MasukKeluarga Duan. Bahkan orang awam yang tidak peduli urusan politik pun pasti tahu seberapa besar bobot nama itu.Selama mereka pernah menyalakan televisi setidaknya sekali seumur hidup, kata itu pasti pernah melintas di layar kaca bagaikan bayangan raksasa.Keluarga Duan bukanlah orang kaya biasa. Mereka adalah monster raksasa, konglomerat absolut terkaya yang memegang kendali besar di Indonesia.'Kekayaan mereka menyentuh lima belas kuadriliun rupiah,' batin Jaka mengalkulasi angka gila itu di kepalanya. 'Sebuah nominal absurd yang melampaui harta orang terkaya di dunia saat ini.'Dengan aset sebesar itu, Keluarga Duan telah lama menjadi pusat perhatian nasional. Jangankan pejabat daerah, sekelas presiden sekalipun tidak berani berbuat seenaknya di hadapan mereka.Dulu, sejarah mencatat seorang presiden pernah diturunkan paksa oleh amukan warga. Permukaannya terlihat seperti revolusi murni, namun pemimpin itu sebenarnya ditumbangkan karena berani berlawanan dengan Keluarga Duan.Tentu
Bunyi klik tajam memecah keheningan ruangan. Gagang pintu logam diputar dari luar, membiarkan cahaya terang dari lorong menyusup masuk dan memotong bayangan di lantai layaknya bilah pedang.Seorang pria melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Sepatu kulitnya beradu dengan lantai marmer, menciptakan ritme langkah arogan yang bergema memantul di setiap sudut dinding.Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu berpotongan sempurna yang mencetak postur tubuhnya. Di lengannya, bertengger sebuket bunga mawar warna-warni yang memancarkan aroma wangi menusuk, namun terlihat terlalu berlebihan dan malah merusak estetika."Andini sayang," suara pria itu mengalun lambat. Nadanya sengaja dibuat selembut mungkin demi memproyeksikan citra romantis, yang sayangnya justru terdengar menggelikan di telinga. "Bagaimana kalau kita makan malam bersama hari ini?"Suhu di dalam ruangan itu seolah turun drastis menyentuh titik beku.Wajah Andini mengeras layaknya patung es. Sudut bibirnya menukik turun denga
*Sret!*Tangan wanita bernama Cera itu tersentak mundur seolah baru tersengat listrik bertegangan tinggi.Dengan gerakan kaku layaknya robot, ia berputar perlahan ke arah sumber suara.Matanya membelalak ngeri, persis karyawan magang yang tertangkap basah bermain *game* oleh direktur.Di ujung lorong, berdiri sosok Andini.Gadis itu memancarkan karisma absolut. Ia menatap mereka tajam, menciptakan tekanan tak kasat mata di udara."N-Nona Andini?!" Cera memekik pelan. Suaranya bergetar hebat. "K-Kenapa Nona ada di sini?"Dalam sekejap, pesona menggairahkan yang Cera pancarkan menguap tak berbekas, digantikan postur menyusut ketakutan.Andini memiringkan wajahnya sedikit. Sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman yang sangat lebar dan menawan.Namun, tak ada setetes pun kebaikan maupun kehangatan di balik lengkungan bibir tersebut. Senyum itu murni sebuah ancaman visual."Cera," panggil Andini. Nadanya ringan, namun seberat palu godam. "Bukannya kamu punya pekerjaan menumpuk ya
Deru mesin motor menggema kencang, memantul di dinding beton area parkir bawah tanah, sebelum akhirnya mati bertepatan dengan tarikan kunci kontak.Suasana perbatasan Semarang dan Temanggung hari ini terasa cukup terik, namun udara sejuk langsung menyergap kulit Jaka begitu ia memasuki lobi gedung perkantoran tersebut.Langkah kakinya bergema pelan namun berirama di atas lantai marmer yang mengkilap, memantulkan bayangan siluet tubuhnya yang jangkung.Di sudut ruangan, pintu lift baja tahan karat terbuka. Jaka melangkah masuk, menekan tombol sepuluh, lalu bersandar tenang.Matanya menyapu interior. Desainnya elegan, berlapis cermin dengan ornamen emas.'Mewah... Butuh berapa miliar untuk mendirikan gedung dengan material sebagus ini?'Jaka melipat tangan. Otaknya mulai menghitung secara serampangan harga tanah hingga biaya konstruksi.'Apa uang di rekeningku sudah cukup untuk menyewa satu lantainya? Atau aku masih terlalu miskin?'Selayaknya pria pada umumnya, rasa penasaran terhadap
Langkah kaki Dina yang tadinya seirama dengan Jaka mendadak terhenti. Angin senja menyibak rambutnya saat gadis itu berputar seratus delapan puluh derajat, menghalangi jalan sang kakak.Matanya memicing tajam. "Kakak tidak jatuh cinta pada wanita itu, kan?"Jaka yang nyaris menabrak adiknya terpaksa mengerem langkah. "Hmm? Wanita itu siapa? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?""Jangan mengalihkan pembicaraan!" Dina menudingkan jari telunjuknya tepat ke dada Jaka, menuntut jawaban layaknya seorang detektif yang menyudutkan tersangka utama. "Jawab dulu pertanyaan Dina!"Jaka menghela napas panjang. 'Dasar anak ini...' batinnya lelah.Ia menatap langit sore yang mulai memunculkan semburat jingga, mencari kata-kata yang tepat. "...Entahlah. Aku sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi untuk saat ini, aku tidak berniat mengejar Hina.""Hmm..." Dina menurunkan tangannya, bibirnya melengkung ke bawah membentuk gurat tidak puas.Gadis itu kemudian membalikkan badan
"Reuni sekolah?"Jaka mengulang dua kata itu dengan nada sedatar permukaan danau yang tenang. Suaranya nyaris tenggelam oleh alunan lagu klasik yang diputar di butik ini. Hina mengangguk pelan dari balik meja konter. Ujung jari telunjuknya mengetuk permukaan meja secara ritmis."Berbeda dari reuni kelas biasa," jeda Hina, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Ini reuni akbar. Semua angkatan yang berminat boleh datang. Dan dengar-dengar... Nona Karina juga akan hadir kali ini.""Karina?"Alis Jaka bertaut tipis. Murni kebingungan.Gerakan tangan Hina mendadak terhenti di udara. Mata gadis itu melebar seketika, seolah waktu di sekitarnya baru saja dibekukan oleh sihir. Ia menatap Jaka seakan pria di hadapannya ini baru saja turun dari piringan terbang alien."Hah?" Mulut Hina terbuka setengah. Hening turun menyelimuti mereka selama tiga detik penuh. "Jangan bilang kamu sungguh tidak tahu tentang Nona Karina?"Sebagai jawaban, Jaka hanya mengangkat sebelah bahu dengan gestur kelewat







