Chapter: Kebohongan“Nanti kita ke tempat Ummi, ya,” ajak Rizan.Nayna yang semula hendak pergi langsung menoleh. “Mau ngapain?”“Saya nanti ada kerjaan di luar kota. Kamu di tempat Ummi aja, ya, Nay. Biar kamu tak kesepian.”Mendengar penjelasan itu, wajah Nayna seketika berubah murung. Ia menghela napas kasar, lalu memilih pergi tanpa menjawab.Rizan bangkit dari duduknya dan menyusul Nayna yang berjalan menuju halaman belakang.“Kenapa sih, Nay? Kamu tak suka ke rumah Ummi?”“Bukan gak suka, Mas. Aku cuma malas. Nanti ketemu sama Mbakmu, terus ditanya-tanya lagi.”“Ya, kamu kalau ditanya tinggal jawab.”Nayna berdecak kesal. Ia menghentikan langkah, lalu menatap Rizan.“Mereka itu gak suka aku, Mas.”“Kenapa bilang begitu sih, Nay? Jangan berprasangka buruklah sama dia. Dia itu baik.”“Yang bilang Mbak Farah jahat siapa?”“Ya, kamu. Kenapa tak mau ketemu Mbakku? Wajarlah kita ditanya, karena mereka keluarga kita.”Nayna hanya diam mendengar jawaban Rizan. Tatapannya beralih ke halaman belakang, seolah
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: RahasiaNayna memandangi Rizan yang tengah menyantap sarapan di hadapannya. Sudah tiga hari berlalu sejak ia mendengar suara seorang perempuan yang menelepon Rizan melalui kontak bernama Abdul. Selama tiga hari itu pula, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.Siapa perempuan itu? Kalau memang hanya teman seperti yang Mas Rizan bilang, kenapa dia memanggil Mas Rizan dengan panggilan sayang?Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.Nayna menghela napas panjang. Tangannya terangkat memegang pelipis, lalu memijatnya perlahan. Rasa pusing tiba-tiba menyerang kepalanya."Kenapa, Nay?"Suara Rizan membuat Nayna tersentak kecil.Pria itu segera meletakkan sendoknya. Raut wajahnya berubah khawatir saat melihat Nayna memijat kepalanya."Nay? Kamu sakit?"Nayna menggeleng pelan, "Gak kok, Mas. Cuma sedikit pusing."Rizan langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia berpindah ke kursi di samping Nayna, kemudian tangannya terulur menyentuh wajah istrinya dengan lembut."Kita ke dokter, ya?""Mas kan m
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: Janji"Jaga kesehatannya, Zan. Jangan terlalu dipaksakan kalau kerja tuh."Pesan Nadif itu membuat Rizan tertawa kecil."Iya Bang, aman tuh. Ya sudah kami pamit dulu ya, Bang." Ia lalu menoleh pada Nasrul, "Yah, pamit dulu.""Iya, Nak. Hati-hati."Rizan menggenggam tangan Nayna, lalu menariknya pelan untuk ikut berjalan menuju mobil.Dengan langkah yang berat Nayna mengikuti Rizan. Sebelum masuk ke dalam mobil, Nayna kembali menoleh ke belakang, melihat ayahnya yang memandangnya.Wajah Nasrul memang tersenyum, tetapi entah mengapa, Nayna merasa ada kesedihan yang disembunyikan pria tua itu."Ayo masuk, Nay." Ucap Rizan.Nayna menghela napas dengan berat lalu masuk ke dalam mobil. Dari balik kaca mobil ia masih memandangi Nasrul. Dalam hati, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya itu.Rizan melajukan mobil meninggalkan halaman rumah Nayna. Pria itu terlihat fokus menyetir tanpa memerhatikan Nayna. Sementara Nayna memandangi rumahnya dari balik jendela mobil hingga benar-benar hila
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: PulangNayna duduk di kursi bus yang berada tepat di dekat jendela. Pandangannya tertuju pada pemandangan jalanan yang mereka lewati. Raganya memang berada di sana. Namun pikirannya masih berada di rumah suaminya. Tatapan Nayna lalu beralih pada tangannya. Melirik jari manisnya yang masih melingkar cincin pernikahan mereka. Cincin berlian yang begitu indah, seperti indahnya saat pertama mereka menikah.Dahulu, Rizan adalah suami yang baik dan sangat menyayanginya. Meskipun pernikahan mereka berawal dari perjodohan, bagi Nayna, sejak Rizan sah menjadi suaminya, ia merasa dirinya benar-benar telah jatuh cinta pada pria itu. Mereka begitu bahagia di awal pernikahan, dan kebahagiaan mereka bertambah seiring hadirnya buah hati di rahim Nayna. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Nayna mengalami keguguran. Sejak saat itu, sesuatu dalam diri Rizan perlahan berubah.Sering berkata kasar dan terus menghina Nayna, bahkan tanpa segan akan memukulinya. Seolah setiap kali Nayna melakukan k
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: TalakDi dalam masjid, para jamaah duduk khidmat mendengarkan ceramah seorang pria. Suara mikrofon menggema memenuhi ruangan.“Jadi, Bapak-bapak jamaah sekalian, Rasulullah itu sangat memuliakan istrinya...” ucap pria yang mengenakan jubah putih itu.Kalimat tersebut seketika membuat salah satu jamaah wanita terdiam. Untuk sesaat, pikirannya terasa hening. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum kecil. Wajahnya yang sejak tadi tertunduk perlahan terangkat. Matanya menatap lurus ke arah sosok pria yang sangat ia kenali, lebih dari siapa pun yang berada di masjid itu. Pria dengan wajah berseri dan senyum ramah yang seolah tak pernah surut itu adalah suaminya.Sementara wanita itu adalah Nayna Banafsha. Wajahnya manis dengan hidung mancung dan alis tebal. Kacamata yang menghiasi mata indahnya pun menjadi salah satu ciri khas dirinya. Nayna adalah istri dari pria yang sedang berceramah itu, Ahmad Fahrizan.Orang-orang biasa memanggilnya Ustadz Rizan. Ia merupakan seorang arsitek profesional
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01