تسجيل الدخولHari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Gedung megah di pusat kota menjadi saksi digelarnya acara reuni alumni sekolah.Sejak larut malam hingga fajar menyingsing, Jaka mengunci diri dalam ritme latihan intensif. Ketika pendar keemasan matahari terbit menerobos dari ufuk timur, kedua matanya terbuka perlahan. Suasana di sekelilingnya mendadak terasa jauh lebih jernih.'Peringkat empat fase permulaan...'Jaka bergumam lirih, menatap telapak tangannya yang diselimuti pendar tipis energi spiritual. Desir arus hangat mengalir cepat melalui pembuluh darahnya, membawa sensasi kebugaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia berusaha keras meredam lonjakan kegembiraan yang bergejolak hebat di dalam dadanya.Kekuatan fisik serta kapasitas energi spiritualnya meningkat drastis hingga tiga kali lipat. Tidak hanya itu, jumlah cairan spiritual yang mampu ia produksi dalam sehari kini berlipat ganda.Tawa kecil lolos dari bibirnya saat menyadari lonjakan drastis dalam tubuhnya. Setelah berha
Perubahan status menjadi pasangan kekasih dengan Andini rupanya tidak lantas mengubah pola hidup Jaka secara drastis. Ritme harinya tetap mengalir dalam pola yang hampir serupa, presisi dan disiplin seperti biasa.Satu-satunya warna baru hadir saat malam menyapa. Percakapan jarak jauh melalui sambungan telepon kerap berlangsung hingga larut, mengisi jeda singkat sebelum ia memulai rutinitas latihan malamnya.Begitu tirai kegelapan memudar di ufuk timur, Jaka telah menuntaskan rangkaian latihan harian. Tetesan cairan spiritual ia alirkan perlahan ke dalam sumur tua di sudut halaman, disusul pembagian porsi latihan berat dan sarapan bernutrisi.Mentari mulai meninggi, membawa aroma tanah basah dan kesegaran dedaunan. Dari pagi hingga petang menjelang, perhatiannya tercurah pada perkebunan melimpahkan hasil panen buah serta sayuran segar.Usai menuntaskan pekerjaan di ladang, Jaka mengumpulkan Jeanne, Rosa, dan Selia. Imbalan atas kerja keras mereka dibagikan tanpa sisa.Fluktuasi energi
Di sudut lorong yang remang-remang, suara Reza Duan masih terus bergema liar memprotes sikap dingin Jaka. Suara lengkingannya memantul keras pada dinding pualam, menyuarakan amarah membara karena merasa diabaikan secara terang-terangan di depan pelindungnya. Namun, Jaka sama sekali tak mengindahkan keberadaan pemuda itu. Bagi Jaka, bentakan Reza tak lebih dari suara bising yang tidak perlu ditanggapi."Sudah cukup," potong Jaka santai sembari membetulkan posisi jaketnya yang sedikit bergeser. "Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu."Viktor Liang tertegun sejenak mencerna pengakuan Jaka, lalu menghela napas pasrah. Ketiadaan motif bohong pada mata Jaka membuatnya yakin. "... Baiklah," sahut pria paruh baya itu pelan."Hei! Kenapa langsung setuju?! Jangan biarkan dia pergi begitu saja!" seru Reza Duan panik sambil mencoba melangkah maju mengejar Jaka.Dengan gerakan secepat kilat, Viktor Liang menggeser tubuhnya, memotong jalur jalan Tuan Mudanya. Ia menoleh ke arah Reza Duan, menggel
Lampu pendar di sepanjang lorong temaram memantulkan bayangan panjang yang saling berbenturan. Suasana sunyi seketika buyar oleh kekeh ringan yang meluncur santai dari bibir Jaka. Matanya melirik jenaka ke arah pemuda berdasi yang berdiri kaku di depannya."Sepertinya Tuan ini jauh lebih peka daripada dirimu," sindir Jaka, melengkungkan sudut bibirnya penuh nada ejekan ke arah Reza Duan.Dada Reza Duan kembang kempis. Ujung jemarinya gemetar menahan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun."Apa katamu?" geram Reza Duan, mencoba menata ritme dadanya yang bergejolak hebat."He he he.""Kau!" Reza Duan melempar telunjuknya tepat di depan hidung Jaka. Matanya memerah, memancarkan kemarahan murni yang sudah tak tertampung.Jaka mengangkat kedua tangannya, menunjukkan telapak tangan terbuka tanpa rasa bersalah. "Apa-apaan reaksi itu? Aku hanya tertawa biasa.""Kau pasti sengaja menertawakan aku!" sahut Reza Duan dengan nada melengking yang menggema di dinding lorong.Bahu Jaka terangkat sa
Malam merambat semakin larut, menyisakan keheningan samar di area luar gedung lelang yang megah. Cahaya pendar lampu kristal gantung di dalam aula utama mulai diredupkan satu per satu, memproyeksikan bayangan-bayangan panjang bersudut tajam di atas lantai marmer yang bersih mengkilap. Udara malam yang dingin menyusup halus melalui celah pintu kaca tebal.Para tamu bergelimang harta mulai melangkahkan kaki keluar menuju deretan kendaraan mewah masing-masing. Di antara kerumunan yang kian terurai, Jaka dan Andini berjalan berdampingan secara selaras menuju pintu keluar utama, bersiap menutup malam bersama-sama. Namun, langkah kaki mereka terhenti secara mendadak saat melewati area lorong penghubung yang temaram. Sebuah bayangan berpostur tinggi berdiri tegak melintasi jalur utama, secara sengaja memotong ruang gerak mereka berdua."Tidakkah kalian terlalu buru-buru?"Suara lantang bertajuk nada meremehkan memecah keheningan koridor. Sosok itu tidak lain adalah Reza Duan, yang berdiri d
Cahaya sorot panggung mengunci sebuah pot tanaman mati yang berubah drastis dalam hitungan detik. Batang kayu yang semula kering kerontang tiba-tiba membengkak, dialiri jalur kehidupan berwarna hijau segar. Ranting-ranting baru mencuat secara eksponensial, menyebarkan kuncup bunga yang mekar sempurna layaknya rekaman pemutaran cepat.Suasana aula lelang seketika hening mencekam. Tekstur udara di dalam ruangan seolah memadat sebelum akhirnya pecah oleh riuh bisikan liar para tamu undangan."Aku tidak sedang bermimpi, kan?""Apa aku salah masuk ke pertunjukan sulap?""Sihir, apakah baru saja aku melihat sihir?"Gelombang keterkejutan merayap cepat, terutama di kalangan tamu kaya yang awam terhadap seluk-beluk dunia spiritual. Bahkan sang pemapar di atas panggung berdiri mematung. Tangannya gemetar memegang botol kosong, sama sekali tidak menyangka demonstrasinya akan menghasilkan fenomena sespektakuler ini.Di samping Jaka, Andini menyandarkan bahunya secara halus. Gadis itu menutupi







