Home / Pendekar / Petani Terkuat / 008 Hitung Mundur

Share

008 Hitung Mundur

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-06-14 20:58:29

Jaka berdiri di atas tebing batu, menatap jauh ke cakrawala dengan mata serius.

Pemandangan itu luas.

Namun untuk pertama kalinya, Jaka merasa pandangannya sendiri menjadi lebih luas daripada sebelumnya.

Dunia yang selama ini ia kenal ternyata hanya permukaan kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.

“Ternyata kultivasi keabadian memang ada di dunia ini,” gumamnya pelan. Suaranya tertelan angin, tetapi matanya semakin tajam. “Sekarang aku resmi menjadi kultivator… atau pendekar yang mengejar keabadian.”

Setelah mengatakan itu, Jaka terdiam cukup lama.

Ia tidak tahu harus tertawa, menangis, atau berteriak.

Semua terjadi terlalu cepat.

Kemarin, ia masih seorang pemuda desa yang kehilangan pekerjaan dan kembali bertani bersama ayahnya. Hari ini, ia berdiri di puncak Gunung Sumbing dengan warisan mistis di dalam kepalanya dan kekuatan baru yang mengalir di tubuhnya.

Rasanya tidak nyata.

Namun genggaman tangannya yang lebih kuat, napasnya yang lebih panjang, dan energi hangat yang masih berputar lembut di dalam tubuhnya membuktikan bahwa semua ini bukan mimpi.

Perlahan, dada Jaka membara.

Semangat yang luar biasa menyala di dalam hatinya.

Sudah menjadi impian banyak lelaki untuk memiliki kekuatan. Bukan sekadar kekuatan untuk memukul orang lain, melainkan kekuatan untuk mengubah nasib. Kekuatan untuk melindungi keluarga. Kekuatan untuk berdiri tegak tanpa terus-menerus diinjak keadaan.

Dan Jaka termasuk salah satu di antara mereka.

Dari ingatan semalam, Jaka memperoleh teknik kultivasi yang sangat kuat.

Namanya Mantra Embun Abadi.

Teknik itu bukan teknik yang berfokus pada pertarungan secara langsung. Tidak ada jurus pedang yang membelah gunung atau tinju yang menghancurkan langit. Namun, justru karena itulah Mantra Embun Abadi terasa sangat cocok dengannya.

Teknik ini berhubungan dengan kehidupan.

Dengan tanah.

Dengan tanaman.

Dengan air.

Dengan pertumbuhan.

Setelah semalaman berlatih, Jaka telah mencapai tingkat satu dari sembilan fase permulaan.

Meskipun hanya tingkat satu, peningkatan kekuatan fisiknya sangat luar biasa. Berdasarkan perkiraannya, tubuhnya kini setidaknya dua kali lipat lebih kuat dari sebelumnya. Bukan hanya kekuatan otot, tetapi juga daya tahan, kecepatan reaksi, ketajaman indra, dan kemampuan pemulihan.

Jika dirinya yang sekarang kembali turun ke sawah, pekerjaan yang biasanya membuat punggungnya pegal seharian mungkin bisa ia selesaikan jauh lebih cepat.

Memikirkan hal itu, sudut bibir Jaka terangkat samar.

Namun yang paling mengejutkan bukan hanya peningkatan fisik.

Teknik miliknya ternyata sangat istimewa.

Mantra Embun Abadi bisa menghasilkan cairan spiritual setiap hari, jumlahnya tergantung pada level kultivasi orang tersebut.

Saat ini, Jaka baru berada di tingkat satu, jadi ia hanya bisa mengembunkan satu tetes cairan spiritual per hari.

Satu tetes.

Jika didengar sekilas, jumlah itu terdengar terlalu sedikit.

Namun efeknya benar-benar tidak masuk akal.

Berdasarkan pengetahuan yang tertanam di kepalanya, jika setetes cairan spiritual diteteskan ke dalam sumur atau dicampurkan ke wadah air yang cukup besar, air tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan kecepatan pertumbuhan tanaman sekaligus menaikkan kualitasnya.

Tanaman yang disiram air campuran cairan spiritual akan tumbuh lebih cepat, lebih sehat, dan menghasilkan buah atau sayur dengan rasa jauh lebih baik daripada tanaman biasa.

Bukan hanya itu.

Siapa pun yang sudah memakan sayur atau buah yang tumbuh dengan bantuan cairan spiritual akan sulit kembali menikmati sayur atau buah biasa. Lidah mereka akan mengingat rasa segar, manis, gurih, dan energi alami yang terkandung di dalamnya. Setelah itu, makanan sejenis dari tempat lain akan terasa hambar.

Dengan kata lain, cairan spiritual adalah pupuk terbaik untuk bertani.

Bahkan menyebutnya pupuk saja terasa meremehkan.

Ini bukan sekadar alat untuk mempercepat panen. Ini bisa menjadi fondasi untuk mengubah kehidupan keluarganya.

Sawah ayahnya.

Lahan yang selama ini hanya cukup untuk bertahan hidup.

Jika digunakan dengan benar, semuanya bisa berubah.

Jaka menatap kedua tangannya.

Tangan itu masih sama seperti sebelumnya. Ada bekas kasar karena kerja di sawah. Ada sisa luka kecil yang mulai memudar. Namun sekarang, di balik telapak tangan itu, tersimpan kemungkinan yang belum pernah ia bayangkan.

Kaya raya?

Mungkin.

Terkenal?

Bisa saja.

Namun untuk saat ini, pikiran pertama Jaka bukan tentang uang besar atau kehidupan mewah.

Yang muncul di kepalanya adalah wajah ayahnya.

Wajah seorang lelaki tua yang tetap tersenyum walau hidup tidak pernah benar-benar mudah.

Jaka mengepalkan tangan.

“Aku tidak tahu apa tujuan orang itu,” gumamnya pelan sambil menatap hamparan luas pemandangan di bawah sana. “Tapi karena dia sudah memberikan ini kepadaku, aku akan menggunakannya dengan baik.”

Angin berembus melewati tubuhnya.

Di bawah cahaya matahari pagi, mata Jaka tampak lebih tenang, tetapi di dalam ketenangan itu tersimpan tekad yang menyala.

Mulai hari ini, hidupnya tidak akan sama lagi.

Di kejauhan, pada tempat yang tidak bisa dijangkau mata manusia biasa, Roh Gunung Sumbing berdiri di antara kabut tipis.

Sosok pria tua itu menatap Jaka dari jauh.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Namun senyum itu tidak sepenuhnya berisi kepuasan. Ada sesuatu yang lebih dalam di balik matanya. Sedikit lega, sedikit khawatir, dan sedikit kesedihan yang tidak terucapkan.

Ia mengangkat kepala, menatap langit biru yang perlahan menjadi semakin terang.

Untuk waktu yang sangat lama, dunia ini terlalu tenang.

Terlalu sunyi.

Terlalu lama tertidur.

Dan sekarang, roda yang berhenti mulai bergerak kembali.

“Hitung mundur dimulai,” gumam Roh Gunung Sumbing pelan. Suaranya menghilang bersama angin. “Aku hanya berharap manusia bisa beradaptasi dengan baik saat semuanya kembali seperti semula.”

Kabut bergerak.

Sosoknya perlahan memudar.

Sementara itu, Jaka masih berdiri di atas tebing batu, tidak menyadari bahwa hadiah yang baru saja ia terima bukan hanya awal dari perubahan hidupnya, tetapi juga pertanda bahwa dunia lama yang ia kenal akan berakhir.

Tidak ada yang tahu kapan, yang jelas hitung mundurnya sudah dimulai.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Petani Terkuat   166 Monster Pemurnian Qi

    Dua rudal supersonik meluncur membelah udara dengan raungan memekakkan telinga, sementara delapan peluru meriam baja peledak menyusul melesat dari moncong tank. Seluruh lintasan maut itu terkunci rapat tanpa celah bagi Jaka.Di atas panggung pengawas, Shizu mencengkeram pagar besi hingga buku jarinya memutih, menatap ngeri ke arah lapangan. Namun, di tengah kepungan maut itu, Jaka sama sekali tidak panik.Jaka menggeser kaki kanannya setengah langkah ke belakang, memusatkan sedikit Qi murni ke telapak tangan. Begitu proyektil maut itu berjarak kurang dari satu meter di depan wajahnya, Jaka mengibaskan tangannya secara melingkar!WUSSHH!Gelombang kejut transparan meletup bagai dinding tak kasat mata. Kibasan tangan Jaka membelokkan arah lintasan rudal dan peluru meriam tersebut, memaksa proyektil-proyektil itu saling bertabrakan di udara tepat di atas kepalanya.DHUARRR!Ledakan dahsyat mengguncang pulau. Bola api raksasa membubung tinggi ke langit, disusul gelombang panas yang menghe

  • Petani Terkuat   165 Pria Biasa di Antara Para Peserta

    Kapal militer itu melaju membelah ombak laut lepas sebelum akhirnya berlabuh di sebuah pulau. Sekilas memang tidak ada apa pun di sana, hanya bukit karang sunyi yang ditumbuhi rimbunnya pepohonan liar. Namun, jika dilihat lebih dekat, ada banyak peralatan militer paling canggih yang sengaja dikamufasekan di balik tebing terjal.Jaka berdiri santai di tepi geladak sambil menyandarkan kedua tangannya pada pagar besi. Angin laut bertiup kencang, memainkan rambutnya dan membawa aroma asin yang pekat."Ternyata ada tempat seperti ini." Jaka bergumam pelan sambil mengamati pulau itu lekat-lekat.Shizu yang berdiri tepat di samping Jaka melipat tangan di depan dada. "Sebenarnya ada lebih banyak pulau seperti ini, hanya saja sangat sedikit pihak yang dapat mengakses informasinya," tutur Shizu menjelaskan.Jaka menoleh sedikit, menatap senyum tipis di wajah kekasihnya. "Itu berarti, kita termasuk sedikit pihak itu?"Shizu mengangguk lembut. "Polisi khusus dan militer memiliki hubungan dekat ka

  • Petani Terkuat   164 Tes Kualifikasi

    Di hari Senin yang damai dan cerah, sinar matahari pagi menyinari teras rumah Jaka. Udara terasa segar, membawa aroma dedaunan yang basah oleh embun pagi. Suasana tenang itu mendadak terganggu ketika ponsel di saku celana Jaka bergetar kencang, menyuarakan nada panggilan yang nyaring. Jaka merogoh sakunya, mendapati nama Eldric tertera jelas di layar sentuh. Tanpa membuang waktu, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya."Jaka, masih ingat tentang pemilihan pemimpin tertinggi polisi khusus?" suara Eldric langsung menyapa dari seberang telepon."Tentu saja, mana mungkin aku melupakannya," jawab Jaka santai sambil menyandarkan bahunya ke tiang beton, matanya menatap halaman depan.Eldric menghela napas panjang sebelum melanjutkan. Suaranya yang semula tegas kini terdengar diselimuti rasa cemas. "Sebenarnya ada sedikit masalah yang terjadi di internal kepolisian khusus. Kamu tidak bisa langsung masuk ke tahap akhir. Kamu harus lolos tes kualifikasi terlebih dahulu

  • Petani Terkuat   163 Bayangan Kekuatan Sejati

    "Mau dilanjutkan?" tanya Jaka dengan suara pelan yang mengalun rendah di dalam ruang pertemuan.Suasana seketika terasa sangat berat. Udara di sekeliling terasa membeku, seolah-olah tekanan tak terlihat sedang menindih dada siapa pun yang ada di sana. Gideon, yang berdiri paling depan, hanya bisa menggelengkan kepala dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya kaku, sama sekali tidak berani menatap mata Jaka.Di belakangnya, Tom dan Hendric bahkan berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk. Keduanya tertunduk lesu, berlutut dengan lutut sambil gemetaran di atas lantai dingin. Keringat dingin membasahi pakaian mereka. Mereka tahu betul, satu langkah salah saja, nyawa mereka bisa melayang saat itu juga.Jaka mendengus dingin. Tatapannya penuh penghinaan saat melihat ketiga orang asing di depannya. Dengan nada acuh tak acuh, ia melambaikan tangan dengan malas. "Pergi! Jangan pernah menunjukkan wajah kalian di hadapanku lagi!""Baik! Kami tidak akan pernah datang ke negara ini lagi!" jawab Gideon

  • Petani Terkuat   162 Dominasi Sang Petani

    Gideon melangkah masuk dengan santai, mengibaskan jubah panjangnya yang berwarna abu-abu. Namun, begitu pandangannya jatuh ke arah Andini dan Dinda, langkah kaki pria tua itu langsung terhenti seketika. Tatapan matanya terpaku, memancarkan binar ketertarikan dan keserakahan yang tidak berusaha dia sembunyikan saat memandangi paras cantik kedua wanita di depannya.Melihat sorot mata mesum dari pria tua itu, Andini tidak tinggal diam. Dia segera berdiri dari kursinya, lalu berjalan mundur dengan tenang menuju sisi kanan Jaka. Dinda ikut bergeser rapat di samping mereka, mempercayakan seluruh situasi kepada pemuda yang berdiri tegap di dekat mereka.Jaka menyunggingkan senyum tipis penuh percaya diri. Tanpa tergesa-gesa, dia melangkah maju satu tapak, menempatkan tubuhnya sebagai benteng kokoh di depan Andini dan Dinda. Tatapan matanya yang semula terlihat biasa mendadak memancarkan kedalaman yang tak terduga, seolah menyimpan kekuatan raksasa yang siap meledak sewaktu-waktu."Namaku

  • Petani Terkuat   161 Gertakan di Meja Negosiasi

    Suasana di dalam ruangan rapat ber-AC itu terasa sangat dingin dan kaku. Di satu sisi meja kayu, Jaka, Andini, dan Dinda duduk berdampingan. Di seberang mereka, Tom dan Hendric menatap dengan percaya diri.Tom, pria berambut pirang dengan setelan jas rapi, menyunggingkan senyum tipis. "Nona Andini bahkan lebih cantik saat dilihat dari dekat," katanya, tersenyum tipis penuh pesona.Andini bergeming di kursinya, bahkan tidak tergerak sedikit pun oleh pujian yang terdengar tulus itu. Dia menatap Tom dingin. "Tidak perlu basa-basi, langsung saja katakan maksud kalian."Tom terkekeh. "Kalau Nona Andini bilang begitu, kami tidak membuang waktu. Langsung saja, kami menginginkan seribu botol cairan spiritual dari kalian."Andini tertegun sekilas. Padahal dirinya sudah menyiapkan diri, tetapi masih kaget mendengar permintaan tidak masuk akal dari pria asing di depannya."Seribu terlalu banyak," sela Hendric, "Seratus botol saja," lanjutnya santai.Tom mengangguk setuju. "Masuk akal. Kalau begi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status