INICIAR SESIÓN“Nanti kita ke tempat Ummi, ya,” ajak Rizan.
Nayna yang semula hendak pergi langsung menoleh. “Mau ngapain?” “Saya nanti ada kerjaan di luar kota. Kamu di tempat Ummi aja, ya, Nay. Biar kamu tak kesepian.” Mendengar penjelasan itu, wajah Nayna seketika berubah murung. Ia menghela napas kasar, lalu memilih pergi tanpa menjawab. Rizan bangkit dari duduknya dan menyusul Nayna yang berjalan menuju halaman belakang. “Kenapa sih, Nay? Kamu tak suka ke rumah Ummi?” “Bukan gak suka, Mas. Aku cuma malas. Nanti ketemu sama Mbakmu, terus ditanya-tanya lagi.” “Ya, kamu kalau ditanya tinggal jawab.” Nayna berdecak kesal. Ia menghentikan langkah, lalu menatap Rizan. “Mereka itu gak suka aku, Mas.” “Kenapa bilang begitu sih, Nay? Jangan berprasangka buruklah sama dia. Dia itu baik.” “Yang bilang Mbak Farah jahat siapa?” “Ya, kamu. Kenapa tak mau ketemu Mbakku? Wajarlah kita ditanya, karena mereka keluarga kita.” Nayna hanya diam mendengar jawaban Rizan. Tatapannya beralih ke halaman belakang, seolah enggan melanjutkan perdebatan. Baginya, membicarakan hal ini dengan Rizan tak akan pernah menemukan titik temu. Rizan berjalan mendekatinya. Perlahan, ia merangkul bahu Nayna dan mengusapnya lembut. “Nay, mau ya? Biar kamu tak sendirian.” “Aku gak apa-apa kok sendirian di rumah, Mas.” “Tapi saya khawatir, Nay. Tak tenang saya tinggalkan kamu sendirian di rumah. Jadi kamu di tempat Ummi saja, ya.” Nayna terdiam cukup lama. Ia sebenarnya masih ingin menolak, tetapi melihat tatapan Rizan yang seolah mengharapkan persetujuannya, akhirnya ia mengangguk pelan. Rizan tersenyum puas. Ia lalu mengecup lembut rambut Nayna. “Terima kasih, sayang. Kalau kamu nurut seperti ini, saya senang sekali.” Nayna ikut tersenyum mendengar ucapan Rizan. Namun senyum itu bukanlah senyum bahagia. Itu hanyalah senyum pasrah yang terpaksa ia tampilkan. * * * Nayna memandang rumah mewah milik keluarga Hakim yang berdiri megah di hadapannya. Rumah itu tidak pernah benar-benar sepi. Selalu ada saja tamu atau sanak keluarga yang datang. Apalagi kakak Rizan yang hampir selalu ada di rumah itu. Kalau hanya bertemu ayah dan ibu mertuanya, Nayna sebenarnya tidak keberatan. Namun, menghadapi mulut lemas kakak iparnya itulah yang membuat Nayna selalu enggan setiap kali Rizan mengajaknya ke sini. “Nay, ayo,” ucap Rizan. Nayna menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah mengikuti Rizan masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, ia harus memasang wajah ramah. Senyum yang lebar, meskipun hatinya tidak sedang baik-baik saja. “Assalamualaikum.” “Waalaikumussalam.” Rizan dan Nayna masuk ke ruang tengah yang ternyata cukup ramai. Ada orang tua Rizan beserta beberapa anggota keluarga lainnya. “Abi, Ummi,” sapa Rizan sembari menyalami kedua orang tuanya. Setelah itu, ia beralih menyalami kakak dan iparnya. Nayna pun melakukan hal yang sama. Ia menyapa dan menyalami keluarga Rizan satu per satu sebelum akhirnya duduk di kursi yang berhadapan dengan Hakim dan Siti. “Sehat, kan, Nay?” tanya Siti. Nayna tersenyum ramah. “Alhamdulillah sehat, Ummi.” Siti mengangguk pelan. “Kenapa jarang sekali main ke sini?” Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa, Nayna langsung merasa gugup. Ia hanya tersenyum kecil sebelum melirik Rizan. “Iya, Mi. Karena saya lagi banyak kerjaan dan Nayna sering ikut, jadi baru sempat sekarang,” jelas Rizan. “Ya sudah, diminum dulu,” tawar Hakim. Ia kemudian mengambil makanan dan menyerahkannya kepada Nayna. “Ini, Nay, dimakan kuenya.” “Iya, Abi. Makasih.” Nayna menerima kue itu dan menggigitnya sedikit. “Oh, iya, Nay nanti mau tinggal di sini dulu, Mi. Saya ada kerjaan ke luar kota,” ujar Rizan. Siti tampak heran. “Kenapa Nay tak ikut?” “Nayna yang tak mau ikut, Mi. Mau main ke sini katanya,” jawab Rizan santai. Nayna langsung membeku. Ia menoleh perlahan kepada Rizan. Tidak pernah sekalipun ia mengatakan tidak mau ikut jika Rizan mengajaknya ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Namun lagi-lagi, Rizan mengarang cerita tentang dirinya. Nayna hanya menunduk, memilih diam daripada mempermalukan suaminya di depan keluarga. “Gimana mau punya anak, Zan, kalau kamu LDR terus sama istrimu?” celetuk Farah, kakak Rizan yang dua tahun lebih tua darinya. Rizan menoleh kepada Nayna. Tatapannya seolah menunggu reaksi sang istri. Namun Nayna hanya tersenyum tipis. Siti yang melihat perubahan wajah menantunya itu sontak mengalihkan pembicaraan ke topik lain. “Saya ambil kopermu dulu, ya, Nay,” ucap Rizan. Nayna mengangguk pelan. Rizan pun beranjak dari duduknya dan membawa koper Nayna menuju kamar. Sementara itu, Nayna tetap berada di ruang tengah bersama keluarga Rizan. Ia sesekali berbincang dengan mertuanya, tetapi setiap kali Farah ikut berbicara, Nayna selalu merasa ada saja sesuatu yang membuat emosinya terusik. “Harusnya Mbak gak nanyain hal sensitif begitu,” ujar Nayna akhirnya. Farah terdiam sejenak. Karena ada kedua orang tuanya, ia tidak berani berkata terlalu banyak. Apalagi orang tuanya memang selalu membela Nayna. “Ya sudah, maaf deh kalau kamu tersinggung. Jujur, saya tak ada niat mau nyinggung kamu. Cuma ngasih saran. Lihatlah suamimu itu, kasihan. Sudah pengen punya anak.” Nayna menarik napas pelan. Ia berusaha menahan emosinya sebelum akhirnya menatap Farah. “Kehamilan itu juga bukan ditentukan pihak perempuan saja, sekalipun perempuan yang punya rahim. Justru malah bergantung pada pihak laki-laki. Kalau masalahnya ada di Mas Rizan, Mbak mau apa?” Pertanyaan itu membuat Farah terdiam. Hakim bahkan sampai terbatuk. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan keributan kecil itu. “Sudahlah, Farah. Kamu sana ke belakang saja. Kalau ketemu, ribut saja sama Nay.” “Bukan ribut, Ummi. Ini tuh namanya menasihati adik.” “Sudah, Farah.” Kali ini suara Bu Nyai Siti terdengar lebih tegas. Melihat ibunya mulai kesal, Farah pun semakin menggeram dalam hati. Namun ia memilih beranjak pergi daripada membuat masalah semakin panjang. Nayna hanya diam. Ia menghela napas kasar. Belum satu jam berada di rumah ini, tetapi ia sudah merasa muak. Sementara itu, Rizan yang sejak tadi berada di kamar hanya diam di balik pintu. Saat meletakkan koper Nayna, ia sempat mendengar perdebatan antara istrinya dan kakaknya. * * * Nayna berbaring di ranjang kamar sambil menatap layar ponselnya. Jarinya menggeser layar perlahan hingga berhenti pada sebuah foto dirinya bersama Rizan. Tatapan Nayna berubah sendu. Ia memandangi wajah suaminya di dalam foto itu cukup lama. Rizan memang terkadang menjadi sosok suami yang baik. Lembut, perhatian, bahkan bisa membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung. Namun di waktu lain, Rizan bisa berubah menjadi sosok yang begitu kejam. Seolah ada banyak kepribadian yang hidup dalam satu tubuh. “Ya Allah, kenapa rumah tangga hamba harus begini?” Nayna bangkit dari rebahnya dan menghela napas panjang. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Pesan dari Mila, sahabat karib Nayna. Nay, kita main yuk. Aku pulang nih ke rumah. Mata Nayna langsung berbinar. “Oh, iya. Mila kan lagi libur kuliah.” Baru saat itu Nayna teringat bahwa sahabatnya tersebut pernah mengabarkan akan pulang ke Riau saat libur semester. Mereka bahkan sudah berencana untuk bertemu. Dengan cepat, Nayna membalas pesan itu dan mengajaknya bertemu di tempat yang sudah mereka sepakati. Namun setelah pesan terkirim, senyum di wajahnya perlahan menghilang. Ia teringat pada Rizan. Kalau meminta izin kepada suaminya, kemungkinan besar Rizan tidak akan mengizinkannya pergi. Nayna akhirnya memilih untuk tidak memberitahu Rizan dan hanya meminta izin kepada ibu mertuanya. Beberapa saat kemudian, Nayna keluar dari kamar. Sejak siang ia memang beristirahat setelah melakukan kegiatan muhadarah dan riyadah di pondok pesantren milik mertuanya itu. Di ruang tamu, terlihat Siti tengah mengaji. Nayna berdiri beberapa langkah di depannya, menunggu hingga Siti menyelesaikan bacaannya. Siti menutup Al-Qur'an dan meletakkannya di atas meja, “Kenapa, Nay?” tanyanya. “Ummi, aku mau pergi main ketemu kawan. Boleh?” “Sudah izin dengan Rizan?” Nayna mengangguk cepat, “Sudah, Ummi. Kata Mas Rizan boleh.” “Ya sudah kalau begitu, pergilah. Mau diantar sopir atau nyetir sendiri?” “Sendiri saja, Ummi.” Siti mengangguk, “Hati-hati, ya. Jangan pulang terlalu malam.” Siti kemudian mengambil dompet kecil dari tas yang berada di atas meja. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya kepada Nayna. “Ini untuk pegangan.” Lima lembar uang seratus ribu berpindah ke tangan Nayna. Nayna tersenyum, “Iya, Ummi. Makasih.” Ia kemudian kembali masuk ke kamar untuk bersiap. Beberapa menit kemudian, Nayna selesai berdandan. Ia berpamitan kepada Siti sebelum akhirnya meninggalkan rumah dengan mobil putih yang terparkir di halaman. Dengan perasaan jauh lebih ringan, Nayna mengendarai mobilnya membelah jalanan kota. Sudah lama ia tidak bertemu Mila. Dan untuk sejenak, ia merasa sedikit bebas dari segala masalah rumah tangganya. Tak lama kemudian, Nayna tiba di sebuah kafe tempat ia dan Mila berjanji untuk bertemu. Setibanya di sana, Nayna segera turun dari mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam. Matanya menelisik seluruh ruangan, mencari sosok sahabatnya. “Nayna!” Nayna langsung menoleh mengikuti arah suara itu. “Mila!” Wajah Nayna seketika sumringah. Ia berlari kecil lalu berhambur memeluk Mila, melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam. Sudah lebih dari enam bulan mereka tidak bertemu. “Kangennya aku sama kamu,” ujar Mila sambil memeluk Nayna erat. “Aku juga.” Mereka pun tertawa kecil, menikmati kembali kebersamaan yang sudah lama hilang. Setelah makan bersama, mereka memutuskan untuk menonton film di bioskop yang jaraknya lebih dari satu jam dari kota mereka. Sesampainya di sana, Mila langsung memesan tiket untuk film yang tayang pukul delapan malam. “Kita ke mushala yuk. Sholat Maghrib sambil nunggu Isya, baru ke sini lagi,” ajak Nayna. “Yuk.” Mereka berdua meninggalkan area bioskop dan berjalan menuju mushala yang berada di lantai bawah dengan menggunakan eskalator. “Gimana, Nay, hubungan kamu sama suami kamu?” tanya Mila. Nayna tersenyum getir, “Masih sama kayak dulu.” Seketika raut wajah Mila berubah sedih, “Kamu gak mau pisah aja, Nay? Daripada tersiksa terus begini.” Nayna menggeleng pelan, “Entahlah. Aku gak tahu harus gimana. Tapi gak mungkin pisah. Aku takut keluargaku gak setuju kalau kami pisah dan malah jadi pikiran ayahku.” Mila menghela napas pelan. Tangannya kemudian mengusap punggung Nayna dengan lembut, “Sabar ya, Nay. Kalau mau cerita atau butuh sesuatu, kabari aku.” Nayna tersenyum kecil, “Iya, Mil. Makasih, ya.” Saat sudah sampai di lantai bawah, mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong. Namun, langkah Mila tiba-tiba melambat. Tatapannya tertuju pada seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Ia menyentuh tangan Nayna, “Nay.” Nayna menoleh. Mila menunjuk ke arah seseorang di depan mereka, “Itu bukannya Ustaz Rizan, suami kamu?” Nayna langsung mengikuti arah pandang Mila. Ia terdiam. Seorang pria berdiri tidak jauh dari mereka. Nayna memperhatikan sosok itu dengan saksama. “Bukan, ya? Salah orang kali aku. Mirip soalnya,” ujar Mila. Namun detik berikutnya, mata Nayna membelalak. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Pria bertopi dengan pakaian santai itu memang benar Rizan. Suaminya. “Iya...” suara Nayna bergetar. “Itu Mas Rizan.” Mila ikut memperhatikan pria tersebut, “Hah? Serius? Itu sama siapa, Nay? Kok sama cewek?” Nayna membeku. Rizan memang sedang berdiri bersama seorang perempuan yang berada di sampingnya. Dan seolah ingin menghancurkan seluruh sisa keyakinan Nayna, perempuan itu tiba-tiba menggandeng lengan Rizan. Nayna tidak bergerak. Matanya berkedip lambat. Dadanya terasa sesak. Tenggorokannya tercekat, sementara mulutnya mendadak terasa kelu. Semua suara di sekelilingnya seakan menghilang. Hanya satu hal yang terus berputar di kepalanya. Itu Mas Rizan. Dia tidak pergi kerja ke luar kota... Napas Nayna tercekat. Dia benar selingkuh?“Nanti kita ke tempat Ummi, ya,” ajak Rizan.Nayna yang semula hendak pergi langsung menoleh. “Mau ngapain?”“Saya nanti ada kerjaan di luar kota. Kamu di tempat Ummi aja, ya, Nay. Biar kamu tak kesepian.”Mendengar penjelasan itu, wajah Nayna seketika berubah murung. Ia menghela napas kasar, lalu memilih pergi tanpa menjawab.Rizan bangkit dari duduknya dan menyusul Nayna yang berjalan menuju halaman belakang.“Kenapa sih, Nay? Kamu tak suka ke rumah Ummi?”“Bukan gak suka, Mas. Aku cuma malas. Nanti ketemu sama Mbakmu, terus ditanya-tanya lagi.”“Ya, kamu kalau ditanya tinggal jawab.”Nayna berdecak kesal. Ia menghentikan langkah, lalu menatap Rizan.“Mereka itu gak suka aku, Mas.”“Kenapa bilang begitu sih, Nay? Jangan berprasangka buruklah sama dia. Dia itu baik.”“Yang bilang Mbak Farah jahat siapa?”“Ya, kamu. Kenapa tak mau ketemu Mbakku? Wajarlah kita ditanya, karena mereka keluarga kita.”Nayna hanya diam mendengar jawaban Rizan. Tatapannya beralih ke halaman belakang, seolah
Nayna memandangi Rizan yang tengah menyantap sarapan di hadapannya. Sudah tiga hari berlalu sejak ia mendengar suara seorang perempuan yang menelepon Rizan melalui kontak bernama Abdul. Selama tiga hari itu pula, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.Siapa perempuan itu? Kalau memang hanya teman seperti yang Mas Rizan bilang, kenapa dia memanggil Mas Rizan dengan panggilan sayang?Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.Nayna menghela napas panjang. Tangannya terangkat memegang pelipis, lalu memijatnya perlahan. Rasa pusing tiba-tiba menyerang kepalanya."Kenapa, Nay?"Suara Rizan membuat Nayna tersentak kecil.Pria itu segera meletakkan sendoknya. Raut wajahnya berubah khawatir saat melihat Nayna memijat kepalanya."Nay? Kamu sakit?"Nayna menggeleng pelan, "Gak kok, Mas. Cuma sedikit pusing."Rizan langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia berpindah ke kursi di samping Nayna, kemudian tangannya terulur menyentuh wajah istrinya dengan lembut."Kita ke dokter, ya?""Mas kan m
"Jaga kesehatannya, Zan. Jangan terlalu dipaksakan kalau kerja tuh."Pesan Nadif itu membuat Rizan tertawa kecil."Iya Bang, aman tuh. Ya sudah kami pamit dulu ya, Bang." Ia lalu menoleh pada Nasrul, "Yah, pamit dulu.""Iya, Nak. Hati-hati."Rizan menggenggam tangan Nayna, lalu menariknya pelan untuk ikut berjalan menuju mobil.Dengan langkah yang berat Nayna mengikuti Rizan. Sebelum masuk ke dalam mobil, Nayna kembali menoleh ke belakang, melihat ayahnya yang memandangnya.Wajah Nasrul memang tersenyum, tetapi entah mengapa, Nayna merasa ada kesedihan yang disembunyikan pria tua itu."Ayo masuk, Nay." Ucap Rizan.Nayna menghela napas dengan berat lalu masuk ke dalam mobil. Dari balik kaca mobil ia masih memandangi Nasrul. Dalam hati, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya itu.Rizan melajukan mobil meninggalkan halaman rumah Nayna. Pria itu terlihat fokus menyetir tanpa memerhatikan Nayna. Sementara Nayna memandangi rumahnya dari balik jendela mobil hingga benar-benar hila
Nayna duduk di kursi bus yang berada tepat di dekat jendela. Pandangannya tertuju pada pemandangan jalanan yang mereka lewati. Raganya memang berada di sana. Namun pikirannya masih berada di rumah suaminya. Tatapan Nayna lalu beralih pada tangannya. Melirik jari manisnya yang masih melingkar cincin pernikahan mereka. Cincin berlian yang begitu indah, seperti indahnya saat pertama mereka menikah.Dahulu, Rizan adalah suami yang baik dan sangat menyayanginya. Meskipun pernikahan mereka berawal dari perjodohan, bagi Nayna, sejak Rizan sah menjadi suaminya, ia merasa dirinya benar-benar telah jatuh cinta pada pria itu. Mereka begitu bahagia di awal pernikahan, dan kebahagiaan mereka bertambah seiring hadirnya buah hati di rahim Nayna. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Nayna mengalami keguguran. Sejak saat itu, sesuatu dalam diri Rizan perlahan berubah.Sering berkata kasar dan terus menghina Nayna, bahkan tanpa segan akan memukulinya. Seolah setiap kali Nayna melakukan k
Di dalam masjid, para jamaah duduk khidmat mendengarkan ceramah seorang pria. Suara mikrofon menggema memenuhi ruangan.“Jadi, Bapak-bapak jamaah sekalian, Rasulullah itu sangat memuliakan istrinya...” ucap pria yang mengenakan jubah putih itu.Kalimat tersebut seketika membuat salah satu jamaah wanita terdiam. Untuk sesaat, pikirannya terasa hening. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum kecil. Wajahnya yang sejak tadi tertunduk perlahan terangkat. Matanya menatap lurus ke arah sosok pria yang sangat ia kenali, lebih dari siapa pun yang berada di masjid itu. Pria dengan wajah berseri dan senyum ramah yang seolah tak pernah surut itu adalah suaminya.Sementara wanita itu adalah Nayna Banafsha. Wajahnya manis dengan hidung mancung dan alis tebal. Kacamata yang menghiasi mata indahnya pun menjadi salah satu ciri khas dirinya. Nayna adalah istri dari pria yang sedang berceramah itu, Ahmad Fahrizan.Orang-orang biasa memanggilnya Ustadz Rizan. Ia merupakan seorang arsitek profesional







