Beranda / Pendekar / Petani Terkuat / 004 Penunggu Gunung Sumbing

Share

004 Penunggu Gunung Sumbing

Penulis: AgamYupi02
last update Tanggal publikasi: 2026-06-14 16:01:02

Pagi harinya, sebelum berangkat mendaki, Jaka melakukan pemanasan. Udara masih dingin. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, sementara suara ayam dan burung terdengar bersahutan dari kejauhan. Jaka menarik napas dalam-dalam, merasakan paru-parunya terisi udara pegunungan yang segar.

Berkat kerja kerasnya di ladang, fisiknya lebih dari mampu untuk membawanya ke puncak gunung.

Pendakian dimulai dengan langkah stabil.

Jalur menanjak, akar-akar pohon, bebatuan, dan tanah yang kadang licin tidak membuatnya gentar. Keringat mulai membasahi punggungnya setelah beberapa jam, tetapi Jaka tetap berjalan dengan ritme teratur. Sesekali ia berhenti untuk minum, menatap pemandangan di bawah, lalu melanjutkan perjalanan.

Semakin tinggi ia naik, semakin sunyi suasananya.

Angin terasa lebih dingin. Pepohonan mulai jarang. Langit terlihat lebih luas, seolah jarak antara dirinya dan awan semakin dekat. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya perlahan menjadi kosong. Beban tentang pabrik, rumor, lamaran kerja, dan masa depan yang tidak jelas seperti tertinggal sedikit demi sedikit di bawah sana.

Setelah sembilan jam pendakian, Jaka tiba di puncak.

Ia menginap di sana untuk sehari.

Biasanya ada banyak pendaki, terutama saat cuaca bagus. Namun malam ini, entah kenapa, hanya dia yang ada di sana. Tidak ada tenda lain. Tidak ada suara orang tertawa. Tidak ada percakapan samar dari kejauhan. Hanya angin malam, langit luas, dan sunyi yang begitu dalam.

Namun Jaka tidak merasa ada yang aneh.

Seolah sejak awal ia memang sudah terbiasa dengan keheningan di puncak gunung.

Ia duduk di dekat tendanya, membungkus tubuh dengan jaket, lalu memandang jauh ke cakrawala. Dari ketinggian itu, hamparan lampu di bawah terlihat seperti titik-titik kecil yang tersebar di antara gelapnya bumi. Desa-desa tampak seperti gugusan cahaya redup. Jalanan seperti garis tipis yang sesekali dilalui kilatan lampu kendaraan.

Angin menerpa wajahnya.

Dingin, tetapi menenangkan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dada Jaka terasa lapang.

“Ternyata tidak buruk,” gumamnya pelan. Matanya masih menatap jauh ke bawah. “Kapan-kapan aku ke sini lagi. Tentu saja dengan Dina.”

Ia membayangkan Dina berdiri di sampingnya, cerewet seperti biasa, mungkin mengeluh kedinginan tetapi tetap tersenyum lebar karena senang melihat pemandangan. Bayangan itu membuat sudut bibir Jaka terangkat.

Namun tepat saat keheningan kembali menyelimuti puncak, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

“Aku tidak bisa menunggu terlalu lama, jadi aku memanggilmu hari ini.”

Jaka membeku.

Seluruh tubuhnya kaku seketika.

Suara itu tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas di tengah sunyi malam. Bukan suara pendaki lain yang baru datang. Suara itu terlalu tenang, terlalu dekat, dan terlalu asing.

Jantung Jaka langsung berdebar kencang.

Ia menelan ludah, lalu perlahan menengok ke asal suara.

Di belakangnya, seorang pria tua berpakaian serba putih berdiri dengan senyum di wajahnya.

Rambut dan janggutnya putih, bergerak pelan tertiup angin. Pakaiannya terlihat bersih, terlalu bersih untuk seseorang yang berada di puncak gunung. Tidak ada tanah di ujung kainnya. Tidak ada tanda-tanda lelah di wajahnya. Ia berdiri begitu saja di sana, seolah sudah berada di tempat itu sejak lama, menunggu Jaka menyadari keberadaannya.

Sekilas, pria tua itu terlihat seperti kakek-kakek biasa.

Namun Jaka tahu, tidak ada orang biasa yang bisa muncul diam-diam di belakangnya di puncak Gunung Sumbing pada malam sesunyi ini.

Terlebih lagi, ada aura mistis di sekitar tubuh pria tua itu.

Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan cahaya terang, bukan pula asap atau bayangan. Namun udara di sekelilingnya terasa berbeda. Seolah ruang di sekitar pria tua itu lebih tenang, lebih berat, dan lebih tua daripada dunia yang Jaka kenal.

Dihadapkan dengan situasi seperti ini, Jaka berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang.

Ia bukan orang yang mudah percaya pada hal gaib. Namun ia juga bukan orang bodoh yang akan pura-pura tidak melihat keanehan di depan mata.

Jaka berdiri perlahan.

Kakinya sedikit tegang, tetapi ia memaksa dirinya tidak mundur. Matanya menatap pria tua itu dengan waspada. Jika orang itu berniat jahat, Jaka tidak yakin bisa melawannya. Namun setidaknya, ia tidak ingin terlihat terlalu takut.

“Kakek siapa?” tanya Jaka akhirnya. Suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. “Kenapa ada di sini?”

Pria tua itu tersenyum tipis.

Senyumnya tidak mengejek. Tidak pula terlihat ramah sepenuhnya. Senyum itu lebih mirip senyum seseorang yang sudah mengetahui banyak hal, termasuk hal-hal yang belum dipahami Jaka.

“Akulah penunggu gunung ini,” jawab pria tua itu tenang. “Aku yang memanggilmu ke sini karena ingin bicara denganmu.”

Jaka terdiam.

Untuk sesaat, otaknya seperti berhenti bekerja.

Penunggu gunung?

Memanggilnya ke sini?

Kata-kata itu terdengar tidak masuk akal. Namun ketika Jaka mengingat dorongan aneh yang membuatnya ingin mendaki tanpa alasan, bulu kuduknya perlahan berdiri.

Angin malam bertiup lebih kencang.

Di bawah hamparan langit penuh bintang, Jaka berdiri berhadapan dengan pria tua misterius itu, sementara seluruh puncak Gunung Sumbing kembali tenggelam dalam keheningan yang terasa jauh lebih dalam daripada sebelumnya.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Petani Terkuat   126 Obrolan Tengah Malam Ayah dan Anak

    Keheningan kembali merayap di lorong rumah kayu itu begitu pintu kamar Dina tertutup rapat. Bunyi detak jam dinding tua bergema pelan dengan ritme yang teratur, mengisi ruang kosong di antara ayah dan anak yang masih berdiri berhadapan. Cahaya lampu temaram menyorot bayangan panjang mereka yang saling bersilangan di lantai."Kamu juga, kenapa belum tidur?" tanya Bejo kepada Jaka seraya memandang putranya dengan tatapan teduh."Ah, aku baru mau tidur sekarang," sahut Jaka pelan sambil melangkah mendekat. "Ayah sendiri kenapa belum tidur? Padahal sudah hampir larut."Bejo menggaruk punggung kepalanya yang sama sekali tidak gatal, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan ketika merasa canggung atau sedang memikirkan beban pikiran yang berat. Punggungnya yang kokoh tampak sedikit membungkuk karena kelelahan, namun sorot matanya tetap menunjukkan ketenangan seorang kepala keluarga."Aku tidak bisa tidur. Karena itu, aku ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar," ucap Bejo den

  • Petani Terkuat   125 Hukuman

    Layar ponsel pintar itu perlahan meredup, menyisakan pantulan bayangan wajah Jaka di permukaan kaca yang mengilap. Nada penutup panggilan dari Andini baru saja memudar, meninggalkan keheningan yang merayap di sekeliling kamar tidurnya. Tepat pada detik itu, hawa dingin tiba-tiba menusuk tengkuknya, memicu instingnya untuk segera menoleh ke arah celah pintu yang terbuka separuh.Sepasang manik mata bundar berkilau dalam kegelapan lorong, menatapnya lurus tanpa berkedip sedikit pun. Dina berdiri mematung di sana dengan kedua tangan terlipat kaku di depan dada. Bibirnya mengerucut tajam, memancarkan aura kecurigaan dan permusuhan yang menyala membara di sekeliling tubuh mungilnya.Sudah seminggu penuh rumah mereka diselimuti atmosfer aneh yang menyesakkan ini. Gadis itu selalu melayangkan pandangan tajam seolah menuntut penjelasan ke mana pun Jaka melangkah. Jaka sudah berulang kali memanggil Dina, tetapi selalu diabaikan mentah-mentah dengan dengusan dingin yang menusuk.Hari ini, t

  • Petani Terkuat   124 Kecurigaan Dina

    Kabut tipis sisa fajar perlahan-lahan terangkat saat semburat cahaya keemasan matahari pagi mulai menyinari hamparan perbukitan hijau di pinggir desa. Angin sejuk pegunungan berhembus lembut melintasi petak-petak tanah gembur, membawa aroma tanah basah yang segar serta wangi khas dedaunan hijau yang bermandikan butiran embun berkilau laksana intan.Setelah perhelatan reuni sekolah usai, Jaka kembali ke keseharian biasa yang tenang dan damai di pedesaan.Setiap fajar menyingsing sebelum kokok ayam jantan reda terdengar, pemuda itu sudah melangkah turun ke ladang dengan pakaian kerja sederhana dan sepasang sepatu bot karet. Ritme hidupnya kembali berputar secara teratur: menebar bibit sayur pilihan ke dalam tanah yang gembur, menyiram ladang dengan air campuran energi spiritual murni, merawat tunas-tunas hijau yang bermunculan di sepanjang bedengan, memanen hasil ladang yang tumbuh luar biasa subur serta sarat nutrisi alami, dan menjual seluruh hasil panen bermutu tinggi kepada Andini

  • Petani Terkuat   123 Bayangan Dendam

    Lampu kristal gantung di langit-langit aula membiaskan kilau keemasan yang jatuh menimpa lantai marmer berpelitur licin. Alunan melodi instrumental mengalun pelan di latar belakang, berpadu dengan aroma wewangian para alumni yang mulai beranjak meninggalkan ruangan satu per satu. Di sudut aula yang mulai lengang, Jaka berdiri tegak sembari menatap dua sosok wanita di hadapannya dengan sepasang alis terangkat heran."Apa kalian memang sedekat ini?" Jaka bertanya heran melihat kedekatan Andini dan Hina Yulia yang duduk bersisian secara akrab.Andini tertawa kecil, nada tawanya terdengar merdu bagai denting lonceng kaca di tengah keheningan. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan sangat anggun seraya menyandarkan bobot tubuhnya santai. "Ufufu~ kami sudah berdiskusi, mulai sekarang dia akan bekerja padaku.""Benarkah?" Jaka menatap Hina Yulia, mencari kepastian langsung dari wanita itu. Gadis cantik berambut hitam legam yang terurai lurus itu sempat menundukkan pandangann

  • Petani Terkuat   122 Menyelamatkan Kecantikan

    Moncong laras baja hitam berjarak kurang dari satu meter di depan keningnya, tetapi Jaka sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Kedua tangannya tetap tergantung santai di samping pinggang.Jaka terlihat sangat tenang, seolah tidak peduli dengan ancaman kematian yang berada tepat di depan pelupuk matanya."Ada apa ini?" tanyanya ragu dengan nada yang dibuat sepolos mungkin.Pria berjubah itu mempererat cengkeramannya pada pegangan senjata berkaliber sembilan milimeter itu, urat-urat di punggung tangannya menegang kasar."Kamu orang luar, pergi sebelum aku tembak!" tegas pria itu dengan suara berat yang bergetar penuh ancaman.Jaka melirik Karina yang berdiri mematung di sudut ruangan dekat wastafel marmer.Karina awalnya mengangguk pasrah seraya memeluk tubuhnya sendiri, tetapi seolah mendapatkan pencerahan tiba-tiba saat menatap garis wajah pemuda itu, ia menatap lurus ke wajah Jaka."Pria ini seorang penguntit! Tolong bantu aku mengurusnya, nanti aku kasih imbalan!" seru aktris c

  • Petani Terkuat   121 Suara Logam

    Lampu kristal gantung di sudut ruang VIP membiaskan cahaya keemasan yang temaram. Denting gelas kaca dan alunan musik instrumental lembut mengaburkan riuh pesta perayaan di aula utama yang megah.Andini melangkah anggun mendekati sofa, lalu mencondongkan tubuhnya ke samping. Hawa hangat beraroma vanila menyapu telinga rekannya saat ia berbisik pelan."Aku melihatmu, kerja bagus sudah mengusir gadis itu."Hina Yulia tidak langsung menoleh. Ia tetap duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan, mempertahankan postur kaku seperti seorang pengawal. "Aku hanya melakukan yang seharusnya. Di mana Jaka?""Sedang ke toilet.""Ah."Andini sedikit menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk senyuman penuh misteri. Matanya yang tajam menatap lekat gadis berambut hitam di hadapannya."Bagaimana? Kamu mau bekerja di bawahku? Tergantung kinerjamu, aku bisa memberimu gaji yang fantastis."Hina menatap karpet mewah bercorak floral di bawah sepatunya, menimbang tawaran yang meluncur tanpa aba-aba itu. Ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status