เข้าสู่ระบบNayna duduk di kursi dengan tatapan kosong. Matanya masih sembap karena tangis semalam. Wajahnya terlihat pucat, sementara hatinya terasa remuk oleh kenyataan pahit yang harus ia telan: Rizan telah mengkhianati pernikahan mereka.
Di hadapannya, Hakim, Siti, Rizan, Farah dan juga suaminya duduk dalam diam. Tak ada satu pun yang berani membuka suara. Suasana ruang tamu terasa begitu berat pada berita buruk yang baru saja mereka dengar. Hakim akhirnya menghela napas panjang sebelum membuka suara. “Jadi, mau bagaimana, Nay?” Nayna masih diam. Ia hanya berkedip lambat beberapa kali. Bibirnya sempat terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar. Ada begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan, tetapi lidahnya terasa kelu. “Saya minta maaf, Nay.” ucap Rizan dengan suara yang pelan. Nayna perlahan menoleh kepadanya. Tatapan mereka bertemu. Mata Rizan tampak penuh penyesalan, tetapi bagi Nayna, penyesalan itu tak mampu menghapus rasa sakit yang sudah telanjur ia rasakan. Nayna kemudian mengalihkan pandangan kepada kedua mertuanya. “Bagaimana menurut Abi dan Ummi?” tanyanya lirih. “Baiknya aku harus bagaimana?” Siti menatap Rizan dengan wajah kecewa, “Kamu masih mau memperbaiki semua ini, Zan?” Rizan mengangguk pelan, “Mau, Ummi.” “Kalau begitu, tanya Nayna. Dia yang harus menentukan bagaimana kalian memperbaiki rumah tangga ini.”Nada suara Siti tegas. Tidak ada sedikit pun pembelaan untuk putranya. Rizan terdiam. Ia menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap Nayna yang sejak tadi memperhatikannya. “Nay... kamu mau kita bagaimana?” Nayna tersenyum getir, “Kamu selingkuh, aku harus bagaimana, Mas?” Pertanyaan sederhana itu justru membuat Rizan tertunduk. Tak ada jawaban yang mampu ia berikan. Nayna menarik napas panjang. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan. “Aku kasih kamu kesempatan, Mas.” Rizan mengangkat wajahnya. “Tapi berjanjilah kamu gak akan mengulangi ini. Jangan pernah berhubungan dengan dia lagi.” Nayna kemudian menatap satu per satu anggota keluarga Rizan yang berada di ruangan itu. “Berjanjilah...” Suaranya bergetar. “Disaksikan orang tua dan keluargamu.” Rizan terdiam cukup lama. Matanya mulai berkaca-kaca. “Maaf, Nay...” Suaranya terdengar berat. “Saya tak bisa meninggalkan dia.” Nayna seketika membeku. Hakim dan Siti sama-sama terkejut. Bahkan Farah yang sejak tadi hanya diam ikut mengangkat wajahnya. “Apa maksudmu, Rizan?” Nada suara Hakim meninggi. Wajahnya memerah menahan amarah. “Yang benar saja kamu kalau bicara!” Siti segera meraih tangan suaminya. “Mas, sudah... sabar.” Tangannya mengusap dada Hakim, berusaha meredakan emosi pria itu. “Kamu sudah punya istri, Rizan,” ucap Siti dengan suara tegas. “Sangat tidak pantas kalau kamu masih berhubungan dengan wanita lain.” “Maaf, Ummi.” “Tidak ada pilihan lain. Kamu harus tinggalkan dia, Zan.” Nayna hanya diam mendengarkan. Di tengah rasa sakit yang begitu dalam, ada sedikit kelegaan di hatinya. Setidaknya, kedua mertuanya masih bisa melihat kesalahan Rizan. Mereka tidak membenarkan apa yang dilakukan putra mereka. Namun, kalimat berikutnya dari Rizan kembali menghancurkan sedikit harapan itu. “Saya akan menikahi Anna, Ummi.” Hakim dan Siti langsung menatap Rizan dengan mata membelalak. “Apa?” “Saya memang ingin menjadikan Anna istri kedua.” Rizan menarik napas panjang. “Sejak awal niat saya memang begitu. Tapi saya ragu meminta izin Nayna untuk poligami karena janji kami sebelum menikah.” Tatapan Rizan beralih kepada Nayna. “Janji bahwa saya tidak akan menikah lagi selain dengan kamu.” Nayna menatapnya tak percaya. Rizan melanjutkan, “Saya boleh menikah lagi, kan, Mi? Dalam agama kita diperbolehkan untuk berpoligami.” “Tapi kamu selingkuh, Mas.” Nayna akhirnya bersuara. “Gak ada selingkuh yang dihalalkan. Dalam agama mana pun.” “Saya tahu, Nay. Saya lebih tahu dari kamu. Tidak mungkin saya sengaja menyalahi aturan.” Rizan menghela napas. “Tapi kamu yang melarang saya menikah lagi.” Nayna terdiam. Dadanya terasa semakin sesak mendengar pembelaan itu. Hakim menggeleng pelan, “Jalan yang kamu tempuh salah, Zan. Kalau kamu memang ingin menikah lagi, seharusnya kamu bicarakan dulu dengan Nayna.” “Nayna tidak akan pernah mengizinkan, Abi. Dia maunya menjadi satu-satunya istri saya.” “Semua perempuan juga tidak ada yang rela dimadu, Zan.” Siti menggeleng pasrah. “Kenapa kamu jadi begini?” Farah yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara, “Rizan boleh menikah dengan satu atau dua perempuan yang dia kehendaki, Mi. Selagi dia mampu. Nayna tak boleh melarangnya.” Nayna langsung menoleh kepada Farah, “Kenapa gak suami Mbak aja yang poligami?” Pertanyaan Nayna itu sontak membuat ruangan mendadak hening. “Kenapa malah bilang Mas Rizan?” Farah terdiam. Wajahnya tampak menegang. Suaminya yang duduk di sampingnya bahkan ikut menoleh, seolah tak menyangka percakapan itu akan berbalik kepada mereka. “Kalau suamiku mau, saya akan izinkan dia menikah lagi,” jawab Farah akhirnya. “Dia yang tak mau. Lagian rumah tangga kami tak ada masalah. Kami sudah punya anak dan hidup bahagia.” Farah menatap Nayna. “Beda sama kalian. Ribut terus. Makanya Rizan pengen nikah lagi.” Kalimat itu terasa seperti jarum yang menusuk tepat ke luka Nayna. Nayna terdiam. Tatapannya jatuh ke lantai. Kakak iparnya itu memang selalu punya cara untuk membuatnya merasa rendah. Bahkan sejak awal pernikahannya dengan Rizan. Beberapa detik kemudian, Nayna mengangkat wajah. Bibirnya membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. “Baiklah.” Ia menoleh kepada Rizan. “Kamu cinta sama dia, Mas?” Rizan terdiam sejenak. “Saya sayang kamu, Nay.” Tatapannya melembut. “Tapi saya tak bisa tinggalkan Anna." Mendengar itu Nayna sontak terkekeh pelan. Tawa kecil yang justru terdengar menyakitkan. “Kalau begitu... ceraikan aku, Mas.” Rizan langsung menggeleng, “Saya tak bisa ceraikan kamu, Nay. Saya sayang kamu.” “Kamu gak sayang sama aku kalau kamu selingkuh begini, Mas.” Suara Nayna bergetar. Ia menundukkan wajah, berusaha menahan air mata yang kembali memenuhi matanya. “Kenapa kamu harus selingkuh? Kalau kamu sudah gak cinta sama aku, kamu bisa lepaskan aku baik-baik.” Tangannya naik memegang dada. “Sakit sekali rasanya, Mas." Rizan hanya diam mendengarkan Nayna. Siti menatap putranya dengan kecewa, “Kamu harus tinggalkan perempuan itu, Zan. Kalau kamu tak mau Nayna pergi, dengarkan dia.” “Tak bisa, Ummi.” “Kenapa tak bisa?” Siti mulai kehilangan kesabarannya. “Dia bukan siapa-siapa. Nayna yang istri sah kamu, bukan perempuan itu.” Hakim ikut bersuara, “Jangan buat malu dan mencoret nama baik keluarga, Rizan. Kamu sudah zalim kepada istrimu.” Rizan akhirnya menunduk. Siti kembali menatap putranya, “Zan, Nayna mau memaafkanmu kalau kamu tinggalkan perempuan itu.” Nada suaranya kali ini lebih lembut, tetapi tetap tegas. “Selalu ada kesempatan bagi orang yang mau berubah menjadi lebih baik. Ambil kesempatan itu.” Rizan menggeleng. “Saya tak bisa tinggalkan dia, Ummi. Saya juga tak mau pisah dengan Nayna.” Nayna menatapnya dengan mata yang mulai basah. “Kalau kamu masih mau nikahi dia lebih baik kita pisah saja, Mas.” Rizan langsung menggeleng. “Tidak, Nay. Saya tak mau pisah sama kamu. Saya juga tak bisa tinggalkan dia.” Nayna menatapnya lama, “Kenapa gak bisa?” Rizan terdiam. Tatapannya jatuh ke lantai. Nayna memperhatikan perubahan wajah suaminya. Ada sesuatu yang berbeda. Seolah Rizan menyimpan alasan yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa cinta. “Kamu cinta sekali dengan dia...” suara Nayna semakin lirih. “Makanya gak mau tinggalkan dia?” “Karena dia lagi hamil, Nay.” "Apa? Hamil?"Sepanjang perjalanan, Nayna hanya menatap kosong ke arah jendela mobil. Pemandangan kota yang ramai dengan kendaraan berlalu-lalang silih berganti di hadapannya, tetapi tidak benar-benar menarik perhatiannya.Pikirannya masih tertinggal pada apa yang baru saja dilihatnya. Tentang Anna. Istri Rizan yang tadi terlihat begitu mesra bersama seorang pria lain.Nayna menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis."Persis seperti dulu yang kulihat saat dia bersama Rizan. Apakah ini yang dinamakan karma? Secepat itu?" tanyanya dalam hati.Senyum itu kembali terukir tanpa ia sadari. Habib yang sejak tadi fokus menyetir sempat meliriknya. Tatapan Nayna terlihat berbeda. Ada sesuatu yang seolah sedang berputar-putar di dalam kepalanya.“Nay? Kamu kenapa?” tanya Habib.Nayna segera menoleh, “Gak papa kok,” jawabnya cepat.“Serius?”“Iya, Bib.”“Baiklah.”Habib kembali memusatkan pandangannya pada jalan. Namun beberapa detik kemudian, suara Na
Habib turun dari mobilnya dan melangkah cepat menuju Kafe Nuansa yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja.Saat memasuki kafe, ia berhenti sejenak. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, mencari seseorang di antara beberapa pengunjung yang sedang menikmati makan siang. Hingga akhirnya matanya berhenti pada satu meja di sudut ruangan, Nayna.Perempuan itu duduk sendirian dengan pandangan kosong. Sesekali tangannya mengaduk minuman di hadapannya, meskipun es di dalam gelas sudah hampir sepenuhnya mencair.Habib menghela napas pelan. Bibirnya terkatup rapat. Ada sedikit kekhawatiran dalam tatapannya ketika melihat wajah Nayna yang tampak murung.Ia berjalan mendekat. Nayna bahkan tidak menyadari keberadaannya sampai Habib menarik kursi dan duduk di sampingnya.Nayna menoleh, “Habib... Kamu udah dari tadi sampai?” tanyanya dengan wajah sedikit terkejut.Habib tersenyum, “Gak kok, baru aja.”“Oh...” Nayna mengangguk kecil. “Kamu mau pesan apa?”Ia langsung menyerahkan buk
Nayna masih terpaku di halaman rumah. Di hadapannya, Farah dan Rizan berjalan mendekat. Mata Nayna membelalak, seolah belum percaya dua orang yang paling tidak ingin ditemuinya itu kini berdiri di depan rumahnya.“Hai, Nay. Apa kabar?” sapa Farah dengan senyum yang tampak ramah.Namun bagi Nayna, senyum itu justru terasa seperti basa-basi yang dibuat-buat. Nayna tidak menjawab. Tatapannya tajam, jelas menunjukkan ketidaksukaan atas kedatangan mereka.Rizan ikut tersenyum. “Mau kerja, kah, Nay?”Nayna akhirnya bersuara. “Kalian ngapain ke sini?”“Mau ketemu Bang Nadif,” jawab Rizan santai.“Ada urusan apa cari abangku?”Belum sempat Rizan menjawab, pintu rumah terbuka. Nadif keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapi.“Eh, Rizan... Farah. Ada apa?” tanyanya sembari menghampiri mereka.“Mau kerja, Bang?” tanya Rizan.“Iya. Kalian mau ke mana nih?”“Mau ngobrol sama Bang Nadif.”“Gak boleh.” Nayna langsung menyela. Nadanya tegas. “Kalian mau apa lagi sih? Masih pagi begini, orang mau pe
Nayna duduk di tepi pantai sembari memandang langit senja yang mulai berubah kemerahan. Semburat jingga menyelimuti permukaan laut, menciptakan pemandangan yang menenangkan.Di sebelahnya, Habib duduk dalam diam. Sejak tadi, pandangan pria itu justru lebih sering tertuju kepada Nayna daripada kepada matahari yang perlahan tenggelam. Bagi Habib, perempuan di sampingnya jauh lebih indah daripada pemandangan apa pun yang terbentang di hadapan mereka. Namun, ketenangan antara mereka tiba-tiba pecah ketika Nayna membuka suara.“Kalau aku meninggal... apakah ibuku akan datang melihatku untuk kali terakhir?”Senyum di wajah Habib perlahan menghilang. Tatapannya berubah sendu.Nayna masih menatap lurus ke arah laut.“Andai semua ibu di dunia ini tahu betapa beratnya hidup seorang anak tanpa ibu di sisinya.” Bibirnya melengkung tipis, tetapi senyum itu terasa pahit. “Mengapa melahirkan kami ke dunia kalau mereka bahkan nggak berniat mengurusnya?” Ia menoleh kepada Habib. “Kita nggak pernah min
Nayna terpaku menatap ke depan. Beberapa langkah di hadapannya, Rizan berdiri dengan senyum tipis yang justru membuat dada Nayna terasa sesak. Pria itu kemudian mulai berjalan mendekatinya.Nayna yang merasa muak dan tidak ingin berurusan dengan drama apa pun langsung membalikkan tubuh. Ia hendak pergi meninggalkan Rizan, tetapi baru hendak melangkah, tangan pria itu sudah lebih dahulu meraih tangannya.“Hei, Nay.” Rizan menariknya sedikit. “Kenapa kamu?”“Lepasin!” Nayna segera menepis tangan Rizan dengan kasar. Tatapannya berubah tajam. “Jangan berani kamu sentuh aku, ya.”Rizan mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. “Sorry. Oke, Nay. Saya tak sentuh kamu.”Nayna tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Rizan dengan sorot mata yang sulit diartikan.“Santai, Nay.” Rizan terkekeh kecil. “Kenapa menatap saya seperti itu?”“Ngapain kamu ke sini?”“Mau mainlah.” Rizan mengangkat bahu. “Kenapa? Tak bolehkah saya main ke rumah mantan istri saya?”“Jelas tidak. Sekarang kamu pulang!” ja
“Ustadzah, kenapa kita tidak boleh membalas orang yang jahat sama kita?”Nayna yang sedang merapikan beberapa buku di atas meja sontak menghentikan gerakannya. Ia menoleh kepada salah seorang murid perempuan yang duduk tidak jauh darinya.Gadis kecil itu bernama Aisyah. Selama beberapa hari mengajar di kelas tersebut, Nayna memperhatikan bahwa Aisyah termasuk murid yang pendiam. Ia jarang berbicara, lebih sering menundukkan kepala, dan selalu memilih duduk sendiri. Namun kali ini, tiba-tiba saja Aisyah mengajukan pertanyaan.Nayna menatapnya dengan hangat. “Karena kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan yang sama, sayang.”“Enak dong mereka, Zah,” sahut Aisyah polos. “Jahat sama kita, tetapi kita gak boleh jahat sama mereka.”Nayna tersenyum tipis. Ia lalu mendekat dan berjongkok agar sejajar dengan tinggi badan gadis kecil itu.“Sayang, semua perbuatan kita pasti ada balasannya. Kita punya Allah, kan?” jelas Nayna lembut. “Jadi, kita harus berusaha berbuat baik supaya mendapat







