LOGINKeesokan harinya, Jaka mulai melamar kerja kembali.
Ia berpikir, mungkin dalam satu atau dua bulan, ia sudah bisa menemukan pekerjaan lain. Lagi pula, ada banyak pabrik di Temanggung. Dengan pengalaman kerja selama setahun, ia merasa peluangnya masih terbuka. Namun kenyataan menamparnya dengan tegas. Lamaran pertama tidak mendapat jawaban. Lamaran kedua juga sama. Begitu pula lamaran ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Awalnya Jaka mencoba berpikir positif. Mungkin belum waktunya. Mungkin proses seleksi memang lama. Namun setelah berminggu-minggu berubah menjadi berbulan-bulan, ia mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Rumor buruk tentangnya menyebar di kalangan HRD. Nama Jaka dikaitkan dengan insiden kebakaran di pabrik sebelumnya. Entah siapa yang menyebarkan, tetapi dampaknya nyata. Setiap kali ia mengirim lamaran, tidak ada balasan. Ketika mencoba datang langsung, respons yang ia dapat selalu dingin dan penuh alasan. “Kami hubungi lagi nanti.” “Posisi sudah terisi.” “Berkasnya ditinggal saja.” Kalimat-kalimat itu terdengar sopan, tetapi Jaka tahu pintunya sudah tertutup bahkan sebelum ia masuk. Berbulan-bulan tergelantung tanpa arah, Jaka akhirnya memutuskan untuk fokus bertani membantu ayahnya. Mereka memang tidak kaya, tetapi tanah mereka cukup luas. Setidaknya, lebih dari cukup untuk digarap seluruh keluarga. Setiap pagi, Jaka pergi ke ladang bersama Bejo. Tangannya yang dulu terbiasa mengangkat kayu lapis berubah akrab dengan cangkul, lumpur, rumput liar, dan tanah lembap. Pekerjaan di ladang melelahkan dengan cara yang berbeda. Di pabrik, lelahnya terasa seperti tubuh yang dipaksa mengikuti mesin. Di ladang, lelahnya datang dari matahari, angin, tanah, dan waktu yang bergerak pelan. Namun ada ketenangan di sana. Tidak ada atasan yang menekan. Tidak ada rekan kerja yang melempar kesalahan. Tidak ada ruangan tertutup dengan bau lem dan kayu yang membuat kepala pening. Meski pertaniannya berjalan cukup baik, Jaka masih saja memikirkan pekerjaan formal di luar sana. Bukan karena ia malu menjadi petani. Ia tidak pernah meremehkan pekerjaan ayahnya. Namun jauh di dalam hati, ada rasa tidak selesai. Ada luka kecil yang belum benar-benar sembuh. Ia merasa seperti seseorang yang dipaksa keluar dari jalan yang seharusnya masih bisa ia tempuh. Setiap kali melihat Dina mengenakan seragam sekolah, Jaka kembali teringat bahwa keluarga ini masih membutuhkan penghasilan yang lebih stabil. Setelah musim panen, ketika ladang mulai sedikit lebih lengang dan udara sore di lereng gunung terasa lebih tenang, Jaka tiba-tiba memiliki keinginan untuk mendaki Gunung Sumbing. Keinginan itu muncul begitu saja. Tidak ada rencana. Tidak ada tujuan khusus. Hanya firasat aneh yang mendorongnya untuk pergi ke atas sana. Jaka bukan tipe orang yang mutlak mempercayai insting seperti binatang. Ia lebih suka memikirkan sesuatu dengan akal sehat. Namun kali ini, dorongan itu terasa berbeda. Bukan seperti keinginan biasa untuk jalan-jalan, melainkan seperti panggilan samar dari tempat yang jauh. Pada akhirnya, ia tetap mengikuti keinginannya. Hitung-hitung sebagai hiburan. Ketika Jaka meminta izin, Bejo tidak keberatan. “Pergilah kalau memang ingin menenangkan pikiran,” kata Bejo sambil membersihkan tanah dari gagang cangkulnya. “Tapi hati-hati. Gunung bukan tempat main-main.” “Aku tahu.” Susi menyiapkan bekal yang banyak untuk Jaka. Nasi, lauk sederhana, air minum, beberapa makanan kecil, serta jaket tambahan dimasukkan ke dalam tas. Ia bahkan beberapa kali mengulang pesan yang sama. “Jangan lupa makan. Kalau dingin, langsung pakai jaket. Jangan sok kuat.” “Iya, Bu,” jawab Jaka sambil tersenyum pasrah. Dina ingin ikut. “Aku juga mau naik, Kak!” “Kamu sekolah.” “Sekali saja bolos tidak apa-apa.” “Tidak boleh.” Dina menggembungkan pipinya, jelas tidak terima. Namun karena memang harus sekolah, ia akhirnya hanya bisa memaksa Jaka untuk mengajaknya lain kali. “Kakak janji, ya? Lain kali aku ikut.” Sebenarnya Jaka tidak yakin akan naik gunung lagi. Namun melihat mata Dina yang penuh harap, ia tidak tega menolak. Bagi Jaka, adik kecilnya itu sudah cukup sering menahan keinginan karena keadaan keluarga. Jadi, ia mengangguk. “Iya. Lain kali kita ke sana bareng.” “Janji?” “Janji.” Bersambung...Dua rudal supersonik meluncur membelah udara dengan raungan memekakkan telinga, sementara delapan peluru meriam baja peledak menyusul melesat dari moncong tank. Seluruh lintasan maut itu terkunci rapat tanpa celah bagi Jaka.Di atas panggung pengawas, Shizu mencengkeram pagar besi hingga buku jarinya memutih, menatap ngeri ke arah lapangan. Namun, di tengah kepungan maut itu, Jaka sama sekali tidak panik.Jaka menggeser kaki kanannya setengah langkah ke belakang, memusatkan sedikit Qi murni ke telapak tangan. Begitu proyektil maut itu berjarak kurang dari satu meter di depan wajahnya, Jaka mengibaskan tangannya secara melingkar!WUSSHH!Gelombang kejut transparan meletup bagai dinding tak kasat mata. Kibasan tangan Jaka membelokkan arah lintasan rudal dan peluru meriam tersebut, memaksa proyektil-proyektil itu saling bertabrakan di udara tepat di atas kepalanya.DHUARRR!Ledakan dahsyat mengguncang pulau. Bola api raksasa membubung tinggi ke langit, disusul gelombang panas yang menghe
Kapal militer itu melaju membelah ombak laut lepas sebelum akhirnya berlabuh di sebuah pulau. Sekilas memang tidak ada apa pun di sana, hanya bukit karang sunyi yang ditumbuhi rimbunnya pepohonan liar. Namun, jika dilihat lebih dekat, ada banyak peralatan militer paling canggih yang sengaja dikamufasekan di balik tebing terjal.Jaka berdiri santai di tepi geladak sambil menyandarkan kedua tangannya pada pagar besi. Angin laut bertiup kencang, memainkan rambutnya dan membawa aroma asin yang pekat."Ternyata ada tempat seperti ini." Jaka bergumam pelan sambil mengamati pulau itu lekat-lekat.Shizu yang berdiri tepat di samping Jaka melipat tangan di depan dada. "Sebenarnya ada lebih banyak pulau seperti ini, hanya saja sangat sedikit pihak yang dapat mengakses informasinya," tutur Shizu menjelaskan.Jaka menoleh sedikit, menatap senyum tipis di wajah kekasihnya. "Itu berarti, kita termasuk sedikit pihak itu?"Shizu mengangguk lembut. "Polisi khusus dan militer memiliki hubungan dekat ka
Di hari Senin yang damai dan cerah, sinar matahari pagi menyinari teras rumah Jaka. Udara terasa segar, membawa aroma dedaunan yang basah oleh embun pagi. Suasana tenang itu mendadak terganggu ketika ponsel di saku celana Jaka bergetar kencang, menyuarakan nada panggilan yang nyaring. Jaka merogoh sakunya, mendapati nama Eldric tertera jelas di layar sentuh. Tanpa membuang waktu, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya."Jaka, masih ingat tentang pemilihan pemimpin tertinggi polisi khusus?" suara Eldric langsung menyapa dari seberang telepon."Tentu saja, mana mungkin aku melupakannya," jawab Jaka santai sambil menyandarkan bahunya ke tiang beton, matanya menatap halaman depan.Eldric menghela napas panjang sebelum melanjutkan. Suaranya yang semula tegas kini terdengar diselimuti rasa cemas. "Sebenarnya ada sedikit masalah yang terjadi di internal kepolisian khusus. Kamu tidak bisa langsung masuk ke tahap akhir. Kamu harus lolos tes kualifikasi terlebih dahulu
"Mau dilanjutkan?" tanya Jaka dengan suara pelan yang mengalun rendah di dalam ruang pertemuan.Suasana seketika terasa sangat berat. Udara di sekeliling terasa membeku, seolah-olah tekanan tak terlihat sedang menindih dada siapa pun yang ada di sana. Gideon, yang berdiri paling depan, hanya bisa menggelengkan kepala dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya kaku, sama sekali tidak berani menatap mata Jaka.Di belakangnya, Tom dan Hendric bahkan berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk. Keduanya tertunduk lesu, berlutut dengan lutut sambil gemetaran di atas lantai dingin. Keringat dingin membasahi pakaian mereka. Mereka tahu betul, satu langkah salah saja, nyawa mereka bisa melayang saat itu juga.Jaka mendengus dingin. Tatapannya penuh penghinaan saat melihat ketiga orang asing di depannya. Dengan nada acuh tak acuh, ia melambaikan tangan dengan malas. "Pergi! Jangan pernah menunjukkan wajah kalian di hadapanku lagi!""Baik! Kami tidak akan pernah datang ke negara ini lagi!" jawab Gideon
Gideon melangkah masuk dengan santai, mengibaskan jubah panjangnya yang berwarna abu-abu. Namun, begitu pandangannya jatuh ke arah Andini dan Dinda, langkah kaki pria tua itu langsung terhenti seketika. Tatapan matanya terpaku, memancarkan binar ketertarikan dan keserakahan yang tidak berusaha dia sembunyikan saat memandangi paras cantik kedua wanita di depannya.Melihat sorot mata mesum dari pria tua itu, Andini tidak tinggal diam. Dia segera berdiri dari kursinya, lalu berjalan mundur dengan tenang menuju sisi kanan Jaka. Dinda ikut bergeser rapat di samping mereka, mempercayakan seluruh situasi kepada pemuda yang berdiri tegap di dekat mereka.Jaka menyunggingkan senyum tipis penuh percaya diri. Tanpa tergesa-gesa, dia melangkah maju satu tapak, menempatkan tubuhnya sebagai benteng kokoh di depan Andini dan Dinda. Tatapan matanya yang semula terlihat biasa mendadak memancarkan kedalaman yang tak terduga, seolah menyimpan kekuatan raksasa yang siap meledak sewaktu-waktu."Namaku
Suasana di dalam ruangan rapat ber-AC itu terasa sangat dingin dan kaku. Di satu sisi meja kayu, Jaka, Andini, dan Dinda duduk berdampingan. Di seberang mereka, Tom dan Hendric menatap dengan percaya diri.Tom, pria berambut pirang dengan setelan jas rapi, menyunggingkan senyum tipis. "Nona Andini bahkan lebih cantik saat dilihat dari dekat," katanya, tersenyum tipis penuh pesona.Andini bergeming di kursinya, bahkan tidak tergerak sedikit pun oleh pujian yang terdengar tulus itu. Dia menatap Tom dingin. "Tidak perlu basa-basi, langsung saja katakan maksud kalian."Tom terkekeh. "Kalau Nona Andini bilang begitu, kami tidak membuang waktu. Langsung saja, kami menginginkan seribu botol cairan spiritual dari kalian."Andini tertegun sekilas. Padahal dirinya sudah menyiapkan diri, tetapi masih kaget mendengar permintaan tidak masuk akal dari pria asing di depannya."Seribu terlalu banyak," sela Hendric, "Seratus botol saja," lanjutnya santai.Tom mengangguk setuju. "Masuk akal. Kalau begi







