muncul sebuah gagasan bodoh yang mau tak mau harus kugunakan. Aku menengadah, berusaha membujuknya dengan membelai wajahnya yang tanpa kusadari menjadi bensin bagi nyala api yang sedang melingkupiku. Aku memang tidak memiliki pengalaman soal berinteraksi dengan lawan jenis. Alhasil, El yang awalnya memejam kini menatapku tajam. Dahinya berkerut seolah aku menumbuhkan kepala kedua.

“Aku mau ganti baju sebentar nanti aku kembali lagi,” pamitku was-was. Di luar dugaan, El melepasku begitu saja.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status