Share

Simpul

Author: Rintik Riani
last update publish date: 2026-09-19 17:29:10

Nayna terpaku menatap ke depan. Beberapa langkah di hadapannya, Rizan berdiri dengan senyum tipis yang justru membuat dada Nayna terasa sesak. Pria itu kemudian mulai berjalan mendekatinya.

Nayna yang merasa muak dan tidak ingin berurusan dengan drama apa pun langsung membalikkan tubuh. Ia hendak pergi meninggalkan Rizan, tetapi baru hendak melangkah, tangan pria itu sudah lebih dahulu meraih tangannya.

“Hei, Nay.” Rizan menariknya sedikit. “Kenapa kamu?”

“Lepasin!” Nayna segera menepis tangan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petaka Jadi Janda    Jejak luka

    Nayna duduk di tepi pantai sembari memandang langit senja yang mulai berubah kemerahan. Semburat jingga menyelimuti permukaan laut, menciptakan pemandangan yang menenangkan.Di sebelahnya, Habib duduk dalam diam. Sejak tadi, pandangan pria itu justru lebih sering tertuju kepada Nayna daripada kepada matahari yang perlahan tenggelam. Bagi Habib, perempuan di sampingnya jauh lebih indah daripada pemandangan apa pun yang terbentang di hadapan mereka. Namun, ketenangan antara mereka tiba-tiba pecah ketika Nayna membuka suara.“Kalau aku meninggal... apakah ibuku akan datang melihatku untuk kali terakhir?”Senyum di wajah Habib perlahan menghilang. Tatapannya berubah sendu.Nayna masih menatap lurus ke arah laut.“Andai semua ibu di dunia ini tahu betapa beratnya hidup seorang anak tanpa ibu di sisinya.” Bibirnya melengkung tipis, tetapi senyum itu terasa pahit. “Mengapa melahirkan kami ke dunia kalau mereka bahkan nggak berniat mengurusnya?” Ia menoleh kepada Habib. “Kita nggak pernah min

  • Petaka Jadi Janda    Simpul

    Nayna terpaku menatap ke depan. Beberapa langkah di hadapannya, Rizan berdiri dengan senyum tipis yang justru membuat dada Nayna terasa sesak. Pria itu kemudian mulai berjalan mendekatinya.Nayna yang merasa muak dan tidak ingin berurusan dengan drama apa pun langsung membalikkan tubuh. Ia hendak pergi meninggalkan Rizan, tetapi baru hendak melangkah, tangan pria itu sudah lebih dahulu meraih tangannya.“Hei, Nay.” Rizan menariknya sedikit. “Kenapa kamu?”“Lepasin!” Nayna segera menepis tangan Rizan dengan kasar. Tatapannya berubah tajam. “Jangan berani kamu sentuh aku, ya.”Rizan mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. “Sorry. Oke, Nay. Saya tak sentuh kamu.”Nayna tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Rizan dengan sorot mata yang sulit diartikan.“Santai, Nay.” Rizan terkekeh kecil. “Kenapa menatap saya seperti itu?”“Ngapain kamu ke sini?”“Mau mainlah.” Rizan mengangkat bahu. “Kenapa? Tak bolehkah saya main ke rumah mantan istri saya?”“Jelas tidak. Sekarang kamu pulang!” ja

  • Petaka Jadi Janda    Langkah

    “Ustadzah, kenapa kita tidak boleh membalas orang yang jahat sama kita?”Nayna yang sedang merapikan beberapa buku di atas meja sontak menghentikan gerakannya. Ia menoleh kepada salah seorang murid perempuan yang duduk tidak jauh darinya.Gadis kecil itu bernama Aisyah. Selama beberapa hari mengajar di kelas tersebut, Nayna memperhatikan bahwa Aisyah termasuk murid yang pendiam. Ia jarang berbicara, lebih sering menundukkan kepala, dan selalu memilih duduk sendiri. Namun kali ini, tiba-tiba saja Aisyah mengajukan pertanyaan.Nayna menatapnya dengan hangat. “Karena kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan yang sama, sayang.”“Enak dong mereka, Zah,” sahut Aisyah polos. “Jahat sama kita, tetapi kita gak boleh jahat sama mereka.”Nayna tersenyum tipis. Ia lalu mendekat dan berjongkok agar sejajar dengan tinggi badan gadis kecil itu.“Sayang, semua perbuatan kita pasti ada balasannya. Kita punya Allah, kan?” jelas Nayna lembut. “Jadi, kita harus berusaha berbuat baik supaya mendapat

  • Petaka Jadi Janda    Trauma

    “Terus kamu mau apa?”“Gak ada, Nay. Aku gak mau apa-apa.”“Yaudah. Kalau gitu, sekarang kamu stop nemuin aku.”Habib mengernyit. Tatapannya berubah bingung. “Maksudnya gimana, Nay?”“Jauhin aku. Stop peduli sama hal-hal tentangku.”“Kenapa, Nay? Kamu gak suka?”“Iya.”“Kenapa?” tanya Habib heran. Ia menatap Nayna lekat, seolah berusaha mencari jawaban dari sorot mata perempuan itu. “Apa karena aku bilang aku menyukaimu?”Nayna terdiam. Pertanyaan itu seketika membuat dadanya terasa sesak. Ia memilih membuang muka, menghindari tatapan Habib yang terasa menyesakkan.“Nay?”“Aku gak bisa, Bib. Aku gak akan menikah lagi.” Nayna menghela napas panjang, berusaha menahan gejolak dalam hatinya. “Aku gak butuh laki-laki. Gak butuh cinta.”Habib tertegun. Kalimat itu terasa seperti tamparan yang tidak terlihat. Seketika rasa sakit menyeruak di dadanya, membuat senyum yang semula tersisa di wajahnya perlahan menghilang.Apa maknanya kamu tidak membutuhkanku, Nay?Batin Habib mulai berbicara. Su

  • Petaka Jadi Janda    Ungkapan

    “Makasih ya, Bib.”“Hm? Makasih buat apa, Nay?”“Buat semuanya.” Nayna tersenyum tipis. “Maaf kalau kemarin aku gak tahu kalau kamu datang.”“Oh, iya. Santai aja, Nay.” Habib ikut tersenyum. “Aku maklum. Kamu kan lagi berduka.”Nayna terdiam sejenak. Tatapannya kemudian beralih kepada Habib.“Kenapa kamu gak nemuin aku?”Pertanyaan itu membuat senyum di wajah Habib perlahan memudar. Ia terdiam.Sebenarnya, kemarin ia sangat ingin menemui Nayna. Ia ingin berbicara dengannya, menemaninya, atau sekadar berada di dekatnya untuk memberikan sedikit kekuatan di saat perempuan itu sedang berada di titik terlemah dalam hidupnya. Namun, ketika melihat Rizan berada di dalam rumah, Habib langsung mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin kehadirannya justru menambah masalah. Tidak ingin mengganggu suasana duka. Meski begitu, ia tidak bisa memungkiri satu hal. Ada rasa cemburu yang sempat menyelinap di dalam hatinya ketika melihat Rizan berada di sana.“Habib?”Panggilan Nayna membuyarkan lamunannya. H

  • Petaka Jadi Janda    Kehilangan

    Nayna melangkah keluar dari mobil dengan tergesa. Tanpa sempat mematikan pikirannya yang dipenuhi kecemasan, ia langsung berlari memasuki rumah sakit, menyusuri lorong menuju kamar tempat ayahnya dirawat.Napasnya memburu ketika akhirnya ia sampai di depan kamar.Di sana, Nadif sudah berdiri menunggu. Saat melihat Nayna, pria itu segera memberi isyarat agar adiknya mendekat. Wajahnya tampak begitu muram, menyiratkan sesuatu yang membuat langkah Nayna seketika terasa berat.“Gimana Ayah, Bang?” tanya Nayna dengan suara cemas.“Ayah di dalam. Dari tadi manggil nama kamu, Nay.”Nadif langsung meraih tangan Nayna dan membawanya masuk. Langkah Nayna melambat begitu melihat keadaan ayahnya.Nasrul terbaring lemah di atas ranjang. Selang infus terpasang di tangannya, sementara alat bantu oksigen menutupi sebagian wajahnya. Kulitnya tampak pucat, jauh berbeda dari wajah ayah yang selama ini selalu ia lihat.Nayna mendekat ke sisi ranjang. “Ayah...”Suara itu membuat kelopak mata Nasrul berger

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status