LOGINJaka berdiri di atas tebing batu, menatap jauh ke cakrawala dengan mata serius.
Pemandangan itu luas. Namun untuk pertama kalinya, Jaka merasa pandangannya sendiri menjadi lebih luas daripada sebelumnya. Dunia yang selama ini ia kenal ternyata hanya permukaan kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar. “Ternyata kultivasi keabadian memang ada di dunia ini,” gumamnya pelan. Suaranya tertelan angin, tetapi matanya semakin tajam. “Sekarang aku resmi menjadi kultivator… atau pendekar yang mengejar keabadian.” Setelah mengatakan itu, Jaka terdiam cukup lama. Ia tidak tahu harus tertawa, menangis, atau berteriak. Semua terjadi terlalu cepat. Kemarin, ia masih seorang pemuda desa yang kehilangan pekerjaan dan kembali bertani bersama ayahnya. Hari ini, ia berdiri di puncak Gunung Sumbing dengan warisan mistis di dalam kepalanya dan kekuatan baru yang mengalir di tubuhnya. Rasanya tidak nyata. Namun genggaman tangannya yang lebih kuat, napasnya yang lebih panjang, dan energi hangat yang masih berputar lembut di dalam tubuhnya membuktikan bahwa semua ini bukan mimpi. Perlahan, dada Jaka membara. Semangat yang luar biasa menyala di dalam hatinya. Sudah menjadi impian banyak lelaki untuk memiliki kekuatan. Bukan sekadar kekuatan untuk memukul orang lain, melainkan kekuatan untuk mengubah nasib. Kekuatan untuk melindungi keluarga. Kekuatan untuk berdiri tegak tanpa terus-menerus diinjak keadaan. Dan Jaka termasuk salah satu di antara mereka. Dari ingatan semalam, Jaka memperoleh teknik kultivasi yang sangat kuat. Namanya Mantra Embun Abadi. Teknik itu bukan teknik yang berfokus pada pertarungan secara langsung. Tidak ada jurus pedang yang membelah gunung atau tinju yang menghancurkan langit. Namun, justru karena itulah Mantra Embun Abadi terasa sangat cocok dengannya. Teknik ini berhubungan dengan kehidupan. Dengan tanah. Dengan tanaman. Dengan air. Dengan pertumbuhan. Setelah semalaman berlatih, Jaka telah mencapai tingkat satu dari sembilan fase permulaan. Meskipun hanya tingkat satu, peningkatan kekuatan fisiknya sangat luar biasa. Berdasarkan perkiraannya, tubuhnya kini setidaknya dua kali lipat lebih kuat dari sebelumnya. Bukan hanya kekuatan otot, tetapi juga daya tahan, kecepatan reaksi, ketajaman indra, dan kemampuan pemulihan. Jika dirinya yang sekarang kembali turun ke sawah, pekerjaan yang biasanya membuat punggungnya pegal seharian mungkin bisa ia selesaikan jauh lebih cepat. Memikirkan hal itu, sudut bibir Jaka terangkat samar. Namun yang paling mengejutkan bukan hanya peningkatan fisik. Teknik miliknya ternyata sangat istimewa. Mantra Embun Abadi bisa menghasilkan cairan spiritual setiap hari, jumlahnya tergantung pada level kultivasi orang tersebut. Saat ini, Jaka baru berada di tingkat satu, jadi ia hanya bisa mengembunkan satu tetes cairan spiritual per hari. Satu tetes. Jika didengar sekilas, jumlah itu terdengar terlalu sedikit. Namun efeknya benar-benar tidak masuk akal. Berdasarkan pengetahuan yang tertanam di kepalanya, jika setetes cairan spiritual diteteskan ke dalam sumur atau dicampurkan ke wadah air yang cukup besar, air tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan kecepatan pertumbuhan tanaman sekaligus menaikkan kualitasnya. Tanaman yang disiram air campuran cairan spiritual akan tumbuh lebih cepat, lebih sehat, dan menghasilkan buah atau sayur dengan rasa jauh lebih baik daripada tanaman biasa. Bukan hanya itu. Siapa pun yang sudah memakan sayur atau buah yang tumbuh dengan bantuan cairan spiritual akan sulit kembali menikmati sayur atau buah biasa. Lidah mereka akan mengingat rasa segar, manis, gurih, dan energi alami yang terkandung di dalamnya. Setelah itu, makanan sejenis dari tempat lain akan terasa hambar. Dengan kata lain, cairan spiritual adalah pupuk terbaik untuk bertani. Bahkan menyebutnya pupuk saja terasa meremehkan. Ini bukan sekadar alat untuk mempercepat panen. Ini bisa menjadi fondasi untuk mengubah kehidupan keluarganya. Sawah ayahnya. Lahan yang selama ini hanya cukup untuk bertahan hidup. Jika digunakan dengan benar, semuanya bisa berubah. Jaka menatap kedua tangannya. Tangan itu masih sama seperti sebelumnya. Ada bekas kasar karena kerja di sawah. Ada sisa luka kecil yang mulai memudar. Namun sekarang, di balik telapak tangan itu, tersimpan kemungkinan yang belum pernah ia bayangkan. Kaya raya? Mungkin. Terkenal? Bisa saja. Namun untuk saat ini, pikiran pertama Jaka bukan tentang uang besar atau kehidupan mewah. Yang muncul di kepalanya adalah wajah ayahnya. Wajah seorang lelaki tua yang tetap tersenyum walau hidup tidak pernah benar-benar mudah. Jaka mengepalkan tangan. “Aku tidak tahu apa tujuan orang itu,” gumamnya pelan sambil menatap hamparan luas pemandangan di bawah sana. “Tapi karena dia sudah memberikan ini kepadaku, aku akan menggunakannya dengan baik.” Angin berembus melewati tubuhnya. Di bawah cahaya matahari pagi, mata Jaka tampak lebih tenang, tetapi di dalam ketenangan itu tersimpan tekad yang menyala. Mulai hari ini, hidupnya tidak akan sama lagi. Di kejauhan, pada tempat yang tidak bisa dijangkau mata manusia biasa, Roh Gunung Sumbing berdiri di antara kabut tipis. Sosok pria tua itu menatap Jaka dari jauh. Senyum tipis muncul di wajahnya. Namun senyum itu tidak sepenuhnya berisi kepuasan. Ada sesuatu yang lebih dalam di balik matanya. Sedikit lega, sedikit khawatir, dan sedikit kesedihan yang tidak terucapkan. Ia mengangkat kepala, menatap langit biru yang perlahan menjadi semakin terang. Untuk waktu yang sangat lama, dunia ini terlalu tenang. Terlalu sunyi. Terlalu lama tertidur. Dan sekarang, roda yang berhenti mulai bergerak kembali. “Hitung mundur dimulai,” gumam Roh Gunung Sumbing pelan. Suaranya menghilang bersama angin. “Aku hanya berharap manusia bisa beradaptasi dengan baik saat semuanya kembali seperti semula.” Kabut bergerak. Sosoknya perlahan memudar. Sementara itu, Jaka masih berdiri di atas tebing batu, tidak menyadari bahwa hadiah yang baru saja ia terima bukan hanya awal dari perubahan hidupnya, tetapi juga pertanda bahwa dunia lama yang ia kenal akan berakhir. Tidak ada yang tahu kapan, yang jelas hitung mundurnya sudah dimulai. Bersambung...Melihat reaksi Jaka yang salah tingkah di luar jendela mobilnya, perasaan malu yang sempat membakar wajah Andini perlahan menyurut. Rasa terhibur justru muncul, menghangatkan rongga dadanya. Ujung bibir gadis itu tertarik perlahan, melukiskan senyum lega yang terasa jauh lebih natural dari sebelumnya."Sampai jumpa besok," ucap Andini memecah keheningan yang menekan telinga. "Aku akan segera menghubungimu begitu hasil ujinya keluar."Jaka menghentikan usapan di belakang kepalanya dan mengangguk pelan. "Baiklah. Akan aku tunggu."Jari Andini menekan tombol penyala mesin. Deru halus kendaraan Eropa itu langsung menggema rendah, menciptakan getaran yang merambat lambat ke jalanan aspal di bawahnya. Tepat sebelum tangannya meraih tuas persneling, ia teringat sesuatu."Oh ya, besok pagi aku akan mengirimkan ponsel baru untuk mempermudah komunikasi kita," Andini kembali menatap Jaka menembus bingkai jendela. "Aku juga akan membelikan satu untuk Dina. Pastikan ia menerimanya."Jaka mengerutk
Udara malam yang sejuk mendadak terasa terisolasi begitu Andini duduk di kursi kemudi. Aroma pengharum ruangan beraroma lavender di dalam kabin mobil mewahnya menabrak aroma khas tanah basah yang terbawa dari luar. Jari telunjuk Andini baru saja melayang di atas tombol penyala mesin. Namun, pergerakan tangannya tiba-tiba membeku di udara. Jemarinya melengkung pelan. Ia menarik napas panjang, membiarkan dadanya naik-turun dalam keheningan.Di luar jendela mobil yang kacanya sengaja dibiarkan terbuka setengah, Jaka menyadari jeda yang tidak wajar tersebut. Alis pemuda itu bertaut ringan. Ia mengambil satu langkah mendekat ke sisi pintu pengemudi."Ada apa?" Suara Jaka memotong desingan pelan angin malam yang berembus di sekitar mobil.Andini ragu sejenak. Ia menunduk menatap setir berlapis kulit di pangkuannya. Jari-jarinya mencengkeram lingkar setir itu erat, sebelum akhirnya ia mendongak dan menatap lurus ke wajah Jaka. Ada kilat keputusasaan yang merayap naik, mencoba menjebol pert
Aroma tumis bawang putih dan sisa uap nasi yang pulen masih mengambang di udara ruang makan berukuran sempit itu. Cahaya lampu pijar kekuningan dari langit-langit jatuh menerangi piring-piring keramik yang kini telah bersih tak bersisa. Andini meletakkan sendoknya secara perlahan di atas piring, mengambil selembar tisu, lalu menyeka sudut bibirnya dengan gerakan elegan. Ia mengangkat wajah, menatap wanita paruh baya di seberang meja yang tengah merapikan mangkuk lauk."Masakan Ibu sangat enak," puji Andini. Nada suaranya bergetar pelan, membawa ketulusan murni yang jarang ia tunjukkan di luar. "Bahkan, rasanya jauh lebih baik dari masakan koki bintang lima pribadiku di rumah."Mendengar pujian itu, pergerakan tangan Susi terhenti. Ia mengusap kedua telapak tangannya ke celemek pudar bermotif kotak-kotak yang membalut tubuhnya. Gurat kelelahan di sudut mata wanita itu melunak seketika."Ara ara~" Susi tertawa pelan. Rona merah muda menjalar halus di kedua tulang pipinya, mencetak rasa
Debu halus beterbangan di udara saat Jaka melesat pergi, meninggalkan Andini yang berdiri kebingungan di antara barisan pohon. Angin sore menyapu rambut peraknya, menambah kesan kesepian di tengah kebun yang lebat. Namun, kekosongan itu tidak berlangsung lama.Dari balik rimbunnya dedaunan di ujung petak, sesosok pria paruh baya berjalan mendekat. Celananya berlumur tanah basah, dan topi caping usang menempel di kepalanya. Bejo datang tepat waktu, mengusap telapak tangannya yang kotor ke kain lap yang terselip di pinggangnya, lalu melempar senyum ramah yang mengundang Andini untuk mengobrol sejenak, mengusir kecanggungan.Sementara itu, di dalam gudang penyimpanan di dekat rumah, Jaka bergerak dengan presisi yang hanya dimiliki oleh seseorang yang dikejar waktu. Napasnya teratur, matanya fokus. Ia berdiri di depan deretan ember bersih dan rak penyimpanan botol.'Mereka tidak butuh uang,' batin Jaka, tangannya dengan cekatan meraih sebuah botol kaca berukuran kecil. 'Maka aku akan mem
Untuk memecah kecanggungan yang mulai mengeras di udara, Jaka mengalihkan pandangannya ke arah Dina. "Ehem! Ayah di mana?" tanyanya, berusaha membuat suaranya senormal mungkin."Ayah masih di kebun," jawab Dina, menunjuk ke arah luar jendela dengan ibu jarinya. "Sepertinya tidak akan pulang sampai sore."Jaka mengangguk pelan, otaknya berputar merencanakan langkah selanjutnya. Ia menoleh ke arah Andini, yang masih menunduk dengan tatapan kosong. "Aku mengerti. Bagaimana kalau kita langsung ke sana?" tanyanya, memberikan tawaran.Andini mendongak, rona merah di wajahnya sudah jauh berkurang. Ia memberikan satu anggukan lembut, nyaris tanpa suara."Aku ikut!" Dina sontak mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, mengambil satu langkah maju untuk bergabung dengan mereka."Tidak boleh," potong Susi cepat. Suaranya tidak keras, tetapi memiliki ketegasan yang mutlak. "Kamu harus membantu Ibu memasak.""Ehhh..." Dina menarik napas panjang, bersiap melontarkan rentetan protes. Namun, saat mat
Derit engsel pintu depan berbunyi nyaring, memecah keheningan rumah itu. Udara hangat dari luar perlahan menyusup masuk, membawa serta bayangan tiga sosok yang melangkah melewati ambang pintu."Kami pulang," suara Jaka dan Susi terdengar hampir bersamaan, menggema pelan hingga ke ruang tengah.Suara langkah kaki setengah berlari langsung terdengar dari arah dapur. Dina muncul dari balik sekat ruangan, rambutnya sedikit berantakan, namun matanya berbinar menyambut suara keluarganya. "Selamat dat—"Kalimat itu terputus di udara. Ujung sepatu Dina berhenti mendadak, bergesekan dengan lantai. Tatapannya, yang semula tertuju pada sang kakak dan ibu, kini terkunci sepenuhnya pada sosok ketiga yang berdiri sedikit di belakang.Seorang wanita dengan rambut keperakan yang menangkap cahaya lampu ruangan dengan cara yang nyaris tidak masuk akal. Proporsi wajahnya begitu simetris, ditopang oleh aura keanggunan yang langsung membuat seisi ruang tamu terasa lebih sempit. Dina mengerjap dua kali,







