LOGINGajinya memang tidak banyak, tetapi cukup untuk membantu perekonomian keluarga. Biaya sekolah Dina menjadi sedikit lebih ringan. Belanja dapur tidak lagi terlalu mencekik. Sesekali, Susi bahkan bisa membeli lauk yang lebih baik untuk makan malam.
Setahun bekerja di pabrik, semua berjalan lancar. Jaka tidak pernah membuat masalah. Ia datang tepat waktu, bekerja sesuai aturan, dan tidak suka ikut campur urusan orang lain. Bagi beberapa rekan kerjanya, Jaka mungkin terlalu pendiam. Namun sebenarnya ia hanya tidak ingin mencari keributan. Selama pekerjaannya selesai dan gajinya bisa dibawa pulang, baginya itu sudah cukup. Sampai sebuah insiden terjadi. Hari itu, udara di area pabrik terasa lebih panas dari biasanya. Bau kayu, lem, dan serbuk halus memenuhi ruang kerja. Para pekerja bergerak seperti biasa di antara tumpukan kayu lapis yang sudah jadi dan siap dikirim. Jaka sedang memindahkan barang ketika tiba-tiba tercium bau hangus yang aneh. Awalnya samar. Lalu beberapa detik kemudian, seseorang berteriak. “Api! Ada api!” Kepanikan langsung pecah. Beberapa kotak kayu lapis yang sudah jadi terbakar. Api menyebar cepat karena bahan di sekitarnya mudah terbakar. Asap hitam mulai naik, membuat sebagian pekerja mundur sambil menutup hidung. Ada yang berlari mencari alat pemadam, ada yang hanya berdiri panik, dan ada pula yang saling menyalahkan bahkan sebelum api padam. Jaka tidak sempat berpikir panjang. Melihat api mulai membesar, tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Ia mengambil alat pemadam terdekat dan berusaha memadamkan api. Panas menyengat wajahnya. Asap membuat matanya perih. Tenggorokannya kering, tetapi ia tetap mendekat karena tahu jika api menyebar lebih jauh, kerusakan bisa menjadi lebih besar. Namun usaha itu justru menjadi awal dari masalahnya. Setelah api berhasil dikendalikan, bukannya dipuji karena bertindak cepat, Jaka malah dituduh sebagai penyebab kebakaran. Kecerobohan seseorang entah bagaimana dilemparkan kepadanya. Beberapa orang yang seharusnya tahu kejadian sebenarnya memilih diam. Ada yang menunduk, ada yang menghindari tatapannya, dan ada pula yang pura-pura tidak melihat. Jaka berusaha menjelaskan. “Aku hanya berusaha memadamkan api. Waktu aku datang, apinya sudah menyala.” Namun ucapannya seolah tidak masuk ke telinga siapa pun. Apa pun yang ia katakan tidak ada gunanya. Jaka disidang oleh pihak pabrik. Duduk di ruangan kecil dengan dinding pucat dan bau kertas lama, ia menghadapi beberapa orang yang menatapnya seperti pelaku. Pertanyaan demi pertanyaan dilemparkan, tetapi bukan untuk mencari kebenaran. Semuanya terasa seperti formalitas sebelum keputusan dijatuhkan. Pada akhirnya, pihak pabrik memutuskan untuk mengakhiri kontrak kerjanya. Tanpa pesangon. Jaka sempat berpikir untuk melayangkan protes. Ia tidak terima. Tentu saja ia tidak terima. Kehilangan pekerjaan saja sudah berat, apalagi kehilangan pekerjaan karena tuduhan yang tidak ia lakukan. Namun niat itu mati sebelum benar-benar dimulai. Ada ancaman dari pihak ketiga. Ancaman itu tidak diucapkan dengan teriakan. Justru karena disampaikan dengan nada dingin dan tenang, rasanya jauh lebih menekan. Jaka paham, jika ia memaksa memperpanjang masalah, bukan hanya dirinya yang akan terkena dampaknya. Keluarganya juga bisa terseret. Pada akhirnya, ia terpaksa menerima nasibnya. Hari itu, Jaka pulang dengan langkah berat. Jalan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Angin pegunungan yang biasanya menenangkan justru terasa menusuk kulit. Di kejauhan, Gunung Sumbing berdiri kokoh seperti biasa, tetapi bagi Jaka, dunia seakan menjadi lebih sempit. Tangannya kosong, tetapi dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang menekan. Sesampainya di rumah, Jaka berterus terang tentang pemecatan dirinya. Ia tidak ingin berbohong. Bejo mendengarkan dengan wajah serius. Lelaki tua itu tidak langsung bicara. Tangannya yang kasar karena bertahun-tahun memegang cangkul hanya terdiam di atas lutut. Setelah Jaka selesai bercerita, Bejo menarik napas panjang. “Yang penting kamu tidak melakukan itu,” kata Bejo pelan. “Kalau kamu memang tidak salah, jangan biarkan hatimu hancur karena tuduhan orang.” Jaka menunduk. Kata-kata itu sederhana, tetapi cukup membuat tenggorokannya tercekat. Seperti yang diharapkan, ayahnya mencoba yang terbaik untuk memberinya semangat. Bejo bukan orang pandai bicara. Ia tidak bisa memberi nasihat panjang seperti orang berpendidikan tinggi. Namun setiap kalimatnya terasa jujur, keluar dari hati seorang ayah yang tidak ingin melihat anaknya runtuh. Susi juga tidak banyak bertanya. Malam itu, ia memasak hidangan spesial untuk menghibur Jaka. Bukan hidangan mahal, hanya makanan rumahan yang dibuat sedikit lebih lengkap dari biasanya. Aroma masakan memenuhi rumah kecil mereka, bercampur dengan asap tipis dari dapur dan suara sendok yang beradu pelan dengan piring. Dina kebetulan mendengar cerita Jaka. Adik perempuan itu langsung marah. “Apa-apaan itu? Kakak sudah bantu memadamkan api, malah dituduh? Pabriknya gila!” katanya dengan wajah memerah. “Harusnya mereka berterima kasih, bukan memecat Kakak!” “Dina,” tegur Susi lembut. “Jangan bicara kasar.” “Tapi memang begitu, Bu! Mereka jahat!” Jaka yang sejak tadi berusaha tetap tenang akhirnya tersenyum kecil. Melihat Dina marah demi dirinya, perasaan hangat perlahan muncul di dadanya. Momen itu seharusnya menjadi waktu yang menyedihkan bagi Jaka. Ia baru saja kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, dan mungkin kehilangan kepercayaan dari banyak orang. Namun berkat dukungan keluarganya, ia tidak benar-benar jatuh. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak keluar dari pabrik, Jaka bisa menarik napas sedikit lebih lega. Dia bisa bangkit lagi. Bersambung...Keempat tamu wanita itu kini menempati satu-satunya sofa panjang di ruangan yang pelapis plastiknya sudah memudar dan retak-retak. Ruang tamu Jaka yang pada dasarnya memang sempit seketika terasa kian menyusut. Ketiga pengawal taktis Andini duduk dengan postur tempur yang sempurna: punggung lurus menantang gravitasi, lutut berdempet rapat, dan pergerakan mata yang tidak henti mengawasi setiap sudut ruang tamu."Di mana Paman dan Bibi?" tanya Andini, suaranya terdengar sumbang memecah kesunyian yang menebal bagai kabut di antara mereka.Jaka menarik sebuah kursi kayu tua dari sudut ruangan, menyeretnya hingga berbunyi nyaring, lalu menempatkan dirinya berhadapan langsung dengan formasi mematikan tersebut. "Mereka masih bekerja di ladang, mungkin belum akan kembali sampai petang nanti," balasnya tenang, menyilangkan lengannya santai di depan dada.Andini mengangguk mengerti, perlahan merapikan letak tas mahal di pangkuannya untuk mengusir kegugupan.Namun, sebelum ada obrolan tambahan y
Jaka menempelkan bodi logam dingin ponsel itu ke sisi telinganya. Kualitas audionya begitu jernih, mengalirkan suara dengung sambungan dari seberang nyaris tanpa intervensi statis sama sekali. Jaringan komunikasi tingkat tinggi ini memang terasa berbeda."Halo?" Suara Andini menyapa tiba-tiba dari speaker gawai, frekuensinya terdengar tajam dan memburu, menembus gendang telinga Jaka dengan jelas."Ah, ini aku," balas Jaka, menyandarkan sebelah bahunya pada pilar kayu ruang tengah yang permukaannya kasar. "Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak karena sudah membelikan aku dan adikku ponsel baru. Gadis itu sepertinya tidak mau melepaskannya sedetik pun dari pelukannya."Terdengar suara deru angin dari celah jendela mobil yang terbuka sedikit, serta gesekan keras ban dari aspal latar belakang audio Andini. "Kamu ada di rumah?" potong wanita itu cepat, nadanya mengabaikan sama sekali apresiasi tulus yang baru saja dilontarkan Jaka.Jaka segera menegakkan punggungnya, mendet
"Paket!""Tunggu sebentar!"Seruan berat dari halaman depan itu sukses memecah keheningan siang yang merayap lambat di desa. Jaka meletakkan cangkulnya di sudut teras, mengusap peluh yang menetes di pelipisnya dengan punggung tangan kotornya, lalu melangkah lebar memutar kenop pintu kayu rumahnya.Engsel karatan itu berderit pelan, menyambut embusan angin kering yang membawa aroma debu jalanan. Di ambang batas pintu, seorang pria berseragam serbahitam dengan rajutan benang emas di kerahnya berdiri tegap. Pria itu menjaga keseimbangan sebuah kardus pekat berukuran lumayan besar di lekuk lengannya, menatap Jaka dengan presisi seorang profesional terlatih."Tolong tanda tangan di sini, Pak," ujar kurir tersebut, suaranya datar namun sangat sopan, sembari menyodorkan layar gawai pemindai yang menyala redup di bawah terik matahari siang."Ah, oke."Ujung jari kapalan Jaka menggoreskan tanda tangan cepat di atas permukaan kaca gawai tersebut. Selesai memverifikasi identitas, kurir itu memin
Pintu baja tebal di ujung koridor zona keamanan tingkat tinggi terbuka setelah pemindai retina mengenali struktur mata Andini. Ruangan di baliknya memiliki atmosfer yang berbanding terbalik dari laboratorium steril sebelumnya. Tempat ini menguapkan aroma mesiu samar, pelumas senjata, dan residu keringat yang menempel di matras karet. Di dalamnya, tiga wanita yang menjadi garda terdepan pelindungnya sedang membunuh kebosanan dengan cara masing-masing.Ketiganya bukan sekadar pengawal biasa. Mereka adalah unit khusus, aset mematikan yang disiapkan secara rahasia oleh ayahnya. Tidak hanya unggul dalam pertempuran fisik berdarah dingin, ketiga wanita ini dipilih karena kepekaan indera mereka yang terkalibrasi khusus untuk berinteraksi dengan anomali dari dunia spiritual.Di sudut ruangan, Jeanne duduk dengan tulang punggung tegak lurus. Rambut pirangnya diikat tinggi, rapi tanpa helaian yang mengganggu wajahnya. Jemarinya yang panjang dan lentur sedang merakit ulang komponen pistol semi-o
Lorong laboratorium bawah tanah itu memancarkan aura dingin yang mengintimidasi, didominasi oleh panel dinding berwarna putih steril dan cahaya lampu neon yang memendar menyilaukan.Suara langkah sepatu Andini bergema beraturan, memantul keras dari permukaan logam kedap suara. Begitu pintu geser otomatis terbuka dengan desis pelan, aroma tajam campuran cairan antiseptik, alkohol, dan ozon langsung menyengat rongga hidungnya.Seorang pria berjas putih dengan kantung mata menghitam tebal sudah mondar-mandir di tengah ruangan. Di atas meja kerjanya yang memanjang, berbagai tabung reaksi, cawan petri, dan layar monitor yang menampilkan grafik fluktuatif berserakan tak beraturan. Pria itu menoleh dengan gerakan kaku, nyaris menjatuhkan pena elektroniknya saat melihat Andini melangkah masuk menembus garis batas steril."Nona, Anda harus melihat ini dengan mata kepala Anda sendiri," ucapnya tanpa repot-repot memberikan salam formal. Ujung jari telunjuknya bergetar hebat saat mengarah ke laya
Dering tajam membelah keheningan kamar utama yang masih terbungkus remang fajar. Di atas ranjang berukuran ekstra besar, sebuah siluet ramping bergerak pelan di balik selimut tebal. Tangan Andini meraba permukaan nakas, menelusuri kayu dingin untuk mencari sumber suara yang mengusik lelapnya. Permukaan kaca ponsel menyentuh telapak tangannya. Matanya masih setengah terpejam, menolak datangnya pagi, saat ibu jarinya secara refleks menggeser ikon hijau di layar yang menyala terang."Di sini Andini," suaranya serak, seperti bisikan yang digerus sisa-sisa kantuk."Nona Andini? Sekarang Anda ada di mana?!"Suara serak dari seberang panggilan meluncur tergesa-gesa. Ada derau statis tipis yang menyertai, diiringi pantulan suara khas dari sebuah ruangan tertutup.Kening Andini berkerut tipis, membentuk lipatan samar di antara kedua alisnya. "Tentu saja di rumah. Memangnya kenapa?""Ini soal cairan yang Nona berikan kepadaku semalam. Aku sudah selesai mengujinya!"Kalimat tunggal itu bekerja l







